• Selamat Datang !


    Admin:

    Abdul Hamdi Mustafa

    (Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro UNP)

    "BLOG INI DIKELOLA SECARA SWADAYA"

    "Bagi pengunjung mohon komentarnya dan jangan lupa isi buku tamu juga ya :) Salam..."

    ========================
    Saudara yang berkenan untuk DONASI demi pengelolaan blog ini, silahkan tranfsfer ke:
    Rekening Bank Nagari (BPD Sumatera Barat)
    21030210447581
    a.n. ABDUL HAMDI MUSTAPA
    ========================

  • Ayat Qur’an

    • Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati (35:38) 6 hours ago
  • Info Terkini

    • Orang berakal besar membicarakan ide-ide. Orang berakal sedang membicarakan kejadian-kejadian. Orang berakal kecil membicarakan orang 12 months ago
  • Komentar Terakhir

    Berita Terhangat on Buku Tamu
    Candra on Tugu Perbatasan Sumbar-Riau di…
    Anonymous on Buku Tamu
    Abdul Hamdi Mustapa on Buku Tamu
    Antoni Steven on Buku Tamu
  • Forum Facebook Koto Alam

    Tempat bertukar pikiran dan berbagi informasi seputar Koto Alam

    Tempat bertukar pikiran dan berbagi informasi seputar Koto Alam

  • Penggemar

  • Pengunjung

    free counters HTML hit counter - Quick-counter.net
  • Statistik

    • 66,091 kali kunjungan
  • Pengunjung Online

    Orang
  • Translate to

  • Download mp3 lagu "Hamdi - Koto Alam Nan Deyen Cinto" Klik DISIKO

Kisah Cinta Mengharukan Perantau Koto Alam

Cinta Pertama, Cinta Terakhir dan Cinta Mati

Sebuah cerpen, diangkat dari kisah nyata perantau Koto Alam
Penulis: Abdul Hamdi Mustapa

dik

 “Uhuk! Uhuk!”

“Ahhim…!”

Eme menderita batuk flu sejak dua hari ini. “Ahhim…!”, begitu bunyi suara bersin Eme. Tidak terdengar seperti suara orang bersin kebanyakan: “Hatchim…!”. Bibir bagian atas Eme memang tercipta unik sedari lahir, sekilas terlihat seperti terkena sabetan pisau, yang membelah lekukan hidung Eme hingga bibir bagian atas mulutnya. Kondisi ini berpengaruh pada setiap kata yang Eme ucapkan apabila ia berbicara. Beberapa abjad huruf konsonan tak bisa ia lafalkan secara benar. Suaranya selalu ke hidung. “Ahhim…!” Begitu suara bersin Eme.

Eme meninggalkan pekerjaan menjahitnya. Ia meminta izin pada bosnya untuk keluar beberapa menit saja. Tujuan Eme ingin membeli obat untuk meredakan batuk flunya. Ia berjalan puluhan meter dari tempat kerjanya menuju sebuah apotik. Di apotik itu Eme bertemu seorang gadis berjilbab yang tidak lain adalah pelayan disana. Eme memesan obatnya, kemudian gadis itu pun mengambilkan obat untuk Eme. Entah bagaimana, Eme begitu memperhatikan gadis yang ada di depannya itu. Ia memandangnya dengan sepenuh hati. Sejenak ia tertegun,

“Ini obatnya, Bang.” Tutur gadis itu pada Eme.

“I… Iya, ini uangnya.” Balas Eme.

Eme kembali dari apotik menuju tempat kerjanya. Di benaknya masih terfikir tentang gadis yang baru saja ia jumpai. Sepertinya gadis berjilbab itu telah memikat hati Eme yang sedang kosong.

Benar saja. Malam berikutnya Eme kembali mengunjungi apotik tersebut. Ia berdalih bahwa batuk flunya belum juga sembuh. Tentu hanya sekedar modus untuk bisa bertemu seseorang yang sedang ia suka. Kali ini Eme memberanikan diri untuk menanyakan nama gadis itu.

“Dek, kalo boleh tahu nama adek siapa?”

Gadis itu jadi agak canggung, ia berusaha tersenyum menahan tawa mendengar suara Eme yang ke hidung.

“Kok senyum aja dek, kasih taulah abang siapa nama adek.” Eme kembali bertanya.

“Balqis, bang.” Jawab gadis itu dengan ramah.

Setelah tahu namanya, Eme terus mengajak gadis itu bicara. Eme menatapnya dengan percaya diri, menanyai dan merayunya. Tapi Balqis, gadis itu, lebih banyak diam. Ekspresinya datar. Sesekali ia membalas perkataan Eme, kadang ia hanya tersenyum. Eme bahkan berusaha meminta Balqis untuk memberikan nomor hapenya. Namun bujukan Eme gagal, Balqis tak mau mengasihkannya.

Eme tak patah semangat. Tampaknya ia benar-benar ingin mengenal Balqis lebih dekat. Kini, setiap waktu istirahat kerja, Eme selalu mengunjungi apotik Balqis. Ia duduk-duduk disana memandangi Balqis. Merayunya. Mengajaknya bicara. Berbagai kalimat-kalimat gombal ia lontarkan untuk menarik hati Balqis.

“Obat cinta ada gak dek?”

“Ada lah bang.”

“Kayak apa tu obatnya dek?”

“Ya, pokoknya ada deh bang.” Jawab Balqis sambil tersenyum.

Demikian sebait percakapan Eme dengan Balqis. Balqis mulai sedikit akrab membalas pembicaraan Eme. Perlahan-lahan Eme mengetahui berbagai hal tentang Balqis. Seminggu lamanya Eme mendekati Balqis, akhirnya Balqis mau memberikan nomor hapenya. Eme pun senang sekali.

***

Tidak lama bagi Eme untuk menaklukkan hati Balqis. Setiap hari ia meneleponnya. Bersenda gurau. Bercanda. Dan memberikan perhatian. Lama-lama hati Balqis luluh juga. Pucuk dicinta ulam tiba. Eme meyakinkan diri untuk meminta Balqis menjadi pacarnya. Balqis pun bersedia menerima Eme sebagai kekasihnya. Alangkah bahagianya. Mengapa tidak, Eme bagi Balqis adalah pacar sekaligus cinta pertamanya. Selama hidupnya baru kali ini ia memiliki seseorang yang spesial di hati, seorang lelaki yang senantiasa tulus memberikan perhatiannya. Eme pun sangat bahagia karena Balqis mau menerima ia apa adanya.

Beberapa minggu jalinan kasih mereka berjalan. Dan sudah beberapa kali pula Eme mengajak Balqis pergi kencan. Setiap ada kesempatan, Eme pasti selalu berada di apotik Balqis. Suatu kali mereka terlibat percakapan,

“Bang.”

“Iya dek.”

“Kira-kira abang serius gak sama Balqis?”

“Seriuslah sayang. Kok nanya itu dek?”

“Hmm kalo benar abang serius sama adek, berani gak abang datang ke rumah buat jumpa sama ayah dan ibu Balqis?”

“Ehm..” Eme berfikir sejenak menanggapi ajakan Balqis untuk bertemu orangtuanya. Dalam fikiran Eme, Balqis sudah cocok sebagai pendamping hidupnya. Balqis telah bersedia menerima kekurangannya. Ia pun sudah begitu sangat menyayangi Balqis. Untuk apa dulu ia bersusah payah mendapatkan Balqis jika hanya main-main. Tidak. Eme adalah seorang lelaki yang dewasa. Sudah 23 tahun umurnya. Ia juga telah bekerja dan cukup mapan. Sekarang ia memiliki Balqis, satu-satunya wanita yang ada di hatinya. Balqis juga sudah bekerja. Apalagi Eme adalah lelaki pertama yang dicintai Balqis. Mengapa tidak? Eme membulatkan tekadnya. Tidak ada salahnya juga jika sudah ada niat untuk membina rumah tangga dan mengakhiri masa lajangnya. Apalagi jika kesempatan terbuka, ia tentu tak akan menunda. Akhirnya Eme menyetujui ajakan Balqis untuk berkunjung ke rumahnya.

Malam itu Eme memberanikan diri datang ke rumah Balqis. Ia berjalan kaki menuju rumah yang tak seberapa jauh dari apotik tempat Balqis bekerja.

“Assalamualaikunm.” Eme mengucapkan salam di depan pintu rumah Balqis.

“Waalaikumsalam bang, silahkan masuk.” Balqis menyambut Eme dan mengijikannya masuk.

Di dalam rumah duduk ayahnya Balqis. Ia sama sekali tidak menjawab salam Eme. Eme berusaha menjabat tangan ayah Balqis untuk menyalaminya. Akan tetapi ia tidak menanggapi Eme.

Eme bingung dan tak tau harus bagaimana. Namun Balqis mempersilahkan Eme untuk duduk di sofa, berhadapan dengan ayahnya. Tak berapa lama Balqis membawakan mereka minum. Kemudian Balqis mengisyaratkan pada Eme untuk mengajak ayahnya bicara.

“Gimana kabarnya Pak, sehat?” Eme memulai bicaranya.

Ayah Balqis hanya diam mendengar sapaan Eme. Bahkan menoleh pun tidak. Sikapnya yang demikian membuat Eme kehabisan akal. Eme semakin bingung, akhirnya dia pun ikutan diam saja. Sementara ayah Balqis hanya menoleh ke arah TV. Lama-lama suasana semakin kaku. Beberapa saat kemudian ayah Balqis mengambil remote TV, ia menekan tombol untuk mengeraskan volume suara TVnya.

Habis sudah Eme. Ia bertamu tapi tidak diperlakukan sebagaimana layaknya. Niatnya baik, hanya untuk berkenalan dengan orangtua kekasihnya. Akan tetapi ia diabaikan. Bahkan tidak dihiraukan. Basa-basi pun tidak. Salam dan sapanya juga tidak ditanggapi. Eme tidak tahu harus berbuat apa. Balqis yang juga berada disana ikut membisu.

Eme pasrah. Fikiran pesimis mulai berbisik di benaknya. Apalah daya Eme. Ia hanyalah seorang pekerja di toko jahit yang tidak bisa menjamin masa depannya akan cerah. Bibirnya yang sumbing membuatnya tak jelas bicara dan terlihat cacat. Mana mungkin ayah Balqis akan bersedia merestui ia menjalin hubungan dengan putrinya. Pantas saja ayah Balqis cuek dan bersikap dingin ketika melihat pacar anaknya demikian banyak kekurangan.

Eme berusaha meneguhkan hatinya. Yang penting ia telah menyanggupi janjinya pada Balqis untuk menjumpai orangtuanya. Walaupun tidak terjadi percakapan apa-apa antara mereka. Setengah jam berlalu hanya duduk diam dilantuni suara TV yang keras.

Eme pamit untuk pulang.

“Pak, saya berangkat pulang dulu.”

Tetap tak ada reaksi dari ayah Balqis. Eme pun pulang dengan perasaan kacau.

***

Eme tak habis fikir. Ia beranggapan macam-macam. Ia mencoba menghibur kesialannya. Mungkin saja ayah Balqis menyandang cacat, tuli lagi bisu. Hahaha. Eme tertawa dalam hatinya.

Balqis menghubungi Eme. Melalui pesan singkat ia meminta maaf pada Eme atas sikap ayahnya.

“Ayah orangnya memang seperti itu. Tapi Balqis kasih jempol deh untuk abang karena udah berani datang.”

Hari berikutnya Eme diminta lagi untuk berkunjung. Dengan berat hati namun percaya diri, Eme kembali bertamu ke rumah Balqis untuk kedua kalinya.

Seakan tak ada harapan bagi Eme. Suasana di malam itu tak ubahnya seperti malam sebelumnya. Salam Eme tak dijawab. Jabat tangannya tak disambut. Eme kikuk. Menyedihkan sekali dia. Jika diibaratkan, Eme bagaikan seorang bocah kecil kumal yang dikucilkan teman-teman sebayanya. Tidak diajak bermain, bahkan dimusuhi dan diejek. Bocah itu mencibir dengan muka menahan tangis, memandangi teman-temannya yang asyik bermain. Ingusnya meleleh ke bibir. Lalu ia menghela nafas, sebagian ingusnya masuk kembali ke hidung, sebagian lagi terteguk olehnya. Memilukan. Andai memang bocah itu adalah Eme. Tentu ingus yang mengalir dari hidungnya akan langsung masuk ke rongga mulut.

Suara TV terdengar keras. Eme sudah seperti orang bodoh. Ia ikut menonton siaran TV. Acaranya berita politik. Kadang diganti ke channel sinetron laga. Pertarungan antara pendekar berlangsung sengit. Mereka mengeluarkan berbagai jurus dan menjelma menjadi hewan-hewan raksasa. Sesekali Eme tersenyum menyaksikan adegan demi adegan. Senyum Eme tentu sangat lucu sekali. Bayangkan saja, jika di suatu tempat kita bertemu seorang sumbing, spontan kita akan tersenyum geli di belakang orang itu. Apalagi jika mendengarkan mereka bicara, kita akan menggigit bibir untuk menahan tawa karena tak mau menyinggung perasaannya. Sama halnya ketika Balqis tersenyum menahan tawa saat pertama kali Eme menanyakan namanya.

Bakat alami Eme itu merupakan anugerah dibalik keterbatasan fisiknya. Anugerah bagi orang lain tentunya. Orang-orang seperti Eme dapat dengan mudah membuat orang lain terhibur dan tertawa. Dalam berbagai lelucon, orang suka menirukan cara bicara orang sumbing. Banyak cerita mengocok perut yang dikarang-karang dengan tokoh utama seorang sumbing. Dunia memang tidak adil bagi Eme.

Tapi disini, ditengah hiruk pikuk suara TV, Eme tak mampu membuat seorang lelaki yang duduk di hadapannya untuk tersenyum. Entahlah. Ataukah lelaki dingin itu tak kuasa menolehkan pandangannya ke arah Eme, karena ia akan terpingkal-pingkal melihat Eme disebabkan selera humornya sangat tinggi. Tidak kawan, tidak demikian. Kita akan berhenti menyudutkan Eme.

Eme kemudian pulang. Ia tak kunjung berhasil mengajak ayah Balqis bicara. Barangkali Eme memang bernyali dan punya kesungguhan, namun Eme punya kesulitan dalam komunikasi verbal. Modal nekat, pulang dengan hati hampa.

Tak putus asa. Eme datang pada malam berikutnya. Ia ingin membuktikan kepada Balqis bahwa dirinya seorang lelaki gentlemen dan benar-benar serius menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Malam itu Eme juga disambut oleh ibunya Balqis, ia melayani Eme dengan ramah dan mau diajak ngobrol. Kebetulan mereka sekeluarga hendak makan malam, maka ibu Balqis mengajak Eme makan bersama mereka. Sedangkan ayah Balqis tetap diam seribu bahasa.

Malam keempat, Eme hadir lagi di rumah Balqis. Kali ini Eme mendapatkan angin segar. Ayah Balqis yang malam-malam lalu hanya diam seperti orang terlilit utang, kini mulai bersuara. Ia mengeluarkan papan catur dan meletakkannya di atas meja.

“Kamu bisa main catur?”

“Bisa Pak.” Jawab Eme.

Kepala Eme yang tadi beku perlahan mencair. Wajahnya sedikit sumringah. Ia ikut membantu ayah Balqis menyusun anak-anak catur. Akhirnya di sela-sela permainan catur mereka terlibat percakapan. Hal pertama yang ditanyakan ayah Balqis kepada Eme,

“Kamu tamat SMA atau kuliah?”

Waduh! Pertanyaan semacam ini sangat berat bagi Eme. Ia beranikan diri untuk menjawab jujur.

“Saya hanya pernah sekolah SD Pak, itu pun gak tamat.”

Eme cari mati. Ucapannya bersamaan dengan penyanderaan sebuah pion miliknya oleh kesatria berkuda milik ayah Balqis.

Mendengar jawaban Eme, ayah Balqis tidak melanjutkan bicaranya. Suasana berubah jadi menegangkan, layaknya dua orang maestro catur sedang bertarung sengit di final kompetensi catur internasional. Eme pun tidak punya ide untuk balik bertanya. Konsentrasinya buyar. Kini salah satu bishopnya telah raib.

Sepertinya ajakan main catur oleh ayah Balqis punya maksud tertentu. Mungkin saja dia hendak melihat kejelian Eme dalam berfikir. Di menit-menit selanjutnya Eme meningkatkan siasat pertahanan prajuritnya. Ia berhasil meretas pion-pion ayah Balqis. Permainan semakin seru. Hingga membuat ayah Balqis berfikir lama untuk menyusun langkah. Sembari menatapi papan catur, ayah Balqis mengernyitkan keningnya, lalu dia menggumam dan tersenyum. “Skak!” Hardiknya. Ratu milik ayah Balqis mengancam Sang Raja milik Eme setelah berhasil menyalib pertahanan bentengnya. Akhirnya Eme berhasil membuat ayah Balqis tersenyum.

***

“Dua jempol buat abang,” ucap Balqis kepada Eme. Ia mengaku salut dengan usaha Eme yang tanpa menyerah, yang kemudian akhirnya bisa melunakkan hati ayahandanya. Eme dan Balqis sangat bahagia sebab tidak mendapatkan pertentangan atas jalinan asmara mereka.

Sebenarnya di malam itu, malam ketika Eme ditantang bermain catur, banyak hal yang telah diperbincangkan oleh Eme dan ayah Balqis. Mereka menjadi akrab karena gelak tawa dan siasat-menyiasati permainan. Ayah Balqis memaklumi pacar putrinya itu yang hanya pernah duduk di bangku SD. Pendidikan formal bukan segalanya. Seorang lelaki dewasa yang memiliki pekerjaan tetap, dan sanggup untuk menghidupi dirinya secara layak, adalah ciri dari lelaki yang bertanggung jawab. Ayah Balqis percaya dengan kesungguhan hati Eme terhadap putrinya. Lagi pula ia sangat mengerti keadaan Eme yang mencari hidup di perantauan. Bertahan di rantau dengan hidup mapan menjadi nilai plus tersendiri. Bagaimana tidak, keluarga besar Balqis juga merupakan orang perantauan yang telah lama tinggal di Kota Medan. Mereka mempunyai suku bangsa yang sama dengan Eme, sama-sama berasal dari Sumatera Barat. Eme, Balqis dan keluarganya di Kota Medan adalah orang Minangkabau. Kampung halaman Eme berada di suatu daerah di Payakumbuh, sedangkan keluarga Balqis berasal dari Pasaman. Sebenarnya lagi ayah Balqis sudah sering melihat Eme sebelumnya, dikarenakan toko jahit tempat kerja Eme berada di seberang kedai kopi tempatnya biasa minum. Sehingga ia cukup tahu bagaimana gambaran keseharian Eme.

Ada perkara lain yang hendak diberitahukan ayah Balqis kepada Eme. Tapi berat baginya untuk menyampaikan hal itu. Ia tak ingin membuat Eme kecewa. Ada rahasia apa? Akankah ia hendak meminta secara halus agar Eme menjauhi putri kesayangannya? Anehnya, ia menunggu waktu ketika Balqis tidak berada diantara mereka. Sehingga Balqis tak akan tahu isi pembicaraan itu.

“Begini. Bapak mau beritahu sesuatu hal sama kamu. Ini menyangkut Balqis. Bapak tidak ingin kamu kecewa. Niat bapak hanya ingin memberi jalan terbaik untuk kalian berdua. Bapak tahu, selama ini Balqis tidak pernah mempunyai teman lelaki. Kamu adalah pacar pertamanya Balqis. Dan kamu sudah berkesungguhan untuk datang ke rumah ini dengan niat baik,” ayah Balqis menuturkannya dengan serius.

Eme menyimak dengan penuh pertanyaan di hatinya, ia menganggukkan kepalanya beberapa kali menanggapi penjelasan ayah Balqis. Dia tak menyela sepatah kata pun.

Ayah Balqis melanjutkan,

“Bapak tidak mempersoalkan bagaimana kamu atau pekerjaanmu. Bagi kami, sudah seharusnya pula bersikap bijak dengan Balqis. Ia sudah dewasa, bisa memilih mana yang baik buat dia. Kami bahagia ada orang yang tertarik berhubungan dengan Balqis. Sebagai seorang gadis, sudah barang tentu ia mendambakan pula kehadiran pendamping dalam hidupnya. Orangtua mana yang tak akan senang melihat anaknya bisa mewujudkan keinginan sebagaimana teman-teman sebayanya.”

“Saya pun begitu Pak. Senang sekali rasanya bisa dekat dengan Balqis. Dia mau menerima keadaan saya.” Eme menanggapi.

Ayah Balqis menarik nafas panjang lalu dihembuskannya perlahan, kemudian ia menyampaikan maksudnya. Dia memberitahu Eme bahwasanya Balqis mempunyai masalah kesehatan yang serius. Balqis menderita gangguan saluran pernafasan sejak lahir. Bila asmanya kambuh Balqis tergeletak pingsan. Dari ia kecil sudah seringkali Balqis dirawat di rumah sakit. Hingga sekarang penyakit itu masih terus diidapnya. Penyakit yang diderita Balqis sangat kronis dan akut. Menurut ilmu kedokteran asma merupakan penyakit keturunan. Penderitanya hanya bisa diterapi untuk pencegahan, namun belum ada obat yang bisa dikembangkan untuk menyembuhkannya. Dalam banyak kasus, penderita asma rentan mati muda. Mereka hanya diberi hidup pendek, hanya sampai pada waktu ketika tidak mampu lagi bertahan dengan gejalanya. Takdir Tuhan, Balqis sebagai putri sulung ayahnya mengidap penyakit mengerikan itu.

Matanya berkaca-kaca, ayah Balqis menceritakan kepedihan hatinya atas ujian yang ia terima. Betapa ia sangat menyayangi putri sulungnya tersebut. Betapa pula ia bersusah payah membesarkan dan menjaganya agar tetap bisa menghirup udara segar setiap pagi. Ia selalu berdoa dan berharap Tuhan akan memberikan Balqis umur panjang. Ia selalu ingin melihat buah hatinya dapat tersenyum dan hidup bahagia. Kini buah hatinya itu sudah besar. Ia sudah berani membawa teman lelaki ke rumah untuk bertemu orangtuanya. Teman lelaki itu adalah cinta pertama yang hadir dalam hidupnya. Karena selama ini belum ada lelaki lain yang bersedia menjadikan ia sebagai pujaan hati. Ia menyadari bahwa apa yang ia derita menyebabkan dirinya tidak menarik di mata lawan jenisnya. Ia selalu tegar. Ia dibesarkan dalam keteguhan hati. Seteguh ia yang tak pernah melepas jilbabnya. Ia tidak memberontak karena Tuhan tidak adil padanya. Hari-harinya ia jalani dengan optimis. Dia juga mempunyai impian-impian sebagaimana setiap orang miliki. Kini salah satu doanya sudah dijabah Tuhan, doa yang selalu ia munajatkan sejak lama. Ia berharap kehadiran seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus. Ia ingin merasakan dikasihi dan disayangi oleh lawan jenisnya, sebagaimana orang-orang seusianya.

Eme tertegun. Fikirannya berkecamuk. Ternyata gadis yang dicintainya adalah seorang penyakitan. Ia baru menyadarinya sekarang. Lama ia termenung mendengar penjelasan ayah Balqis. Dalam hatinya ia sudah sangat menyayangi Balqis. Kini ada kenyataan pahit yang harus dia terima. Kesetiaan dan ketulusan cintanya diuji. Apakah ia mencintai Balqis segenap jiwa dan raganya. Apakah ia mencintai Balqis sekedar mengisi kehampaan hidupnya. Apakah ia mencintai Balqis dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Apakah ia sanggup dan rela jika suatu saat belahan jiwanya pergi untuk selamanya. Ataukah perasaan cintanya memudar seketika. Ataukah ia yang akan melangkah pergi terlebih dulu. Rasa kasihan, cinta dan kekecewaan berkecamuk di hatinya. Ia sedih, sedih karena tak sanggup jika sampai ia melukai hati Balqis. Ia tak akan tega melihat wanita yang selama ini mengisi hidupnya ia campakkan. Jika ia benar-benar mencintai kekasihnya itu, ia akan selalu ada untuknya. Menyayanginya dan menerimanya sepenuh hati. Mencintainya selama hidup dan mati. Eme juga menyadari bahwa ia juga bukanlah lelaki sempurna. Status sosialnya dan kondisi fisiknya membuat ia sulit mencari pasangan yang pas. Namun Balqis dengan ketulusan hati mau menyambut cintanya. Apa lagi yang ia ragukan. Inilah cinta sejati yang ia cari-cari. Seseorang yang mau mencintai dia walau kekurangan, dan ia pun akan balas mencintai orang itu walau kekurangan.

“Jika kamu benar-benar mau menjalin hubungan yang serius dengan Balqis, dan setelah semua yang Bapak ceritakan padamu tadi, apakah kamu sanggup menerima Balqis dengan keadaan demikian? Apakah suatu saat kamu tidak akan menyesal?”

“Tidak Pak. Saya tidak akan menyesal. Saya sungguh sangat mencintai puteri Bapak. Saya bersyukur memiliki dia. Dia mau menerima saya apa adanya, maka saya akan menerima dia dengan ikhlas apapun kekurangannya.”

***

Satu tahun lebih sudah berlalu. Hubungan asmara Eme dengan Balqis diwarnai kebahagiaan. Canda tawa, gurauan manja menghiasi hari-hari mereka. Detik demi detik jalinan cinta yang mereka rajut semakin kuat. Tak pernah dirundung kesedihan. Eme menjadi sangat dekat dengan keluarga Balqis, sudah seperti keluarganya sendiri. Begitu pun Balqis, ia sering bercengkerama dengan ayah dan ibu Eme yang ada di kampung melalui telepon. Sampai-sampai Balqis yang berdarah Minang tapi tidak bisa berbahasa Minang itu, karena sering bercerita dengan ibu Eme dan minta diajarkan bercakap Minang, akhirnya ia pun bisa berbahasa Minang.

Hanya pernah sekali Eme sempat membuat Balqis tersakiti. Ketika itu ada seorang kenalan wanita meminta Eme jadi pacarnya. Eme tidak bersedia karena ia sudah memiliki Balqis. Akan tetapi wanita itu tetap memaksa dan mau dijadikan yang kedua. Eme tak bisa apa-apa, hatinya mendua juga. Mereka kemudian sering jalan. Namun akhirnya Balqis tahu perselingkuhan Eme. Balqis marah. Ia sangat sedih karena Eme menyakitinya. Dia meluapkan kekesalannya, mengingatkan Eme pada janji-janji kesetiannya. Hati Eme luluh juga. Ia sadar akan kekhilafannya. Tak lama kemudian Eme mengajak pacar keduanya itu jalan, lalu tiba-tiba mereka berhenti di apotik Balqis. Di depan wanita kesayangannya Eme berkata,

“Itu dia, pacarku Balqis. Aku sudah bilang dulu padamu kalau aku memiliki dia. Sekarang juga kamu tinggalkan aku!”

Suatu malam, ketika Eme dan Balqis berkeliling kota dengan sepeda motor, penyakit asma Balqis sempat kambuh. Mungkin karena polusi asap kendaraan. Waktu itu Balqis duduk memeluknya dari belakang. Eme yang dari tadi mengajak bicara heran mengapa Balqis tidak bersuara. Ia menghentikan motornya dan mendapati Balqis telah pingsan. Eme panik. Ia tak tahu harus bagaimana. Mereka kemudian ditolong oleh salah seorang warga setempat, seorang bapak-bapak. Bapak-bapak itu membawa Balqis bersama Eme dibantu beberapa orang ke rumahnya yang tak jauh dari tempat kejadian. Disana Balqis diberi minum dan disadarkan. Eme selalu teringat dengan bapak-bapak itu, Eme tak kan pernah lupa kebaikannya.

Lebaran haji tahun ini, Eme dan Balqis sudah berencana untuk melabuhkan bahtera cinta mereka di pelaminan. Eme bekerja keras dan semakin ulet. Ia berhemat mengumpulkan uang untuk bekal pernikahannya kelak. Di saat bahagia itu, ujian muncul lagi. Balqis harus dirawat di rumah sakit karena penyakit asmanya makin kronis. Eme tak berputus asa. Ia selalu menemani kekasihnya itu setiap hari. Menyemangatinya agar lekas sehat kembali. Merawatnya dan tak pernah berhenti memberikan perhatiannya. Semakin bertambah sayangnya kepada Balqis. Semakin besar perasaan cintanya. Beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Mereka akan bersanding di pelaminan. Mereka akan membuat pesta. Keluarga mereka akan bergembira. Mereka akan tinggal serumah. Balqis akan hamil. Dan mereka akan mempunyai buah hati. Hari itu akan mereka nantikan. Perhelatan itu sudah di depan mata. Ayah dan ibu Balqis berharap semoga puteri mereka lekas sembuh seperti sedia kala. Mudah-mudahan Tuhan memberikan keajaiban-Nya sehingga Balqis masih diberi kesempatan seperti beberapa waktu lalu. Eme pun berharap hal yang sama, ia selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan agar mencabut penyakit itu dari tubuh Balqis.

Suatu malam di pertengahan bulan Ramadhan tahun 2014. Malam itu Eme belum menyempatkan diri menjenguk Balqis. Ia sibuk karena pekerjaan menjahitnya menumpuk. Tapi ia sudah berencana akan datang agak tengah malam setelah istirahat kerjanya. Tiba-tiba hape Eme berdering. Sebuah pesan datang dari ibu Balqis,

Ndak datang ke rumah Nak?”

Kemudian Eme membalas pesan itu,

“Iya, nanti Bu. Sekarang saya masih bekerja.”

Pesan dari ibu Balqis datang lagi,

“Menyesal nanti Nak, datanglah sekarang.”

Jantung Eme berdegup kencang membaca pesan itu. Tanpa fikir panjang ia meninggalkan pekerjaannya. Ia pergi menjenguk Balqis, mempercepat langkahnya.

Disana, Eme menangis bersama orang seisi rumah. Eme duduk di depan jasad Balqis yang terbujur kaku. Ia pergi untuk selamanya. Tuhan telah menjemputnya. Tubuhnya yang sudah mengurus tak sanggup lagi menahan penyakit yang dideritanya. Kekasihnya di dunia, cinta pertama, cinta terakhir dan cinta mati dalam hidupnya, Eme, dialah yang diminta ibunya untuk memejamkan kedua mata Balqis.

Koto Alam, 24 Agustus 2014

Video Klip Logu Maibo

Video Perayaan Lebaran Idul Fitri 2014 Koto Ronah

 

:)

 

[Foto saisuak] Petani Gambir sedang “Mangampo” (1910 – 1919)

 

Petani gambir zaman Belanda (1910 - 1919)

Petani gambir di zaman Belanda (1910 – 1919)

Foto diatas bersumber dari koleksi Tropenmuseum Amsterdam Belanda, berjudul “De fabricage van gambir in de Padangsche Bovenlanden” (Terjemahan: “Pembuatan gambir di Padang wilayah atas”). Dibuat sekitaran tahun 1910 – 1919.

Menurut ulasan salah satu blog, foto tersebut adalah para petani gambir yang berada di sebuah lereng perbukitan sekitar Harau atau Pangkalan.

Berikut ini saya kutipkan posting blog yang menceritakan mengenai foto tersebut,

 

GAMBIR, REVOLUSI TAK BERUJUNG (PANGKAL)
(http://parintangrintang.wordpress.com/2014/04/28/gambir-revolusi-tak-berujung-pangkal)

Hari itu, disekitar tahun 1910-an, menjelang tengah hari, matahari terlihat begitu sumringah memancarkan cahanya. Bayangan kecil masih condong ke arah barat. Di sebuah lereng perbukitan, di sekitar Harau atau Pangkalan, sebuah pondok pengempaan gambir tampak cukup ramai. Tidak seperti biasanya, dimana orang-orang sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Kali ini semua orang berkumpul di depan pintu masuk pondok pengempaan. Tidak hanya para pekerja, peralatan dan gambir yang sudah keringpun tampak ditaruh di luar.

Rumah Kempa Gambir satu  abad yang lalu

Rumah Kempa Gambir satu abad yang lalu

Hari itu adalah hari istimewa. Seorang pribumi terpandang yang menjadi orang kepercayaan kolonial Belanda datang mengunjungi pondok pengempaan tersebut. Tujuannya adalah untuk melakukan inspeksi tentang kualitas dan mutu gambir yang dihasilkan. Para pekerja itu adalah para petani (tepatnya pekerja) yang mengolah tanaman gambir atau uncharia gambier robx menjadi gambir lumpang. Gambir lumpang biasanya dikonsumsi sebagai pelengkap makan sirih; kalau tidak, akan dikirim ke Emmahaven (teluk bayur). Melalui pelabuhan Emmahaven tersebut gambir yang menjadi komoditi penting dari Afdeeling Lima Puluh Kota selanjutnya dikapalkan ke seberang lautan; entah ke India yang menjadi jajahan Inggris atau ke Batavia yang selanjutnya disebarkan ke seluruh wilayah di Pulau Jawa.

Tidak seperti biasanya, kedatangan pria perlente tersebut didampingi oleh seorang fotografer berkebangsaan Belanda. Oleh karenanya, kepada para pekerja pondok pengempaan gambir tersebut diminta untuk mempersiapkan segala hal yang dapat menggambarkan tentang peralatan dan proses sederhana pengolahan gambir menjadi gambir lumpang (demikian dikenal oleh masyarakat). Proses pemotretan pun dimulai. Mungkin ada beberapa gambar yang diambil, namun gambar di atas yang merupakan koleksi Tropen Museum Belanda yang berjudul De Fabricage van Gambir dapat menggambarkan secara tepat tentang pengolahan gambir di Afdeeling Lima Puluh Kota.

Dalam gambar, yang bagi sebagian orang mungkin tidak menarik ini, pria separuh baya tersebut terlihat begitu gagah memakai baju safari berkancing lima berukuran besar. Baju safari tersebut memiliki empat kantong yang kesemuanya telihat berisi (penuh). Ditangan kirinya menggantung sebuah jas bewarna gelap layaknya pakaian kaum terpelajar berpendidikan Eropa. Dia terlihat semakin gagah dengan topi lebar yang bagian kirinya sedikit ditekuk ke atas. Walaupun memakai topi lebar dengan kumis melintang, pria tersebut tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan empat orang pekerja yang ada di sana.

Empat orang pekerja tersebut berpakaian sederhana dengan celana dan baju gombrong yang tidak dikancingkan. Kepala mereka tidak ditutupi topi, tetapi dengan balutan kain yang menyerupai sorban atau destar. Di sebelah kanan pria perlente tersebut berdiri seorang pria yang sepertinya baru saja kembali dari ladang gambir karena masih memikul (menjunjung?) ambuang. Ambuang adalah sejenis keranjang rotan atau bambu dengan tinggi kira-kira 1,2 meter berbentuk kerucut yang dipotong ujungnya. Ambuang merupakan tempat untuk mengumpulkan ranting-ranting gambir yang sudah dipotong sekaligus untuk mengangkatnya menuju ke pondok pengempaan. Pemakaian ambuang akan memudahkan pekerja karena daun dan ranting yang diambil biasya memiliki ketinggian 1,2-1,5 meter. Anyaman bambu atau rotan yang tidak terlalu rapat merupakan pembeda antara ambuang dengan katidiang maupun keranjang biasa. Oleh karenanya pekerja akan memegang lobang yang ada pada dinding ambuang dengan mengikatkan kain pada bagian bawah sambil digantungkan pada kening pekerja. Hal ini dilakukan karena medan yang dihadapi adalah perbukitan dengan kelerangan antara 40 s/d 60 derajat. Dengan alat seperti ini akan sangat memudahkan untuk membawa ranting gambir ke pondok pengempaan.

Dihadapan pria yang sedang memikul ambuang berdiri pria dengan memegang sebuah martil berukuran besar. Martil itu merupakan alat bantu dalam proses ekstraksi getah gambir. Palu digunakan untuk memukul bajiBaji adalah bilah kayu yang dijadikan sebagai pendorong sopik ataupun kacik untuk mengepres gambir selesai direbus. Sopik atau juga kacik adalah alat press sederhana yang digunakan untuk mengeluarkan getah gambir yang selesai di rebus. Semakin dipukul baji akan menjepit gambir yang dibalut dengan tali. Pada gambar tersebut terlihat dua buah sopik yang disandarkan di dinding pondok.

Sebelum dipress sebagaimana dikemukakan di atas, gambir tersebut terlebih dahulu direbus pada tungku besar dengan kancah atau kuali (wajan) besar di atasnya. Sebelum direbus daun dan ranting gambir di padatkan pada sebuah alat yang disebut kopuak.Kopuak adalah sebuah alat berbentuk lingkaran yang bagian atas dan bawahnya terbuka, seperti drum yang tidak memiliki tutup dan alas. Biasanya kopuak terbuat dari kulit pohon tarok. Selesai dipadatkan lalu direbus sampai pada suhu tertentu yang ditandai dengan warna air rebusan yang berwarna kecoklatan. Selanjutnya dari kancah dibalut dengantali palilik untuk ditempatkan pada alat yang disebut sopik atau kocik di atas.

Hasil rebusan ditampung dan dialirkan pada sebuah lobang kedap air untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam alat yang disebut paraku. Paraku terbuat dari papan yang menyerupai bak penampungan sedernaha dengan ukuran selebar papan baik tinggi maupun lebarnya. Dalam paraku inilah terjadi proses pengendapan. Endapan getah yang mengandung katechin dan bahan lainnya akan tetinggal dalam paraku seiring dengan air yang meresap atau menguap. Setelah air mulai berkurang, getah yang masih basah tersebut lalu di ditumpuk pada suatu tempat dengan diberi tekanan kecil diatasnya agar kadar airnya berkurang. Bila kadar air sudah berkurang maka gambir siap dicetak.

Alat yang digunakan untuk mencetak lumpang tersebut disebut cupakCupak terbuat dari seruas bambu kecil yang dipotong kedua ujungnya. Pada satu bagian disiapkan alat penekan agar dapat mengeluarkan gambir dari cupak tersebut. Dengan demikian bentuk dan ukuran gambir yang dihasilkan akan sama ukurannya.

Setiap gambir yang selesai dicetak dengan cupak akan diletakkan di atas samia. Samia adalah anyaman bambu berukuran satu kali dua meter tempat meletakkan gambir yang telah dicetak sekaligus tempat menjemurnya. Dihadapan pria perlente dengan senyum tipis tersebut terlihat seorang pria yang sedang mencetak gambir dalam bentuk lumpang dan meletakkannya di atas sebuah samia.

Setelah gambir tersusun di atas samia maka gambir tersebut lalu dikeringkan dengan menggunakan panas matahari selama beberapa hari. Biasanya dibutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk mengeringkan gambir sehingga bisa disimpan di katidiang untuk selanjutnya di bawa pulang dan dijual ke pasar.

Secara umum proses panen daun gambir sampai siap untuk dibawa pulang adalah selama lima sampai enam hari. Pekerja pengolah gambir yang biasanya berjumlah tiga sampai empat orang ini berangkat menuju ladang gambir sehari setelah hari pasar di nagari tempat mereka tinggal. Pada hari itu semua perlengkapan dibawa seperti beras, lauk pauk, minyak, sampai dengan rokok atau daun dan tembakau. Setelah lima hari bekerja, mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri membawa gambir hasil panenan mereka ke pasar. Gambir lalu dijual kepada pedagang pengumpul dengan satuan penjualan pikols. Hasilnya lalu dibagi dua antara pemilik lahan dengan para pekerja tersebut. Pemilik lahan biasanya adalah orang terpandang di suatu nagari. Mereka inilah yang membiayai pengolahan kebun gambir sehingga siap panen serta biaya para pekerja untuk pergi ke pondok pengempaan selama lima hari. Hasil setengahnya lagi dibagi rata antara pekerja yang ikut.

Demkianlah, pengolahan gambir yang terjadi di daerah yang kini menjadi wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota. Proses dan mekanisme ini sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Gambar yang diambil satu abad yang lalu tersebut menjadi bukti bahwa gambir memang sudah lama diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota terutama yang berada di daerah (kini) Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Harau, Kecamatan Bukik Barisan, dan Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Sebuah data statistik yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1865 s/d 1869 memperlihatkan jumlah gambir yang dibawa keluar Sumatera Barat (Sumatra’s Weskust) dalam jumlah yang cukup besar. Pada tahun 1865 misalnya, gambir yang dikirim adalah sebanyak 8978 pikols. Dengan asumsi 1 pikols sama dengan 50 kilogram maka tahun tersebut dikapalkan sebanyak hampir 450 ton gambir dengan berbagai tujuan. Tabel di bawah ini dapat menggambarkan fluktuasi pengiriman gambir melalui pelabuhan Emmahaven (teluk bayur). Data ini sepertinya belum memasukkan lalu lintas gambir melalui wilayah timur yang berpusat di Nagari Pangkalan sekarang ini. Data komditi lainnya dapat dilihat pada tabel di bawah,

Perkembangan komoditi yang dihasilkan di Sumatra's Weskust dikirimkan melalaui pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven)

Kini, tahun 2014, setelah lebih kurang satu abad gambar tersebut diambil, ketika para pekerja dan pria perlente tersebut telah lama dipanggil oleh yang maha kuasa, belum terjadi perubahan yang berarti. Lihatlah gambar pengolahan gambir di bawah ini.

Daun gambir yang telah dimampatkan utk selanjutnya di rebus

Serangkaian gambar di bawah merupakan kondisi kekinian dari proses pengolahan gambir yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota. Bila dibandingkan dengan kondisi satu abad yang lalu tidak terdapat perubahan yang berarti. Secara umum proses pengolahan masih menggunakan teknik yang sama. Mulai dari proses panen daun/ranting gambir hingga penjemuran bahkan penjualannya ke pasar. Singkat kata (industri) pengolahan gambir dalam seratus tahun terakhir tidak tersentuh perubahan atau revolusi.

Daun yang selisai direbus diletakkan pada alat pengempaan yang menggunakan dongkrak

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, gambir memang sangat menarik untuk dibicarakan. Bukan hanya karena ekspose media masa tentang nasib petani gambir yang semakin tajam, akan tetapi juga ketertarikan para peneliti, birokrat dan dunia industri tentang manfaat gambir ini.

Proses pengempaan dengan menggunakan dongkrak

Ketertarikan media masa pada komoditi gambir adalah pada saat harga gambir jatuh tajam akibat berkurangnya permintaan luar negeri (ekspor). Pengurangan permintaan tersebut dapat diakibatkan dari (1) lahirnya kebijakan baru pada negara-negara pengkonsumsi gambir sebagai bagian dari sebuah produk akhir entah itu berupa Pan Masala dan Gutkha di kawasan Asia Selatan, atau (2) sebagai dampak dari meningkatnya supply bahan substitusi kathecu yang berasal dari tanaman lain seperti pinang dan lain sebagainya, termasuk juga (3)ketika terjadi penguatan nilai tukar rupiah terhadap US dollar.

Cairan hasil pengempaan diendapkan beberapa hari dalam paraku

Ketika kondisi itu terjadi, di media massa akan keluar judul berita kira-kira seperti ini “Harga Gambir Anjlok, Petani di Kecamatan X, Y dan Z menjerit, Pemerintah tidak berbuat apa-apa.” Berita seperti bisa begitu mengguncang ditengah masyarakat dalam waktu pendek. Terkadang bisa sampai sayup-sayup ke DPRD. Namun demikain bila kondisi sudah normal kembali, harga merangkak naik tak ada lagi media massa yang mengekspose-nya. Semua menjadi senyap kembali ketika petani dan pekerja gambir menikmati rupiah yang melimpah dari hasil panen mereka.

Getah gambir yang selesai diendapkan ditiriskan untuk mengurangi kadar air

Bila hingar bingar dengan judul berita bombastis di surat kabar seperti pasang surut air laut, maka tidak demikian halnya dengan senyapnya berita tentang apa yang dilakukan oleh lembaga riset dan peneliti dan pemerintah. Semua meyadari bahwa selagi harga gambir mampu memuaskan petani, mereka tidak akan dilirik sama sekali (kalau tidak ingin disebut dilupakan). Berbagai hal coba dilakukan. Tetapi tidak pernah berdampak langsung pada kenaikan dan stabilitas harga. Pemerintah memang tidak mungkin atau sangat sulit masuk ke pasar karena dibatasi oleh ketatnya peraturan dan perundag-undangan yang bisa saja berujung pada tuduhan tindak pidana korupsi, di samping gambir juga bukan bahan yang digunakan sebagai bahan baku dalam menghasilkan suatu produk akhir. Tidak ada end user gambir di sini, bahkan untuk pemakan sirihpun sudah sangat jarang terlihat.

Gambir yang telah diendapkan diceetak dengan menggunakan cupak dan diletakan di atas samia

Oleh karenanya, tidak tampak upaya nyata dari berbagai pihak untuk memperbaiki nasib petani dan pekerja pengolah gambir. Akibatnya peneliti, pemerintah, petani, pemerhati (media massa) sering berjalan sendiri-sendiri. Sangat sulit mendapatkan titik temu diantara bebagai pemangku kepentingan tersebut. Akibatnya jargon Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai penghasil gambir terbesar di Indonesia hanyalah sebuah ungkapan pemanis yang hanya diketahui oleh segelintir orang di Lima Puluh Kota, karena gambir bukanlah hajat hidup orang banyak sekalipun itu di Lima Puluh Kota.

SNI1-3391-2000 tentang Mutu Gambir

Namun demikian, lembaga pemikir, peneliti, pemerintah, maupun perguruan tinggi sebenarnya tetap berupaya untuk melakukan perubahan. Pemerintah, misalnya, pada tahun 2000 telah mengeluarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3391-2000 : Tentang Mutu Gambir, yang dibagi atas 2 kelompok mutu yaitu Mutu I dan Mutu II (lihat gambar). Selama hampir 14 tahun SNI tersebut dikeluarkan tidak terjadi perubahan yang berarti pada gambir yang dihasilkan. Alih-alih mengikuti standar mutu gambir tersebut petani malah mengikuti selera pedagang pengumpul sebagai tangan kanan ekpsortir. Karenanya, isu tentang gambir yang dicampur dengan tanah, tanah liat sampai dengan pupuk kimia sudah menjadi rahasia umum. Semuanya tergantung kepada permintaan pasar dalam hal ini pedagang pengumpul. Sudah dapat dipastikan ditengah-tengah masyarakat (petani dan pekerja) mutu sesuai SNI sering kali menjadi olok-olok dan bahan guyonan saja.

Kembali ke proses produksi, sebagaimana dikemukakan pada bagian awal, perubahan dalam metode dan teknik produksi hanya sedikit terjadi. Bila dulu untuk melakukan ekstraksi menggunakan sopik dan kocik yang dibantu dengan menggunakan baji, maka sekarang dipermudah dengan menggunakan dongkrak hidrolik. Di luar proses ekstraksi tersebut hampir tidak ada perubahan selama berabad-abad. Pun demikian dari sisi struktur produksi. Modal usaha, ongkos produksi dan bagi hasil semuanya tetap menggunakan sistem yang sudah dipakai turun temurun sejak berabad-abad yang lalu tersebut. Pendek kata dari sisi ekonomi, dari tahun ke tahun, fungsi atau struktur produksi gambir tetaplah menggunakan metode lama tersebut. Padahal, sisi ekonomi saat ini sebenarnya mengedepankan unsur efisiensi biaya produksi, kualitas, dan sifat ramah lingkungan.

Lembaga penelitian seperti LIPI, Balai Riset dan Standarisasi Industri (Baristand), peneliti perguruan tinggi, beberapa kali mencoba untuk meningkatkan nilai tambah dari gambir melalui produk akhir yang beragam. Ada banyak temuan, seperti masker, kosmetika, alat kesehatan, tinta stempel, tinta untuk pemilu, bahkan tenunan gambir pernah disampaikan pada kalangan terbatas. Sayang, temuan itu hanya dipandang sebelah mata. Penelitian hanya diingat bila terjadi penurunan drastis pada harga gambir.

Sampel Tinta Gambir pada Pemilihan Wali Nagari Panampuang 12 Januari 2014

Beberapa orang mencoba untuk tetap konsisten melakukan uji coba dan penemuan dari produk turunan gambir. Professor Amri Bachtiar dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas, misalnya selalu menjadi pembicara penting dalam diskusi tentang produk turunan gambir. Setiap waktu beliau memperkenalkan produk hilir dari gambir. Demikian juga dengan peneliti dari Baristand Padang, yang sudah merilis tinta Pemilu berbahan dasar gambir. Walau sempat diujicobakan pada Pilwako Payakumbuh tahun 2012, namun karena sesuatu dan lain hal tidak dapat diakui secara resmi. Penggunaan tinta tersebut kemudian terus dilakukan pada skala yang lebih kecil, kali ini pada pemilihan Wali Nagari Panampuang Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam tanggal 12 Januari 2014 yang lalu (lihat gambar). Masih banyak upaya dan percobaan yang dilakukan oleh lembaga tersebut, namun tampaknya nasih bersifat sporadis, karena mereka hanya lembaga penelitian.

Kotak Tinta Gambir yang digunakan dalam Pemilihan Wali Nagari Panampuang

Pemerintah daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten juga telah menyusun berbagaiaction plan. Namun selalu kandas dalam implementasi. Hal ini dikarenakan keterbatasan pemahaman dan pengetahuan berbagai kalangan tentang komoditi gambir tersebut. Sangat sedikit orang yang mengetahui apa itu gambir. Sebagai contoh, walaupun sebagian orang sering ke Stasiun Gambir atau Pasar Gambir di Jakarta tetapi sangat susah menjumpai orang yang mengetahui benda apa itu gambir. Pada umumnya orang menganggap gambir adalah buah yang diolah lalu dikeringkan; batangnya besar, buahnya lebat.

Pernah terbit secercah harapan untuk secara perlahan menyadarkan petani tentang mutu dari gambir yang mereka hasilkan. Melalui kelompok tani Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota telah mulai melakukan uji mutu gambir yang dihasikan oleh kelompok. Namun tidak ada yang peduli dengan hasil uji mutu tersebut. Semuanya berpendapat, mereka butuh uang. Mutu yang dihasilkan perkara belakangan.

Memang, tidak mudah merubah semuanya itu. Perlu sebuah revolusi agar gambir menjadi komoditi penting. Sayangnya, tidak ada yang tau, dari mana revolusi itu harus dimulai. Karena memang tidak diketahui dimana ujung dan dimana pangkalnya.

Wassalam

nspamenan@yahoo.com Kubang Gajah, 27 April 2014

 

[Foto saisuak] Sungai Batang Samo di Pangkalan Tahun 1912

Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pakoemboeh dan Pangkalankotabaroe").

Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: “Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pakoemboeh dan Pangkalankotabaroe”). Sekitar tahun 1912

Sumber foto: KITLV Leiden Belanda (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=batang+samo)

Metdata:

mtdt btg smo

 

(ahm)

 

[Foto saisuak] Sungai Muara Mahat di Kampar dan Sungai Batang Pulan di Tanjungbalit

Aliran Sungai Muara Mahat (sekitar tahun 1912)

Stroomversnelling in de Kampar, vermoedelijk bij Moearamahat bij Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Aliran sungai di Kampar, kemungkinan di Muara Mahat, Pangkalan Koto Baru)

Stroomversnelling in de Kampar, vermoedelijk bij Moearamahat bij Pangkalankotabaroe (terjemahan: “Aliran sungai di Kampar, kemungkinan di Muara Mahat, Pangkalan Koto Baru”)

Sumber foto : KITLV Leiden Belanda (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=moearamahat)

Metadata:

metadata muara mahat

Pemberian efek warna pada foto:

muara mahat1

 

Batang Pulan di Tanjung Balit (1877 – 1879)

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: "Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh")

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: “Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh”)

Foto diatas barangkali sebuah sungai di Nagari Tanjung Balit (Kec. Pangkalan) pada sekitaran tahun 1877 -1879. Sungai tersebut dinamakan Batang Poelan. Saat ini sudah tidak terdapat sungai di Nagari Tanjung Balit, karena semenjak tahun 1998 desa ini telah dijadikan genangan waduk oleh proyek PLTA Koto Panjang.

Sumber foto: KITLV Leiden Belanda (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/start/96?f_trefwoord%5B0%5D=Lima+Puluh+Koto)

Metadata foto:

mtdt tjg blt

Pemberian efek warna pada foto:

batang pulan tjg balit1

 

*(ahm).

[Foto saisuak] Pembangunan Jalan Rute Koto Alam – Lubuk Bangku Tahun 1913

Dari koleksi pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda, foto ini berjudul Weg in aanbouw bij de vlakte rond Kotaälam op het traject Loeboekbangkoeng – Kotabaroe in de Westkust van Sumatra (terjemahan: Jalan yang sedang dibangun di sekitar dataran Kotaälam pada rute Loeboekbangkoeng  – Kotabaroe di Pantai Barat Sumatra | Google Translate). Lubuk Bangku itu dahulunya dinamakan Lubuk Bangkuang (Loeboekbangkoeng).

Jalan yang sedang dibangun rute Lubuk Bangku - Koto Baru (Pangkalan),11 km dari Koto Alam. Tahun 1913 [KITLV Leiden Belanda]

Jalan yang sedang dibangun rute Koto Baru (Pangkalan) – Lubuk Bangku,  diihat 11 km dari Koto Alam. Tahun 1913 [KITLV Leiden Belanda]

Sumber foto dapat diakses di tautan http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/1?q_searchfield=kota+alam.

Kemudian pada metadatanya ditambahkan caption foto: Bijschrift: Wegaanleg Loeboek Bangkoeng, Kota Bahroe bij Pajacombo. Gezicht op de daling van af K.M. 11 en de vlakte van Kota Alam. 11 April 1913 (terjemahan: Pembangunan jalan Loeboek Bangkoeng, Kota Bahru di Pajacombo. Dilihat 11 kilometer jauhnya dari dataran Kota Alam. 11 April 1913 | Google Translate).

metadata foto

metadata foto

Dapat kita ketahui bahwa foto ini dibuat pada tanggal 11 April 1913 dengan ukuran 21×54,5 cm. Foto terdiri dari dua bagian yang berdekatan.

Dari foto terlihat penggerusan sisi bukit untuk membuat jalan. Pemandangannya mengingatkan kita lokasi sekitaran Bukik Lawa (Kelok 17), bisa jadi foto ini dipotret dari Panorama Kudo Putih. Coba kita poles foto hitam putih ini dengan sedikit efek pewarnaan, perhatikan…

Nah, sekarang kita yakin objek yang ada di foto adalah Bukik Lawa (Kelok 17) di Koto Alam :D (klik pada foto untuk memperbesar). Mungkinkah datuk-datuk dan nyinyik-nyinyik kita dulu disuruh kerja paksa oleh Urang Ulando untuk membangun jalan ini?

*Catatan:

Beberapa penamaan dalam dokumen Belanda:
Pajakombo = Pajacombo = Payakumbuh
Loeboekbangkoeng = Lubuk Bangku
Kota Alam = kotaälam = Koto Alam
Kotabaroe = Kotabahroe = Koto Baru (Pangkalan)

(AHM).

%d bloggers like this: