Sakido Mura, Another One Equator Monument in West Sumatra


Many tourists only know that monument of equator in Sumatra Island is only located in Bonjol, but actually there are some other places in Sumatra that also have their own equator monument.

Location of some Equator Monuments in Sumatra Island

Location of some Equator Monuments in Sumatra Island

I will tell you about another one equator monument in Sumatra Island. This monument located at Koto Alam, a village in Pangkalan Koto Baru district Limapuluh Kota, West Sumatra. The monument look like a ball, many tourists called it as equator ball. Whereas local people called it “Sakido Mura”, a name which audible as Japanese language. Location of monument, Koto Alam, is one of place in equator line.

Equator Monument Sakido Mura

Equator Monument Sakido Mura

History of Sakido Mura

Based on local information, this monument early was built by Holland in Dutch East Indies period before independence of Indonesia. But no data have found when is the year of this monument was built firslty. Holland named it as “Pila”. They built it like a upright monument. I have searched for informations about it in KITLV Library and Tropenmuseum, but i can’t find any documents about this monument. Holland used “Pila” as an instrument for instruction of wet and dry season, because the monument stand right above zero latitude point of the earth. Every years, in this place happened phenomenon of sun culmination, no shadow when daylight caused by the position of the sun were right above equator.  This phenomenon always happened twice a year, 21 up to 23 on March and 21 up to 23 on September

When World War II period, Holland leaved Indonesia, then Nippon took their position. Nippon reformed “Pila”, they reconstructed it formed like a ball. They painted Japan Flag “Hinomaru” on the ball. Also they changed name of “Pila” became “Sakido Mura”, the meaning is “Village in Equator”. Meaning of “mura” is “village”. But i’m not sure that “Sakido” meaning is equator, i have try to translate it using Google Translate (Japan to Indonesia). Maybe, Japanese can explain to me about meaning of “Sakido”. But, local people trust that “Sakido” meaning is “Equator”.

I try to find some informations about “Sakido Mura” from documents of Holland or Nippon. But I can’t get it yet. Right now, Sakido Mura become one of local tourist destination in West Sumatra, the goverment initiated it on September 2013.

Pictures below are Sakido Mura from any years.

A tourist in Sakido Mura when event of Cycling Across Equator in 1991

A tourist in Sakido Mura when event of Cycling Across Equator in 1991

Sakido Mura in 2003

Sakido Mura in 2003

Sakido Mura about 2005

Sakido Mura about 2005

A russian in Sakido Mura about 2010

A Russian in Sakido Mura about 2010

An event in Sakido Mura, September 2013

An event in Sakido Mura, September 2013

If you interested to visit Sakido Mura, the monument located in the roadside of Jalan Sumbar – Riau rute. Here is the map.

[Foto saisuak] Rumah di Pinggir Sungai Tanjung Balit (1877 – 1879)


tanjungbalit

Rumah di pinggir sungai Nagari Tanjung Balit, Pangkalan Koto Baru, zaman Belanda

Foto diatas bersumber dari koleksi pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda [ klik ]. Judulnya Huizen aan een rivier te Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (Rumah di Sungai Tanjung Balit, Payakumbuh). Dibuat sekitaran tahun 1877 – 1879 oleh orang Belanda yang melakukan perjalanan penelitian ke Sumatera Tengah.

zq

Metadata foto

Berikut ini foto yang saya perkirakan berada di lokasi yang sama, sebuah sungai yang dinamakan “Batang Poelan” di Nagari Tanjung Balit. Juga dibuat pada sekitaran tahun 1877 – 1879 oleh orang Belanda yang bernama Veth, D.D. Mungkin saja foto rumah di pinggir sungai yang saya tampilkan diatas berlokasi di tepi sungai “Batang Poelan” sebagaimana foto dibawah ini.

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: "Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh")

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: “Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh”)

Saat ini sudah tidak terdapat sungai di Nagari Tanjung Balit, karena semenjak tahun 1998 desa ini telah dijadikan genangan waduk oleh proyek PLTA Koto Panjang.

Sumber foto: KITLV Leiden Belanda [ klik ]

Metadata foto:

mtdt tjg blt

Pemberian efek warna pada foto:

batang pulan tjg balit1

*(ahm).

Foto-foto Petani Gambir Zaman Belanda


Foto-foto dibawah ini barangkali adalah petani gambir zaman Belanda yang berada di daerah Limapuluh Kota. Dilihat dari peralatan-peralatan dan cara mereka mengolah gambir sama persis dengan pengolahan gambir tradisional di wilayah Harau, Pangkalan, Kapur IX dan Kampar.

1. Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek (1920 – 1926)
Ko anak kewi sadang duduak mambao ambong, nak poi maambik le nampak a. Ado kopuk jo kapak lo dokek inyo.

petani gambir saisuak

Judul foto:
Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek
(Pengenalan memanen daun di pabrik gambir)

Keterangan:
Belanda: Repronegatief. Man zittend voor geoogste gambirbladeren in pakmanden. Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek
(Seorang laki-laki duduk untuk memanen daun gambir di “pakmanden”. Pengenalan memanen daun di pabrik gambir)
Inggris: Bringing in the factory baskets with harvested gambir leaves, Indonesia
(Membawa keranjang dengan daun gambir yang dipanen, Indonesia

Sumber foto:
Tropenmusem [ klik ]

2. Het drogen van gambir (1920 – 1926)

Ko karyawan kampaan ntah dimano-mano ge, ntah datuk datuk kito tapo iko ge ge ahaha. Masuk gayaa kang. Nan togak manjujong ambong manjungu ajo mode maibo (mode banyak utang jo induk somang). Nan mancetak gambi de Aderai baotot-otot. Ko nan bakopiah ge nodo ma nampak a, ntah nodo ntah pak wali zaman itu wkwkwkwk (matonyo seram kang). Tu nan duduk manjujong ambong olun makan le modee, maibo. Haahaha. Datuk-datuk kito ge kelihatan mamakai baju guntiang cino, mungkin zaman itu baju guntiang cino sadang ngetrend.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_drogen_van_gambir_TMnr_10012666

Judul foto:
Het drogen van gambir
(Pengeringan gambir)

Keterangan foto:
Belanda: Het drogen van gambir
(Pengeringan gambir)
Inggris: Drying of gambir in a gambir factory, Indonesia
(Mengeringkan gambir di pabrik gambir, Indonesia)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

3. Het drogen van gambir (1920 – 1926)

Ko anggota foto nan mua juo, sadang manjomu gambi. Ado lo ton anak ketek poi jo Aba ka ladang.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_drogen_van_gambir_TMnr_10012667Judul foto:
Het drogen van gambir
(Mengeringkan gambir)

Keterangan:
Belanda:  Drie mannen en een kind poseren bij stellage waar gambirblokjes gedroogd worden
(Tiga laki-laki dan seorang bocah berpose di tempat pengeringan gambir yang sudah dicetak)
Inggris:  Drying if gambir in the sun, Indonesia
(Mengeringkan gambir dengan sinar matahari)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

4.  Oven in een gambirfabriek (1920 – 1926)

Ko wak agie namonyo Mak Udin (aso-asoo keo). Mamak Udin nan ganteng ge sadang manyaloan api tungku. Sunguik-sunguik Mak Udin maniru sunguik Jenderal Balando pulo modee. Mungkin Mak Udin fans jo tentara Balando zaman itu.

411px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Oven_in_een_gambirfabriek_TMnr_10012665

Judul foto:
Oven in een gambirfabriek
(Oven di pabrik gambir, hahahaah tungku kecean oven kue dek ugang balando)

Keterangan:
Inggris: The furnace in a gambir factory, Indonesia
(Tungku di pabrik gambir)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

5. De fabricage van gambir in de Padangsche Bovenlanden (1910 – 1919)

Nan iko foto datuk-datuk boyband sadang mangampo.  La pernah wak cariotoan dulu ge, baco disiko [ klik ]

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_fabricage_van_gambir_in_de_Padangsche_Bovenlanden_TMnr_10012664

Foto Koto Alam dilihat dari Citra Satelit


Beberapa waktu lalu Google Maps memperluas jangkauan citra satelitnya. Area-area di bumi yang sebelumnya masih tertutup akses Google Maps, sekarang sudah bisa dilihat dengan penampakan real pada ketinggian 20 meter (100 kaki). Wilayah Nagari Koto Alam termasuk area yang saat ini telah bisa kita akses penampakan realnya. Jika ingin mengakses langsung menggunakan komputer silahkan kunjungi link ini [klik disini]

Berikut foto-foto penampakan Nagari Koto Alam dari citra satelit Google Maps

KTA

Nagari Koto Alam

MIRING

Dilihat dengan kemiringan

ktr1

Koto Ronah

KTT

Koto Tongah

pld

Polong Duo

sp3

Simpang Tigo

ktolamo

Koto Lamo

lbk

Lubuk Alai, Palo Bondo, Lubuk Kanca

batin

Lubuk Tampo, Lubuk Batin, Kampong Dalam

sawa lowe

Sawa Lowe

Kisah Cinta Mengharukan Perantau Koto Alam


Cinta Pertama, Cinta Terakhir dan Cinta Mati

Sebuah cerpen, diangkat dari kisah nyata perantau Koto Alam
Penulis: Abdul Hamdi Mustapa

dik

 “Uhuk! Uhuk!”

“Ahhim…!”

Eme menderita batuk flu sejak dua hari ini. “Ahhim…!”, begitu bunyi suara bersin Eme. Tidak terdengar seperti suara orang bersin kebanyakan: “Hatchim…!”. Bibir bagian atas Eme memang tercipta unik sedari lahir, sekilas terlihat seperti terkena sabetan pisau, yang membelah lekukan hidung Eme hingga bibir bagian atas mulutnya. Kondisi ini berpengaruh pada setiap kata yang Eme ucapkan apabila ia berbicara. Beberapa abjad huruf konsonan tak bisa ia lafalkan secara benar. Suaranya selalu ke hidung. “Ahhim…!” Begitu suara bersin Eme.

Eme meninggalkan pekerjaan menjahitnya. Ia meminta izin pada bosnya untuk keluar beberapa menit saja. Tujuan Eme ingin membeli obat untuk meredakan batuk flunya. Ia berjalan puluhan meter dari tempat kerjanya menuju sebuah apotik. Di apotik itu Eme bertemu seorang gadis berjilbab yang tidak lain adalah pelayan disana. Eme memesan obatnya, kemudian gadis itu pun mengambilkan obat untuk Eme. Entah bagaimana, Eme begitu memperhatikan gadis yang ada di depannya itu. Ia memandangnya dengan sepenuh hati. Sejenak ia tertegun,

“Ini obatnya, Bang.” Tutur gadis itu pada Eme.

“I… Iya, ini uangnya.” Balas Eme.

Eme kembali dari apotik menuju tempat kerjanya. Di benaknya masih terfikir tentang gadis yang baru saja ia jumpai. Sepertinya gadis berjilbab itu telah memikat hati Eme yang sedang kosong.

Benar saja. Malam berikutnya Eme kembali mengunjungi apotik tersebut. Ia berdalih bahwa batuk flunya belum juga sembuh. Tentu hanya sekedar modus untuk bisa bertemu seseorang yang sedang ia suka. Kali ini Eme memberanikan diri untuk menanyakan nama gadis itu.

“Dek, kalo boleh tahu nama adek siapa?”

Gadis itu jadi agak canggung, ia berusaha tersenyum menahan tawa mendengar suara Eme yang ke hidung.

“Kok senyum aja dek, kasih taulah abang siapa nama adek.” Eme kembali bertanya.

“Balqis, bang.” Jawab gadis itu dengan ramah.

Setelah tahu namanya, Eme terus mengajak gadis itu bicara. Eme menatapnya dengan percaya diri, menanyai dan merayunya. Tapi Balqis, gadis itu, lebih banyak diam. Ekspresinya datar. Sesekali ia membalas perkataan Eme, kadang ia hanya tersenyum. Eme bahkan berusaha meminta Balqis untuk memberikan nomor hapenya. Namun bujukan Eme gagal, Balqis tak mau mengasihkannya.

Eme tak patah semangat. Tampaknya ia benar-benar ingin mengenal Balqis lebih dekat. Kini, setiap waktu istirahat kerja, Eme selalu mengunjungi apotik Balqis. Ia duduk-duduk disana memandangi Balqis. Merayunya. Mengajaknya bicara. Berbagai kalimat-kalimat gombal ia lontarkan untuk menarik hati Balqis.

“Obat cinta ada gak dek?”

“Ada lah bang.”

“Kayak apa tu obatnya dek?”

“Ya, pokoknya ada deh bang.” Jawab Balqis sambil tersenyum.

Demikian sebait percakapan Eme dengan Balqis. Balqis mulai sedikit akrab membalas pembicaraan Eme. Perlahan-lahan Eme mengetahui berbagai hal tentang Balqis. Seminggu lamanya Eme mendekati Balqis, akhirnya Balqis mau memberikan nomor hapenya. Eme pun senang sekali.

***

Tidak lama bagi Eme untuk menaklukkan hati Balqis. Setiap hari ia meneleponnya. Bersenda gurau. Bercanda. Dan memberikan perhatian. Lama-lama hati Balqis luluh juga. Pucuk dicinta ulam tiba. Eme meyakinkan diri untuk meminta Balqis menjadi pacarnya. Balqis pun bersedia menerima Eme sebagai kekasihnya. Alangkah bahagianya. Mengapa tidak, Eme bagi Balqis adalah pacar sekaligus cinta pertamanya. Selama hidupnya baru kali ini ia memiliki seseorang yang spesial di hati, seorang lelaki yang senantiasa tulus memberikan perhatiannya. Eme pun sangat bahagia karena Balqis mau menerima ia apa adanya.

Beberapa minggu jalinan kasih mereka berjalan. Dan sudah beberapa kali pula Eme mengajak Balqis pergi kencan. Setiap ada kesempatan, Eme pasti selalu berada di apotik Balqis. Suatu kali mereka terlibat percakapan,

“Bang.”

“Iya dek.”

“Kira-kira abang serius gak sama Balqis?”

“Seriuslah sayang. Kok nanya itu dek?”

“Hmm kalo benar abang serius sama adek, berani gak abang datang ke rumah buat jumpa sama ayah dan ibu Balqis?”

“Ehm..” Eme berfikir sejenak menanggapi ajakan Balqis untuk bertemu orangtuanya. Dalam fikiran Eme, Balqis sudah cocok sebagai pendamping hidupnya. Balqis telah bersedia menerima kekurangannya. Ia pun sudah begitu sangat menyayangi Balqis. Untuk apa dulu ia bersusah payah mendapatkan Balqis jika hanya main-main. Tidak. Eme adalah seorang lelaki yang dewasa. Sudah 23 tahun umurnya. Ia juga telah bekerja dan cukup mapan. Sekarang ia memiliki Balqis, satu-satunya wanita yang ada di hatinya. Balqis juga sudah bekerja. Apalagi Eme adalah lelaki pertama yang dicintai Balqis. Mengapa tidak? Eme membulatkan tekadnya. Tidak ada salahnya juga jika sudah ada niat untuk membina rumah tangga dan mengakhiri masa lajangnya. Apalagi jika kesempatan terbuka, ia tentu tak akan menunda. Akhirnya Eme menyetujui ajakan Balqis untuk berkunjung ke rumahnya.

Malam itu Eme memberanikan diri datang ke rumah Balqis. Ia berjalan kaki menuju rumah yang tak seberapa jauh dari apotik tempat Balqis bekerja.

“Assalamualaikunm.” Eme mengucapkan salam di depan pintu rumah Balqis.

“Waalaikumsalam bang, silahkan masuk.” Balqis menyambut Eme dan mengijikannya masuk.

Di dalam rumah duduk ayahnya Balqis. Ia sama sekali tidak menjawab salam Eme. Eme berusaha menjabat tangan ayah Balqis untuk menyalaminya. Akan tetapi ia tidak menanggapi Eme.

Eme bingung dan tak tau harus bagaimana. Namun Balqis mempersilahkan Eme untuk duduk di sofa, berhadapan dengan ayahnya. Tak berapa lama Balqis membawakan mereka minum. Kemudian Balqis mengisyaratkan pada Eme untuk mengajak ayahnya bicara.

“Gimana kabarnya Pak, sehat?” Eme memulai bicaranya.

Ayah Balqis hanya diam mendengar sapaan Eme. Bahkan menoleh pun tidak. Sikapnya yang demikian membuat Eme kehabisan akal. Eme semakin bingung, akhirnya dia pun ikutan diam saja. Sementara ayah Balqis hanya menoleh ke arah TV. Lama-lama suasana semakin kaku. Beberapa saat kemudian ayah Balqis mengambil remote TV, ia menekan tombol untuk mengeraskan volume suara TVnya.

Habis sudah Eme. Ia bertamu tapi tidak diperlakukan sebagaimana layaknya. Niatnya baik, hanya untuk berkenalan dengan orangtua kekasihnya. Akan tetapi ia diabaikan. Bahkan tidak dihiraukan. Basa-basi pun tidak. Salam dan sapanya juga tidak ditanggapi. Eme tidak tahu harus berbuat apa. Balqis yang juga berada disana ikut membisu.

Eme pasrah. Fikiran pesimis mulai berbisik di benaknya. Apalah daya Eme. Ia hanyalah seorang pekerja di toko jahit yang tidak bisa menjamin masa depannya akan cerah. Bibirnya yang sumbing membuatnya tak jelas bicara dan terlihat cacat. Mana mungkin ayah Balqis akan bersedia merestui ia menjalin hubungan dengan putrinya. Pantas saja ayah Balqis cuek dan bersikap dingin ketika melihat pacar anaknya demikian banyak kekurangan.

Eme berusaha meneguhkan hatinya. Yang penting ia telah menyanggupi janjinya pada Balqis untuk menjumpai orangtuanya. Walaupun tidak terjadi percakapan apa-apa antara mereka. Setengah jam berlalu hanya duduk diam dilantuni suara TV yang keras.

Eme pamit untuk pulang.

“Pak, saya berangkat pulang dulu.”

Tetap tak ada reaksi dari ayah Balqis. Eme pun pulang dengan perasaan kacau.

***

Eme tak habis fikir. Ia beranggapan macam-macam. Ia mencoba menghibur kesialannya. Mungkin saja ayah Balqis menyandang cacat, tuli lagi bisu. Hahaha. Eme tertawa dalam hatinya.

Balqis menghubungi Eme. Melalui pesan singkat ia meminta maaf pada Eme atas sikap ayahnya.

“Ayah orangnya memang seperti itu. Tapi Balqis kasih jempol deh untuk abang karena udah berani datang.”

Hari berikutnya Eme diminta lagi untuk berkunjung. Dengan berat hati namun percaya diri, Eme kembali bertamu ke rumah Balqis untuk kedua kalinya.

Seakan tak ada harapan bagi Eme. Suasana di malam itu tak ubahnya seperti malam sebelumnya. Salam Eme tak dijawab. Jabat tangannya tak disambut. Eme kikuk. Menyedihkan sekali dia. Jika diibaratkan, Eme bagaikan seorang bocah kecil kumal yang dikucilkan teman-teman sebayanya. Tidak diajak bermain, bahkan dimusuhi dan diejek. Bocah itu mencibir dengan muka menahan tangis, memandangi teman-temannya yang asyik bermain. Ingusnya meleleh ke bibir. Lalu ia menghela nafas, sebagian ingusnya masuk kembali ke hidung, sebagian lagi terteguk olehnya. Memilukan. Andai memang bocah itu adalah Eme. Tentu ingus yang mengalir dari hidungnya akan langsung masuk ke rongga mulut.

Suara TV terdengar keras. Eme sudah seperti orang bodoh. Ia ikut menonton siaran TV. Acaranya berita politik. Kadang diganti ke channel sinetron laga. Pertarungan antara pendekar berlangsung sengit. Mereka mengeluarkan berbagai jurus dan menjelma menjadi hewan-hewan raksasa. Sesekali Eme tersenyum menyaksikan adegan demi adegan. Senyum Eme tentu sangat lucu sekali. Bayangkan saja, jika di suatu tempat kita bertemu seorang sumbing, spontan kita akan tersenyum geli di belakang orang itu. Apalagi jika mendengarkan mereka bicara, kita akan menggigit bibir untuk menahan tawa karena tak mau menyinggung perasaannya. Sama halnya ketika Balqis tersenyum menahan tawa saat pertama kali Eme menanyakan namanya.

Bakat alami Eme itu merupakan anugerah dibalik keterbatasan fisiknya. Anugerah bagi orang lain tentunya. Orang-orang seperti Eme dapat dengan mudah membuat orang lain terhibur dan tertawa. Dalam berbagai lelucon, orang suka menirukan cara bicara orang sumbing. Banyak cerita mengocok perut yang dikarang-karang dengan tokoh utama seorang sumbing. Dunia memang tidak adil bagi Eme.

Tapi disini, ditengah hiruk pikuk suara TV, Eme tak mampu membuat seorang lelaki yang duduk di hadapannya untuk tersenyum. Entahlah. Ataukah lelaki dingin itu tak kuasa menolehkan pandangannya ke arah Eme, karena ia akan terpingkal-pingkal melihat Eme disebabkan selera humornya sangat tinggi. Tidak kawan, tidak demikian. Kita akan berhenti menyudutkan Eme.

Eme kemudian pulang. Ia tak kunjung berhasil mengajak ayah Balqis bicara. Barangkali Eme memang bernyali dan punya kesungguhan, namun Eme punya kesulitan dalam komunikasi verbal. Modal nekat, pulang dengan hati hampa.

Tak putus asa. Eme datang pada malam berikutnya. Ia ingin membuktikan kepada Balqis bahwa dirinya seorang lelaki gentlemen dan benar-benar serius menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Malam itu Eme juga disambut oleh ibunya Balqis, ia melayani Eme dengan ramah dan mau diajak ngobrol. Kebetulan mereka sekeluarga hendak makan malam, maka ibu Balqis mengajak Eme makan bersama mereka. Sedangkan ayah Balqis tetap diam seribu bahasa.

Malam keempat, Eme hadir lagi di rumah Balqis. Kali ini Eme mendapatkan angin segar. Ayah Balqis yang malam-malam lalu hanya diam seperti orang terlilit utang, kini mulai bersuara. Ia mengeluarkan papan catur dan meletakkannya di atas meja.

“Kamu bisa main catur?”

“Bisa Pak.” Jawab Eme.

Kepala Eme yang tadi beku perlahan mencair. Wajahnya sedikit sumringah. Ia ikut membantu ayah Balqis menyusun anak-anak catur. Akhirnya di sela-sela permainan catur mereka terlibat percakapan. Hal pertama yang ditanyakan ayah Balqis kepada Eme,

“Kamu tamat SMA atau kuliah?”

Waduh! Pertanyaan semacam ini sangat berat bagi Eme. Ia beranikan diri untuk menjawab jujur.

“Saya hanya pernah sekolah SD Pak, itu pun gak tamat.”

Eme cari mati. Ucapannya bersamaan dengan penyanderaan sebuah pion miliknya oleh kesatria berkuda milik ayah Balqis.

Mendengar jawaban Eme, ayah Balqis tidak melanjutkan bicaranya. Suasana berubah jadi menegangkan, layaknya dua orang maestro catur sedang bertarung sengit di final kompetensi catur internasional. Eme pun tidak punya ide untuk balik bertanya. Konsentrasinya buyar. Kini salah satu bishopnya telah raib.

Sepertinya ajakan main catur oleh ayah Balqis punya maksud tertentu. Mungkin saja dia hendak melihat kejelian Eme dalam berfikir. Di menit-menit selanjutnya Eme meningkatkan siasat pertahanan prajuritnya. Ia berhasil meretas pion-pion ayah Balqis. Permainan semakin seru. Hingga membuat ayah Balqis berfikir lama untuk menyusun langkah. Sembari menatapi papan catur, ayah Balqis mengernyitkan keningnya, lalu dia menggumam dan tersenyum. “Skak!” Hardiknya. Ratu milik ayah Balqis mengancam Sang Raja milik Eme setelah berhasil menyalib pertahanan bentengnya. Akhirnya Eme berhasil membuat ayah Balqis tersenyum.

***

“Dua jempol buat abang,” ucap Balqis kepada Eme. Ia mengaku salut dengan usaha Eme yang tanpa menyerah, yang kemudian akhirnya bisa melunakkan hati ayahandanya. Eme dan Balqis sangat bahagia sebab tidak mendapatkan pertentangan atas jalinan asmara mereka.

Sebenarnya di malam itu, malam ketika Eme ditantang bermain catur, banyak hal yang telah diperbincangkan oleh Eme dan ayah Balqis. Mereka menjadi akrab karena gelak tawa dan siasat-menyiasati permainan. Ayah Balqis memaklumi pacar putrinya itu yang hanya pernah duduk di bangku SD. Pendidikan formal bukan segalanya. Seorang lelaki dewasa yang memiliki pekerjaan tetap, dan sanggup untuk menghidupi dirinya secara layak, adalah ciri dari lelaki yang bertanggung jawab. Ayah Balqis percaya dengan kesungguhan hati Eme terhadap putrinya. Lagi pula ia sangat mengerti keadaan Eme yang mencari hidup di perantauan. Bertahan di rantau dengan hidup mapan menjadi nilai plus tersendiri. Bagaimana tidak, keluarga besar Balqis juga merupakan orang perantauan yang telah lama tinggal di Kota Medan. Mereka mempunyai suku bangsa yang sama dengan Eme, sama-sama berasal dari Sumatera Barat. Eme, Balqis dan keluarganya di Kota Medan adalah orang Minangkabau. Kampung halaman Eme berada di suatu daerah di Payakumbuh, sedangkan keluarga Balqis berasal dari Pasaman. Sebenarnya lagi ayah Balqis sudah sering melihat Eme sebelumnya, dikarenakan toko jahit tempat kerja Eme berada di seberang kedai kopi tempatnya biasa minum. Sehingga ia cukup tahu bagaimana gambaran keseharian Eme.

Ada perkara lain yang hendak diberitahukan ayah Balqis kepada Eme. Tapi berat baginya untuk menyampaikan hal itu. Ia tak ingin membuat Eme kecewa. Ada rahasia apa? Akankah ia hendak meminta secara halus agar Eme menjauhi putri kesayangannya? Anehnya, ia menunggu waktu ketika Balqis tidak berada diantara mereka. Sehingga Balqis tak akan tahu isi pembicaraan itu.

“Begini. Bapak mau beritahu sesuatu hal sama kamu. Ini menyangkut Balqis. Bapak tidak ingin kamu kecewa. Niat bapak hanya ingin memberi jalan terbaik untuk kalian berdua. Bapak tahu, selama ini Balqis tidak pernah mempunyai teman lelaki. Kamu adalah pacar pertamanya Balqis. Dan kamu sudah berkesungguhan untuk datang ke rumah ini dengan niat baik,” ayah Balqis menuturkannya dengan serius.

Eme menyimak dengan penuh pertanyaan di hatinya, ia menganggukkan kepalanya beberapa kali menanggapi penjelasan ayah Balqis. Dia tak menyela sepatah kata pun.

Ayah Balqis melanjutkan,

“Bapak tidak mempersoalkan bagaimana kamu atau pekerjaanmu. Bagi kami, sudah seharusnya pula bersikap bijak dengan Balqis. Ia sudah dewasa, bisa memilih mana yang baik buat dia. Kami bahagia ada orang yang tertarik berhubungan dengan Balqis. Sebagai seorang gadis, sudah barang tentu ia mendambakan pula kehadiran pendamping dalam hidupnya. Orangtua mana yang tak akan senang melihat anaknya bisa mewujudkan keinginan sebagaimana teman-teman sebayanya.”

“Saya pun begitu Pak. Senang sekali rasanya bisa dekat dengan Balqis. Dia mau menerima keadaan saya.” Eme menanggapi.

Ayah Balqis menarik nafas panjang lalu dihembuskannya perlahan, kemudian ia menyampaikan maksudnya. Dia memberitahu Eme bahwasanya Balqis mempunyai masalah kesehatan yang serius. Balqis menderita gangguan saluran pernafasan sejak lahir. Bila asmanya kambuh Balqis tergeletak pingsan. Dari ia kecil sudah seringkali Balqis dirawat di rumah sakit. Hingga sekarang penyakit itu masih terus diidapnya. Penyakit yang diderita Balqis sangat kronis dan akut. Menurut ilmu kedokteran asma merupakan penyakit keturunan. Penderitanya hanya bisa diterapi untuk pencegahan, namun belum ada obat yang bisa dikembangkan untuk menyembuhkannya. Dalam banyak kasus, penderita asma rentan mati muda. Mereka hanya diberi hidup pendek, hanya sampai pada waktu ketika tidak mampu lagi bertahan dengan gejalanya. Takdir Tuhan, Balqis sebagai putri sulung ayahnya mengidap penyakit mengerikan itu.

Matanya berkaca-kaca, ayah Balqis menceritakan kepedihan hatinya atas ujian yang ia terima. Betapa ia sangat menyayangi putri sulungnya tersebut. Betapa pula ia bersusah payah membesarkan dan menjaganya agar tetap bisa menghirup udara segar setiap pagi. Ia selalu berdoa dan berharap Tuhan akan memberikan Balqis umur panjang. Ia selalu ingin melihat buah hatinya dapat tersenyum dan hidup bahagia. Kini buah hatinya itu sudah besar. Ia sudah berani membawa teman lelaki ke rumah untuk bertemu orangtuanya. Teman lelaki itu adalah cinta pertama yang hadir dalam hidupnya. Karena selama ini belum ada lelaki lain yang bersedia menjadikan ia sebagai pujaan hati. Ia menyadari bahwa apa yang ia derita menyebabkan dirinya tidak menarik di mata lawan jenisnya. Ia selalu tegar. Ia dibesarkan dalam keteguhan hati. Seteguh ia yang tak pernah melepas jilbabnya. Ia tidak memberontak karena Tuhan tidak adil padanya. Hari-harinya ia jalani dengan optimis. Dia juga mempunyai impian-impian sebagaimana setiap orang miliki. Kini salah satu doanya sudah dijabah Tuhan, doa yang selalu ia munajatkan sejak lama. Ia berharap kehadiran seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus. Ia ingin merasakan dikasihi dan disayangi oleh lawan jenisnya, sebagaimana orang-orang seusianya.

Eme tertegun. Fikirannya berkecamuk. Ternyata gadis yang dicintainya adalah seorang penyakitan. Ia baru menyadarinya sekarang. Lama ia termenung mendengar penjelasan ayah Balqis. Dalam hatinya ia sudah sangat menyayangi Balqis. Kini ada kenyataan pahit yang harus dia terima. Kesetiaan dan ketulusan cintanya diuji. Apakah ia mencintai Balqis segenap jiwa dan raganya. Apakah ia mencintai Balqis sekedar mengisi kehampaan hidupnya. Apakah ia mencintai Balqis dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Apakah ia sanggup dan rela jika suatu saat belahan jiwanya pergi untuk selamanya. Ataukah perasaan cintanya memudar seketika. Ataukah ia yang akan melangkah pergi terlebih dulu. Rasa kasihan, cinta dan kekecewaan berkecamuk di hatinya. Ia sedih, sedih karena tak sanggup jika sampai ia melukai hati Balqis. Ia tak akan tega melihat wanita yang selama ini mengisi hidupnya ia campakkan. Jika ia benar-benar mencintai kekasihnya itu, ia akan selalu ada untuknya. Menyayanginya dan menerimanya sepenuh hati. Mencintainya selama hidup dan mati. Eme juga menyadari bahwa ia juga bukanlah lelaki sempurna. Status sosialnya dan kondisi fisiknya membuat ia sulit mencari pasangan yang pas. Namun Balqis dengan ketulusan hati mau menyambut cintanya. Apa lagi yang ia ragukan. Inilah cinta sejati yang ia cari-cari. Seseorang yang mau mencintai dia walau kekurangan, dan ia pun akan balas mencintai orang itu walau kekurangan.

“Jika kamu benar-benar mau menjalin hubungan yang serius dengan Balqis, dan setelah semua yang Bapak ceritakan padamu tadi, apakah kamu sanggup menerima Balqis dengan keadaan demikian? Apakah suatu saat kamu tidak akan menyesal?”

“Tidak Pak. Saya tidak akan menyesal. Saya sungguh sangat mencintai puteri Bapak. Saya bersyukur memiliki dia. Dia mau menerima saya apa adanya, maka saya akan menerima dia dengan ikhlas apapun kekurangannya.”

***

Satu tahun lebih sudah berlalu. Hubungan asmara Eme dengan Balqis diwarnai kebahagiaan. Canda tawa, gurauan manja menghiasi hari-hari mereka. Detik demi detik jalinan cinta yang mereka rajut semakin kuat. Tak pernah dirundung kesedihan. Eme menjadi sangat dekat dengan keluarga Balqis, sudah seperti keluarganya sendiri. Begitu pun Balqis, ia sering bercengkerama dengan ayah dan ibu Eme yang ada di kampung melalui telepon. Sampai-sampai Balqis yang berdarah Minang tapi tidak bisa berbahasa Minang itu, karena sering bercerita dengan ibu Eme dan minta diajarkan bercakap Minang, akhirnya ia pun bisa berbahasa Minang.

Hanya pernah sekali Eme sempat membuat Balqis tersakiti. Ketika itu ada seorang kenalan wanita meminta Eme jadi pacarnya. Eme tidak bersedia karena ia sudah memiliki Balqis. Akan tetapi wanita itu tetap memaksa dan mau dijadikan yang kedua. Eme tak bisa apa-apa, hatinya mendua juga. Mereka kemudian sering jalan. Namun akhirnya Balqis tahu perselingkuhan Eme. Balqis marah. Ia sangat sedih karena Eme menyakitinya. Dia meluapkan kekesalannya, mengingatkan Eme pada janji-janji kesetiannya. Hati Eme luluh juga. Ia sadar akan kekhilafannya. Tak lama kemudian Eme mengajak pacar keduanya itu jalan, lalu tiba-tiba mereka berhenti di apotik Balqis. Di depan wanita kesayangannya Eme berkata,

“Itu dia, pacarku Balqis. Aku sudah bilang dulu padamu kalau aku memiliki dia. Sekarang juga kamu tinggalkan aku!”

Suatu malam, ketika Eme dan Balqis berkeliling kota dengan sepeda motor, penyakit asma Balqis sempat kambuh. Mungkin karena polusi asap kendaraan. Waktu itu Balqis duduk memeluknya dari belakang. Eme yang dari tadi mengajak bicara heran mengapa Balqis tidak bersuara. Ia menghentikan motornya dan mendapati Balqis telah pingsan. Eme panik. Ia tak tahu harus bagaimana. Mereka kemudian ditolong oleh salah seorang warga setempat, seorang bapak-bapak. Bapak-bapak itu membawa Balqis bersama Eme dibantu beberapa orang ke rumahnya yang tak jauh dari tempat kejadian. Disana Balqis diberi minum dan disadarkan. Eme selalu teringat dengan bapak-bapak itu, Eme tak kan pernah lupa kebaikannya.

Lebaran haji tahun ini, Eme dan Balqis sudah berencana untuk melabuhkan bahtera cinta mereka di pelaminan. Eme bekerja keras dan semakin ulet. Ia berhemat mengumpulkan uang untuk bekal pernikahannya kelak. Di saat bahagia itu, ujian muncul lagi. Balqis harus dirawat di rumah sakit karena penyakit asmanya makin kronis. Eme tak berputus asa. Ia selalu menemani kekasihnya itu setiap hari. Menyemangatinya agar lekas sehat kembali. Merawatnya dan tak pernah berhenti memberikan perhatiannya. Semakin bertambah sayangnya kepada Balqis. Semakin besar perasaan cintanya. Beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Mereka akan bersanding di pelaminan. Mereka akan membuat pesta. Keluarga mereka akan bergembira. Mereka akan tinggal serumah. Balqis akan hamil. Dan mereka akan mempunyai buah hati. Hari itu akan mereka nantikan. Perhelatan itu sudah di depan mata. Ayah dan ibu Balqis berharap semoga puteri mereka lekas sembuh seperti sedia kala. Mudah-mudahan Tuhan memberikan keajaiban-Nya sehingga Balqis masih diberi kesempatan seperti beberapa waktu lalu. Eme pun berharap hal yang sama, ia selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan agar mencabut penyakit itu dari tubuh Balqis.

Suatu malam di pertengahan bulan Ramadhan tahun 2014. Malam itu Eme belum menyempatkan diri menjenguk Balqis. Ia sibuk karena pekerjaan menjahitnya menumpuk. Tapi ia sudah berencana akan datang agak tengah malam setelah istirahat kerjanya. Tiba-tiba hape Eme berdering. Sebuah pesan datang dari ibu Balqis,

Ndak datang ke rumah Nak?”

Kemudian Eme membalas pesan itu,

“Iya, nanti Bu. Sekarang saya masih bekerja.”

Pesan dari ibu Balqis datang lagi,

“Menyesal nanti Nak, datanglah sekarang.”

Jantung Eme berdegup kencang membaca pesan itu. Tanpa fikir panjang ia meninggalkan pekerjaannya. Ia pergi menjenguk Balqis, mempercepat langkahnya.

Disana, Eme menangis bersama orang seisi rumah. Eme duduk di depan jasad Balqis yang terbujur kaku. Ia pergi untuk selamanya. Tuhan telah menjemputnya. Tubuhnya yang sudah mengurus tak sanggup lagi menahan penyakit yang dideritanya. Kekasihnya di dunia, cinta pertama, cinta terakhir dan cinta mati dalam hidupnya, Eme, dialah yang diminta ibunya untuk memejamkan kedua mata Balqis.

Koto Alam, 24 Agustus 2014

Video Klip Logu Maibo


Video Perayaan Lebaran Idul Fitri 2014 Koto Ronah


 

:)

 

%d blogger menyukai ini: