[Foto] Cigak Banyak

Beberapa objek wisata lokal dapat kita saksikan di pinggir jalan lintas Sumbar – Riau sepanjang Nagari Koto Alam, diantaranya Panorama Selat Malaka dan Tugu Khatulistiwa Sakido Mura. Selain dua situs tersebut, ada pemandangan yang tak kalah menarik perhatian bagi para pengendara yang melewati Nagari Koto Alam. Keunikan ini dapat kita temui di sebuah bukit batu berjarak sekitar 5 km sebelum perkampungan Nagari Koto Alam dari arah Kelok Sembilan. Masyarakat setempat menyebutnya “Bukik Lawa”.

Di Bukik Lawa sering berkeliaran komunitas kera yang mengemis makanan kepada para pengendara. Tingkah mereka lucu-lucu dan menggemaskan, sehingga membuat para pengendara sering berhenti untuk memberikan cemilan pada kera-kera tersebut. Kadang mereka dikasih buah, kacang, roti, permen, snack dan sebagainya. Tanpa segan, terkadang kera-kera itu juga berani mendekati mobil pengendara untuk mengambil cemilannya.

Cigak Banyak Koto Alam

Cigak Banyak di Koto Alam

Masyarakat Koto Alam sekarang lebih sering menyebut Bukik Lawa sebagai “Cigak Banyak” dikarenakan banyaknya kera yang sering bermain disana. Seringnya pengendara berhenti membuat beberapa penduduk setempat berinisiatif membuka kedai di lokasi tersebut. Kehadiran kera-kera di Bukik Lawa membuka lapangan ekonomi bagi mereka. :)

Perantau Koto Alam, Mari Menyumbang untuk Pembangunan Masjid Nagari Kito via Rekening

Bagi perantau-perantau Koto Alam dimanapun berada. Jika dunsanak mempunyai kelebihan harta dari hasil usaha, alangkah baiknya apabila dunsanak menyumbangkannya untuk kelanjutan pembangunan sarana ibadah di nagari kita.
Walaupun kita di rantau, kita tetap bisa turut membangun desa Koto Alam nan kito cinto. Mari salurkan infaq/wakaf dunsanak ke rekening-rekening masjid yang ada di Koto Alam.

  1. MESJID MUJJAHIDDIN KOTO RONAH
    Rekening BANK NAGARI Cabang Pangkalan: 1800-0210-05253-3 a.n. Pengurus Masjid Mujjahidin Koto Alam
    Pengurus Masjid: BACHTIAR HP: 085364739778

image

*Untuk saat ini, saya baru menerima info nomor rekening dari Masid Mujjahidin Koto Ronah. Diharapkan kepada dunsanak yang mengetahui nomor rekening dari Masjid Koto Tongah, Simpang Tigo dan Polong Duo, supaya bisa memberitahu saya untuk dicantumkan di blog ini. Hubungi saya, Hamdi (HP: 087895861844).

Semoga dengan adanya pemberitaan ini, dunsanak-dunsanak yang berada di rantau tertarik untuk menyumbang ke masjid-masjid kita yang ada di kampung. Silahkan mengontak pengurus masjid untuk keterangan lebih lanjut.
Tarimo Kasih…

Bupati Alis Marajo Saat Sambutan Peringatan Kulminasi Matahari di Koto Alam

peringatan kulminasi matahari

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo Saat Sambutan Peringatan Kulminasi Matahari di Tugu Khatulistiwa Sakido Mura Nagari Koto Alam, Pangkalan Koto Baru (23/9/2013)

Sakido Mura Jadi Objek Wisata Minat Khusus

LIMAPULUH KOTA, SO – Khairil Amri SE, tokoh masyarakat Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, mendukung langkah Pemkab Limapuluh Kota mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus.

“Harapan kami, langkah itu akan berbuah berupa terciptanya potensi ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.

sakido mura objek misata

Khairil mengatakan hal itu ketika diselenggarakan kegiatan peringatan titik kulminasi matahari di tugu khatulistiwa –yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Sakido Mura–, Senin (23/9) siang. Acara itu dihadiri Bupati Limapuluh Kota dr. H. Alis Marajo Dt. Sori Marajo, sejumlah kepala dinas/badan/bagian di lingkup Pemkab Limapuluh Kota, yang diramaikan atraksi kesenian oleh murid-murid sekolah di kenagarian itu.

Peringatan titik kulminasi matahari adalah saat di mana matahari persis berada pas di atas tugu khatulistiwa, yang menghilangkan semua bayang-bayang yang ada di sekitarnya. Setiap tahun, fenomena alam seperti itu terjadi sebanyak dua kali, yaitu pada 21-23 Maret dan 21-23 September.

Selain di Koto Alam, fenomena alam serupa juga terjadi di Bonjol, Kabupaten Pasaman; dan satu lagi di Pontianak, Kalimantan Barat.
Khairil mengatakan, ia mewakili masyarakat Koto Alam memberi apresiasi positif atas langkah dan upaya Pemkab Limapuluh Kota menjadikan Sakido Mura sebagai objek wisata.

“Sudah lebih 40 tahun umur saya, baru kali ini saya melihat pemkab memiliki perhatian khusus terhadap Sakido Mura ini,” katanya.

Bagi Khairil, menyusul dengan dikembangkannya Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, pada gilirannya nanti Koto Alam diharapkan menjadi salah target kunjungan wisatawan, baik nasional maupun mancanegara. Umpan balik yang diharapkan, tambah Khairil, kegiatan kepariwisataan itu akan mendatangkan dampak ekonomi bagi masyarakat berupa terbukanya peluang usaha baru.

“Selama ini perekonomian masyaraat kami sangat tergantung dengan komoditas-komoditas tani tertentu,” kata Khairil. Begitu harga komoditas andalan anjlok di pasaran, sebutnya, masyarakat mengalami keterpukulan ekonomi yang sangat telak. “Kalau kelak Sakido Mura berkembang, diharapkan akan menjadi sumber ekonomi alternatif yang menggairahkan kehidupan masyarakat kita di sini,” katanya.

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo mengungkapkan keseriusan jajarannya untuk mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, yang kelak diharapkan menjadi salah satu andalan potensi kepariwisataan di daerah ini.

“Sejauh ini kita telah melakukan sejumlah langkah menuju ke arah sana,” kata Alis, sambil menambahkan, upaya itu dilakukan karena objek wisata seperti di Koto Alam itu hanya ada tiga titik di Tanah Air.

Bupati juga mengingatkan, di tengah keterbatasan potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Limapuluh Kota, justru di tengah makin beratnya beban dan tuntutan pembangunan, salah satu potensi ke depan yang bisa diandalkan adalah sektor kepariwisataan.

“Kita akan menggarap serius sektor ini dengan tidak mengabaikan akar budaya yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat,” katanya.

Ketua panitia pelaksana, Ali Hasan S.Sos., menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk menjaga eksistensi nilai-nilai peristiwa alam sebagai daya tarik dalam pengembangan wisata daerah, meningkatkan kompetensi siswa dalam ilmu bumi atau geografi, memberdayakan masyarakat dalam mewujudkan Sakido Mura sebagai objek wisata minat khusus, dan mengembangkan objek wisata pada WPP (Wilayah Pengembangan Pariwisata) V.

Dilaporkan : mamad

Ratusan Warga Hadiri Peringatan Kulminasi Matahari

peringatan kulminasi tugu khatulistiwa sakido mura

Peringatan Kulminasi Tugu Khatulistiwa Sakido Mura

Ratusan warga Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota menghadiri peringatan kulminasi matahari atau fenomena alam ketika matahari berada tepat di garis katulistiwa, sehingga menghilangkan bayang-bayang benda yang ada di bumi. Dengan kata lain, tidak adanya bayang-bayang pada siang hari tepat pada pukul 12.00 WIB. Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Lima Puluh Kota, Alis Marajo. Selain Bupati, turut mendampingi sejumlah kepala SKPD, Muspika, beberapa orang anggota DPRD serta puluhan siswa SD dan SMP. Kegiatan yang dipusatkan di tugu Sakidomura tepi jalan Raya Negara KM 7 Tanjung pati tersebut, digelar Senin (23/9). Peristiwa titik kulminasi matahari tersebut selalu terjadi dua kali setahun, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

Peristiwa alam ini menjadi iven tahunan warga setempat. Dan diharapkan dapat mendatangkan wisatawan ke Kabupaten Lima Puluh Kota. Ketua Panitia acara, Ali Hasan mengatakan, untuk Sumatera Barat, kegiatan peringatan titik kulminasi ini selalu diperingati setiap tahun, dan diharapkan dapat menjadi wisata minat khusus. ” Kita berharap titik kulminasi yang hanya ada di Koto Alam ini dan satu-satu di Lima Puluh Kota ini dapat menjadi daya tarik wisata minat khusus. Tujuan acara ini digelar untuk tetap menjaga eksistensi nilai-nilai alam, serta terus merangsang masyarakat untuk mewujudkan tugu Sakidomura menjadi wisata minat khusus,” sebut Ali dalam laporannya.

Acara tersebut juga diwarnai dengan berbagai kegiatan, beberapa di antaranya zikir, penampilan kegiatan seni, menyaksikan titik kulminasi, dan lainnya. Selain di Indonesia, beberapa negara di dunia yang juga mengalami titik Kulminasi ini adalah, Ekuador, Brazil, dan Peru. Di Indonesia, selain di Kabupaten Lima Puluh Kota dan di Bonjol Pasaman Barat, titik kulminasi juga ada di Pontianak.

Wali Nagari Koto Alam, Aidil Harun Datuak Paduko Rajo, mengaku berterima kasih dan mengapresiasi dengan terus terlaksananya kegiatan ini setiap tahunnya. Ia berharap kegiatan ini dapat diperingati di tingkat kabupaten nantiya. ” Sebagai Wali Nagari, kami berterima kasih pada pemerintah daerah yang terus membantu terlaksananya kegiatan ini, ke depan kami berharap agar asset ini (Sakidomura, red) ke depannya dapat menjadi asset nasional, sehingga kegiatan ini dapat digelar di tingkat kabupaten dan provinsi bahkan nasional,” sebut Aidil kepada sejumlah wartawan selepas acara.

Bupati Lima Puluh Kota, Alis Marajo, dalam sambutannya mengatakan bahwa, warga Kabupaten Lima Puluh Kota harus bersyukur dengan berbagai macam sejarah dan budaya yang dimiliki, untuk itu ia berharap para pendidik/guru dapat mengajarkannya kepada anak didik di sekolah. ” Kita memiliki berbagai macam budaya dan sejarah, ada Potang Balimau di Pangkalan, Bakajang, Sakidomura dan lainnya. Saya minta para guru untuk menjelaskan semuanya pada anak didik di sekolah, sehingga peristiwa atau hal-hal penting dapat diketahui anak didik di sekolah,” ucap Alis.

Tugu Sakidomura atau berasal dari Bahasa Jepang, yang berarti kampung katulistiwa, menurut Walinagari setempat, tugu yang kini berbentuk bola berukuran bulat besar tersebut, semula didirikan oleh Bangsa Belanda yang menjajah Indonesia, yang pada awalnya berbentuk persegi. Namun setelah Belanda kalah, Jepang masuk, dan tugu berbentuk persegi tersebut dirobah menjadi bulat, dan dicat sesuai warna bendera Jepang.

Ke depan, pemerintah nagari dan Dinas Pariwisata Kabupaten Lima Puluh Kota akan membuat peta Indonesia di tugu tersebut. (*)

SUMBER

PEMKAB SERIUS GARAP OBJEK WISATA SAKIDO MURA

KOTO ALAM - Bupati Limapuluh Kota dr.Alis Marajo Dt. Sori Marajo mengungkapkan keseriusan jajarannya untuk mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, yang kelak diharapkan menjadi salah satu andalan potensi kepariwisataan di daerah ini.  “Sejauh ini kita telah melakukan sejumlah langkah menuju ke arah sana,” kata Alis, sambil menambahkan, upaya itu dilakukan karena objek wisata seperti di Koto Alam itu hanya ada tiga titik di Tanah Air. Bupati juga mengingatkan, di tengah keterbatasan potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Limapuluh Kota, justru di tengah makin beratnya beban dan tuntutan pembangunan, salah satu potensi ke depan yang bisa diandalkan adalah sektor kepariwisataan. “Kita akan menggarap serius sektor ini dengan tidak mengabaikan akar budaya yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat,” katanya.

Ketua panitia pelaksana, Ali Hasan S.Sos., menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk menjaga eksistensi nilai-nilai peristiwa alam sebagai daya tarik dalam pengembangan wisata daerah, meningkatkan kompetensi siswa dalam ilmu bumi atau geografi, memberdayakan masyarakat dalam mewujudkan Sakido Mura sebagai objek wisata minat khusus, dan mengembangkan objek wisata pada WPP (Wilayah Pengembangan Pariwisata). Khairil Amri SE, tokoh masyarakat Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, mendukung langkah Pemkab Limapuluh Kota mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus. “Harapan kami, langkah itu akan berbuah berupa terciptanya potensi ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya. Khairil mengatakan hal itu ketika diselenggarakan kegiatan peringatan titik kulminasi matahari di tugu khatulistiwa yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Sakido Mura, Senin (23/9) siang. Acara itu dihadiri Bupati Limapuluh Kota dr. H. Alis Marajo Dt. Sori Marajo, sejumlah kepala dinas/badan/bagian di lingkup Pemkab Limapuluh Kota, yang diramaikan atraksi kesenian oleh murid-murid sekolah di kenagarian itu.

Peringatan titik kulminasi matahari adalah saat di mana matahari persis berada pas di atas tugu khatulistiwa, yang menghilangkan semua bayang-bayang yang ada di sekitarnya. Setiap tahun, fenomena alam seperti itu terjadi sebanyak dua kali, yaitu pada 21-23 Maret dan 21-23 September. Selain di Koto Alam, fenomena alam serupa juga terjadi di Bonjol, Kabupaten Pasaman; dan satu lagi di Pontianak, Kalimantan Barat. Khairil yang untuk Pemilu Legislatif 2014 ini maju menjadi caleg (calon anggota legislatif) DPRD Kabupaten Limapuluh Kota dari Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat) itu mengatakan, ia mewakili masyarakat Koto Alam memberi apresiasi positif atas langkah dan upaya Pemkab Limapuluh Kota menjadikan Sakido Mura sebagai objek wisata. “Sudah lebih 40 tahun umur saya, baru kali ini saya melihat pemkab memiliki perhatian khusus terhadap Sakido Mura ini,” katanya. Bagi Khairil, menyusul dengan dikembangkannya Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, pada gilirannya nanti Koto Alam diharapkan menjadi salah target kunjungan wisatawan, baik nasional maupun mancanegara. Umpan balik yang diharapkan, tambah Khairil, kegiatan kepariwisataan itu akan mendatangkan dampak ekonomi bagi masyarakat berupa terbukanya peluang usaha baru. “Selama ini perekonomian masyaraat kami sangat tergantung dengan komoditas-komoditas tani tertentu,” kata Khairil. Begitu harga komoditas andalan anjlok di pasaran, sebutnya, masyarakat mengalami keterpukulan ekonomi yang sangat telak. “Kalau kelak Sakido Mura berkembang, diharapkan akan menjadi sumber ekonomi alternatif yang menggairahkan kehidupan masyarakat kita di sini,” katanya..(e2)

Hari Ini, Peringatan “Hari Tanpa Bayangan” di Tugu Khatulistiwa Sakido Mura

LIMAPULUH KOTA — Hari ini, Senin (23/9), matahari tepat berada di atas Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Limapuluh Kota. Hari ini, segenap jajaran pemerintahan, masyarakat, serta pengunjung lokal dan mancanegara hadir di Tugu Khatulistiwa Sakido Mura, memperingati kulminasi matahari.

kulminasi sakido mura hari tanpa bayangan koto alam

Bupati Alis Marajo bersama seluruh jajaran Disbudparpora Limapuluh Kota, Kadinas Zulhikmi, Kabid Pariwisata Ali Hasan, serta ratusan lainnya, bercampur baur dengan masyarakat, pelajar dan pengunjung domestik dan mancanegara. Mereka bersama-sama memperingati hari tanpa bayangan di Sakido Mura.

“Ya, bayangan kita di siang hari hilang. Akibat matahari tepat berada di atas kepala kita. Sehingga, tidak ada distorsi cahaya yang akan menyebabkan bayangan itu,” jelas Alis Marajo, menerangkan.

Tugu kulminasi matahari di Koto Alam Pangkalan kini kian ramai kunjungan. Pasca 21 Maret lalu digelar kegiatan peringatan kulminasi matahari oleh Bupati Alis Marajo, yang diramaikan penduduk Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, disemangati oleh para perantau dan wisatawan serta dilihat langsung oleh pengendara dan penumpang kendaraan lintas Sumbar-Riau, kini kian menjadi ikon wisata. Wisata minat khusus.

Betapa tidak, dengan tampilannya tugu Sadiko Mura yang kini bersih dari ilalang, dicat merah dan putih, berkeramik baru, sehingganya setiap kendaraan yang lewat, berupaya berhenti sejenak menikmati tugu di sana.

Bahkan, menurut Kabid Pariwisata Ali Hasan, Tugu Sadiko Mura yang telah diperdakan menjadi destinasi wisata minat khusus, kini menjadi ikon tersendiri. Tak ayal, banyak orang yang datang melihat langsung dan menyempatkan diri berfoto di lokasi tersebut.

“Ini suatu kemajuan. Kami gembira,” kata Ali Hasan.

Berikutnya, akan disemangati penduduk lokal setempat untuk berjualan cinderamata Sadiko Mura di sana. Perkembangan kepariwisataan berikutnya dampak dari kulminasi matahari, 23 September ini kembali peristiwa alam itu terjadi hanya di Limapuluh Kota.

Pengembangan destinasi wisata di Limapuluh Kota terus dibenahi. Limapuluh Kota kini boleh berbangga sebab tujuan wisata nasional telah mengenal baik kawasan Harau secara mendetail.

* Berkat Tekun

Berkat tekun, serius dan ulet. Itulah hasil kinerja Kabid Pariwisata Ali Hasan, pasca diresmikannya Tugu Katulistiwa Sadikomura di Koto Alam Pangkalan, kini kabar gembira kembali hadir.

Sakido Mura telah menjadi objek wisata minat khusus yang merekat kenangan. Ali Hasan bersegera akan membuat photospot atau lokasi berfoto di tugu yang kini bersih, indah dan merah putih ini.

Tugu ini didirikan sejak zaman penjajahan Jepang. Kala itu, mura diartikan sebagai desa. Sakido: katulistiwa. Kini, tugu Sakido Mura disinggahi banyak pengendara Riau-Sumbar. Wisata objek sejarah minat khusus yang potensial.

Generasi muda Koto Alam, diwakili tokoh muda Yondrizal berujar, salut atas upaya dan kinerja Pariwisata Limapuluh Kota. Ini kemajuan ekonomi masa depan. Yondrizal sangat mengapresiasi Bidang Pariwisata sebab Sakido Mura adalah tanah kelahirannya.

(soc/dsp)

 

%d bloggers like this: