Kelok Sambilan Zaman Saisuak

Walaupun Kelok Sembilan berjarak agak jauh dari Koto Alam, sekitar 13 km, tapi tempat ini merupakan kebanggaan bersama masyarakat Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Apalagi masyarakat Koto Alam yang beperegian ke Payakumbuh sering singgah di Kelok Sembilan.

Berikut ini saya kutip sebuah postingan dari blog tetangga tentang foto Kelok Sembilan di zaman dulu waktu baru dibangun..

Kelok 9 Tahun 1910 (Sumber : Koleksi KITLV, Leiden)

Kelok 9 Tahun 1910 (Sumber : Koleksi KITLV, Leiden)

Kelok Sembilan 2010

Kelok Sembilan 2010


Kedua foto diatas adalah foto Kelok Sembilan  yang mengambil lokasi dan angle yang sama, tapi dipisahkan jarak waktu seratus tahun (1910-2010).

Sesuai namanya, Kelok Sembilan mempunyai 9 buah kelok (bahasa Minang yang berarti tikungan) dengan sudut putar 180 derajat. Sebuah cara yang dibuat oleh Belanda dalam menyiasati beda tinggi yang mencolok antara jalan bagian bawah dan bagian atas. Cara ini efektif untuk memperpendek jarak tempuh karena tidak perlu memutar mengelilingi bukit.

Kelok 9 dibangun Belanda pada tahun 1908 – 1910. Pada foto pertama, sepertinya dipotret pada saat jalan itu baru selesai dibangun tahun 1910. Ini terlihat dari lingkungan yang bersih dari tanaman-tanaman besar. Bahkan ada yang masih bertumbangan. Dalam foto juga terlihat sebuah mobil menuruni kelok sembilan dan di kejauhan sana terlihat jalan mengular menuju kepekatan rimba raya, ke arah kota Pajakoemboeh alias Payakumbuh.

Foto kedua, seratus tahun kemudian. 2010. Perbedaan yang mencolok adalah jalan sudah dilapisi aspal mulus. Kemudian kepekatan hutan terlihat berkurang dan tidak seseram foto seratus tahun sebelumnya. Yang pasti masih sama adalah konstruksi dinding penahan tanahnya. Dari kedua foto dapat dipastikan dinding itu adalah dinding yang sama. Dilihat dari bentuk dan alur-alur yang ada di permukaan dinding. Seratus tahun menantang panas dan hujan tidak membuat dinding itu lapuk dimakan usia. Jangankan rubuh, sompel pun tidak! Hanya ada penambahan dinding di sebelah kiri arah jurang. Mungkin untuk pencegahan karena sudah banyak pembalap jalanan yang terjun ke dalam sana.

Terakhir, ternyata kedua foto ini memperlihatkan bahwa lebar jalan di sana tidak berubah selama 100 tahun. Padahal kendaraan yang lewat sudah berbeda jauh ukurannya. Pantas saja sering macet… eheheh :)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: