Kehidupan Petani Gambir makin Terpuruk

LIMAPULUH KOTA , HALUAN — Kehidupan masyarakat petani gambir di Kabupaten Limapuluh Kota, semakin terpuruk.

Pasalnya harga gambir sebagai primadonanya kabupaten itu turun tajam sejak dua minggu terakhir.

Saat ini gambir hanya dihargai pedagang Rp11 ribu per kilogram (kg), padahal harga jual sebelum­nya bisa mencapai Rp22 ribu/kg. Dengan penurunan harga itu, banyak petani beralih ke komoditi kepertanian yang lain.

“Bila harga gambir tetap bertahan seperti yang sekarang, ekonomi masyarakat petani akan sekarat.

Akibat jatuhnya harga ratusan hektar lahan gambir di kawasan Koto Bangun Kecama­tan Kapur IX dan sekitarnya terpaksa ditinggalkan petani, karena biaya operasional termasuk ongkos kampo, lebih tinggi dari harga jual, sehingga petani merugi, “ungkap Walinagari Koto Bangun, Zarul Kasmi kepada Haluan, Kamis (16/6).

Ratusan hektar lahan peng­hasil gambir di Kecamatan Kapur IX akan kembali merimba, akibat lahan gambir tidak dipelihara lagi. Sudah tentu untuk mengolah lahan tersebut kembali akan membu­tuhkan biaya tinggi.

Menurut dia, jatuhnya harga membuat produksi gambir juga jauh menurun, biasanya di Koto Bangun produksi gambir manca­pai 12 hingga 15 ton per minggu, saat ini produksi tidak sampai 1 ton per minggu.

Sehingga pos timbangan gam­bir menganggur, akibat tidak ada lagi petani yang menimbang gambir di tempat itu.

Setelah harga gambir anjlok, para petani setempat menggan­tungkan nasib pada komoditi karet, harga karet juga ikut turun tapi sudah lumayan, dihargai Rp 18 ribu per kg, sebulan lampau sempat mencapai harga Rp20 ribu per kg, sebut Zarul Kasmi.

Walinagari Manggilang Keca­matan Pangkalan Koto Baru, Ridwan menyatakan, di Manggi­lang kegiatan petani mengampo gambir berhenti total selama bulan Juni ini, sehingga saat ini tidak ada lagi gambir yang dijual petani yang berasal dari Mang­gilang.

“Ketika harga gambir men­capai Rp22 ribu kg, produksi gambir Manggilang sampai 30 ton per minggu, kini nol sama sekali, karena harga gambir Manggilang dihargai pedagang Rp10 ribu per kg. Akibatnya petani gambir menagis, dari makan semula tiga kali sehari, kini sebagian mereka sabana sansai, sudah banyak warga yang makan sekali sehari, ulas Ridwan.

Sementara warga yang memi­liki kebun karet sedikit lega, mereka menggantungkan hidup setiap hari dengan hasil penjualan karet. Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, maupun Pem­prov Sumbar hendaknya cepat mencarikan solusi, supaya mas­yarakat khususnya petani gambir di Pangkalan dan Kapur IX tidak kelaparan.

Data yang diperoleh pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Limapuluh Kota, tahun 2010 tanaman gambir seluas 14.682 hektare, dengan produksi 14.600 ton pertahun.

Di kecama­tan Kapur IX luas kebun gambir mencapai 5.698 hektare dengan total produksi 4.986 ton per tahun atau 34 persen dari total produksi Kabupaten Limapuluh Kota.

Untuk kecamatan Pangkalan Koto Baru, luas penanaman gambir mencapai 3.740 hektare dengan total produksi 4.378 ton per tahun. Saat komoditi pri­madona daerah ini mahal, di­perkirakan beredar uang hasil penjualan gambir petani mencapai Rp365 milyar pertahun. (h/zkf)

2 Tanggapan

  1. sansarola kito, azab nampaak ma ge

  2. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM
    KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia, NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) , dengan produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.

    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahuin yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Solusi yang lebih praktis dan sangat mungkin dapat diterima oleh masyarakat petani kita dapat kami tawarkan, yaitu:
    BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON /NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS ( EM16+) + Sistem Jajar Legowo.
    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.

    PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah, sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali, dan yang paling penting adalah relative lebih murah.

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

    CATATAN:
    Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.

    Semoga Indonesia sehat yang dicanangkan pemerintah dapat segera tercapai.

    Terimakasih,
    omyosa — Jakarta Selatan
    02137878827; 081310104072

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s