[foto saisuak] Peta Nagari Koto Alam Tahun 1880


Pusing mengotak-atik halaman pustaka digital KITLV Leiden, mencoba mencari dokumentasi kompeni Belanda tentang Nagari Koto Alam. Entah mengapa akhir-akhir ini saya lebih tertarik menggali sejarah-sejarah zaman kolonial, khususnya nagari Koto Alam. Dengan ditemukannya berbagai bukti sejarah yang otentik, kita menjadi sedikit tahu bagaimana fakta sebenarnya tentang tempat tinggal kita ini, terlepas dari dongeng mulut kemulut yang kita dengar dari orang-orang tua di kampung kita.

Saya bukan mahasiswa sejarah, namun saya banyak membaca literatur sejarah. Nagari Koto Alam ini, hanyalah pelintasan kecil dari jalur perdagangan Pantai Barat Sumatera ratusan tahun yang lalu. Sebagaimana sejarah-sejarah peradaban manusia masa lampau, orang-orang dahulu suka bermukim di daerah pinggiran sungai atau pertemuan dua sungai. Jadi, tidaklah kita heran mengapa tempat tinggal orang Koto Alam zaman dahulu itu berada di daerah Koto Lamo sekarang, yang merupakan pertemuan dua hilir sungai yang kita kenal saat ini sebagai Batang Ai Godang dan Ai Koto Lamo, bertemunya di Lubuk Tomuan.

Koto Alam yang begitu indah di lembah perbukitan yang cukup datar, dimana terdapat beberapa sungai sebagai sumber air, mungkin telah menarik perhatian nenek moyang kita zaman dahulu untuk mendiami daerah ini. Sesuai dengan cerita yang kita dengar dari orang tua-tua, rombongan Suku Pitopang adalah yang pertama-tama bermukim di Nagari Koto Alam, kisahnya berkaitan erat dengan kisah perjodohan Puti Sari Banilai (Solok Bio-Bio) dengan Datuk Sibijayo Suku Pitopang (Pangkalan Koto Baru), dalam perjalanannya Datuk Sibijayo bermalam di perkampungan Koto Ronah sekarang. Baca kisahnya disini [link]

Terlepas dari cerita tersebut, kampung kita juga dikenal sebagai “ikua darek kapalo rantau” dan bahkan sebagai Nagari Tertua di Pangkalan Koto Baru. Dalam arsip Nagari Koto Alam disebutkan, di Koto Lamo banyak terdapat mejan (batu nisan raksasa) yang umurnya lebih tua dari Menhir. Jadi barangkali masyarakat asli Koto Alam sudah eksis semenjak zaman megalitikum (kebudayaan batu besar).

Sebagai daerah pelintasan, Koto Alam menghubungkan Payakumbuh dengan Pangkalan Koto Baru. Rute yang ditempuh manusia ratusan tahun lalu adalah Sarilamak – Harau – Landai – Hulu Air – Koto Alam terus ke Pangkalan Koto Baru. Sedangkan rute Sarilamak – Lubuk Bangku – Kelok Sembilan terus ke Pangkalan baru dibuka pada awal 1900-an.

Berikut ini sebuah foto yang saya temukan di pustaka digital KITLV Leiden Belanda [sumber], sebuah peta yang menggambarkan wilayah Payakumbuh dan sekitarnya pada tahun 1880.

Judul foto:
Blad Paja Koemboeh / opgenomen door den Mijn Ingenieur R.D.M. Verbeek met medewerking van den Topograaf De Groot en de Opzieners bij het Mijnwezen Naumann en De Corte / 1880

Terjemahan:
Journal Paja Koemboeh / dicatat oleh Insinyur Pertambangan RDM Verbeek dengan kerjasama dari topographer The Great dan uskup di Mines Naumann dan De Corte / 1880

Resolusi foto ini sangat besar, jadi saya crop foto ini setentang wilayah Nagari Koto Alam sekarang supaya lebih terlihat detail.

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Zooming lebih besar lagi,

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Informasi yang dapat kita baca dari peta ini saya rangkum sebagai berikut,

  1. Nama-nama Bukit di sekitar Koto Alam:
    – B. Siban
    – B. Tjawang
    – B. Sanggoel
    – B. Panindjawan
    – B. Tamiang
    – B. Tabala
    – B. Biang
    – B. Apieq
    – B. Batoeng
    – B. Koemajan
  2. Sungai-sungai yang mengalir di lembah Koto Alam:
    – S. Lakoeang Gadang, Ai Godang yang kita kenal sekarang. Berhulu di B. Sanggoel, hilirnya bertemu dengan Soengei Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – S. Tandjoeng Balieq, hilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – S. Lakoeq Batang, ilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – Soengei Sisamo, Ai Koto Lamo yang kita kenal sekarang
    – Soengei Ketjiel, hilirnya bertemu Soengai Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – Soengei Ngalau Tjiga
    – A. Sisamo
    *) Persepsi saya, mungkin juga foto saisuak Batang Samo Tahun 1912 berikut ini berlokasi di aliran Sungai Sisamo yang hulunya di Koto Lamo. Baca artikel saya tentang foto ini [klik]

    Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pakoemboeh dan Pangkalankotabaroe").

    Batang Samo / Soengei Sisamo pada tahun 1912. Batu sungainya mirip dengan bebatuan Ai Koto Lamo | KITLV Leiden

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo saat ini

  3. Fakta berikutnya adalah, di tahun itu 1880 Masehi, lokasi nama Koto Alam pada peta terletak persis di lokasi Koto Lamo saat ini. Jadi sejak dulu nagari kita yang bernama Koto Alam itu berlokasi di Koto Lamo sekarang. Namanya pada peta “Kotta Alam”.
  4. Dalam peta digambarkan rute jalan melalui Kota Toea (Koto Tuo, sekarang jadi kebun karet) lanjut ke Kotta Ranah (Koto ranah) terus ke Kotta Alam (Koto Lamo). Jadi dulu belum ada Koto Tangah, apalagi Simpang Tiga atau Polong Duo.
  5. Rute jalan lintas dari Sarilamak ke Pangkalan Koto Baru adalah: Saharie-Lamak – Terantang – Loeboeq Limpato – Padang Tarab – Harau – Padang Roekam – Robo – Landai – B. Apieq – Oeloe Ajer – B. Batoeng – menghiliri S. Lokoeng Gadang – Kotta Toea – Kotta Ranah – Kotta Alam – menghiliri sungai A. Sisamo – Kotta Baroe (Pangkalan).
    Peta Sarilamak - Hulu Air Tahun 1880

    Peta Rute Jalan Sarilamak – Hulu Air Tahun 1880

    Peta Pangkalan Koto Baru 1880

    Peta Rute Jalan Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru Tahun 1880

  6. Warna hijau pada wilayah Koto Alam menyatakan bahwa kandungan mineral di wilayah tersebut berupa batuan beku Gabro (hitam kehijauan) dan Dibase (abu-abu). Selain itu di wilayah ini berpotensi mangan.
  7. Daerah perbukitan di Barat Laut Koto Alam adalah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar dan Koeantan.
  8. Koto Alam adalah “grens tusschen Paja-Koemboeh en Pangkalan” , perbatasan antara Payakumbuh dan Pangkalan.
  9. Belum ada jalan yang menghubungkan Koto Alam dengan Mengilang (manggillang)

Kemudian terdapat lagi sebuah peta Kota Baharoe yang dibuat sekitaran tahun 1894-1897, [sumber]
Saya crop bagian wilayah Koto Alam, Pangkalan dan Manggilang saja.

"Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900" terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

“Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900″ terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

Di sekitaran tahun 1894-1897 ini rute jalan yang dilalui dari Koto Alam ke Koto Baru Pangkalan adalah: Koto Toeo – Aoer Doeri – Koto Ranah – Batoe Oelar – Koto Alam (Koto Lamo) – Batoe Barlampin – menghiliri B. Samo terus ke Koto Baru Pangkalan. Hulu B. Samo/ Sisamo (Ai Koto Lamo) dalam peta ini dinamakan dengan Batang Loei. Warna hijau pada peta menunjukkan perkampungan yang telah dihuni penduduk. Sedangkan jalan yang menghubungkan Koto Alam ke Manggilang baru berupa jalan setapak.

Foto beikut ini jalan dari Koto Alam ke Pangkalan pada tahun 1903, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Pada tahun 1913 Belanda sudah mulai membangun jalan baru dari Lubuk Bangku – Koto Alam – Koto Baru (Pangkalan). Foto berikut kelok 17 (Bukik Lawa) di Koto Alam tahun 1913, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Sekarang kita tahu jalan lintas Koto Alam ke Pangkalan zaman dahulu itu rutenya melalui Koto Ranah. Orang-orang tua kita bercerita, Belanda datang mengkoordinir masyarakat Koto Alam (Koto Lamo saat itu) dengan menyebarkan isu akan terjadi bencana galodo sebab Bukik Sibincik akan runtuh. Sehingga berbondong-bondong masyakakat  pindah meninggalkan  Koto Lamo ke lokasi Koto Ronah, Koto Tangah, Simpang Tigo dan Polong Duo saat ini. Padahal tujuan mereka adalah ingin bermukim di pinggir jalan lintas rute Simpang Tigo – Manggilang yang baru dibangun oleh Belanda, karena dengan adanya rute Simpang Tigo – Manggilang menyebabkan jalur Koto Ronah – Pangkalan tidak akan ditempuh orang lagi. Maka beralihlah jalan para pedagang dari Sarilamak ke Pangkalan, yang dulunya melalui Koto Ranah sekarang melewati Simpang Tigo. Barangkali pembuatan jalan rute Koto Alam – Manggilang – Pangkalan adalah untuk membuka akses ke Manggilang yang sebelumnya terisolir.

Semenjak dibangun oleh Belanda, jalur Sarilamak – Lubuk Bangku – Koto Alam – Manggilang – Koto Baru (Pangkalan) sampai saat ini tetap menjadi jalan raya lintas Payakumbuh – Pangkalan yang berada di jalur Jalan Lintas Sumbar – Riau. Dampaknya, mayoritas penduduk Koto Alam yang sejak lama bermukim di jorong bawah (Koto Ronah, Koto Tangah), menjadi berada jauh dari jalan raya. Hal ini menyebabkan perkembangan ekonomi Nagari Koto Alam tertinggal dibandingkan Nagari Manggilang yang pemukiman penduduknya berada di pinggir-pinggir jalan raya yang dulu dibangun oleh Belanda ini.

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah Limapuluh Kota sudah mulai membangun kembali jalan dari Pangkalan menuju Koto Alam melalui Koto Lamo secara bertahap, mudah-mudahan nanti rute ini kembali dapat dilalui menjadi sarana transportasi untuk menunjang perkembangan ekonomi dan pertanian masyarakat Koto Alam. (hamdi)

Ranah Minang, Kebun Surga yang Diturunkan Tuhan ke Bumi


Berikut ini sebuah tulisan yang saya dapat di forum rantau.net [sumber] menceritakan tentang keindahan alam Sumatera Barat. K. Suheimi, penulis cerita ini mengungkapkan ketakjubannya melintasi daerah-daerah di kawasan ekuator di sepanjang Jalan Sumbar – Riau. Dengan berbagai keindahan alam yang mempesona serta ragam aktifitas penduduknya yang menarik perhatian, penulis menyebutkan bahwa tidak salah para turis mancanegara menamai Ranah Minang sebagai “Kebun Surga yang diturunkan Tuhan ke Bumi”.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saudara K. SUheimi,

“E Q U A T O R”
Oleh : K Suheimi

Equator atau garis khatulistiwa. Titik nol, selangkah kaki kita melangkah ke kiri kita berada dibelahan Bumi Selatan dan selangkah kaki kita melangkah ke kanan kita berada di belahan Bumi utara…

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar - Riau

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar – Riau

Equator garis khatulistiwa, ke tempat inilah yang hampir setiap minggu saya injak dan saya lalui. Setiap kali melalui dan melewati garis ini kami singgah turun sejenak, ada Mushalla cantik dan bersih disana, disebut dengan Mushalla Musafir, tempat musafir yang berjalan jauh berhenti istirahat sejenak membuang hajat, dan melakukan shalat, meng-qadakan dan menjamak shalat.

Mushalla kecil, cukup bersih dan kamar mandinya berair jernih dan dingin. Air pegunungan, air khatulistiwa. Memang pada titik 0 ini hutannya sangat lebat, rimbanya rimbun. Teduh dan sedikit agak gelap dan lembab. Biasanya kami malam hari lewat di tempat ini. Sebagai pertanda bahwa titik itu Equator di buat tugu khatuliswa. Setiap lewat selalu saya pandang Tugu Bola Dunia dengan garis melintang di tengah tugu itu.

Biasanya kami sampai di tugu ini, tengah malam, disaat sudah sunyi, tapi Kali ini kami sampai petang berlaruik senja, Di rembang petang itu Mushalla ramai, kamar mandi penuh. Penduduk baru pulang dari rimba dan ladang. Mereka mandi bersama-sama. Dari kamar sebeleh terdengar cekikan perempuan dan gadis-gadis bersenda gurau sambil mandi bercengkrama, riuh rendah.

Saya yang di kamar mandi lelaki juga enak melihat laki-laki tegap dan tegar bermandikan air gunung nan sejuk. Badan mereka bagus-bagus, tidak berlemak, dan lekuk tubuh yang alami. Mereka kekar dan kuat, sambil bersimburan mereka bergurau.

Ah rindunya saya pada kehidupan seperti ini. Seperti dulu saya diSungai Puar, di kaki gunung Merapi, bersama anak-anak mandi di Pincuran, berenang di tebat dan kolam di lurah sebuah bukit. Oh masa itu terbayang lagi, Berkecimpung dan bersorak berkejaran di dalam kolam. Masa lalu yang bahagia. Atau berkejar-kejaran dan terjun bebas di Sungai Tanang yang sungainya tenang dan airnya bening sejuk dan dingin.

Khayalan saya mengenang masa-masa indah di Sungai Tanang. Dulu orang berbendi-bendi ke Sungai Tanang memetik bunga si Lembayung.

Sungai tenang yang tidak beriak dan tak tak berarus, setenang namanya, sebagai sumber air untuk Bukit Tinggi, disanalah kami melompat, terjun bebas, berkecimpung dan bergurau senda, bersembur-semburan air. Oh masa lalu yang indah, sebelum ada kolam renang Bantola kami kalau berenang pergi ke Sungai Tanang.

Equator melintas di Koto Alam, desa kecil yang rukun. Untuk sampai ke tempat ini kita disajikan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalannya. Koto alam terletak di garis khatulistiwa ditengah hutan rimbun nan lebat. Namanya Hutan tropis dan sangat subur, apapun jenis tanaman bisa kita temukan.

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Dengan melalui jalan berliku berbelok-belok bagaikan ular yang melilit pinggang bukit dan gunung. Demikian banyaknya kelok dan liku. Namun diantara semua kelok itu ada 17 Kelok yang tajam dan berbahaya. Sehingga liku-liku jalan di sepanjang bukit barisan yang melintas garis Equator ini disebut dengan kelok 17.

Setiap kali melewati kelok-kelok ini saya tak mau memejamkan mata kerna dihadapakan pada pemandangan yang aduhai. Apalagi kalau kita sampai pada kelok selat Malaka. Suatu kelok dengan pemandangan yang sangat spektakuler kita saksikan susunan dan barisan bukit Barisan . Konon kabarnya kelok itu disebut kelok Selat Malaka kerna bila cuaca bersih, maka kita bisa melihat Selat Malaka. Tapi memang saya tak lupa berhenti sejenak di pemandangan yang bagus ini.

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Begitupun ketika ketika kita melewati kelok 9 yang terkenal, disamping curam dan berbahaya, dulu kelok ini sangat sempit dengan bukit-bukit yang berbatu cadas yang sangat keras. Apalagi bila kita memasuki arah Lubuk bangku maka bukit dengan bebatuan yang sangat curam sekali setinggi 200 meter yang menjadi tantangan untuk pemanjat tebing. Bukit-bukit dengan batu cadas yang berwarna warni serta jika air hujan didinding banyak air terjun. Bukit-bukit yang terkesan seram ini terhampar sejak dari kelok 9, Lubuk Bangku dan sampai ke Harau, luar biasa semua akan berdecah kagum dan terpesona.

Foto Baru Kelok sembilan

Kelok Sembilan

Saya sudah banyak berkelana ke tempat-tempat terkenal di seantero Dunia, namun saya bangga, ternyata kampong halaman saya tak kan kalah , jauh lebih bagus dari tempat-temoat yang lain. Tak salah beberapa Turis Manca Negara mengatakan Sumatera Barat atau Ranah minang itu adalah sebagian kebun Sorga yang di turunkan Tuhan ke Bumi. Oh luar biasa.

Kami bersyukur Allah telah anugrahkan sesuatu yang terbaik dan terindah.

Begitu kita lepas dari perbatasan Riau di atas bukit danau buatan koto panjang. Maka perjalan di sepanjang puncak bukit Bukit barisan, maka di depan mata kita terhampar pemandangan yang aduhai, ada Panorama di perbatasan Riau Sumbar, Dan selepas itu ke seluruh Sumatera Barat yang kita lihat setiap jengkalnya hanya ke indahan. puji Syukur pada Mu Tuhan kami yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

“Banyak tempat telah kukunjungi
Yang termashur dikata orang
Namunkampungku nan indah permai
Takkan kalah dan tak kulupa
Kampungku yang kucintai
Engkau kuhargai”

Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Suci Nya dalam Al qur’an:

……Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (QS. 42:22)

Koto Alam 2 Agustus 2008

[sumber]

Mau Buah Durian yang Lezat? Carilah di Koto Alam!


durian koto alamPANGKALAN, RIAUSATU.COM -Buah durian yang tersebar luas di sejumlah pasar pada saat musim durian berbuah, tidak terkecuali di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, belum tentu semua lezat dan enak dimakan. Sebab, bukan tidak mungkin ada di antara buah durian yang dipasarkan itu, dimasak melalui cara dikarbit.

Tapi buah durian yang dikeluarkan dari Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar (Sumatera Barat), dijamin kelezatannya karena hampir tidak ada buah durian yang dikeluarkan dari nagari itu yang masak melalui proses dikarbit atau diperam.

”Saya pastikan, buah durian yang dijual oleh para petani di nagari ini merupakan buah yang masak di batang,” kata Murdi, 42, petani durian di nagari itu. Karena masak di batang, sambung Mardi, dipastikan cita rasa buah duriannya jauh lebih lezat dibandingkan dengan buah durian yang masak diperam.

Tak ada sanksi hukum formal atau hukum adat yang melarang petani menjual buah durian hasil karbitan. ”Ini hanya soal kebiasaan, dan kebiasaan itu masih tetap terpelihara dengan baik di sini sampai saat ini,” tambah Yunizar, petani durian lain di nagari yang sama.

Durian Koto Alam

Durian Koto Alam

Bagi petani di sana, mereka lebih memilih bermalam di kebun durian yang jaraknya puluhan kilometer dari kampung, dan terkadang berada di tengah hutan, untuk menunggui buah durian jatuh dari batangnya karena sudah matang dari pada memetik buah yang belum masak, untuk diperam, dan kemudian dilemparkan ke pasaran.

Bila tiba musim durian, ruas jalan negara Sumbar-Riau yang terletak di nagari itu, diramaikan oleh lapak-lapak pedagang durian yang berjejer di kiri-kanan jalan. Dijual dengan harga bervariasi, antara Rp8.000 sampai Rp12.000/buah, tiap musim durian berbuah nagari itu menjadi ramai oleh para pemburu buah durian, yang kebanyakan berasal dari Riau. (dri)

Sumber: riausatu.com

Kejepit Hidup di Kampung, Ramai-ramai Merantau


SUMBAR, RIAUSATU.COM -”Badai” ekonomi belum juga kunjung surut menghantam para petani gambir dan karet, dua komoditas andalan masyarakat tani di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumbar (Sumatera Barat). Pergantian hari dan musim sejauh ini belum juga mengubah harga kedua komoditas tersebut, bahkan masih tetap terpuruk di tingkat terendah.

Saking putus asanya menghadapi keadaan, bahkan ada petani yang mengatakan tidak akan berharap lagi dari tanaman gambir. ”Hanya membuat sakit hati,” kata Mulyadi, 48, petani gambir di Kecamatan Kapur IX. Kenapa tidak, di saat harga barang-barang lain di pasaran terus melonjak, harga gambir sejauh ini nyaris tetap tidak beranjak.

manakiak gatahSami mawon dengan karet, yang harganya sejak beberapa bulan belakangan juga tidak nyaris mengalami perubahan berarti. Dengan harga jual antara Rp5.000 sampai Rp6.000/kg, membuat petani karet nyaris tidak mendapatkan hasil memadai dari tanaman karet yang dimilikinya. Kondisi diperparah oleh fluktuasi iklim yang tidak bersahabat dengan petani karet.

Inilah salah satu akibatnya: Amri, 47, warga Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, yang sejak beberapa tahun yang lalu merasa sudah mantap untuk menetap di kampung, pada akhirnya luluh juga, untuk kemudian memutuskan merantau demi kelangsungan hidup anggota keluarganya. ”Terutama agar bagaimana anak-anak bisa sekolah,” katanya.

Di kampungnya, Koto Alam, untuk menopang kehidupan, Amri memiliki areal persawahan yang cukup luas buat kebutuhan pangan anggota keluarganya. ”Dari tahun ke tahun saya tidak pernah membeli beras,” akunya. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan lain, Amri mengandalkan dari kebun karetnya yang berproduksi sekitar 8 kg tiap dideres, ditambah warung kopi yang ia buat di samping rumahnya.

Tapi, menyusul merosotnya perekonomian masyarakat dengan anjloknya harga gambir dan karet, sejak beberapa bulan yang lalu Amri memutuskan menutup warung kopinya. ”Hari-hari tak ada lagi yang belanja di warung saya,” keluhnya. Kalaupun tetap dipaksakan dibuka melayani konsumen, ”Kebanyakan yang minum di kedai saya hanya dengan jalan berutang,” katanya, sambil menunjukkan buku catatan utang di warungnya yang cukup panjang.

Sandaran lain, yaitu kebun karet dengan hasil sadapan 8 kg, belakangan juga tak memberi arti banyak untuk menopang perekonomian keluarga Amri. Terutama sejak harga karet jatuh, yang bergerak antara angka Rp5.000 sampai Rp6.000/kg, menurut Amri, benar-benar membuat perekonomian keluarganya terpuruk. ”Paling hasil menderes hanya Rp40.000 tiap kali deres,” terangnya.

Dalam perhitungan Amri, kebun karet itu hanya mendatangkan hasil antara Rp200.000 sampai Rp250.000/pekan. Itu dengan catatan: kalau didukung cuaca yang baik. Masalah menjadi lain manakala hujan turun berkepanjangan. ”Bisa-bisa dalam satu pekan saya tidak mendapatkan sesen pun dari tanaman karet yang selama ini menjadi sumber perekonomian keluarga saya,” katanya.

Yang membuat berat ekonomi keluarga Amri adalah karena dua orang anaknya tercatat duduk di bangku sekolah menengah, satu di kampung dan satu lagi bersekolah di Payakumbuh. ”Tiap pekan minimal saya harus menyediakan uang Rp300.000 untuk biaya kedua anak itu pergi sekolah,” ungkapnya. Makanya, imbuh Amri, hampir tiap pekan ia pusing memikirkan upaya mencari uang, baik buat biaya sekolah anak-anak maupun untuk memutar roda ekonomi keluarganya di kampung.

Tak mau terjebak dalam kebuntuan panjang, Amri kemudian memutuskan merantau ke Pekanbaru, Riau. Di kota ini Amri mengungkit keterampilan lamanya sebagai tukang jahit. ”Ada famili yang mengajak saya kerja,” katanya. ”Saya pikir lebih baik dicoba dulu, setidaknya untuk keluar sementara dari kebuntuan menjalani kehidupan di kampung,” ia menambahkan.

Zulfikar, 52, warga nagari yang sama, sudah sejak lama memutuskan merantau ke Pekanbaru, yaitu terhitung sejak harga gambir tidak juga kunjung membaik. Menjalani hari-hari dengan kegiatan hanya sebagai kuli bangunan di provinsi tetangga itu, Zulfikar mengaku kondisi itu jauh lebih baik daripada bertahan di kampung untuk menunggu membaiknya harga gambir, yang entah kapan akan kembali berada pada titik normal.

Padahal di kampung Zulfikar punya dua bidang gambir yang lumayan luas. Menurut Zulfikar, selama ini kedua ladang gambir itulah yang menjadi sumber ekonomi keluarganya. Hasil dari ladang itu pula yang membuat Zulfikar mampu membangun tempat tinggal yang layak bagi anggota keluarganya, termasuk membelikan sepeda motor.

Tapi, dijelaskan Zulfikar, sejak sekitar empat tahun belakangan, di mana harga jual gambir tidak pernah melewati angka Rp20.000/kg, ia praktis tak bisa lagi berharap dari ladang gambir yang dimilikinya. Angka Rp20.000 mungkin termasuk penjualan yang layak, karena tidak jarang harga gambir hanya bergerak antara Rp16.000 sampai Rp17.000/kg di tingkat pedagang pengumpul.

Padahal, menurut Zulfikar, harga gambir yang ideal adalah 2,5 gantang beras setiap kg. ”Pada tingkat harga sebanyak itu baru petani gambir bisa hidup layak, katanya. Kalau saja harga beras dipatok pada angka Rp15.000/kg, beber Zulfikar, maka idealnya harga gambir Rp35.000/kg. Itu artinya, harga yang berlaku sekarang separoh dari harga ideal,” ungkap Zulfikar.

Amri dan Zulfikar hanya dua dari sederet panjang petani gambir dan karet yang seakan sudah putus asa dengan harga komoditas yang selama ini justru mereka jadikan sebagai andalan untuk menggerakkan roda perekonomian mereka. ”Kalau kondisi harga kedua komoditas itu tidak juga kunjung membaik, saya yakin akan semakin banyak warga nagari kami memutuskan merantau untuk mencari sumber penghasilan lain,” kata Amri. (dri)

Sumber: riausatu.com

Buah Durian, Alternatif Sementara dari Kesumpekan Ekonomi


durian koto alamPANGKALAN - Kondisi perekonomian sejumlah kawasan sentra perkebunan gambir dan karet di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar (Sumatera Barat), sedikit tertolong dengan datangnya musim durian. Banyak di antara warga di sana yang menjadikan buah durian sebagai alternatif sementara untuk keluar dari kesumpekan ekonomi.

Wadi, 42, petani gambir di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Limapuluh Kota, mengungkapkan bahwa musim buah durian tahun ini benar-benar menjadi ”dewa penolong” bagi perekonomian keluarganya. ”Kalau tak dibantu buah durian, entah bagaimanalah keadaan ekonomi keluarga saya,” katanya.

Sejak sekitar empat tahun belakangan harga gambir hanyaRp17.000/kg, sebuah tingkat harga yang sangat tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan. Menyusul kemudian anjloknya harga karet alam, yang hanya Rp6.000/kg, jauh di bawah harga sebelumnya yang sempat menembus angka Rp18.000/kg.

Memiliki beberapa batang durian di kebunnya, warisan dari orangtuanya, Wadi mengaku hasil yang diberikan buah durian lebih dari cukup untuk menggerakkan roda perekonomian keluarganya. ”Kadang bisa dapat Rp300.000 atau lebih,” katanya. Kendati untuk mendapatkan hasil sebanyak itu harus ditebus dengan jalan bermalam di kebun durian, Wadi lebih memilih kondisi itu daripada dihadapkan kesumpekan ekonomi akibat harga karet dan gambir yang tak kunjung membaik.

Buah durian yang dikumpulkan Wadi di kebun, biasanya dibeli oleh toke-toke kampung, yang langsung mendatangi Wadi di kebunnya. Tempo-tempo Wadi yang memasarkan langsung di pinggir jalan negara Sumbar-Riau yang melintasi nagari tersebut. ”Antara Rp8.000 sampai Rp12.000 per buah,” ungkap Wadi, saat ditanya harganya.

Yang paling diuntungkan adalah pemilik batang durian dengan populasi batang durian yang cukup banyak. ”Ada yang berpenghasilan Rp1 juta lebih sehari,” kata Siar, 46, petani durian yang lain. ”Ini saat bagi masyarakat untuk bisa sedikit menabung,” imbuh Siar. (dri)

Sumber: riausatu.com

[VIDEO] Acara Mancing Mania Trans7 di Lubuak Nago Pangkalan Koto Baru


Lubuak Nago yang berada di aliran Sungai Batang Maek Nagari Pangkalan merupakan lokasi ikan larangan warga setempat. Lubuak Nago meraih Juara II Lomba Lubuak Larangan Tingkat Nasional tahun 2014. Dalam rangka syukuran keluarnya Pokmaswas Nago Sakti masyarakat menggelar acara mancing mania. Tak tangggung-tanggung, untuk memeriahkan acara tersebut panitia acara bekerjasama dengan stasiun televisi nasional Trans7 melalui program unggulannya Mancing Mania.

Mancing Mania Lubuak Nago Pangkalan Koto Baru

Mancing Mania Lubuak Nago Pangkalan Koto Baru

Pada pesta panen ikan larangan Lubuak Nago (29 Desember 2014) dihadiri oleh Wakil Bupati Limapuluh Kota Bapak Drs. H. Asyirwan Yunus, M.Si, Camat Pangkalan Koto Baru, Andri Yasmen, S.Sos dan Walinagari Pangkalan, Diswanto.

Selain mengambil lokasi syuting di Lubuak Nago, tim Mancing Mania Trans7 juga meliput aksi memancing ikan di danau buatan waduk PLTA Koto Panjang. Yang ketinggalan nonton acara tv-nya 24 Januari 2015 kemarin, silahkan tonton videonya berikut ini, selamat menyaksikan.. :D

[tonton di youtube]

Sakido Mura ( 赤道村 ), An Equatorial Monument as A Japanese Heritage in Indonesia


Many tourists only know that monument of equator in Sumatra Island is only located in Bonjol, but actually there are some other places in Sumatra that also have their own equator monument.

Location of some Equator Monuments in Sumatra Island

Location of some Equator Monuments in Sumatra Island

I will tell you about another one equator monument in Sumatra Island. This monument located at Koto Alam, a village in Pangkalan Koto Baru district Limapuluh Kota, West Sumatra. The monument look like a ball, many tourists called it as equator ball. Whereas local people called it “Sakido Mura”, a name which audible as Japanese language. Location of monument, Koto Alam, is one of place in equator line.

Equator Monument Sakido Mura

Equator Monument Sakido Mura

History of Sakido Mura ( 赤道村 )

Based on local information, this monument early was built by Dutch along Dutch East Indies period before independence of Indonesia. But no data have found when is the year of this monument was built firstly. Dutch named it as “Pila”. They built it like a upright monument. I have searched for informations about it in KITLV Library and Tropenmuseum, but i can’t find any documents about this monument. Dutch used “Pila” as an instrument for instruction of wet and dry season, because the monument stand right above zero latitude point of the earth. Every years, in this place happens phenomenon of sun culmination, no shadow when daylight caused by the position of the sun were right above equator.  This phenomenon always happens twice a year, 21 up to 23 on March and 21 up to 23 on September

When World War II period, Dutch leaft Indonesia, then Nippon took their position. Nippon reformed “Pila”, they reconstructed it formed like a ball. They painted Japan flag “Hinomaru” on the ball. Also they changed name of “Pila” became “Sakido Mura” ( 赤道村 ) the meaning is “The Equator Village”.

I try to find some informations about “Sakido Mura” from documents of Dutch or Nippon. But I can’t get it yet. Right now, Sakido Mura become one of local tourist destination in West Sumatra, the government initiated it on September 2013.

Based on travel notes, many tourists visit Sakido Mura every years. They are local and foreign tourists. Usually, the foreign tourists come from Japan (20 up to 30 people a year). They want to witness one of Japanese heritage in Indonesia. Even more, Sakido Mura is a specially building which located at zero latitude point on the earth. This is an amazing experience caused you stand in the middle of earth, between south and north. If you activate GPS in here place, it will shows 00’00″00″‘. Sometimes in daily light your body have no shadows. In the earth, only some states which placed on equator line. Indonesia is the one of them.

Location of Sakido Mura is very strategic, placed at the roadside between Pekanbaru and Bukittingi. About 70 km from Bukittingi (1 hour 10 minutes by car).

Pictures below are Sakido Mura from any years.

A tourist in Sakido Mura when event of Cycling Across Equator in 1991

A tourist in Sakido Mura when event of Cycling Across Equator in 1991

Sakido Mura in 2003

Sakido Mura in 2003

Sakido Mura about 2005

Sakido Mura about 2005

A russian in Sakido Mura about 2010

A Russian in Sakido Mura about 2010

An event in Sakido Mura, September 2013

An event in Sakido Mura, March 2013

Tourists and their bikes in Sakido Mura 2014

Foreign bikers in Sakido Mura 2014

Tourists and their bikes in Sakido Mura 2014

Foerign bikers in Sakido Mura 2014

Tourists and their bikes in Sakido Mura 2014

Foreign bikers in Sakido Mura 2014

If you interested to visit Sakido Mura, the monument located in the roadside of Jalan Sumbar – Riau rute. Here is the map.

Position on the map

Position on the map

%d blogger menyukai ini: