Lagu Minang Dyadara – Sarumpun Sarai


Sebuah lagu minang karya saya ikut dinyanyikan dalam album pop minang modern oleh penyanyi pendatang baru bernama Dyadara. Judul lagunya “Sarumpun Sarai”.

Berikut videonya,

Dyadara adalah penyanyi minang pendatang baru asal Kota Padang yang masih muda belia, berparas cantik, modis dan memiliki suara yang khas. Album perdananya ini diproduksi oleh Planet Records. Videographer lagu minang, Al Glory, ikut memberikan sentuhan video-video klipnya yang keren. Disamping itu beberapa lagu karya Al Glory juga meramaikan album tersebut.

VCD original album DYADARA – DURI CINTO sudah tersedia di toko-toko VCD lagu minang. Beli ya :D

dyadara album minang duri cinto video lagu minang dyadara

Lagu-lagu dalam Album DYADARA – DURI CINTO :

1. Duri CInto | Cipt. Bob Dalil

2. Maafkan Denai Mandeh | Cipt. Al Glory

3. Sarumpun Sarai | Cipt. Hamdi Eskavis

4. Rila Malapehkan | Cipt. Yez

5. Ranah Sijunjuang | Cipt. Bidayani

6. Si Buyuang Marantau | Cipt. Wan Parau

7. Di Ujuang Sanjo | Cipt. Al Glory

8. Kalansangan | Cipt. Bidayani

9. Matohari Pagi | Cipt. Al Glory

10. Dayuang Palinggam | Cipt. NN

Download mp3 lagu-lagu minang terbaru 2015 Dyadara klik disini

Pangkalan Setelah Kelok Sembilan


Abdul Hamdi Mustapa:

Mengutip kembali tulisan Bapak H. Fachrul Rasyid tentang wacana pembangunan wilayah kecamatan Pangkalan Koto Baru setelah rampungnya proyek fly over Kelok Sembilan. Dalam tulisannya, pemerintahan Limapuluh Kota telah memprioritaskan Pangkalan Koto Baru beberapa tahun kedepan sebagai kota perdagangan dan wisata.

Menilik sejarah dua abad silam ketika Pangkalan Koto Baru menjadi pelabuhan utama bagian timur Minangkabau. Sebagai daerah pelabuhan, profesi masyarakat Pangkalan berperan dalam bidang distribusi hasil alam dari pedalamaan Minangkabau hingga ke bibir Selat Malaka. Hingga hari ini profesi tersebut menjadi mata pencaharian masyarakat Pangkalan pada umumnya. Jika zaman dahulu transportasi melalui sungai Batang Mahat menggunakan perahu kajang untuk mengangkut hasil alam, maka zaman sekarang -ketika transportasi berubah melalui jalur darat- masyarakat Pangkalan masih dengan perannya dalam distribusi barang /hasil alam yang telah bertranstormasi menggunakan truk.

Pangkalan Setelah Kelok Sembilan
Teras Utama Padang Ekspres Selasa 21 Mei 2013
Oleh Fachrul Rasyid HF
[sumber]

Sedikit hari lagi ply over alias jembatan layang Kelok Sembilan (K-9) akan rampung. Rencananya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan. Lantas apa yang bisa diraih Pangkalan Kotobaru?

Pertanyaan ini perlu dijawab pejabat, pemuka, dan para ninik mamak di Pangkalan, mengingat dulu sejak akhir abad 18 hingga awal abad 20 Pangkalan adalah pelabuhan terbesar di timur Minangkabau ke Selat Malaka. Setiap mau memasuki bulan Ramadhan, sesuai kesapakatan ninik mamak dan ulama, kapal-kapal milik pengusaha dilabuhkan di Pangkalan. Saat itu anak kemanakan boleh naik dan berlayar di sepanjang batang Mahat. Dari situ kemudian lahir tradisi perayaan “Patang Balimau”

Belanda berusaha menguasai Pangkalan karena mengalahkan Pelabuhan Muara Padang. Untuk itu Belanda mencoba masuk melalui Kuala Kampar menesuri Batang Kampar, dan masuk ke Batang Bahan menuju Pangkalan. Tapi karena sungainya deras dan berhutan lebat, upaya itu sia-sia. Pada 1932 Belanda memutuskan membuka jalan dari Payakumbuh, Sarilamak, ke Pangkalan. Salah satu ruasnya adalah K-9. Lalu, mengerahkan pekerja pasa, jalan diteruskan ke Bangkinang, Danau Bingkuang, Taratak Buluh hingga ke Logas.

Sejak terbuka jalan darat ke Riau, perlahan pelabuhan Pangkalan jadi sepi. Para pengusaha kapal Pangkalan akhirnya beralih jadi pengusaha angkutan darat sehingga Pangkalan terkenal sebagai nagari pengusaha angkutan di Sumbar-Riau. Angkutan penumpang milik pengusaha Pangkalan yang amat terkenal adalah bus Gagak Hitam, Sinar Riau dan Bunga Setangkai.

Sejak 15 tahun belakangan setelah angkutan bus makin terjepit, pengusaha Pangkalan berkosentrasi penuh pada angkutan truk/barang. Dan, ketentuan memautkan kapal tiap memasuki Ramadhan beralih ke truk. Itu sebabnya, di hari-hari Patang Balimau semua truk milik orang Pangkalan yang beroperasi di berbagai daerah, pada pulang kampung. Dan, jalan di sepanjang Pangkalan pun disesaki truk.

Kini, setelah pembangunan K-9 generasi kedua (jembatan layang) rampung, apakah potensi ekonomi dan posisi strategis Pangkalan akan mengalami kemunduran seperti halnya setelah K-9 dibangun Belada dulu?

Saya percaya, secara perorangan, orang Pangkalan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan. Ketika dulu jalur perdagangan lewat sungai digantikan jalan darat, pengusaha Pangkalan pun mengganti kapal dengan truk. Artinya, mereka tetap pada posisi ekspedisi dan distribusi barang.

Nanti, setelah K-9 generasi kedua rampung, posisi itu pasti akan lebih berkembang. Boleh jadi perusahaan bus milik orang Pangkalan yang pada tutup, akan dihidupkan kembali, tentu dengan model dan pelayanan yang lebih modern.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan Nagari Pangkalan itu sendiri. Apakah Pangkalan akan tetap jadi nagari pelintasan angkutan orang dan barang?

Selama ini tampaknya memang demikian. Hasil penelitian Dinas PU 2002, membuktikan Pangkalan dilintasi rata 6.800 hingga 11.350 kendaran/ hari. Kendaran itu  mengangkut sekitar 16 juta orang dan 28,5 juta ton barang/ tahun (50% hasil pertanian dan peternakan). Tentu kini dan sepuluh tahun ke depan keramaian kendaran, orang dan barang melintasi Pangkalan tentu akan berlipat ganda. Apalagi jika rencana pembangunan jalan tol Padang-Pekanabaru-Dumai,  jari-jari jalan tol Lintas Sumatera, rampung sekitar tahun 2025.

Fakta ini tentu memperlihatkan posisi Pangkalan sebagai pintu gerbang Sumbar dari Riau akan semakin penting. Tapi, sekali lagi, bagaimana Pangkalan menyikapi posisi tersebut. Musyawarah  pembangunan Pangkalan di rumah kediaman Bupati Alis Marajo tahun 2002 silam mencoba menjawab hal itu. Aacara itu dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Pangkalan. Antara lain Anwar Syukur, H. Syakrani,  H. Nizar dan Dr. Muchlis Hasan.

Tokoh-tokoh Pangkalan memahami bahwa Pangkalan memang akan tumbuh jadi sebuah kota. Karena itu disepakati perlunya menyusun tata ruang, kerangka kota sehingga seluruh ruang nagari Pangkalan terintegrasi, terhubung, dan berarti bagi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Dari situ bisa dirinci mana daerah sumber air bersih, daerah pertanian/ perkebunan, daerah pertumbuhan dan pusat ekonomi, daerah pendidikan dan sebagainya sampai pada kebutuhan saluran drainase.

Bupati Alis Marajo kemudian membangun jaringan jalan memperkuat Kota Pangkalan masa depan. Dimulai dengan membangun dan meningkatkan jalan dari Pangkalan ke Kecamatan Kapur IX  hingga di Nagari Gelugur menuju Kabupaten Rokan Hulu. Kemudian jalan dari Pangkalan ke Baluang atau ke Lipat Kain  Kabupaten Kampar.

Setelah Pangkalan tumbuh jadi pusat perdagangan, kota harapan di pinggir Danau PLTA Kotopanjang seluas 140 ribu hektare itu bisa jadi kota wisata. Di Pangkalan bisa dibangun dermaga danau untuk tujuan pelancongan, olahraga dayung, lomba perahu dan olahraga memancing.

Maka, jika tata ruang Pangkalan direncanakan dengan baik dan semua potensinya digarap dengan benar, selain jadi kota perdagangan Pangkalan akan jadi kota wisata dan kota peristirahatan bagi Riau. Dan, ini amat menarik bagi investor membangun hotel, restoran dan objek wisata.

Jadi, kini tinggal bagaimana Pemkab Limapuluh Kota dan Pemprov Sumbar cerdas mengangkat potensi tersebut sehingga Pangkalan memberi peluang peningkatan ekonomi daerah ini. (*)

Originally posted on :

Teras Utama Padang Ekspres Selasa 21 Mei 2013

Oleh Fachrul Rasyid HF

Sedikit hari lagi ply over alias jembatan layang Kelok Sembilan (K-9) akan rampung. Rencananya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan. Lantas apa yang bisa diraih Pangkalan Kotobaru?

Pertanyaan ini perlu dijawab pejabat, pemuka, dan para ninik mamak di Pangkalan, mengingat dulu sejak akhir abad 18 hingga awal abad 20 Pangkalan adalah pelabuhan terbesar di timur Minangkabau ke Selat Malaka. Setiap mau memasuki bulan Ramadhan, sesuai kesapakatan ninik mamak dan ulama, kapal-kapal milik pengusaha dilabuhkan di Pangkalan. Saat itu anak kemanakan boleh naik dan berlayar di sepanjang batang Mahat. Dari situ kemudian lahir tradisi perayaan “Patang Balimau”

Belanda berusaha menguasai Pangkalan karena mengalahkan Pelabuhan Muara Padang. Untuk itu Belanda mencoba masuk melalui Kuala Kampar menesuri Batang Kampar, dan masuk ke Batang Bahan menuju Pangkalan. Tapi karena sungainya deras dan berhutan lebat, upaya itu sia-sia. Pada 1932 Belanda memutuskan…

Lihat yang asli 578 kata lagi

Wabup Limapuluh Kota Asyirwan Yunus Memberikan Bantuan pada Keluarga Korban Kebakaran di Koto Alam


image

image

Keluarga korban kebakaran, mendapatkan kunjungan khusus dari Wakil Bupati Limapuluh Kota, Asyirwan Yunus pada beberapa waktu lalu.Kedatangan Asyirwan Yunus dengan mobil dinas BA 5 C tersebut, disamput dengan rasa haru oleh keluarga korban kebakaran. Kurang dari sepekan pasca kebakaran yang menimpa rumah salah satu warga di Nagari Koto Alam Kecamatan Pangkalan Koto Baru, korban langsung mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota..

“Kita harap, keluarga tabah atas peristiwa kebakaran ini,” ujar Asyirwan Yunus bersama rombongan Pemkab Limapuluh Kota. Asyirwan Yunus turut meninjau seluruh sudut bangunan yang hangus dilalap api saat kebakaran yang terjadi pada Kamis (7/5) lalu. Usai meninjau seluruh sisi, rombongan dari Pemkab Limapuluh Kota sempat berdiskusi dengan keluarga korban kebakaran serta warga sekitar lokasi yang turut menyambut kedatangan Asyirwan Yunus.

“Kita harap, kedepan warga harus berhati-hati dan selalu waspada terhadap ancaman kebakaran yang kerap menimpa rumah warga. Api bisa saja muncul akibat kelalaian kita sendiri. Tetapi, banyak juga kebakaran akibat hal-hal yang tak terduga, seperti adanya konsletan listrik,” pesan Asyirwan Yunus. Dalam tinjauan tersebut, Wakil Bupati Limapuluh Kota itu sempat memberikan bantuan kepada keluarga korban. Pihak keluarga, turut berterima kasih atas perhatian dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. Terutama kesediaan Asyirwan Yunus untuk datang langsung menjambangi korban kebakaran tersebut.

“Kita ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah dan bapak Wakil Bupati,” ujar pasangan suami istri Edi (56) dan Rafnidawati (44) keluarga korban kebakaran tersebut. Mereka mengungkapkan, kebakaran berawal dari konsletan listrik hingga menghanguskan 2 petak rumah mereka yang saling berdekatan.

Sumber: padangcrime.com

SMP Laskar Pelangi Di Koto Alam


Sebuah tulisan dari web Wahana Alam Hijau [tautan]. Team Goes to School Wahana Alam Hijau Sumatera Barat berkunjung ke SMP 5 Koto Alam Pangkalan Koto Baru untuk mengadakan kegiatan Training dan Motivasi kepada siswa-siswi SMP 5 Koto Alam.

Berikut kutipannya.

mission210 hari berkelililing Gunung Sago, Kelembah dibawah bukit Barisan, Misi kami akan berakhir di sebuah sekolah Manengah Pertama (SMP), di Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota.

Untuk Sampai di sekolah itu, Dari Kota Payakumbuh, Lebih kurang 60 Km, kami mesti melalui Kelok 9 , yang Luar biasa, jalan Layang yang melingkar-lingkar didua sisi bukit dan lembah, jalanan berkelok-kelok yang tidak terlalu lebar, 1 Jam perjalanan kami masuk ke satu jalan kecil, menuruni sebuah lembah bernama nagari Koto Alam, dan Kemudian mendaki sebuah bukit, dengan jalan yang hanya di perkeras dengan beton selebar 2 Meter, akhirnya Team Goes to School berhenti di halaman sebuah sekolah yang sangat sederhana,

Halamannya bertanah merah becek, Lantai sekolah tidak lagi licin, penuh bekas telapak kaki yang mengering berwarana tanah merah, dinding-dindingnya berwarna kusam berdebu, Diruang Guru, kami disambut Guru-guru ..sederhana,berpakaian terlalu sederhana,( Guru-guru disini, hanya 5 Orang yang PNS termasuk Kepala Sekolah yang lain honorer) bahkan ada yang hanya bersendal,Guru bidang studi terbatas, seringkali Guru sejarah mesti mengajar Matematika, Guru IPS merangkap mengajar Bahasa Inggris, ruangan guru hanya satu ruangan 6 x 6 meter, cahaya lampunya terlalu redup, karena kapasitas listrik yang terbatas, ruangan kepala sekolah hanya dibatasi sekat, triplek berukuruan 2 x2 meter, tanpa pintu, disana bertumpukan berbagai Arsip. persis seperti ruangan Guru waktu saya sekolah SD dulu. ruangan kelasnya sendiri hanya terdiri dari 6 Kelas.Udara dipagi hari Begitu Dingin dan menjelang siang Panas.

Murid – murid kelas VII-IX hanya berjumlah tidak lebih 120 Orang, itupun sebagian sering tidak hadir karena membantu orang tuanya memetik buah Gambir di Hutan-hutan kampung, Meja Kursi anak kelas IX memprihatinkan, Kursi kayu tak memiliki sandaran, karena sudah terlepas dimakan usia atau sebab kenakalan Murid, anak Kelas VII dan VIII, lebih memprihatinkan lagi, mereka belajar menggunakan bangku Osin (Istilah Masyarakat setempat) Meja Pendek, Siswa duduk dilantai, itupun sebagian kaki meja suda berpatahan, sehinggau Siswa mesti tengkurap untuk bisa menulis.

mission1

“Di Kampung Koto Alam ini Orangnya keras-keras Karakternya Pak” Demikian Kepala sekolah mulai menjelaskan tentang karakter Anak didiknya,

“Di tengah Masyarakat kami, hanya ada 3 Panutan, yang Pertama “Bagak” (Pemberani/Suka berkelahi), yang kedua Kaya dan yang ketiga Bagak dan Berani, sehingga mereka tidak terlalu suka bersekolah, karena Panutan mereka terlalu Sederhana, dan itu sudah terbentuk semenjak dahulu, mungkin karena lingkungan yang berada di lembah-lembah diantara perbukitan, sehingga mereka jarang mengetahui, jadi kalau kami di sekolah ini, harus keras kepada mereka, kalau tidak guru akan disepelekan”

Begitulah sang Kepala sekolah membeberkan persoalan yang mereka hadapi.

Anggota team kami saling melirik dan berbisik, Mampu nggak menghadapi tantangan ini.

Awal kegiatan, acara di buka kepala Sekolah, persis yang beliau katakan, (Kali ini peserta bukan hanya kelas IX tapi juga kelas VII dan VIII, ) terlebih dahulu diabsen, yang hadir tidak lebih dari, 80 Orang, 40 Siswa lainnya, mungkin sedang Memecah Buah gambir, atau mencari Kayu dihutan…Kepala sekolah bicara dengan keras dan mengancam Siswa ..agar mereka mengikuti Program ini dengan tertib, tapi suara gauangan.seperti suara lebah tetap saja beredar..mereka terus saling bicara dan berbisik, beberapa anak mulai gelisah karena ruangan yang sempit (hanya satu kelas) dan tidak cukup kursi untuk duduk, sebagian menarik meja hingga kakinya menghadap kami, lalu di jadikan Kursi mereka, Sungguh Tantangan yang menarik,

mission

Untuk pertama Kalinya kemeja kami basah, oleh keringat Udara menjelang Siang seakin Panas, Dasi yang melilit leher serasa mencekik, wajah kamibercucuran keringat” Salah satu teman berbisik,”Sudah Putarin Banyak Film saja”biar kita bisa mengatur nafas,”Saya berbisik lagi kemereka “Sabar..Ini menarik bagaimana mereka bisa kita robah hanya dalam tempo 3 ,5 Jam” terus kan program seperti biasa.

3,5 jam kemudian (Setelah anak kelas VII dan VIII ) di pulangkan, kami teruskan dengan Kontrak diri, Menyusun Konsep Diri dan mengevaluasi Diri…Anak-anak Koto Alam yang Berkarakter keras itu, Banjir Air Mata, Laki-laki jagoan, Perempuan Keras..Menangis dengan dengan pilu, ketika menyadari begitu banyak kealpaan diri mereka, Begitu banyak waktu yang tersia-siakan karena Keangkuhan, Guru dan Kepala sekolah tertunduk haru, linangan Air mata bermain dimata mereka,

Di Akhir Program, anak-anak yang mesti di bentak itu, agar mau mendengar Guru, datang kepelukan Guru-guru mereka, Memeluk dengan erat, tangisan yang tak juga mampu di bendung, mengucapkan Maaf yang takterhingga, dan tekad untuk merubah diri mereka agar menjadi, Anak Koto Alam yang terbaik.

Penutup.

Agar mau Didengarkan, Tak perlu bersuara Keras
Agar anak mau berubah, jangan Paksa mereka
Anak-anak Koto Alam Pangkalan Tak Perlu kami bentak, Kami hanya Menyentuh hatinya. Insya Allah telah berubah.
Dari Lembah Koto Alam
Team “Goes To School Wahana Alam Hijau Sumatera barat”
Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami, kita sambung lagi pada next mission

Terimakasih, Team Wahana Alam Hijau Sumatera Barat, Teruslah Terbang
“Salam Sukses”

[foto saisuak] Peta Nagari Koto Alam Tahun 1880


Saya sangat tertarik menggali dokumen-dokumen sejarah zaman kolonial, khususnya nagari Koto Alam. Berbekal halaman pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda, saya berulang kali mengetikkan kata kunci yang berhubungan dengan nagari Koto Alam dan sekitarnya pada zaman Belanda. Dengan ditemukannya berbagai bukti sejarah yang otentik, kita menjadi sedikit tahu bagaimana fakta sebenarnya tentang tempat tinggal kita ini, terlepas dari dongeng mulut kemulut yang kita dengar dari orang-orang tua di kampung kita.

Saya bukan mahasiswa sejarah, namun saya banyak membaca literatur sejarah. Nagari Koto Alam ini, hanyalah pelintasan kecil dari jalur perdagangan Pantai Barat Sumatera ratusan tahun yang lalu. Sebagaimana sejarah-sejarah peradaban manusia masa lampau, orang-orang dahulu suka bermukim di daerah pinggiran sungai atau pertemuan dua sungai. Jadi, tidaklah kita heran mengapa tempat tinggal orang Koto Alam zaman dahulu itu berada di daerah Koto Lamo sekarang, yang merupakan pertemuan dua hilir sungai yang kita kenal saat ini sebagai Batang Ai Godang dan Ai Koto Lamo, bertemunya di Lubuk Tomuan.

Koto Alam yang begitu indah di lembah perbukitan yang datar dan subur, dimana terdapat beberapa sungai sebagai sumber air, mungkin telah menarik perhatian nenek moyang kita zaman dahulu untuk mendiami daerah ini. Sesuai dengan cerita yang kita dengar dari orang tua-tua, mula-mula Koto Alam dihuni oleh kaum Datuak Parpatiah Suku caniago. Kemudian rombongan Suku Pitopang Datuak Paduko Rajo ikut bermukim di Nagari Koto Alam, kisahnya berkaitan erat dengan kisah perjodohan Puti Sari Banilai Suku Malayu (Solok Bio-Bio) dengan Datuk Sibijayo Suku Pitopang (Pangkalan Koto Baru). Dalam perjalanannya Datuk Paduko Rajo (Pengawal Puti Sari Banilai) memutuskan untuk bertempat tinggal di perkampungan Koto Ronah sekarang. Baca kisahnya disini [link]

Terlepas dari cerita tersebut, kampung kita juga dikenal sebagai “ikua darek kapalo rantau” dan bahkan sebagai Nagari Tertua di Pangkalan Koto Baru. Dalam arsip Nagari Koto Alam disebutkan, di Koto Lamo banyak terdapat mejan (batu nisan raksasa) yang umurnya lebih tua dari Menhir. Jadi barangkali masyarakat asli Koto Alam sudah eksis semenjak zaman megalitikum (kebudayaan batu besar).

Sebagai daerah pelintasan, Koto Alam menghubungkan Payakumbuh dengan Pangkalan Koto Baru. Rute yang ditempuh manusia ratusan tahun lalu adalah Sarilamak – Harau – Landai – Hulu Air – Koto Alam terus ke Pangkalan Koto Baru. Sedangkan rute Sarilamak – Lubuk Bangku – Kelok Sembilan terus ke Pangkalan baru dibuka pada awal 1900-an.

Berikut ini sebuah foto yang saya temukan di pustaka digital KITLV Leiden Belanda [sumber], sebuah peta yang menggambarkan wilayah Payakumbuh dan sekitarnya pada tahun 1880.

Judul foto:
Blad Paja Koemboeh / opgenomen door den Mijn Ingenieur R.D.M. Verbeek met medewerking van den Topograaf De Groot en de Opzieners bij het Mijnwezen Naumann en De Corte / 1880

Terjemahan:
Journal Paja Koemboeh / dicatat oleh Insinyur Pertambangan RDM Verbeek dengan kerjasama dari topographer The Great dan uskup di Mines Naumann dan De Corte / 1880

Resolusi foto ini sangat besar, jadi saya crop foto ini setentang wilayah Nagari Koto Alam sekarang supaya lebih terlihat detail.

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Zooming lebih besar lagi,

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Informasi yang dapat kita baca dari peta ini saya rangkum sebagai berikut,

  1. Nama-nama Bukit di sekitar Koto Alam:
    – B. Siban
    – B. Tjawang
    – B. Sanggoel
    – B. Panindjawan
    – B. Tamiang
    – B. Tabala
    – B. Biang
    – B. Apieq
    – B. Batoeng
    – B. Koemajan
  2. Sungai-sungai yang mengalir di lembah Koto Alam:
    – S. Lakoeang Gadang, Ai Godang yang kita kenal sekarang. Berhulu di B. Sanggoel, hilirnya bertemu dengan Soengei Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – S. Tandjoeng Balieq, hilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – S. Lakoeq Batang, ilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – Soengei Sisamo, Ai Koto Lamo yang kita kenal sekarang
    – Soengei Ketjiel, hilirnya bertemu Soengai Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – Soengei Ngalau Tjiga
    – A. Sisamo

    *) Persepsi saya, mungkin juga foto saisuak Batang Samo Tahun 1912 berikut ini berlokasi di aliran Sungai Sisamo yang hulunya di Koto Lamo. Baca artikel saya tentang foto ini [klik]

    Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pakoemboeh dan Pangkalankotabaroe").

    Batang Samo / Soengei Sisamo pada tahun 1912. Batu sungainya mirip dengan bebatuan Ai Koto Lamo | KITLV Leiden

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo saat ini

  3. Fakta berikutnya adalah, di tahun itu 1880 Masehi, lokasi nama Koto Alam pada peta terletak persis di lokasi Koto Lamo saat ini. Jadi sejak dulu nagari kita yang bernama Koto Alam itu berlokasi di Koto Lamo sekarang. Namanya pada peta “Kotta Alam”.
  4. Dalam peta digambarkan rute jalan melalui Kota Toea (Koto Tuo, sekarang jadi kebun karet) lanjut ke Kotta Ranah (Koto ranah) terus ke Kotta Alam (Koto Lamo). Jadi dulu belum ada Koto Tangah, apalagi Simpang Tiga atau Polong Duo.
  5. Rute jalan lintas dari Sarilamak ke Pangkalan Koto Baru adalah: Saharie-Lamak – Terantang – Loeboeq Limpato – Padang Tarab – Harau – Padang Roekam – Robo – Landai – B. Apieq – Oeloe Ajer – B. Batoeng – menghiliri S. Lokoeng Gadang – Kotta Toea – Kotta Ranah – Kotta Alam – menghiliri sungai A. Sisamo – Kotta Baroe (Pangkalan).
    Peta Sarilamak - Hulu Air Tahun 1880

    Peta Rute Jalan Sarilamak – Hulu Air Tahun 1880

    Peta Pangkalan Koto Baru 1880

    Peta Rute Jalan Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru Tahun 1880

  6. Warna hijau pada wilayah Koto Alam menyatakan bahwa kandungan mineral di wilayah tersebut berupa batuan beku Gabro (hitam kehijauan) dan Dibase (abu-abu). Selain itu di wilayah ini berpotensi mangan.
  7. Daerah perbukitan di Barat Laut Koto Alam adalah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar dan Koeantan.
  8. Koto Alam adalah “grens tusschen Paja-Koemboeh en Pangkalan” , perbatasan antara Payakumbuh dan Pangkalan.
  9. Belum ada jalan yang menghubungkan Koto Alam dengan Mengilang (manggillang)

Kemudian terdapat lagi sebuah peta Kota Baharoe yang dibuat sekitaran tahun 1894-1897, [sumber]
Saya crop bagian wilayah Koto Alam, Pangkalan dan Manggilang saja.

"Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900" terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

“Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900” terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

Di sekitaran tahun 1894-1897 ini rute jalan yang dilalui dari Koto Alam ke Koto Baru Pangkalan adalah: Koto Toeo – Aoer Doeri – Koto Ranah – Batoe Oelar – Koto Alam (Koto Lamo) – Batoe Barlampin – menghiliri B. Samo terus ke Koto Baru Pangkalan. Hulu B. Samo/ Sisamo (Ai Koto Lamo) dalam peta ini dinamakan dengan Batang Loei. Warna hijau pada peta menunjukkan perkampungan yang telah dihuni penduduk. Sedangkan jalan yang menghubungkan Koto Alam ke Manggilang baru berupa jalan setapak.

Foto beikut ini jalan dari Koto Alam ke Pangkalan pada tahun 1903, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Pada tahun 1913 Belanda sudah mulai membangun jalan baru dari Lubuk Bangku – Koto Alam – Koto Baru (Pangkalan). Foto berikut kelok 17 (Bukik Lawa) di Koto Alam tahun 1913, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Sekarang kita tahu jalan lintas Koto Alam ke Pangkalan zaman dahulu itu rutenya melalui Koto Ranah. Orang-orang tua kita bercerita, Belanda datang mengkoordinir masyarakat Koto Alam (Koto Lamo saat itu) dengan menyebarkan isu akan terjadi bencana galodo sebab Bukik Sibincik akan runtuh. Sehingga berbondong-bondong masyakakat  pindah meninggalkan  Koto Lamo ke lokasi Koto Ronah, Koto Tangah, Simpang Tigo dan Polong Duo saat ini. Padahal tujuan mereka adalah ingin bermukim di pinggir jalan lintas rute Simpang Tigo – Manggilang yang baru dibangun oleh Belanda, karena dengan adanya rute Simpang Tigo – Manggilang menyebabkan jalur Koto Ronah – Pangkalan tidak akan ditempuh orang lagi. Maka beralihlah jalan para pedagang dari Sarilamak ke Pangkalan, yang dulunya melalui Koto Ranah sekarang melewati Simpang Tigo. Barangkali pembuatan jalan rute Koto Alam – Manggilang – Pangkalan adalah untuk membuka akses ke Manggilang yang sebelumnya terisolir.

Semenjak dibangun oleh Belanda, jalur Sarilamak – Lubuk Bangku – Koto Alam – Manggilang – Koto Baru (Pangkalan) sampai saat ini tetap menjadi jalan raya lintas Payakumbuh – Pangkalan yang berada di jalur Jalan Lintas Sumbar – Riau. Dampaknya, mayoritas penduduk Koto Alam yang sejak lama bermukim di jorong bawah (Koto Ronah, Koto Tangah), menjadi berada jauh dari jalan raya. Hal ini menyebabkan perkembangan ekonomi Nagari Koto Alam tertinggal dibandingkan Nagari Manggilang yang pemukiman penduduknya berada di pinggir-pinggir jalan raya yang dulu dibangun oleh Belanda ini.

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah Limapuluh Kota sudah mulai membangun kembali jalan dari Pangkalan menuju Koto Alam melalui Koto Lamo secara bertahap, mudah-mudahan nanti rute ini kembali dapat dilalui menjadi sarana transportasi untuk menunjang perkembangan ekonomi dan pertanian masyarakat Koto Alam. (hamdi)

Ranah Minang, Kebun Surga yang Diturunkan Tuhan ke Bumi


Berikut ini sebuah tulisan yang saya dapat di forum rantau.net [sumber] menceritakan tentang keindahan alam Sumatera Barat. K. Suheimi, penulis cerita ini mengungkapkan ketakjubannya melintasi daerah-daerah di kawasan ekuator di sepanjang Jalan Sumbar – Riau. Dengan berbagai keindahan alam yang mempesona serta ragam aktifitas penduduknya yang menarik perhatian, penulis menyebutkan bahwa tidak salah para turis mancanegara menamai Ranah Minang sebagai “Kebun Surga yang diturunkan Tuhan ke Bumi”.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saudara K. SUheimi,

“E Q U A T O R”
Oleh : K Suheimi

Equator atau garis khatulistiwa. Titik nol, selangkah kaki kita melangkah ke kiri kita berada dibelahan Bumi Selatan dan selangkah kaki kita melangkah ke kanan kita berada di belahan Bumi utara…

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar - Riau

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar – Riau

Equator garis khatulistiwa, ke tempat inilah yang hampir setiap minggu saya injak dan saya lalui. Setiap kali melalui dan melewati garis ini kami singgah turun sejenak, ada Mushalla cantik dan bersih disana, disebut dengan Mushalla Musafir, tempat musafir yang berjalan jauh berhenti istirahat sejenak membuang hajat, dan melakukan shalat, meng-qadakan dan menjamak shalat.

Mushalla kecil, cukup bersih dan kamar mandinya berair jernih dan dingin. Air pegunungan, air khatulistiwa. Memang pada titik 0 ini hutannya sangat lebat, rimbanya rimbun. Teduh dan sedikit agak gelap dan lembab. Biasanya kami malam hari lewat di tempat ini. Sebagai pertanda bahwa titik itu Equator di buat tugu khatuliswa. Setiap lewat selalu saya pandang Tugu Bola Dunia dengan garis melintang di tengah tugu itu.

Biasanya kami sampai di tugu ini, tengah malam, disaat sudah sunyi, tapi Kali ini kami sampai petang berlaruik senja, Di rembang petang itu Mushalla ramai, kamar mandi penuh. Penduduk baru pulang dari rimba dan ladang. Mereka mandi bersama-sama. Dari kamar sebeleh terdengar cekikan perempuan dan gadis-gadis bersenda gurau sambil mandi bercengkrama, riuh rendah.

Saya yang di kamar mandi lelaki juga enak melihat laki-laki tegap dan tegar bermandikan air gunung nan sejuk. Badan mereka bagus-bagus, tidak berlemak, dan lekuk tubuh yang alami. Mereka kekar dan kuat, sambil bersimburan mereka bergurau.

Ah rindunya saya pada kehidupan seperti ini. Seperti dulu saya diSungai Puar, di kaki gunung Merapi, bersama anak-anak mandi di Pincuran, berenang di tebat dan kolam di lurah sebuah bukit. Oh masa itu terbayang lagi, Berkecimpung dan bersorak berkejaran di dalam kolam. Masa lalu yang bahagia. Atau berkejar-kejaran dan terjun bebas di Sungai Tanang yang sungainya tenang dan airnya bening sejuk dan dingin.

Khayalan saya mengenang masa-masa indah di Sungai Tanang. Dulu orang berbendi-bendi ke Sungai Tanang memetik bunga si Lembayung.

Sungai tenang yang tidak beriak dan tak tak berarus, setenang namanya, sebagai sumber air untuk Bukit Tinggi, disanalah kami melompat, terjun bebas, berkecimpung dan bergurau senda, bersembur-semburan air. Oh masa lalu yang indah, sebelum ada kolam renang Bantola kami kalau berenang pergi ke Sungai Tanang.

Equator melintas di Koto Alam, desa kecil yang rukun. Untuk sampai ke tempat ini kita disajikan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalannya. Koto alam terletak di garis khatulistiwa ditengah hutan rimbun nan lebat. Namanya Hutan tropis dan sangat subur, apapun jenis tanaman bisa kita temukan.

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Dengan melalui jalan berliku berbelok-belok bagaikan ular yang melilit pinggang bukit dan gunung. Demikian banyaknya kelok dan liku. Namun diantara semua kelok itu ada 17 Kelok yang tajam dan berbahaya. Sehingga liku-liku jalan di sepanjang bukit barisan yang melintas garis Equator ini disebut dengan kelok 17.

Setiap kali melewati kelok-kelok ini saya tak mau memejamkan mata kerna dihadapakan pada pemandangan yang aduhai. Apalagi kalau kita sampai pada kelok selat Malaka. Suatu kelok dengan pemandangan yang sangat spektakuler kita saksikan susunan dan barisan bukit Barisan . Konon kabarnya kelok itu disebut kelok Selat Malaka kerna bila cuaca bersih, maka kita bisa melihat Selat Malaka. Tapi memang saya tak lupa berhenti sejenak di pemandangan yang bagus ini.

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Begitupun ketika ketika kita melewati kelok 9 yang terkenal, disamping curam dan berbahaya, dulu kelok ini sangat sempit dengan bukit-bukit yang berbatu cadas yang sangat keras. Apalagi bila kita memasuki arah Lubuk bangku maka bukit dengan bebatuan yang sangat curam sekali setinggi 200 meter yang menjadi tantangan untuk pemanjat tebing. Bukit-bukit dengan batu cadas yang berwarna warni serta jika air hujan didinding banyak air terjun. Bukit-bukit yang terkesan seram ini terhampar sejak dari kelok 9, Lubuk Bangku dan sampai ke Harau, luar biasa semua akan berdecah kagum dan terpesona.

Foto Baru Kelok sembilan

Kelok Sembilan

Saya sudah banyak berkelana ke tempat-tempat terkenal di seantero Dunia, namun saya bangga, ternyata kampong halaman saya tak kan kalah , jauh lebih bagus dari tempat-temoat yang lain. Tak salah beberapa Turis Manca Negara mengatakan Sumatera Barat atau Ranah minang itu adalah sebagian kebun Sorga yang di turunkan Tuhan ke Bumi. Oh luar biasa.

Kami bersyukur Allah telah anugrahkan sesuatu yang terbaik dan terindah.

Begitu kita lepas dari perbatasan Riau di atas bukit danau buatan koto panjang. Maka perjalan di sepanjang puncak bukit Bukit barisan, maka di depan mata kita terhampar pemandangan yang aduhai, ada Panorama di perbatasan Riau Sumbar, Dan selepas itu ke seluruh Sumatera Barat yang kita lihat setiap jengkalnya hanya ke indahan. puji Syukur pada Mu Tuhan kami yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

“Banyak tempat telah kukunjungi
Yang termashur dikata orang
Namunkampungku nan indah permai
Takkan kalah dan tak kulupa
Kampungku yang kucintai
Engkau kuhargai”

Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Suci Nya dalam Al qur’an:

……Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (QS. 42:22)

Koto Alam 2 Agustus 2008

[sumber]

Mau Buah Durian yang Lezat? Carilah di Koto Alam!


durian koto alamPANGKALAN, RIAUSATU.COM -Buah durian yang tersebar luas di sejumlah pasar pada saat musim durian berbuah, tidak terkecuali di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, belum tentu semua lezat dan enak dimakan. Sebab, bukan tidak mungkin ada di antara buah durian yang dipasarkan itu, dimasak melalui cara dikarbit.

Tapi buah durian yang dikeluarkan dari Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar (Sumatera Barat), dijamin kelezatannya karena hampir tidak ada buah durian yang dikeluarkan dari nagari itu yang masak melalui proses dikarbit atau diperam.

”Saya pastikan, buah durian yang dijual oleh para petani di nagari ini merupakan buah yang masak di batang,” kata Murdi, 42, petani durian di nagari itu. Karena masak di batang, sambung Mardi, dipastikan cita rasa buah duriannya jauh lebih lezat dibandingkan dengan buah durian yang masak diperam.

Tak ada sanksi hukum formal atau hukum adat yang melarang petani menjual buah durian hasil karbitan. ”Ini hanya soal kebiasaan, dan kebiasaan itu masih tetap terpelihara dengan baik di sini sampai saat ini,” tambah Yunizar, petani durian lain di nagari yang sama.

Durian Koto Alam

Durian Koto Alam

Bagi petani di sana, mereka lebih memilih bermalam di kebun durian yang jaraknya puluhan kilometer dari kampung, dan terkadang berada di tengah hutan, untuk menunggui buah durian jatuh dari batangnya karena sudah matang dari pada memetik buah yang belum masak, untuk diperam, dan kemudian dilemparkan ke pasaran.

Bila tiba musim durian, ruas jalan negara Sumbar-Riau yang terletak di nagari itu, diramaikan oleh lapak-lapak pedagang durian yang berjejer di kiri-kanan jalan. Dijual dengan harga bervariasi, antara Rp8.000 sampai Rp12.000/buah, tiap musim durian berbuah nagari itu menjadi ramai oleh para pemburu buah durian, yang kebanyakan berasal dari Riau. (dri)

Sumber: riausatu.com

%d blogger menyukai ini: