Sakido Mura – Tugu Khatulistiwa di Koto Alam


Masyarakat setempat menyebutnya Talua Gajah (Telur Gajah): sebuah batu yang memang sangat besar, bulat, dan berada di jalan lintas Sumbar-Riau.

sakido mura

sakido mura

Talua Gajah jelas hanya idiom untuk menyebut batu yang terletak di nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten 50 Kota itu. Orang Belanda menamakannya dengan Pila yang berarti pertengahan bumi. Tidak jelas kapan pertama kali batu itu dibuat, namun keterangan yang didapat dari masyarakat setempat, batu itu pertama kali dibuat oleh Belanda.

Di zaman Belanda, batu tersebut tidaklah bulat seperti sekarang. Bentuknya panjang dan tinggi. Menurut Zulkarnain B. U (80), Koto Alam termasuk salah satu daerah yang dilalui garis khatulistiwa di antara dua garis khatulistiwa lainnya yang terletak di Bonjol dan Pontianak. Orang Belanda mempergunakannya untuk menentukan musim. Pedomannya adalah matahari. Apabila matahari berada di utara (dilihat dari batu itu), maka dipercaya akan tiba musim hujan. Begitu pun sebaliknya, bila matahari di Selatan, dipercaya akan tiba musim panas.

Masyarakat pada waktu itu memanfaatkannya untuk pertanian. Masyarakat tahu benar dengan kondisi alam karena bantuan benda yang dibuat oleh Belanda itu. Musim hujan, masyarakat tidak turun ke ladang mengolah karet yang merupakan pendapatan utama masyarakat Koto Alam karena di musim itu, bila manakiak (mengolah karet) ke ladang, getahnya tidak akan keluar. Baru, pada musim panas, masyarakat manakiak ke ladangnya masing-masing. Orang Belanda juga memanfaatkannya untuk menambah pendapatan mereka dari hasil pertanian rakyat.

Masa Jepang, Musim Sulit

Tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia menggantikan posisi Belanda yang telah lama berkuasa. Perubahan ini juga terjadi pada struktur pemerintahan. Orang-orang Belanda pergi dari Koto Alam digantikan Nipon. Jepang, dalam masa pemerintahannya melirik garis khatulistiwa yang dibuat oleh Belanda itu. Mereka menggantinya dengan nama Sakido Mura.

Dalam bahasa Jepang, Sakido berarti khatulistiwa dan Mura berarti kampung. Jadi, batu yang kemudian dibuat menjadi bulat itu diberi nama oleh Jepang Kampung Khatulistiwa. Jepang beranggapan bahwa Koto Alam adalah pusat bumi karena pada saat-saat tertentu, dari sana, matahari tepat berada di atas kepala dan bayang-bayang tidak terlihat. Biasanya terjadi sekali dalam setahun.

Datuk Sinaro (82), salah satu tetua kampung bercerita, pada masa pemerintahan Jepang di Koto Alam merupakan masa-masa yang sangat sulit dan penceklik. Masyarakat tidak banyak yang sekolah. Yang lebih menyedihkan adalah, zaman itu merupakan musim yang sangat sulit bagi pertanian. Datuk Sinaro mengenang, jangankan untuk sekolah, makan untuk hari ini saja begitu sulit mendapatkannya. Tak jarang, ubi menjadi menu harian.

Tapi, walau bagi masyakat adalah masa yang sulit, Jepang tetap membangun peninggalan Belanda tersebut. Bentuknya diubah menjadi bulat dengan diameter sekitar 2,5 meter. Ketika pembangunan itu, kata Datuk Sinaro, Jepang tidak memperbolehkan masyarakat sekitar untuk melihatnya.

“Saya tidak tahu kenapa, tapi Jepang melarang orang kampung untuk melihat pembangunan tersebut,” kata Datuk Sinaro.

Masyarakat baru bisa melihatnya ketika hasilnya telah jadi. Batu itu berbentuk bulat besar dan bendera Jepang dicat di batu tersebut.

Tidak Terawat

Nama Sakido yang diberikan Jepang melekat sampai kini. Pada awalnya, masyarakat merawatnya dengan baik. Warna bendera Jepang diganti dengan peta Indonesia, dicat di tengah batu tersebut. Di sekitar Sakido, di pagar agar terlihat indah dan menarik. Pemerintah dan masyarakat menjadikannya objek wisata yang bisa dikunjungi banyak orang. Terlebih, letaknya yang strategis, di dekat jalan provinsi.

Wisatawan yang ingin mengunjungi, dipandu oleh salah seorang penjaga. Dalam catatan Wali Nagari Koto Alam, A. H. Dt. Paduko Rajo, banyak sekali wisatawan yang datang, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Wisatawan yang datang dari luar kebanyakan dari Jepang. Dalam setahun, sekitar 20-30 wisatawan dari Jepang datang ke sana. Biasanya mereka hanya melihat-lihat saja. Yang menjadi kebiasaan adalah, mereka makan bersama dengan nampan di dekat Sakido tersebut. Ini merupakan kebiasaan bagi warga Jepang yang berkunjung.

Namun, kisaran tahun 80-an, jalan provinsi diperlebar oleh pemerintah. Dampak yang ditimbulkan kemudian adalah, Sakido semakin dekat dengan jalan. Pagar Sakido dirubuhkan. Seiring waktu, Sakido tidak lagi dipedulikan. Telah banyak dinding-dindingnya yang retak. Peta Indonesia telah ‘dimakan’ oleh lumut. Wisatawan pun tidak lagi berkunjung.

Benda yang barangkali bearti bagi orang Jepang tersebut, sekarang dimanfaatkan masyarakat untuk menjemur pakaian. Kotoran kambing terlihat di mana-mana. Tidak tampak lagi Sakido sebagai sebuah benda yang merupakan pusat bumi, seperti yang diyakini oleh orang-orang Jepang.

2 Tanggapan

  1. Usul kalau bisa blog nagari Koto Alam dijadikan website
    selamat…bagus !

    Suka

    • terima kasih usulnya Pak Abraham Ilyas, insyaallah nanti saya cari dana untuk membeli domain blog ini, sekalian menjadikan blog ini sebagai blog resmi nagari koto alam. sekarang ini saya mengelolanya dengan sukarela saja🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: