Harga Anjlok, Petani Gambir Dan Karet Menjerit


LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Para petani komoditi gambir dan karet di Nagari Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru menjerit karena harga komoditas prima­dona Kabupaten Limapuluh Kota itu sekarat, turun drastis hampir 100 persen.

Pada akhir Desember 2010, harga gambir mencapai Rp26 ribu sampai Rp27 ribu per kg. Sedangkan Jumat (11/3), harga menjadi Rp13 ribu per kg.

Ratusan hektar lahan gam­bir di kawasan Manggilang kini ditinggalkan petani. Biaya operasional termasuk ongkos kampo gambir lebih tinggi dari harga jual gambir, sehingga petani merugi.

“Jika pemerintah Kabu­paten Limapuluh Kota tidak mencarikan solusinya, ratusan hektar lahan gambir masya­rakat Manggilang akan menjadi rimba kembali, karena diting­galkan atau tidak dipelihara. Akibatnya, pemeliharaan selan­jutnya akan memerlukan biaya tinggi,” ungkap Walinagari Manggilang Ridwan, di Paya­kumbuh, Jumat (11/3).

Menurut dia, jatuhnya harga komoditas tersebut membuat produksi gambir turun jauh. Biasanya di Manggilang saja, produksi gambir mancapai 20 ton per minggu. Saat ini pro­duksi kurang dari 5 ton per minggu. Kegiatan di ladang gambir sekarang dilakukan petani asal-asalan, dari pada menganggur dan tidak punya penghasilan.

Setelah harga gambir anjlok, para petani setempat meng­gantungkan nasib pada komo­ditas karet. Tapi kondisinya hampir sama, harga karet ikut-ikutan turun. Dari Rp13 ribu per kg pada Jumat pekan lalu, anjlok menjadi Rp8 ribu per kg hari Jumat (11/3). Tapi petani masih mengumpulkan getah setiap pagi untuk di­jual.

Data yang diperoleh pada Dinas Perkebunan Limapuluh Kota, tahun 2010 tanaman gambir seluas 14.682 hektar, dengan produksi 14.600 ton per tahun. Di Kecamatan Kapur IX luas kebun gambir menca­pai 5.698 hektar dengan total produksi 4.986 ton per tahun atau 34 persen dari total produksi Kabupaten Limapuluh Kota.

Di Kecamatan Pang­kalan Koto Baru, luas penanaman gambir men­capai 3.740 hektar dengan total produksi 4.378 ton per tahun.

Saat komoditi primadona daerah ini mahal, diperkirakan beredar uang hasil penjualan gambir petani mencapai Rp365 miliar pertahun atau Rp1 miliar setiap harinya, lebih dari setengah dana APBD Lima­puluh Kota.

Sementara itu, Bupati Limapuluh Kota, Alis Marajo, mengatakan, harga gambir lebih banyak ditentukan oleh pedagang dan ekportir. Petani berada pada posisi nilai tawar yang lemah, sehingga sering merasa dirugikan. Karena itu perlu dilakukan kerja­sama dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan nilai tam­bah gambir, sehingga harga jualnya tetap tinggi. (h/zkf)

Satu Tanggapan

  1. Mhn pak Bupati, bantulah masyarakat Kpr !X dan Kec Pangkalan Koto baru, agar mereka bisa menjual hsl prtanian mereka dengan harga yg layak, mslnya adakan sebuah koperasi untuk mnampng hsl pertanian mereka, agar mereka tdk dipermainkan oleh para tengkulak/bos bos yg mmpunyai dana besar, atau pemda misalnya mmbikn pabrik untuk pengolahan bahan jadi dari karet dan gambir, bikin pabrik misalnya, dan lain lain, juga saya berharap kpda masyarakat Kab 50 kota khussnya kapur IX dan pangkalan koto baru mhn tanam investasi di kampung kita agar perekonomian masyarakat kita terus mningkat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: