“Jonjang 87”


“Janjonjang”, begitu masyarakat Koto Alam menamakannya. Tangga yang  terbuat dari tembok ini terdiri dari ratusan anak tangga, menanjak tinggi sejauh puluhan meter. Janjonjang ini berpangkal di Kelok Sighih, dan berujung di pinggir jalan raya diseberang Masjid Raya Jorong Simpang Tigo. Menurut kabarnya Janjonjang dibuat pada tahun 1978 atau 1979, jumlah anak tangganya sebanyak 187 buah, sehingga ada juga masyarakat yang menyebutnya “Jonjang 87”.

Dulu, sebelum sarana transportasi semudah sekarang, dimana pengguna kendaraan bermotor masih dapat dihitung jari, maka Janjonjang menjadi jalur alternatif bagi pejalan kaki yang hendak pulang pergi dari jorong bawah ke Simpang Tigo, karena bisa jauh lebih cepat sampainya daripada menempuh jalanan desa  yang saat itu masih berupa tanah dan kerikil. Cukup lelah juga apabila mendaki ratusan anak tangga ini.

Teringat oleh saya, semasa SD ketika Pasa Ambek dibuka di Koto Alam, hampir setiap Jumat saya dan kawan2 pergi ke Pasa Ambek, berjalan dari Koto Ronah karena tidak cukup uang untuk ongkos naik mobil angkutan (Oto Izal, Oto Itel, hahaaha…). Dek payah mintak piti ka Omak untuak mamboli Banda jo Buku Petruk, wkwkwkwk . Setelah tiba di Kelok Sighih, kami mendaki Janjonjang. Kami sering berpacu lari di Janjonjang untuk sampai lebih dulu. Kami juga suka berjalan diatas tembok pinggirnya sambil menjaga keseimbangan badan.

Yang membuat kami khawatir kala itu ada anjing peliharaan pemilik rumah di pinggir Janjonjang, anjing itu sering menyalak bahkan mengejar pejalan kaki yang lewat, apalagi bila kami berlomba lari. Maka saya dan kawan2 kadang tidak menempuh Janjonjang karena takut disalak Wawau, terpaksa lewat jalan lain.

Semenjak jalan desa diperbaiki (diaspal), dengan adanya ojek honda, kemudian ojek becak. Penduduk mulai melupakan Janjonjang karena transportasi jauh lebih mudah, bahkan dengan menggunakan kendaraan bermotor milik masing2.

Kini Janjonjang tidak lagi ditempuh masyarakat, hanya penduduk yang berumah disana saja yang melaluinya untuk naik turun ke Simpang Tigo. Janjonjang semakin tua, berlumut, dan bersemak.

7 Tanggapan

  1. mantap yuang

    Suka

  2. mantap yonkkk, takono maso nan lamo,katiko kami ma angkuik boban balanjo ugang pajak tona dari smpng tigo, dan juo katiko msm jogiang, msm pauh dll, kami slalu melewati jonjang tu dngn boban nan amat bogek sakali, demi untk balanjo kami poi mangaji atau untk sakola….koreksi stek yonk jonjang tu di buek bukan thn 87, tapi jmlah anak jonjang tu 187, jonjang tu di buek katiko kami sklah SD kls 3 sktr thn thn 1978 atau 1979

    Suka

    • seep. la wak edit… makasih infonyo mbk….

      Suka

  3. asslmlkm bang,…

    sanang hati awak kalau singgah di blog urang minang,…
    slm kenal bang,.

    oh yo bang kunjungi situs awak samo awak yo bang ^_^

    http://www.viosixwey,blogspot.com

    Suka

    • yo diak

      Suka

  4. hehehe jonjang…..ie……takono pulo dek awak dulu de…….ado nulis di batang pinang sabola jonjang de……ridi DG……(malu wak)…haha ado ambutan di sampiang uma pedau(izal) di kek itu tie main towui….jonjang de kini yo lah lupoan uwang tapi kenangan nyo sampai mati ndak ka talupoan de…….makasih brother……lah mongonoan maso nan lamo……..

    Suka

    • banyak kanangan de mbk, tompek sabimbiang tangan ma de, hahaha

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: