Sejumlah Warga Riau Saksikan Peristiwa Titik Kulminasi Matahari


PANGKALAN, RIAUSATU.com – Sejumlah warga Riau yang melintasi jalur Trans Sumatera di Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sempat mampir sejenak menyaksikan peristiwa titik kulminasi matahari, Kamis (21/3).
Abu Hasan, 47, yang mengaku dari Rengat, Inhu (Indragiri Hulu), mengatakan ia mampir sejenak di tempat itu hanya untuk sengaja melihat fenomena alam tersebut.  “Saya sudah lama tahu (soal titik kulminasi matahari) dari pelajaran ilmu bumi. Kebetulan saat lewat di sini fenemona alam itu disaksikan rame-rame, ya, sekalian saya mampir,” aku Abu yang baru dari Bukittinggi untuk kembali ke Riau itu.
Pada Kamis siang itu, tugu khatulistiwa di Koto Alam itu memang sedang ramai dikunjungi. Pemkab Limapuluh Kota melalui dinas terkait sedang menggelar gawe, yaitu menyaksikan titik kulminasi matahari. Yakni fenomena alam ketika matahari  tepat berada di garis khatulistiwa sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi.
Hadir dalam kegiatan itu Bupati Limapuluh Kota dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo bersama kepala sejumlah SKPD. Ada penampilan tarian tradisional dan baca puisi segala di sana. Juga ada sambutan dari sejumlah pejabat. Mereka sama-sama menunggu pukul 12.04 WIB, yaitu saat terjadinya peristiwa yang disebut dengan titik kulminasi itu.
Merujuk ilmu bumi, matahari pada saat 21-23 Maret setiap tahun berada tegak lurus di atas kepala manusia pukul 11.50 dan 21-23 September pukul 11.38 WIB. Hanya lima negara yang dilalui garis katulistiwa yang akan mengalami titik kulminasi ini, yaitu Equador, Peru, Colombia dan Brazil serta Indonesia, khusus di Koto Alam.
Ali Hasan, Kabid Pariwisata di Disparbudpora  Limapuluh Kota, mengatakan peristiwa alam itu sengaja diperingati dengan khusus, sebab Tugu Sadiko Mura –begitu masyarakat setempat menamainya– ini juga dijadikan sebagai objek wisata minat khusus yang diharapkan akan menggaet banyak pelancong dalam dan luar negeri berkunjung ke sana.
Sementara Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo mengharapkan agar masyarakat setempat memelihara aset itu dengan baik. “Sebab, ini aset yang sangat bernilai,” katanya. Kalau banyak objek/kegiatan wisata lain yang mati-matian diperkenalkan ke ajang nasional, “Peristiwa titik kulminasi matahari di sini telah merupakan peristiwa global,” katanya.
Masalahnya tinggal lagi bagaimana mengelola objek wisata itu dengan baik sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak orang untuk mengunjunginya. “Kalau cuma melihat batu bulat (bangunan tugu khatulistiwa  itu berbentuk bola ukuran besar –Red) saja, tentu tak banyak artinya,” kata Bupati. Makanya perlu dikembangkan lagi agar memiliki daya tarik tersendiri.
Keberadaan Sakido Mura, menurut Bupati, juga diuntungkan oleh letaknya yang berada pas di sisi ruas jalan negara Sumbar-Riau yang terkenal padat arus lalu-lintasnya. “Saya yakin, kalau kelak tugu atau kawasan sekitarnya dipoles sedemikian rupa, bukan tidak mungkin Sakido Mura akan menjadi andalan sektor kepariwisataan di daerah ini,” sebutnya. (e2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: