Kekerabatan Harau, Koto Alam dan Pangkalan dalam Kisah Puti Sari Banilai


Cerita berikut ini adalah sinopsis mengenai kisah beberapa tokoh minang masa lampau, yang sejarahnya berkaitan erat dengan kekerabatan masyarakat Pangkalan Koto Baru dan Solok Bio-Bio (Harau), termasuk Nagari Koto Alam. Sumber tulisan ini saya dapatkan dari blog Ali Hasan, Dipl Hot. S.Sos. 

Berikut kisahnya,

Puti Sari Banilai adalah putri Datuak Tan Gadang,  (pucuak adat Nagari Solok Bio-Bio) yang merupakan seorang putri yang cantik dari suku Malayu dan kamanakan dari Datuak Majo Kayo. Sementara Datuak Sibijayo adalah pucuak adat di Pangkalan, suku Pitopang. Antara Datuak Sibijayo dengan Puti Sari Banilai mempunyai hubungan asmara, dimana Datuak Sibijayo merupakan induak Bako oleh Puti Sari Banilai yang juga mempunyai hubungan satu suku dengan Datuak Tan Godang.

Datuak Rajo Bandaro Putiah,  Suku Pitopang, kampung Sungai Rambai sudah lama ingin mempersunting Puti Sari Banilai, akan tetapi Puti Sari Banilai enggan karena sudah saling jatuh cinta dengan Datuk Sibijayo.

Untuk menghindari ini, mamak Puti Sari Banilai mengambil inisiatif dengan bermusyawarah dengan Datuak Paduko Rajo di Bukit Limau Manih, yang merupakan seorang datuk yang mempunyai kemenakan yang sangat berani.

Datuk Paduko Rajo ingin membantu agar Puti Sari Banilai menghilang ke Pangkalan untuk menhindari Datuak Rajo Bandaro Putiah. Setelah sampai di Bukik Gadih Koto Alam,  Puti Sari Banilai disambut oleh Datuak Sibijayo dan perangkatnya, diantaranya Datuak Damu anso, Datuak Bandaro dan Datuak Bosa.

Setelah pernikahan antara Datuak Sibijayo dengan Puti Sari Banilai, Datuak Panduko Rajo kembali pulang ke daerah Harau, akan tetapi di perjalanan dia takut untuk pulang, sehingga  diputuskan untuk menetap disebuah areal, yang sekarang dikenal sebagai Koto Ranah, Nagari Koto Alam.

Sementara itu,  mendengar Puti Sari Banilai menikah dengan Datuak Sibijayo, maka  Datuak Rajo Bandaro Putiah merasa kecewa dan sakit hati, dan dia memutuskan untuk menyendiri di atas Bukit Sungai Jambu.

Akhirnya Datuak Rajo Bandaro Putiah meninggal dunia di tempat itu, sehingga sampai sekarang lokasi tersebut diberi nama sebagai kuburan Rajo Badarah Putiah, (istilah Westernenk seorang Belanda, Tuan Luak Agam),berdasarkan cerita masyarakat, sebenarnya adalah kuburan Datuak Bandaro Putiah.

Asal muasal Puti Sari Banilai adalah keturunan Datuak Tumangguang, Pasukuan Melayu di Pangkalan. Sejak itulah disebut Pangkalan dengan istilah 4 ganjia, 5 gonok ( 4 ganjil: Datuak Bosa, Datuak Sibijayo, Datuak Damuanso dan Datuak Bandaro, 5 gonok: Datuak Tumangguang).

Lokasi Lokasi yang dilalui oleh Puti Sari Banilai :

Sarasah Tanggo
Perhentian Datuak Rajo Labiah (gurun) berunding dengan Datuak Sinaro Panjang untuk menemui Datuak Tan Godang Solok Bio-bio, untuk pergi ke Pangkalan

Sarasah Talang
Datuak Tan Gadang bersama Datuak Rajo Bandaro Putiah berhenti membicarkan kemana harus dicari Puti Sari Banilai yang telah pulang dari kampuang Padang Panjang, Solok Bio-bio.

Kandang Batu
Adalah tempat diamnya Kabau Datuak Tan Godang yang terkenal sebagai Pucuak Adat Nagari Solok Bio-bio.

Aka Barayun
Puti Sari Banilai bermalam tatkala berangkat dari rumahnya di Kampung Melayu Padang Panjang. Di tempat inilah Datuak Paduko Rajo seorang penunjuk jalan mendampingi rombongan Puti Sari Banilai, hendak menuju Landai dan terus ke Koto Ranah, terus ke Bukik Gadih Pangkalan.

Padang Rukam
Pengawal Puti Sari Banilai mengambil batang Rukam, batang Rukam tersebut dijadikan senjata untuk melindungi Puti Sari Banilai, yang dilakukan oleh anak buah Datuak Paduko Rajo.

Ngalau Saribu
Ngalau inilah yang digunakan oleh anak kemenakan Datuak Paduko Rajo untuk bermalam dalam perjalanan mengantarkan Puti Sari Banilai ke Pangkalan Koto Baru.

Bukik Sungai Jambu
Tempat makam Datuak Rajo Bandaro Putiah di Sungai Rambai.

Sedikit ulasan:
***Keturunan anak kemenakan Datuk Paduko Rajo Suku Pitopang kemudian berkembang di Koto Alam. Gelar adatnya masih dipakai hingga hari ini (Wali Nagari Koto Alam A.H. Datuk Paduko Rajo).

***Datuak Paduko Rajo dan kemenakanannya yang terkenal pemberani mengalir dalam watak keturunannya. (Opini saya)

***Keluarga besar saya sendiri masih menjalin hubungan kekeluargaan dengan dunsanak di Solok Bio-Bio. Secara turun temurun tetua keluarga besar saya yang di Koto Ranah selalu berpesan supaya jangan memutuskan hubungan dengan dunsanak di Solok Bio-Bio. Sehingga sampai saat ini, baik kami yang di Koto Ranah ataupun dunsanak yang di Solok Bio-Bio selalu menyempatkan saling berkunjung setiap tahun demi melestarikan hubungan silaturrahmi. Jika ada diantara anggota keluarga kami yang baralek, baik yang berada Koto Ranah maupun yang di Solok Bio-Bio, maka biasanya kami selalu saling mengundang dan berkunjung. Hal ini tentu tidak terlepas dari hubungan masa lampau keluarga besar kami dengan dunsanak Solok Bio-Bio, sebagaimana kisah diatas diceritakan. Orang2 tua kami juga menceritakan kisah yang persis sama kepada anak-anaknya tentang hubungan kekerabatan tersebut.

***Menurut penuturan ibu saya, tempat tinggal mula-mula Datuk Paduko Rajo di Koto Ranah berlokasi di belakang kedai Haji Juhar saat ini.

***Datuak Paduko Rajo mulanya berasal dari Bukik Limau Manih Sarilamak, area Kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Limapuluh Kota saat ini.

***Jika merujuk tambo, Datuak Tan Gadang dan Datuak Sinaro Panjang adalah dua tokoh minang yang ikut serta dalam rombongan Pariangan Padang Panjang yang mencari pemukiman baru ke daerah Luak Limopuluh. Dua datuak ini yang namanya tercantum dalam kisah diatas kemudian bermukim di daerah Harau saat ini. Datuak Tan Gadang dalam kisah diatas mungkin saja tokoh pertama yang mendiami daerah Harau atau bisa jadi kemenakan keturunannya yang memakai gelar adat serupa setelah beberapa generasi. (Hamdi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: