[Foto saisuak] Pembangunan Jalan Rute Koto Alam – Lubuk Bangku Tahun 1913


Dari koleksi pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda, foto ini berjudul Weg in aanbouw bij de vlakte rond Kotaälam op het traject Loeboekbangkoeng – Kotabaroe in de Westkust van Sumatra (terjemahan: Jalan yang sedang dibangun di sekitar dataran Kotaälam pada rute Loeboekbangkoeng  – Kotabaroe di Pantai Barat Sumatra | Google Translate).

Orang Belanda menyebut “Koto Alam” sebagai “Kotaälam”. Sedangkan Lubuk Bangku itu dulunya dinamakan “Lubuk Bangkuang” (Loeboekbangkoeng dalam ejaan lama). Sesuai dengan legenda masyarakat Lubuk Bangku yang mengisahkan bahwa dahulu terdapat tumbuhan bingkuang besar di sungai Lubuk Bangku. Lalu, “Kotabaroe” yang dimaksud adalah Koto Baru di Pangkalan.

Jalan yang sedang dibangun rute Lubuk Bangku - Koto Baru (Pangkalan),11 km dari Koto Alam. Tahun 1913 [KITLV Leiden Belanda]

Jalan yang sedang dibangun rute Koto Baru (Pangkalan) – Lubuk Bangku Tahun 1913 [KITLV Leiden Belanda]

Sumber foto dapat diakses di tautan berikut [link].

Pada metadatanya ditambahkan keterangan foto:
Bijschrift: Wegaanleg Loeboek Bangkoeng, Kota Bahroe bij Pajacombo. Gezicht op de daling van af K.M. 11 en de vlakte van Kota Alam. 11 April 1913
Kira-kira terjemahannya seperti ini: “Pembangunan jalan Loeboek Bangkoeng, Kota Bahru di Pajacombo. Menghadap penurunan kilometer 11 dan dataran Kota Alam. 11 April 1913” [Google Translate]

metadata foto

metadata foto

Dapat kita ketahui bahwa foto ini dibuat pada tanggal 11 April 1913 dengan ukuran 21×54,5 cm. Foto terdiri dari dua bagian yang berdekatan.

Dari foto terlihat penggerusan sisi bukit untuk membuat jalan. Pemandangannya mengingatkan kita lokasi sekitaran Bukik Lawa (Kelok 17) di Koto Alam, bisa jadi foto ini dipotret dari Panorama Kudo Putih (sekarang Natrabu Restaurant).

Coba kita poles foto hitam putih ini dengan sedikit efek pewarnaan, perhatikan…

Nah, sekarang kita yakin objek yang ada di foto adalah Bukik Lawa di Nagari Koto Alam lebih dari 100 tahun yang lalu (klik pada foto untuk memperbesar). Mungkinkah datuk-datuk dan nyinyik-nyinyik kita dulu disuruh kerja paksa oleh Urang Ulando untuk membangun jalan ini?

Orang yang mengenal lokasi ini biasa menyebutnya sebagai Kelok 17 atau Pandakian Tujuah Baleh. Berada di Jalan Lintas Sumbar – Riau, Kelok 17 terkenal dari dulu sebagai jalan berkelok-kelok yang terjal dan sering terjadi kecelakaan bermotor.

Dulu jalan sekitar sini sangat sempit, sering longsor dan badan jalan amblas. Masyarakat disana mengadakan ronda setiap hari untuk memandu kemacetan lalu lintas di lokasi ini. Sekitar tahun 2003/2004, batu-batu di sisi bukit diledakkan dengan bom dinamit untuk memperlebar badan jalan. Kini lalu lintas di jalan ini sudah cukup lancar, kadang terjadi juga longsor di musim hujan. Dan lagi, hampir setiap tahun lokasi ini menelan korban. Kasus-kasus yang pernah terjadi misalnya: mobil atau motor masuk jurang, motor vs mobil, mobil vs motor, truk rem blong, sampai kasus pembuangan mayat korban pembunuhan di jurang di sisi jalan.

Yang lain lagi, pemuda di Kelok 17 dulu juga dikenal sebagai “Preman 17”.

*Catatan:

Beberapa penamaan dalam dokumen Belanda:
Pajakombo = Pajacombo = Payakumbuh
Loeboekbangkoeng = Lubuk Bangku
Kota Alam = kotaälam = Koto Alam
Kotabaroe = Kotabahroe = Koto Baru (Pangkalan)

(AHM).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: