Ranah Minang, Kebun Surga yang Diturunkan Tuhan ke Bumi


Berikut ini sebuah tulisan yang saya dapat di forum rantau.net [sumber] menceritakan tentang keindahan alam Sumatera Barat. K. Suheimi, penulis cerita ini mengungkapkan ketakjubannya melintasi daerah-daerah di kawasan ekuator di sepanjang Jalan Sumbar – Riau. Dengan berbagai keindahan alam yang mempesona serta ragam aktifitas penduduknya yang menarik perhatian, penulis menyebutkan bahwa tidak salah para turis mancanegara menamai Ranah Minang sebagai “Kebun Surga yang diturunkan Tuhan ke Bumi”.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saudara K. SUheimi,

“E Q U A T O R”
Oleh : K Suheimi

Equator atau garis khatulistiwa. Titik nol, selangkah kaki kita melangkah ke kiri kita berada dibelahan Bumi Selatan dan selangkah kaki kita melangkah ke kanan kita berada di belahan Bumi utara…

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar - Riau

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar – Riau

Equator garis khatulistiwa, ke tempat inilah yang hampir setiap minggu saya injak dan saya lalui. Setiap kali melalui dan melewati garis ini kami singgah turun sejenak, ada Mushalla cantik dan bersih disana, disebut dengan Mushalla Musafir, tempat musafir yang berjalan jauh berhenti istirahat sejenak membuang hajat, dan melakukan shalat, meng-qadakan dan menjamak shalat.

Mushalla kecil, cukup bersih dan kamar mandinya berair jernih dan dingin. Air pegunungan, air khatulistiwa. Memang pada titik 0 ini hutannya sangat lebat, rimbanya rimbun. Teduh dan sedikit agak gelap dan lembab. Biasanya kami malam hari lewat di tempat ini. Sebagai pertanda bahwa titik itu Equator di buat tugu khatuliswa. Setiap lewat selalu saya pandang Tugu Bola Dunia dengan garis melintang di tengah tugu itu.

Biasanya kami sampai di tugu ini, tengah malam, disaat sudah sunyi, tapi Kali ini kami sampai petang berlaruik senja, Di rembang petang itu Mushalla ramai, kamar mandi penuh. Penduduk baru pulang dari rimba dan ladang. Mereka mandi bersama-sama. Dari kamar sebeleh terdengar cekikan perempuan dan gadis-gadis bersenda gurau sambil mandi bercengkrama, riuh rendah.

Saya yang di kamar mandi lelaki juga enak melihat laki-laki tegap dan tegar bermandikan air gunung nan sejuk. Badan mereka bagus-bagus, tidak berlemak, dan lekuk tubuh yang alami. Mereka kekar dan kuat, sambil bersimburan mereka bergurau.

Ah rindunya saya pada kehidupan seperti ini. Seperti dulu saya diSungai Puar, di kaki gunung Merapi, bersama anak-anak mandi di Pincuran, berenang di tebat dan kolam di lurah sebuah bukit. Oh masa itu terbayang lagi, Berkecimpung dan bersorak berkejaran di dalam kolam. Masa lalu yang bahagia. Atau berkejar-kejaran dan terjun bebas di Sungai Tanang yang sungainya tenang dan airnya bening sejuk dan dingin.

Khayalan saya mengenang masa-masa indah di Sungai Tanang. Dulu orang berbendi-bendi ke Sungai Tanang memetik bunga si Lembayung.

Sungai tenang yang tidak beriak dan tak tak berarus, setenang namanya, sebagai sumber air untuk Bukit Tinggi, disanalah kami melompat, terjun bebas, berkecimpung dan bergurau senda, bersembur-semburan air. Oh masa lalu yang indah, sebelum ada kolam renang Bantola kami kalau berenang pergi ke Sungai Tanang.

Equator melintas di Koto Alam, desa kecil yang rukun. Untuk sampai ke tempat ini kita disajikan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalannya. Koto alam terletak di garis khatulistiwa ditengah hutan rimbun nan lebat. Namanya Hutan tropis dan sangat subur, apapun jenis tanaman bisa kita temukan.

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Dengan melalui jalan berliku berbelok-belok bagaikan ular yang melilit pinggang bukit dan gunung. Demikian banyaknya kelok dan liku. Namun diantara semua kelok itu ada 17 Kelok yang tajam dan berbahaya. Sehingga liku-liku jalan di sepanjang bukit barisan yang melintas garis Equator ini disebut dengan kelok 17.

Setiap kali melewati kelok-kelok ini saya tak mau memejamkan mata kerna dihadapakan pada pemandangan yang aduhai. Apalagi kalau kita sampai pada kelok selat Malaka. Suatu kelok dengan pemandangan yang sangat spektakuler kita saksikan susunan dan barisan bukit Barisan . Konon kabarnya kelok itu disebut kelok Selat Malaka kerna bila cuaca bersih, maka kita bisa melihat Selat Malaka. Tapi memang saya tak lupa berhenti sejenak di pemandangan yang bagus ini.

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Begitupun ketika ketika kita melewati kelok 9 yang terkenal, disamping curam dan berbahaya, dulu kelok ini sangat sempit dengan bukit-bukit yang berbatu cadas yang sangat keras. Apalagi bila kita memasuki arah Lubuk bangku maka bukit dengan bebatuan yang sangat curam sekali setinggi 200 meter yang menjadi tantangan untuk pemanjat tebing. Bukit-bukit dengan batu cadas yang berwarna warni serta jika air hujan didinding banyak air terjun. Bukit-bukit yang terkesan seram ini terhampar sejak dari kelok 9, Lubuk Bangku dan sampai ke Harau, luar biasa semua akan berdecah kagum dan terpesona.

Foto Baru Kelok sembilan

Kelok Sembilan

Saya sudah banyak berkelana ke tempat-tempat terkenal di seantero Dunia, namun saya bangga, ternyata kampong halaman saya tak kan kalah , jauh lebih bagus dari tempat-temoat yang lain. Tak salah beberapa Turis Manca Negara mengatakan Sumatera Barat atau Ranah minang itu adalah sebagian kebun Sorga yang di turunkan Tuhan ke Bumi. Oh luar biasa.

Kami bersyukur Allah telah anugrahkan sesuatu yang terbaik dan terindah.

Begitu kita lepas dari perbatasan Riau di atas bukit danau buatan koto panjang. Maka perjalan di sepanjang puncak bukit Bukit barisan, maka di depan mata kita terhampar pemandangan yang aduhai, ada Panorama di perbatasan Riau Sumbar, Dan selepas itu ke seluruh Sumatera Barat yang kita lihat setiap jengkalnya hanya ke indahan. puji Syukur pada Mu Tuhan kami yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

“Banyak tempat telah kukunjungi
Yang termashur dikata orang
Namunkampungku nan indah permai
Takkan kalah dan tak kulupa
Kampungku yang kucintai
Engkau kuhargai”

Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Suci Nya dalam Al qur’an:

……Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (QS. 42:22)

Koto Alam 2 Agustus 2008

[sumber]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: