Pangkalan Setelah Kelok Sembilan


Mengutip kembali tulisan Bapak H. Fachrul Rasyid tentang wacana pembangunan wilayah kecamatan Pangkalan Koto Baru setelah rampungnya proyek fly over Kelok Sembilan. Dalam tulisannya, pemerintahan Limapuluh Kota telah memprioritaskan Pangkalan Koto Baru beberapa tahun kedepan sebagai kota perdagangan dan wisata.

Menilik sejarah dua abad silam ketika Pangkalan Koto Baru menjadi pelabuhan utama bagian timur Minangkabau. Sebagai daerah pelabuhan, profesi masyarakat Pangkalan berperan dalam bidang distribusi hasil alam dari pedalamaan Minangkabau hingga ke bibir Selat Malaka. Hingga hari ini profesi tersebut menjadi mata pencaharian masyarakat Pangkalan pada umumnya. Jika zaman dahulu transportasi melalui sungai Batang Mahat menggunakan perahu kajang untuk mengangkut hasil alam, maka zaman sekarang -ketika transportasi berubah melalui jalur darat- masyarakat Pangkalan masih dengan perannya dalam distribusi barang /hasil alam yang telah bertranstormasi menggunakan truk.

Pangkalan Setelah Kelok Sembilan
Teras Utama Padang Ekspres Selasa 21 Mei 2013
Oleh Fachrul Rasyid HF
[sumber]

Sedikit hari lagi ply over alias jembatan layang Kelok Sembilan (K-9) akan rampung. Rencananya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan. Lantas apa yang bisa diraih Pangkalan Kotobaru?

Pertanyaan ini perlu dijawab pejabat, pemuka, dan para ninik mamak di Pangkalan, mengingat dulu sejak akhir abad 18 hingga awal abad 20 Pangkalan adalah pelabuhan terbesar di timur Minangkabau ke Selat Malaka. Setiap mau memasuki bulan Ramadhan, sesuai kesapakatan ninik mamak dan ulama, kapal-kapal milik pengusaha dilabuhkan di Pangkalan. Saat itu anak kemanakan boleh naik dan berlayar di sepanjang batang Mahat. Dari situ kemudian lahir tradisi perayaan “Patang Balimau”

Belanda berusaha menguasai Pangkalan karena mengalahkan Pelabuhan Muara Padang. Untuk itu Belanda mencoba masuk melalui Kuala Kampar menesuri Batang Kampar, dan masuk ke Batang Bahan menuju Pangkalan. Tapi karena sungainya deras dan berhutan lebat, upaya itu sia-sia. Pada 1932 Belanda memutuskan membuka jalan dari Payakumbuh, Sarilamak, ke Pangkalan. Salah satu ruasnya adalah K-9. Lalu, mengerahkan pekerja pasa, jalan diteruskan ke Bangkinang, Danau Bingkuang, Taratak Buluh hingga ke Logas.

Sejak terbuka jalan darat ke Riau, perlahan pelabuhan Pangkalan jadi sepi. Para pengusaha kapal Pangkalan akhirnya beralih jadi pengusaha angkutan darat sehingga Pangkalan terkenal sebagai nagari pengusaha angkutan di Sumbar-Riau. Angkutan penumpang milik pengusaha Pangkalan yang amat terkenal adalah bus Gagak Hitam, Sinar Riau dan Bunga Setangkai.

Sejak 15 tahun belakangan setelah angkutan bus makin terjepit, pengusaha Pangkalan berkosentrasi penuh pada angkutan truk/barang. Dan, ketentuan memautkan kapal tiap memasuki Ramadhan beralih ke truk. Itu sebabnya, di hari-hari Patang Balimau semua truk milik orang Pangkalan yang beroperasi di berbagai daerah, pada pulang kampung. Dan, jalan di sepanjang Pangkalan pun disesaki truk.

Kini, setelah pembangunan K-9 generasi kedua (jembatan layang) rampung, apakah potensi ekonomi dan posisi strategis Pangkalan akan mengalami kemunduran seperti halnya setelah K-9 dibangun Belada dulu?

Saya percaya, secara perorangan, orang Pangkalan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan. Ketika dulu jalur perdagangan lewat sungai digantikan jalan darat, pengusaha Pangkalan pun mengganti kapal dengan truk. Artinya, mereka tetap pada posisi ekspedisi dan distribusi barang.

Nanti, setelah K-9 generasi kedua rampung, posisi itu pasti akan lebih berkembang. Boleh jadi perusahaan bus milik orang Pangkalan yang pada tutup, akan dihidupkan kembali, tentu dengan model dan pelayanan yang lebih modern.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan Nagari Pangkalan itu sendiri. Apakah Pangkalan akan tetap jadi nagari pelintasan angkutan orang dan barang?

Selama ini tampaknya memang demikian. Hasil penelitian Dinas PU 2002, membuktikan Pangkalan dilintasi rata 6.800 hingga 11.350 kendaran/ hari. Kendaran itu  mengangkut sekitar 16 juta orang dan 28,5 juta ton barang/ tahun (50% hasil pertanian dan peternakan). Tentu kini dan sepuluh tahun ke depan keramaian kendaran, orang dan barang melintasi Pangkalan tentu akan berlipat ganda. Apalagi jika rencana pembangunan jalan tol Padang-Pekanabaru-Dumai,  jari-jari jalan tol Lintas Sumatera, rampung sekitar tahun 2025.

Fakta ini tentu memperlihatkan posisi Pangkalan sebagai pintu gerbang Sumbar dari Riau akan semakin penting. Tapi, sekali lagi, bagaimana Pangkalan menyikapi posisi tersebut. Musyawarah  pembangunan Pangkalan di rumah kediaman Bupati Alis Marajo tahun 2002 silam mencoba menjawab hal itu. Aacara itu dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Pangkalan. Antara lain Anwar Syukur, H. Syakrani,  H. Nizar dan Dr. Muchlis Hasan.

Tokoh-tokoh Pangkalan memahami bahwa Pangkalan memang akan tumbuh jadi sebuah kota. Karena itu disepakati perlunya menyusun tata ruang, kerangka kota sehingga seluruh ruang nagari Pangkalan terintegrasi, terhubung, dan berarti bagi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Dari situ bisa dirinci mana daerah sumber air bersih, daerah pertanian/ perkebunan, daerah pertumbuhan dan pusat ekonomi, daerah pendidikan dan sebagainya sampai pada kebutuhan saluran drainase.

Bupati Alis Marajo kemudian membangun jaringan jalan memperkuat Kota Pangkalan masa depan. Dimulai dengan membangun dan meningkatkan jalan dari Pangkalan ke Kecamatan Kapur IX  hingga di Nagari Gelugur menuju Kabupaten Rokan Hulu. Kemudian jalan dari Pangkalan ke Baluang atau ke Lipat Kain  Kabupaten Kampar.

Setelah Pangkalan tumbuh jadi pusat perdagangan, kota harapan di pinggir Danau PLTA Kotopanjang seluas 140 ribu hektare itu bisa jadi kota wisata. Di Pangkalan bisa dibangun dermaga danau untuk tujuan pelancongan, olahraga dayung, lomba perahu dan olahraga memancing.

Maka, jika tata ruang Pangkalan direncanakan dengan baik dan semua potensinya digarap dengan benar, selain jadi kota perdagangan Pangkalan akan jadi kota wisata dan kota peristirahatan bagi Riau. Dan, ini amat menarik bagi investor membangun hotel, restoran dan objek wisata.

Jadi, kini tinggal bagaimana Pemkab Limapuluh Kota dan Pemprov Sumbar cerdas mengangkat potensi tersebut sehingga Pangkalan memberi peluang peningkatan ekonomi daerah ini. (*)

Teras Utama Padang Ekspres Selasa 21 Mei 2013

Oleh Fachrul Rasyid HF

Sedikit hari lagi ply over alias jembatan layang Kelok Sembilan (K-9) akan rampung. Rencananya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan. Lantas apa yang bisa diraih Pangkalan Kotobaru?

Pertanyaan ini perlu dijawab pejabat, pemuka, dan para ninik mamak di Pangkalan, mengingat dulu sejak akhir abad 18 hingga awal abad 20 Pangkalan adalah pelabuhan terbesar di timur Minangkabau ke Selat Malaka. Setiap mau memasuki bulan Ramadhan, sesuai kesapakatan ninik mamak dan ulama, kapal-kapal milik pengusaha dilabuhkan di Pangkalan. Saat itu anak kemanakan boleh naik dan berlayar di sepanjang batang Mahat. Dari situ kemudian lahir tradisi perayaan “Patang Balimau”

Belanda berusaha menguasai Pangkalan karena mengalahkan Pelabuhan Muara Padang. Untuk itu Belanda mencoba masuk melalui Kuala Kampar menesuri Batang Kampar, dan masuk ke Batang Bahan menuju Pangkalan. Tapi karena sungainya deras dan berhutan lebat, upaya itu sia-sia. Pada 1932 Belanda memutuskan…

Lihat pos aslinya 578 kata lagi

Iklan

Ranah Minang, Kebun Surga yang Diturunkan Tuhan ke Bumi


Berikut ini sebuah tulisan yang saya dapat di forum rantau.net [sumber] menceritakan tentang keindahan alam Sumatera Barat. K. Suheimi, penulis cerita ini mengungkapkan ketakjubannya melintasi daerah-daerah di kawasan ekuator di sepanjang Jalan Sumbar – Riau. Dengan berbagai keindahan alam yang mempesona serta ragam aktifitas penduduknya yang menarik perhatian, penulis menyebutkan bahwa tidak salah para turis mancanegara menamai Ranah Minang sebagai “Kebun Surga yang diturunkan Tuhan ke Bumi”.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saudara K. SUheimi,

“E Q U A T O R”
Oleh : K Suheimi

Equator atau garis khatulistiwa. Titik nol, selangkah kaki kita melangkah ke kiri kita berada dibelahan Bumi Selatan dan selangkah kaki kita melangkah ke kanan kita berada di belahan Bumi utara…

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar - Riau

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar – Riau

Equator garis khatulistiwa, ke tempat inilah yang hampir setiap minggu saya injak dan saya lalui. Setiap kali melalui dan melewati garis ini kami singgah turun sejenak, ada Mushalla cantik dan bersih disana, disebut dengan Mushalla Musafir, tempat musafir yang berjalan jauh berhenti istirahat sejenak membuang hajat, dan melakukan shalat, meng-qadakan dan menjamak shalat.

Mushalla kecil, cukup bersih dan kamar mandinya berair jernih dan dingin. Air pegunungan, air khatulistiwa. Memang pada titik 0 ini hutannya sangat lebat, rimbanya rimbun. Teduh dan sedikit agak gelap dan lembab. Biasanya kami malam hari lewat di tempat ini. Sebagai pertanda bahwa titik itu Equator di buat tugu khatuliswa. Setiap lewat selalu saya pandang Tugu Bola Dunia dengan garis melintang di tengah tugu itu.

Biasanya kami sampai di tugu ini, tengah malam, disaat sudah sunyi, tapi Kali ini kami sampai petang berlaruik senja, Di rembang petang itu Mushalla ramai, kamar mandi penuh. Penduduk baru pulang dari rimba dan ladang. Mereka mandi bersama-sama. Dari kamar sebeleh terdengar cekikan perempuan dan gadis-gadis bersenda gurau sambil mandi bercengkrama, riuh rendah.

Saya yang di kamar mandi lelaki juga enak melihat laki-laki tegap dan tegar bermandikan air gunung nan sejuk. Badan mereka bagus-bagus, tidak berlemak, dan lekuk tubuh yang alami. Mereka kekar dan kuat, sambil bersimburan mereka bergurau.

Ah rindunya saya pada kehidupan seperti ini. Seperti dulu saya diSungai Puar, di kaki gunung Merapi, bersama anak-anak mandi di Pincuran, berenang di tebat dan kolam di lurah sebuah bukit. Oh masa itu terbayang lagi, Berkecimpung dan bersorak berkejaran di dalam kolam. Masa lalu yang bahagia. Atau berkejar-kejaran dan terjun bebas di Sungai Tanang yang sungainya tenang dan airnya bening sejuk dan dingin.

Khayalan saya mengenang masa-masa indah di Sungai Tanang. Dulu orang berbendi-bendi ke Sungai Tanang memetik bunga si Lembayung.

Sungai tenang yang tidak beriak dan tak tak berarus, setenang namanya, sebagai sumber air untuk Bukit Tinggi, disanalah kami melompat, terjun bebas, berkecimpung dan bergurau senda, bersembur-semburan air. Oh masa lalu yang indah, sebelum ada kolam renang Bantola kami kalau berenang pergi ke Sungai Tanang.

Equator melintas di Koto Alam, desa kecil yang rukun. Untuk sampai ke tempat ini kita disajikan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalannya. Koto alam terletak di garis khatulistiwa ditengah hutan rimbun nan lebat. Namanya Hutan tropis dan sangat subur, apapun jenis tanaman bisa kita temukan.

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Dengan melalui jalan berliku berbelok-belok bagaikan ular yang melilit pinggang bukit dan gunung. Demikian banyaknya kelok dan liku. Namun diantara semua kelok itu ada 17 Kelok yang tajam dan berbahaya. Sehingga liku-liku jalan di sepanjang bukit barisan yang melintas garis Equator ini disebut dengan kelok 17.

Setiap kali melewati kelok-kelok ini saya tak mau memejamkan mata kerna dihadapakan pada pemandangan yang aduhai. Apalagi kalau kita sampai pada kelok selat Malaka. Suatu kelok dengan pemandangan yang sangat spektakuler kita saksikan susunan dan barisan bukit Barisan . Konon kabarnya kelok itu disebut kelok Selat Malaka kerna bila cuaca bersih, maka kita bisa melihat Selat Malaka. Tapi memang saya tak lupa berhenti sejenak di pemandangan yang bagus ini.

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Begitupun ketika ketika kita melewati kelok 9 yang terkenal, disamping curam dan berbahaya, dulu kelok ini sangat sempit dengan bukit-bukit yang berbatu cadas yang sangat keras. Apalagi bila kita memasuki arah Lubuk bangku maka bukit dengan bebatuan yang sangat curam sekali setinggi 200 meter yang menjadi tantangan untuk pemanjat tebing. Bukit-bukit dengan batu cadas yang berwarna warni serta jika air hujan didinding banyak air terjun. Bukit-bukit yang terkesan seram ini terhampar sejak dari kelok 9, Lubuk Bangku dan sampai ke Harau, luar biasa semua akan berdecah kagum dan terpesona.

Foto Baru Kelok sembilan

Kelok Sembilan

Saya sudah banyak berkelana ke tempat-tempat terkenal di seantero Dunia, namun saya bangga, ternyata kampong halaman saya tak kan kalah , jauh lebih bagus dari tempat-temoat yang lain. Tak salah beberapa Turis Manca Negara mengatakan Sumatera Barat atau Ranah minang itu adalah sebagian kebun Sorga yang di turunkan Tuhan ke Bumi. Oh luar biasa.

Kami bersyukur Allah telah anugrahkan sesuatu yang terbaik dan terindah.

Begitu kita lepas dari perbatasan Riau di atas bukit danau buatan koto panjang. Maka perjalan di sepanjang puncak bukit Bukit barisan, maka di depan mata kita terhampar pemandangan yang aduhai, ada Panorama di perbatasan Riau Sumbar, Dan selepas itu ke seluruh Sumatera Barat yang kita lihat setiap jengkalnya hanya ke indahan. puji Syukur pada Mu Tuhan kami yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

“Banyak tempat telah kukunjungi
Yang termashur dikata orang
Namunkampungku nan indah permai
Takkan kalah dan tak kulupa
Kampungku yang kucintai
Engkau kuhargai”

Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Suci Nya dalam Al qur’an:

……Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (QS. 42:22)

Koto Alam 2 Agustus 2008

[sumber]

Kisah Cinta Mengharukan Perantau Koto Alam


Cinta Pertama, Cinta Terakhir dan Cinta Mati

Sebuah cerpen, diangkat dari kisah nyata perantau Koto Alam
Penulis: Abdul Hamdi Mustapa

dik

 “Uhuk! Uhuk!”

“Ahhim…!”

Eme menderita batuk flu sejak dua hari ini. “Ahhim…!”, begitu bunyi suara bersin Eme. Tidak terdengar seperti suara orang bersin kebanyakan: “Hatchim…!”. Bibir bagian atas Eme memang tercipta unik sedari lahir, sekilas terlihat seperti terkena sabetan pisau, yang membelah lekukan hidung Eme hingga bibir bagian atas mulutnya. Kondisi ini berpengaruh pada setiap kata yang Eme ucapkan apabila ia berbicara. Beberapa abjad huruf konsonan tak bisa ia lafalkan secara benar. Suaranya selalu ke hidung. “Ahhim…!” Begitu suara bersin Eme.

Eme meninggalkan pekerjaan menjahitnya. Ia meminta izin pada bosnya untuk keluar beberapa menit saja. Tujuan Eme ingin membeli obat untuk meredakan batuk flunya. Ia berjalan puluhan meter dari tempat kerjanya menuju sebuah apotik. Di apotik itu Eme bertemu seorang gadis berjilbab yang tidak lain adalah pelayan disana. Eme memesan obatnya, kemudian gadis itu pun mengambilkan obat untuk Eme. Entah bagaimana, Eme begitu memperhatikan gadis yang ada di depannya itu. Ia memandangnya dengan sepenuh hati. Sejenak ia tertegun,

“Ini obatnya, Bang.” Tutur gadis itu pada Eme.

“I… Iya, ini uangnya.” Balas Eme.

Eme kembali dari apotik menuju tempat kerjanya. Di benaknya masih terfikir tentang gadis yang baru saja ia jumpai. Sepertinya gadis berjilbab itu telah memikat hati Eme yang sedang kosong.

Benar saja. Malam berikutnya Eme kembali mengunjungi apotik tersebut. Ia berdalih bahwa batuk flunya belum juga sembuh. Tentu hanya sekedar modus untuk bisa bertemu seseorang yang sedang ia suka. Kali ini Eme memberanikan diri untuk menanyakan nama gadis itu.

“Dek, kalo boleh tahu nama adek siapa?”

Gadis itu jadi agak canggung, ia berusaha tersenyum menahan tawa mendengar suara Eme yang ke hidung.

“Kok senyum aja dek, kasih taulah abang siapa nama adek.” Eme kembali bertanya.

“Balqis, bang.” Jawab gadis itu dengan ramah.

Setelah tahu namanya, Eme terus mengajak gadis itu bicara. Eme menatapnya dengan percaya diri, menanyai dan merayunya. Tapi Balqis, gadis itu, lebih banyak diam. Ekspresinya datar. Sesekali ia membalas perkataan Eme, kadang ia hanya tersenyum. Eme bahkan berusaha meminta Balqis untuk memberikan nomor hapenya. Namun bujukan Eme gagal, Balqis tak mau mengasihkannya.

Eme tak patah semangat. Tampaknya ia benar-benar ingin mengenal Balqis lebih dekat. Kini, setiap waktu istirahat kerja, Eme selalu mengunjungi apotik Balqis. Ia duduk-duduk disana memandangi Balqis. Merayunya. Mengajaknya bicara. Berbagai kalimat-kalimat gombal ia lontarkan untuk menarik hati Balqis.

“Obat cinta ada gak dek?”

“Ada lah bang.”

“Kayak apa tu obatnya dek?”

“Ya, pokoknya ada deh bang.” Jawab Balqis sambil tersenyum.

Demikian sebait percakapan Eme dengan Balqis. Balqis mulai sedikit akrab membalas pembicaraan Eme. Perlahan-lahan Eme mengetahui berbagai hal tentang Balqis. Seminggu lamanya Eme mendekati Balqis, akhirnya Balqis mau memberikan nomor hapenya. Eme pun senang sekali.

***

Tidak lama bagi Eme untuk menaklukkan hati Balqis. Setiap hari ia meneleponnya. Bersenda gurau. Bercanda. Dan memberikan perhatian. Lama-lama hati Balqis luluh juga. Pucuk dicinta ulam tiba. Eme meyakinkan diri untuk meminta Balqis menjadi pacarnya. Balqis pun bersedia menerima Eme sebagai kekasihnya. Alangkah bahagianya. Mengapa tidak, Eme bagi Balqis adalah pacar sekaligus cinta pertamanya. Selama hidupnya baru kali ini ia memiliki seseorang yang spesial di hati, seorang lelaki yang senantiasa tulus memberikan perhatiannya. Eme pun sangat bahagia karena Balqis mau menerima ia apa adanya.

Beberapa minggu jalinan kasih mereka berjalan. Dan sudah beberapa kali pula Eme mengajak Balqis pergi kencan. Setiap ada kesempatan, Eme pasti selalu berada di apotik Balqis. Suatu kali mereka terlibat percakapan,

“Bang.”

“Iya dek.”

“Kira-kira abang serius gak sama Balqis?”

“Seriuslah sayang. Kok nanya itu dek?”

“Hmm kalo benar abang serius sama adek, berani gak abang datang ke rumah buat jumpa sama ayah dan ibu Balqis?”

“Ehm..” Eme berfikir sejenak menanggapi ajakan Balqis untuk bertemu orangtuanya. Dalam fikiran Eme, Balqis sudah cocok sebagai pendamping hidupnya. Balqis telah bersedia menerima kekurangannya. Ia pun sudah begitu sangat menyayangi Balqis. Untuk apa dulu ia bersusah payah mendapatkan Balqis jika hanya main-main. Tidak. Eme adalah seorang lelaki yang dewasa. Sudah 23 tahun umurnya. Ia juga telah bekerja dan cukup mapan. Sekarang ia memiliki Balqis, satu-satunya wanita yang ada di hatinya. Balqis juga sudah bekerja. Apalagi Eme adalah lelaki pertama yang dicintai Balqis. Mengapa tidak? Eme membulatkan tekadnya. Tidak ada salahnya juga jika sudah ada niat untuk membina rumah tangga dan mengakhiri masa lajangnya. Apalagi jika kesempatan terbuka, ia tentu tak akan menunda. Akhirnya Eme menyetujui ajakan Balqis untuk berkunjung ke rumahnya.

Malam itu Eme memberanikan diri datang ke rumah Balqis. Ia berjalan kaki menuju rumah yang tak seberapa jauh dari apotik tempat Balqis bekerja.

“Assalamualaikunm.” Eme mengucapkan salam di depan pintu rumah Balqis.

“Waalaikumsalam bang, silahkan masuk.” Balqis menyambut Eme dan mengijikannya masuk.

Di dalam rumah duduk ayahnya Balqis. Ia sama sekali tidak menjawab salam Eme. Eme berusaha menjabat tangan ayah Balqis untuk menyalaminya. Akan tetapi ia tidak menanggapi Eme.

Eme bingung dan tak tau harus bagaimana. Namun Balqis mempersilahkan Eme untuk duduk di sofa, berhadapan dengan ayahnya. Tak berapa lama Balqis membawakan mereka minum. Kemudian Balqis mengisyaratkan pada Eme untuk mengajak ayahnya bicara.

“Gimana kabarnya Pak, sehat?” Eme memulai bicaranya.

Ayah Balqis hanya diam mendengar sapaan Eme. Bahkan menoleh pun tidak. Sikapnya yang demikian membuat Eme kehabisan akal. Eme semakin bingung, akhirnya dia pun ikutan diam saja. Sementara ayah Balqis hanya menoleh ke arah TV. Lama-lama suasana semakin kaku. Beberapa saat kemudian ayah Balqis mengambil remote TV, ia menekan tombol untuk mengeraskan volume suara TVnya.

Habis sudah Eme. Ia bertamu tapi tidak diperlakukan sebagaimana layaknya. Niatnya baik, hanya untuk berkenalan dengan orangtua kekasihnya. Akan tetapi ia diabaikan. Bahkan tidak dihiraukan. Basa-basi pun tidak. Salam dan sapanya juga tidak ditanggapi. Eme tidak tahu harus berbuat apa. Balqis yang juga berada disana ikut membisu.

Eme pasrah. Fikiran pesimis mulai berbisik di benaknya. Apalah daya Eme. Ia hanyalah seorang pekerja di toko jahit yang tidak bisa menjamin masa depannya akan cerah. Bibirnya yang sumbing membuatnya tak jelas bicara dan terlihat cacat. Mana mungkin ayah Balqis akan bersedia merestui ia menjalin hubungan dengan putrinya. Pantas saja ayah Balqis cuek dan bersikap dingin ketika melihat pacar anaknya demikian banyak kekurangan.

Eme berusaha meneguhkan hatinya. Yang penting ia telah menyanggupi janjinya pada Balqis untuk menjumpai orangtuanya. Walaupun tidak terjadi percakapan apa-apa antara mereka. Setengah jam berlalu hanya duduk diam dilantuni suara TV yang keras.

Eme pamit untuk pulang.

“Pak, saya berangkat pulang dulu.”

Tetap tak ada reaksi dari ayah Balqis. Eme pun pulang dengan perasaan kacau.

***

Eme tak habis fikir. Ia beranggapan macam-macam. Ia mencoba menghibur kesialannya. Mungkin saja ayah Balqis menyandang cacat, tuli lagi bisu. Hahaha. Eme tertawa dalam hatinya.

Balqis menghubungi Eme. Melalui pesan singkat ia meminta maaf pada Eme atas sikap ayahnya.

“Ayah orangnya memang seperti itu. Tapi Balqis kasih jempol deh untuk abang karena udah berani datang.”

Hari berikutnya Eme diminta lagi untuk berkunjung. Dengan berat hati namun percaya diri, Eme kembali bertamu ke rumah Balqis untuk kedua kalinya.

Seakan tak ada harapan bagi Eme. Suasana di malam itu tak ubahnya seperti malam sebelumnya. Salam Eme tak dijawab. Jabat tangannya tak disambut. Eme kikuk. Menyedihkan sekali dia. Jika diibaratkan, Eme bagaikan seorang bocah kecil kumal yang dikucilkan teman-teman sebayanya. Tidak diajak bermain, bahkan dimusuhi dan diejek. Bocah itu mencibir dengan muka menahan tangis, memandangi teman-temannya yang asyik bermain. Ingusnya meleleh ke bibir. Lalu ia menghela nafas, sebagian ingusnya masuk kembali ke hidung, sebagian lagi terteguk olehnya. Memilukan. Andai memang bocah itu adalah Eme. Tentu ingus yang mengalir dari hidungnya akan langsung masuk ke rongga mulut.

Suara TV terdengar keras. Eme sudah seperti orang bodoh. Ia ikut menonton siaran TV. Acaranya berita politik. Kadang diganti ke channel sinetron laga. Pertarungan antara pendekar berlangsung sengit. Mereka mengeluarkan berbagai jurus dan menjelma menjadi hewan-hewan raksasa. Sesekali Eme tersenyum menyaksikan adegan demi adegan. Senyum Eme tentu sangat lucu sekali. Bayangkan saja, jika di suatu tempat kita bertemu seorang sumbing, spontan kita akan tersenyum geli di belakang orang itu. Apalagi jika mendengarkan mereka bicara, kita akan menggigit bibir untuk menahan tawa karena tak mau menyinggung perasaannya. Sama halnya ketika Balqis tersenyum menahan tawa saat pertama kali Eme menanyakan namanya.

Bakat alami Eme itu merupakan anugerah dibalik keterbatasan fisiknya. Anugerah bagi orang lain tentunya. Orang-orang seperti Eme dapat dengan mudah membuat orang lain terhibur dan tertawa. Dalam berbagai lelucon, orang suka menirukan cara bicara orang sumbing. Banyak cerita mengocok perut yang dikarang-karang dengan tokoh utama seorang sumbing. Dunia memang tidak adil bagi Eme.

Tapi disini, ditengah hiruk pikuk suara TV, Eme tak mampu membuat seorang lelaki yang duduk di hadapannya untuk tersenyum. Entahlah. Ataukah lelaki dingin itu tak kuasa menolehkan pandangannya ke arah Eme, karena ia akan terpingkal-pingkal melihat Eme disebabkan selera humornya sangat tinggi. Tidak kawan, tidak demikian. Kita akan berhenti menyudutkan Eme.

Eme kemudian pulang. Ia tak kunjung berhasil mengajak ayah Balqis bicara. Barangkali Eme memang bernyali dan punya kesungguhan, namun Eme punya kesulitan dalam komunikasi verbal. Modal nekat, pulang dengan hati hampa.

Tak putus asa. Eme datang pada malam berikutnya. Ia ingin membuktikan kepada Balqis bahwa dirinya seorang lelaki gentlemen dan benar-benar serius menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Malam itu Eme juga disambut oleh ibunya Balqis, ia melayani Eme dengan ramah dan mau diajak ngobrol. Kebetulan mereka sekeluarga hendak makan malam, maka ibu Balqis mengajak Eme makan bersama mereka. Sedangkan ayah Balqis tetap diam seribu bahasa.

Malam keempat, Eme hadir lagi di rumah Balqis. Kali ini Eme mendapatkan angin segar. Ayah Balqis yang malam-malam lalu hanya diam seperti orang terlilit utang, kini mulai bersuara. Ia mengeluarkan papan catur dan meletakkannya di atas meja.

“Kamu bisa main catur?”

“Bisa Pak.” Jawab Eme.

Kepala Eme yang tadi beku perlahan mencair. Wajahnya sedikit sumringah. Ia ikut membantu ayah Balqis menyusun anak-anak catur. Akhirnya di sela-sela permainan catur mereka terlibat percakapan. Hal pertama yang ditanyakan ayah Balqis kepada Eme,

“Kamu tamat SMA atau kuliah?”

Waduh! Pertanyaan semacam ini sangat berat bagi Eme. Ia beranikan diri untuk menjawab jujur.

“Saya hanya pernah sekolah SD Pak, itu pun gak tamat.”

Eme cari mati. Ucapannya bersamaan dengan penyanderaan sebuah pion miliknya oleh kesatria berkuda milik ayah Balqis.

Mendengar jawaban Eme, ayah Balqis tidak melanjutkan bicaranya. Suasana berubah jadi menegangkan, layaknya dua orang maestro catur sedang bertarung sengit di final kompetensi catur internasional. Eme pun tidak punya ide untuk balik bertanya. Konsentrasinya buyar. Kini salah satu bishopnya telah raib.

Sepertinya ajakan main catur oleh ayah Balqis punya maksud tertentu. Mungkin saja dia hendak melihat kejelian Eme dalam berfikir. Di menit-menit selanjutnya Eme meningkatkan siasat pertahanan prajuritnya. Ia berhasil meretas pion-pion ayah Balqis. Permainan semakin seru. Hingga membuat ayah Balqis berfikir lama untuk menyusun langkah. Sembari menatapi papan catur, ayah Balqis mengernyitkan keningnya, lalu dia menggumam dan tersenyum. “Skak!” Hardiknya. Ratu milik ayah Balqis mengancam Sang Raja milik Eme setelah berhasil menyalib pertahanan bentengnya. Akhirnya Eme berhasil membuat ayah Balqis tersenyum.

***

“Dua jempol buat abang,” ucap Balqis kepada Eme. Ia mengaku salut dengan usaha Eme yang tanpa menyerah, yang kemudian akhirnya bisa melunakkan hati ayahandanya. Eme dan Balqis sangat bahagia sebab tidak mendapatkan pertentangan atas jalinan asmara mereka.

Sebenarnya di malam itu, malam ketika Eme ditantang bermain catur, banyak hal yang telah diperbincangkan oleh Eme dan ayah Balqis. Mereka menjadi akrab karena gelak tawa dan siasat-menyiasati permainan. Ayah Balqis memaklumi pacar putrinya itu yang hanya pernah duduk di bangku SD. Pendidikan formal bukan segalanya. Seorang lelaki dewasa yang memiliki pekerjaan tetap, dan sanggup untuk menghidupi dirinya secara layak, adalah ciri dari lelaki yang bertanggung jawab. Ayah Balqis percaya dengan kesungguhan hati Eme terhadap putrinya. Lagi pula ia sangat mengerti keadaan Eme yang mencari hidup di perantauan. Bertahan di rantau dengan hidup mapan menjadi nilai plus tersendiri. Bagaimana tidak, keluarga besar Balqis juga merupakan orang perantauan yang telah lama tinggal di Kota Medan. Mereka mempunyai suku bangsa yang sama dengan Eme, sama-sama berasal dari Sumatera Barat. Eme, Balqis dan keluarganya di Kota Medan adalah orang Minangkabau. Kampung halaman Eme berada di suatu daerah di Payakumbuh, sedangkan keluarga Balqis berasal dari Pasaman. Sebenarnya lagi ayah Balqis sudah sering melihat Eme sebelumnya, dikarenakan toko jahit tempat kerja Eme berada di seberang kedai kopi tempatnya biasa minum. Sehingga ia cukup tahu bagaimana gambaran keseharian Eme.

Ada perkara lain yang hendak diberitahukan ayah Balqis kepada Eme. Tapi berat baginya untuk menyampaikan hal itu. Ia tak ingin membuat Eme kecewa. Ada rahasia apa? Akankah ia hendak meminta secara halus agar Eme menjauhi putri kesayangannya? Anehnya, ia menunggu waktu ketika Balqis tidak berada diantara mereka. Sehingga Balqis tak akan tahu isi pembicaraan itu.

“Begini. Bapak mau beritahu sesuatu hal sama kamu. Ini menyangkut Balqis. Bapak tidak ingin kamu kecewa. Niat bapak hanya ingin memberi jalan terbaik untuk kalian berdua. Bapak tahu, selama ini Balqis tidak pernah mempunyai teman lelaki. Kamu adalah pacar pertamanya Balqis. Dan kamu sudah berkesungguhan untuk datang ke rumah ini dengan niat baik,” ayah Balqis menuturkannya dengan serius.

Eme menyimak dengan penuh pertanyaan di hatinya, ia menganggukkan kepalanya beberapa kali menanggapi penjelasan ayah Balqis. Dia tak menyela sepatah kata pun.

Ayah Balqis melanjutkan,

“Bapak tidak mempersoalkan bagaimana kamu atau pekerjaanmu. Bagi kami, sudah seharusnya pula bersikap bijak dengan Balqis. Ia sudah dewasa, bisa memilih mana yang baik buat dia. Kami bahagia ada orang yang tertarik berhubungan dengan Balqis. Sebagai seorang gadis, sudah barang tentu ia mendambakan pula kehadiran pendamping dalam hidupnya. Orangtua mana yang tak akan senang melihat anaknya bisa mewujudkan keinginan sebagaimana teman-teman sebayanya.”

“Saya pun begitu Pak. Senang sekali rasanya bisa dekat dengan Balqis. Dia mau menerima keadaan saya.” Eme menanggapi.

Ayah Balqis menarik nafas panjang lalu dihembuskannya perlahan, kemudian ia menyampaikan maksudnya. Dia memberitahu Eme bahwasanya Balqis mempunyai masalah kesehatan yang serius. Balqis menderita gangguan saluran pernafasan sejak lahir. Bila asmanya kambuh Balqis tergeletak pingsan. Dari ia kecil sudah seringkali Balqis dirawat di rumah sakit. Hingga sekarang penyakit itu masih terus diidapnya. Penyakit yang diderita Balqis sangat kronis dan akut. Menurut ilmu kedokteran asma merupakan penyakit keturunan. Penderitanya hanya bisa diterapi untuk pencegahan, namun belum ada obat yang bisa dikembangkan untuk menyembuhkannya. Dalam banyak kasus, penderita asma rentan mati muda. Mereka hanya diberi hidup pendek, hanya sampai pada waktu ketika tidak mampu lagi bertahan dengan gejalanya. Takdir Tuhan, Balqis sebagai putri sulung ayahnya mengidap penyakit mengerikan itu.

Matanya berkaca-kaca, ayah Balqis menceritakan kepedihan hatinya atas ujian yang ia terima. Betapa ia sangat menyayangi putri sulungnya tersebut. Betapa pula ia bersusah payah membesarkan dan menjaganya agar tetap bisa menghirup udara segar setiap pagi. Ia selalu berdoa dan berharap Tuhan akan memberikan Balqis umur panjang. Ia selalu ingin melihat buah hatinya dapat tersenyum dan hidup bahagia. Kini buah hatinya itu sudah besar. Ia sudah berani membawa teman lelaki ke rumah untuk bertemu orangtuanya. Teman lelaki itu adalah cinta pertama yang hadir dalam hidupnya. Karena selama ini belum ada lelaki lain yang bersedia menjadikan ia sebagai pujaan hati. Ia menyadari bahwa apa yang ia derita menyebabkan dirinya tidak menarik di mata lawan jenisnya. Ia selalu tegar. Ia dibesarkan dalam keteguhan hati. Seteguh ia yang tak pernah melepas jilbabnya. Ia tidak memberontak karena Tuhan tidak adil padanya. Hari-harinya ia jalani dengan optimis. Dia juga mempunyai impian-impian sebagaimana setiap orang miliki. Kini salah satu doanya sudah dijabah Tuhan, doa yang selalu ia munajatkan sejak lama. Ia berharap kehadiran seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus. Ia ingin merasakan dikasihi dan disayangi oleh lawan jenisnya, sebagaimana orang-orang seusianya.

Eme tertegun. Fikirannya berkecamuk. Ternyata gadis yang dicintainya adalah seorang penyakitan. Ia baru menyadarinya sekarang. Lama ia termenung mendengar penjelasan ayah Balqis. Dalam hatinya ia sudah sangat menyayangi Balqis. Kini ada kenyataan pahit yang harus dia terima. Kesetiaan dan ketulusan cintanya diuji. Apakah ia mencintai Balqis segenap jiwa dan raganya. Apakah ia mencintai Balqis sekedar mengisi kehampaan hidupnya. Apakah ia mencintai Balqis dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Apakah ia sanggup dan rela jika suatu saat belahan jiwanya pergi untuk selamanya. Ataukah perasaan cintanya memudar seketika. Ataukah ia yang akan melangkah pergi terlebih dulu. Rasa kasihan, cinta dan kekecewaan berkecamuk di hatinya. Ia sedih, sedih karena tak sanggup jika sampai ia melukai hati Balqis. Ia tak akan tega melihat wanita yang selama ini mengisi hidupnya ia campakkan. Jika ia benar-benar mencintai kekasihnya itu, ia akan selalu ada untuknya. Menyayanginya dan menerimanya sepenuh hati. Mencintainya selama hidup dan mati. Eme juga menyadari bahwa ia juga bukanlah lelaki sempurna. Status sosialnya dan kondisi fisiknya membuat ia sulit mencari pasangan yang pas. Namun Balqis dengan ketulusan hati mau menyambut cintanya. Apa lagi yang ia ragukan. Inilah cinta sejati yang ia cari-cari. Seseorang yang mau mencintai dia walau kekurangan, dan ia pun akan balas mencintai orang itu walau kekurangan.

“Jika kamu benar-benar mau menjalin hubungan yang serius dengan Balqis, dan setelah semua yang Bapak ceritakan padamu tadi, apakah kamu sanggup menerima Balqis dengan keadaan demikian? Apakah suatu saat kamu tidak akan menyesal?”

“Tidak Pak. Saya tidak akan menyesal. Saya sungguh sangat mencintai puteri Bapak. Saya bersyukur memiliki dia. Dia mau menerima saya apa adanya, maka saya akan menerima dia dengan ikhlas apapun kekurangannya.”

***

Satu tahun lebih sudah berlalu. Hubungan asmara Eme dengan Balqis diwarnai kebahagiaan. Canda tawa, gurauan manja menghiasi hari-hari mereka. Detik demi detik jalinan cinta yang mereka rajut semakin kuat. Tak pernah dirundung kesedihan. Eme menjadi sangat dekat dengan keluarga Balqis, sudah seperti keluarganya sendiri. Begitu pun Balqis, ia sering bercengkerama dengan ayah dan ibu Eme yang ada di kampung melalui telepon. Sampai-sampai Balqis yang berdarah Minang tapi tidak bisa berbahasa Minang itu, karena sering bercerita dengan ibu Eme dan minta diajarkan bercakap Minang, akhirnya ia pun bisa berbahasa Minang.

Hanya pernah sekali Eme sempat membuat Balqis tersakiti. Ketika itu ada seorang kenalan wanita meminta Eme jadi pacarnya. Eme tidak bersedia karena ia sudah memiliki Balqis. Akan tetapi wanita itu tetap memaksa dan mau dijadikan yang kedua. Eme tak bisa apa-apa, hatinya mendua juga. Mereka kemudian sering jalan. Namun akhirnya Balqis tahu perselingkuhan Eme. Balqis marah. Ia sangat sedih karena Eme menyakitinya. Dia meluapkan kekesalannya, mengingatkan Eme pada janji-janji kesetiannya. Hati Eme luluh juga. Ia sadar akan kekhilafannya. Tak lama kemudian Eme mengajak pacar keduanya itu jalan, lalu tiba-tiba mereka berhenti di apotik Balqis. Di depan wanita kesayangannya Eme berkata,

“Itu dia, pacarku Balqis. Aku sudah bilang dulu padamu kalau aku memiliki dia. Sekarang juga kamu tinggalkan aku!”

Suatu malam, ketika Eme dan Balqis berkeliling kota dengan sepeda motor, penyakit asma Balqis sempat kambuh. Mungkin karena polusi asap kendaraan. Waktu itu Balqis duduk memeluknya dari belakang. Eme yang dari tadi mengajak bicara heran mengapa Balqis tidak bersuara. Ia menghentikan motornya dan mendapati Balqis telah pingsan. Eme panik. Ia tak tahu harus bagaimana. Mereka kemudian ditolong oleh salah seorang warga setempat, seorang bapak-bapak. Bapak-bapak itu membawa Balqis bersama Eme dibantu beberapa orang ke rumahnya yang tak jauh dari tempat kejadian. Disana Balqis diberi minum dan disadarkan. Eme selalu teringat dengan bapak-bapak itu, Eme tak kan pernah lupa kebaikannya.

Lebaran haji tahun ini, Eme dan Balqis sudah berencana untuk melabuhkan bahtera cinta mereka di pelaminan. Eme bekerja keras dan semakin ulet. Ia berhemat mengumpulkan uang untuk bekal pernikahannya kelak. Di saat bahagia itu, ujian muncul lagi. Balqis harus dirawat di rumah sakit karena penyakit asmanya makin kronis. Eme tak berputus asa. Ia selalu menemani kekasihnya itu setiap hari. Menyemangatinya agar lekas sehat kembali. Merawatnya dan tak pernah berhenti memberikan perhatiannya. Semakin bertambah sayangnya kepada Balqis. Semakin besar perasaan cintanya. Beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Mereka akan bersanding di pelaminan. Mereka akan membuat pesta. Keluarga mereka akan bergembira. Mereka akan tinggal serumah. Balqis akan hamil. Dan mereka akan mempunyai buah hati. Hari itu akan mereka nantikan. Perhelatan itu sudah di depan mata. Ayah dan ibu Balqis berharap semoga puteri mereka lekas sembuh seperti sedia kala. Mudah-mudahan Tuhan memberikan keajaiban-Nya sehingga Balqis masih diberi kesempatan seperti beberapa waktu lalu. Eme pun berharap hal yang sama, ia selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan agar mencabut penyakit itu dari tubuh Balqis.

Suatu malam di pertengahan bulan Ramadhan tahun 2014. Malam itu Eme belum menyempatkan diri menjenguk Balqis. Ia sibuk karena pekerjaan menjahitnya menumpuk. Tapi ia sudah berencana akan datang agak tengah malam setelah istirahat kerjanya. Tiba-tiba hape Eme berdering. Sebuah pesan datang dari ibu Balqis,

Ndak datang ke rumah Nak?”

Kemudian Eme membalas pesan itu,

“Iya, nanti Bu. Sekarang saya masih bekerja.”

Pesan dari ibu Balqis datang lagi,

“Menyesal nanti Nak, datanglah sekarang.”

Jantung Eme berdegup kencang membaca pesan itu. Tanpa fikir panjang ia meninggalkan pekerjaannya. Ia pergi menjenguk Balqis, mempercepat langkahnya.

Disana, Eme menangis bersama orang seisi rumah. Eme duduk di depan jasad Balqis yang terbujur kaku. Ia pergi untuk selamanya. Tuhan telah menjemputnya. Tubuhnya yang sudah mengurus tak sanggup lagi menahan penyakit yang dideritanya. Kekasihnya di dunia, cinta pertama, cinta terakhir dan cinta mati dalam hidupnya, Eme, dialah yang diminta ibunya untuk memejamkan kedua mata Balqis.

Koto Alam, 24 Agustus 2014

[Foto saisuak] Petani Gambir sedang “Mangampo” (1910 – 1919)


 

Petani gambir zaman Belanda (1910 - 1919)

Petani gambir di zaman Belanda (1910 – 1919)

Foto diatas bersumber dari koleksi Tropenmuseum Amsterdam Belanda, berjudul “De fabricage van gambir in de Padangsche Bovenlanden” (Terjemahan: “Pembuatan gambir di Padang wilayah atas”). Dibuat sekitaran tahun 1910 – 1919.

Menurut ulasan salah satu blog, foto tersebut adalah para petani gambir yang berada di sebuah lereng perbukitan sekitar Harau atau Pangkalan.

Berikut ini saya kutipkan posting blog yang menceritakan mengenai foto tersebut,

 

GAMBIR, REVOLUSI TAK BERUJUNG (PANGKAL)
(http://parintangrintang.wordpress.com/2014/04/28/gambir-revolusi-tak-berujung-pangkal)

Hari itu, disekitar tahun 1910-an, menjelang tengah hari, matahari terlihat begitu sumringah memancarkan cahanya. Bayangan kecil masih condong ke arah barat. Di sebuah lereng perbukitan, di sekitar Harau atau Pangkalan, sebuah pondok pengempaan gambir tampak cukup ramai. Tidak seperti biasanya, dimana orang-orang sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Kali ini semua orang berkumpul di depan pintu masuk pondok pengempaan. Tidak hanya para pekerja, peralatan dan gambir yang sudah keringpun tampak ditaruh di luar.

Rumah Kempa Gambir satu  abad yang lalu

Rumah Kempa Gambir satu abad yang lalu

Hari itu adalah hari istimewa. Seorang pribumi terpandang yang menjadi orang kepercayaan kolonial Belanda datang mengunjungi pondok pengempaan tersebut. Tujuannya adalah untuk melakukan inspeksi tentang kualitas dan mutu gambir yang dihasilkan. Para pekerja itu adalah para petani (tepatnya pekerja) yang mengolah tanaman gambir atau uncharia gambier robx menjadi gambir lumpang. Gambir lumpang biasanya dikonsumsi sebagai pelengkap makan sirih; kalau tidak, akan dikirim ke Emmahaven (teluk bayur). Melalui pelabuhan Emmahaven tersebut gambir yang menjadi komoditi penting dari Afdeeling Lima Puluh Kota selanjutnya dikapalkan ke seberang lautan; entah ke India yang menjadi jajahan Inggris atau ke Batavia yang selanjutnya disebarkan ke seluruh wilayah di Pulau Jawa.

Tidak seperti biasanya, kedatangan pria perlente tersebut didampingi oleh seorang fotografer berkebangsaan Belanda. Oleh karenanya, kepada para pekerja pondok pengempaan gambir tersebut diminta untuk mempersiapkan segala hal yang dapat menggambarkan tentang peralatan dan proses sederhana pengolahan gambir menjadi gambir lumpang (demikian dikenal oleh masyarakat). Proses pemotretan pun dimulai. Mungkin ada beberapa gambar yang diambil, namun gambar di atas yang merupakan koleksi Tropen Museum Belanda yang berjudul De Fabricage van Gambir dapat menggambarkan secara tepat tentang pengolahan gambir di Afdeeling Lima Puluh Kota.

Dalam gambar, yang bagi sebagian orang mungkin tidak menarik ini, pria separuh baya tersebut terlihat begitu gagah memakai baju safari berkancing lima berukuran besar. Baju safari tersebut memiliki empat kantong yang kesemuanya telihat berisi (penuh). Ditangan kirinya menggantung sebuah jas bewarna gelap layaknya pakaian kaum terpelajar berpendidikan Eropa. Dia terlihat semakin gagah dengan topi lebar yang bagian kirinya sedikit ditekuk ke atas. Walaupun memakai topi lebar dengan kumis melintang, pria tersebut tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan empat orang pekerja yang ada di sana.

Empat orang pekerja tersebut berpakaian sederhana dengan celana dan baju gombrong yang tidak dikancingkan. Kepala mereka tidak ditutupi topi, tetapi dengan balutan kain yang menyerupai sorban atau destar. Di sebelah kanan pria perlente tersebut berdiri seorang pria yang sepertinya baru saja kembali dari ladang gambir karena masih memikul (menjunjung?) ambuang. Ambuang adalah sejenis keranjang rotan atau bambu dengan tinggi kira-kira 1,2 meter berbentuk kerucut yang dipotong ujungnya. Ambuang merupakan tempat untuk mengumpulkan ranting-ranting gambir yang sudah dipotong sekaligus untuk mengangkatnya menuju ke pondok pengempaan. Pemakaian ambuang akan memudahkan pekerja karena daun dan ranting yang diambil biasya memiliki ketinggian 1,2-1,5 meter. Anyaman bambu atau rotan yang tidak terlalu rapat merupakan pembeda antara ambuang dengan katidiang maupun keranjang biasa. Oleh karenanya pekerja akan memegang lobang yang ada pada dinding ambuang dengan mengikatkan kain pada bagian bawah sambil digantungkan pada kening pekerja. Hal ini dilakukan karena medan yang dihadapi adalah perbukitan dengan kelerangan antara 40 s/d 60 derajat. Dengan alat seperti ini akan sangat memudahkan untuk membawa ranting gambir ke pondok pengempaan.

Dihadapan pria yang sedang memikul ambuang berdiri pria dengan memegang sebuah martil berukuran besar. Martil itu merupakan alat bantu dalam proses ekstraksi getah gambir. Palu digunakan untuk memukul bajiBaji adalah bilah kayu yang dijadikan sebagai pendorong sopik ataupun kacik untuk mengepres gambir selesai direbus. Sopik atau juga kacik adalah alat press sederhana yang digunakan untuk mengeluarkan getah gambir yang selesai di rebus. Semakin dipukul baji akan menjepit gambir yang dibalut dengan tali. Pada gambar tersebut terlihat dua buah sopik yang disandarkan di dinding pondok.

Sebelum dipress sebagaimana dikemukakan di atas, gambir tersebut terlebih dahulu direbus pada tungku besar dengan kancah atau kuali (wajan) besar di atasnya. Sebelum direbus daun dan ranting gambir di padatkan pada sebuah alat yang disebut kopuak.Kopuak adalah sebuah alat berbentuk lingkaran yang bagian atas dan bawahnya terbuka, seperti drum yang tidak memiliki tutup dan alas. Biasanya kopuak terbuat dari kulit pohon tarok. Selesai dipadatkan lalu direbus sampai pada suhu tertentu yang ditandai dengan warna air rebusan yang berwarna kecoklatan. Selanjutnya dari kancah dibalut dengantali palilik untuk ditempatkan pada alat yang disebut sopik atau kocik di atas.

Hasil rebusan ditampung dan dialirkan pada sebuah lobang kedap air untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam alat yang disebut paraku. Paraku terbuat dari papan yang menyerupai bak penampungan sedernaha dengan ukuran selebar papan baik tinggi maupun lebarnya. Dalam paraku inilah terjadi proses pengendapan. Endapan getah yang mengandung katechin dan bahan lainnya akan tetinggal dalam paraku seiring dengan air yang meresap atau menguap. Setelah air mulai berkurang, getah yang masih basah tersebut lalu di ditumpuk pada suatu tempat dengan diberi tekanan kecil diatasnya agar kadar airnya berkurang. Bila kadar air sudah berkurang maka gambir siap dicetak.

Alat yang digunakan untuk mencetak lumpang tersebut disebut cupakCupak terbuat dari seruas bambu kecil yang dipotong kedua ujungnya. Pada satu bagian disiapkan alat penekan agar dapat mengeluarkan gambir dari cupak tersebut. Dengan demikian bentuk dan ukuran gambir yang dihasilkan akan sama ukurannya.

Setiap gambir yang selesai dicetak dengan cupak akan diletakkan di atas samia. Samia adalah anyaman bambu berukuran satu kali dua meter tempat meletakkan gambir yang telah dicetak sekaligus tempat menjemurnya. Dihadapan pria perlente dengan senyum tipis tersebut terlihat seorang pria yang sedang mencetak gambir dalam bentuk lumpang dan meletakkannya di atas sebuah samia.

Setelah gambir tersusun di atas samia maka gambir tersebut lalu dikeringkan dengan menggunakan panas matahari selama beberapa hari. Biasanya dibutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk mengeringkan gambir sehingga bisa disimpan di katidiang untuk selanjutnya di bawa pulang dan dijual ke pasar.

Secara umum proses panen daun gambir sampai siap untuk dibawa pulang adalah selama lima sampai enam hari. Pekerja pengolah gambir yang biasanya berjumlah tiga sampai empat orang ini berangkat menuju ladang gambir sehari setelah hari pasar di nagari tempat mereka tinggal. Pada hari itu semua perlengkapan dibawa seperti beras, lauk pauk, minyak, sampai dengan rokok atau daun dan tembakau. Setelah lima hari bekerja, mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri membawa gambir hasil panenan mereka ke pasar. Gambir lalu dijual kepada pedagang pengumpul dengan satuan penjualan pikols. Hasilnya lalu dibagi dua antara pemilik lahan dengan para pekerja tersebut. Pemilik lahan biasanya adalah orang terpandang di suatu nagari. Mereka inilah yang membiayai pengolahan kebun gambir sehingga siap panen serta biaya para pekerja untuk pergi ke pondok pengempaan selama lima hari. Hasil setengahnya lagi dibagi rata antara pekerja yang ikut.

Demkianlah, pengolahan gambir yang terjadi di daerah yang kini menjadi wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota. Proses dan mekanisme ini sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Gambar yang diambil satu abad yang lalu tersebut menjadi bukti bahwa gambir memang sudah lama diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota terutama yang berada di daerah (kini) Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Harau, Kecamatan Bukik Barisan, dan Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Sebuah data statistik yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1865 s/d 1869 memperlihatkan jumlah gambir yang dibawa keluar Sumatera Barat (Sumatra’s Weskust) dalam jumlah yang cukup besar. Pada tahun 1865 misalnya, gambir yang dikirim adalah sebanyak 8978 pikols. Dengan asumsi 1 pikols sama dengan 50 kilogram maka tahun tersebut dikapalkan sebanyak hampir 450 ton gambir dengan berbagai tujuan. Tabel di bawah ini dapat menggambarkan fluktuasi pengiriman gambir melalui pelabuhan Emmahaven (teluk bayur). Data ini sepertinya belum memasukkan lalu lintas gambir melalui wilayah timur yang berpusat di Nagari Pangkalan sekarang ini. Data komditi lainnya dapat dilihat pada tabel di bawah,

Perkembangan komoditi yang dihasilkan di Sumatra's Weskust dikirimkan melalaui pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven)

Kini, tahun 2014, setelah lebih kurang satu abad gambar tersebut diambil, ketika para pekerja dan pria perlente tersebut telah lama dipanggil oleh yang maha kuasa, belum terjadi perubahan yang berarti. Lihatlah gambar pengolahan gambir di bawah ini.

Daun gambir yang telah dimampatkan utk selanjutnya di rebus

Serangkaian gambar di bawah merupakan kondisi kekinian dari proses pengolahan gambir yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota. Bila dibandingkan dengan kondisi satu abad yang lalu tidak terdapat perubahan yang berarti. Secara umum proses pengolahan masih menggunakan teknik yang sama. Mulai dari proses panen daun/ranting gambir hingga penjemuran bahkan penjualannya ke pasar. Singkat kata (industri) pengolahan gambir dalam seratus tahun terakhir tidak tersentuh perubahan atau revolusi.

Daun yang selisai direbus diletakkan pada alat pengempaan yang menggunakan dongkrak

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, gambir memang sangat menarik untuk dibicarakan. Bukan hanya karena ekspose media masa tentang nasib petani gambir yang semakin tajam, akan tetapi juga ketertarikan para peneliti, birokrat dan dunia industri tentang manfaat gambir ini.

Proses pengempaan dengan menggunakan dongkrak

Ketertarikan media masa pada komoditi gambir adalah pada saat harga gambir jatuh tajam akibat berkurangnya permintaan luar negeri (ekspor). Pengurangan permintaan tersebut dapat diakibatkan dari (1) lahirnya kebijakan baru pada negara-negara pengkonsumsi gambir sebagai bagian dari sebuah produk akhir entah itu berupa Pan Masala dan Gutkha di kawasan Asia Selatan, atau (2) sebagai dampak dari meningkatnya supply bahan substitusi kathecu yang berasal dari tanaman lain seperti pinang dan lain sebagainya, termasuk juga (3)ketika terjadi penguatan nilai tukar rupiah terhadap US dollar.

Cairan hasil pengempaan diendapkan beberapa hari dalam paraku

Ketika kondisi itu terjadi, di media massa akan keluar judul berita kira-kira seperti ini “Harga Gambir Anjlok, Petani di Kecamatan X, Y dan Z menjerit, Pemerintah tidak berbuat apa-apa.” Berita seperti bisa begitu mengguncang ditengah masyarakat dalam waktu pendek. Terkadang bisa sampai sayup-sayup ke DPRD. Namun demikain bila kondisi sudah normal kembali, harga merangkak naik tak ada lagi media massa yang mengekspose-nya. Semua menjadi senyap kembali ketika petani dan pekerja gambir menikmati rupiah yang melimpah dari hasil panen mereka.

Getah gambir yang selesai diendapkan ditiriskan untuk mengurangi kadar air

Bila hingar bingar dengan judul berita bombastis di surat kabar seperti pasang surut air laut, maka tidak demikian halnya dengan senyapnya berita tentang apa yang dilakukan oleh lembaga riset dan peneliti dan pemerintah. Semua meyadari bahwa selagi harga gambir mampu memuaskan petani, mereka tidak akan dilirik sama sekali (kalau tidak ingin disebut dilupakan). Berbagai hal coba dilakukan. Tetapi tidak pernah berdampak langsung pada kenaikan dan stabilitas harga. Pemerintah memang tidak mungkin atau sangat sulit masuk ke pasar karena dibatasi oleh ketatnya peraturan dan perundag-undangan yang bisa saja berujung pada tuduhan tindak pidana korupsi, di samping gambir juga bukan bahan yang digunakan sebagai bahan baku dalam menghasilkan suatu produk akhir. Tidak ada end user gambir di sini, bahkan untuk pemakan sirihpun sudah sangat jarang terlihat.

Gambir yang telah diendapkan diceetak dengan menggunakan cupak dan diletakan di atas samia

Oleh karenanya, tidak tampak upaya nyata dari berbagai pihak untuk memperbaiki nasib petani dan pekerja pengolah gambir. Akibatnya peneliti, pemerintah, petani, pemerhati (media massa) sering berjalan sendiri-sendiri. Sangat sulit mendapatkan titik temu diantara bebagai pemangku kepentingan tersebut. Akibatnya jargon Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai penghasil gambir terbesar di Indonesia hanyalah sebuah ungkapan pemanis yang hanya diketahui oleh segelintir orang di Lima Puluh Kota, karena gambir bukanlah hajat hidup orang banyak sekalipun itu di Lima Puluh Kota.

SNI1-3391-2000 tentang Mutu Gambir

Namun demikian, lembaga pemikir, peneliti, pemerintah, maupun perguruan tinggi sebenarnya tetap berupaya untuk melakukan perubahan. Pemerintah, misalnya, pada tahun 2000 telah mengeluarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3391-2000 : Tentang Mutu Gambir, yang dibagi atas 2 kelompok mutu yaitu Mutu I dan Mutu II (lihat gambar). Selama hampir 14 tahun SNI tersebut dikeluarkan tidak terjadi perubahan yang berarti pada gambir yang dihasilkan. Alih-alih mengikuti standar mutu gambir tersebut petani malah mengikuti selera pedagang pengumpul sebagai tangan kanan ekpsortir. Karenanya, isu tentang gambir yang dicampur dengan tanah, tanah liat sampai dengan pupuk kimia sudah menjadi rahasia umum. Semuanya tergantung kepada permintaan pasar dalam hal ini pedagang pengumpul. Sudah dapat dipastikan ditengah-tengah masyarakat (petani dan pekerja) mutu sesuai SNI sering kali menjadi olok-olok dan bahan guyonan saja.

Kembali ke proses produksi, sebagaimana dikemukakan pada bagian awal, perubahan dalam metode dan teknik produksi hanya sedikit terjadi. Bila dulu untuk melakukan ekstraksi menggunakan sopik dan kocik yang dibantu dengan menggunakan baji, maka sekarang dipermudah dengan menggunakan dongkrak hidrolik. Di luar proses ekstraksi tersebut hampir tidak ada perubahan selama berabad-abad. Pun demikian dari sisi struktur produksi. Modal usaha, ongkos produksi dan bagi hasil semuanya tetap menggunakan sistem yang sudah dipakai turun temurun sejak berabad-abad yang lalu tersebut. Pendek kata dari sisi ekonomi, dari tahun ke tahun, fungsi atau struktur produksi gambir tetaplah menggunakan metode lama tersebut. Padahal, sisi ekonomi saat ini sebenarnya mengedepankan unsur efisiensi biaya produksi, kualitas, dan sifat ramah lingkungan.

Lembaga penelitian seperti LIPI, Balai Riset dan Standarisasi Industri (Baristand), peneliti perguruan tinggi, beberapa kali mencoba untuk meningkatkan nilai tambah dari gambir melalui produk akhir yang beragam. Ada banyak temuan, seperti masker, kosmetika, alat kesehatan, tinta stempel, tinta untuk pemilu, bahkan tenunan gambir pernah disampaikan pada kalangan terbatas. Sayang, temuan itu hanya dipandang sebelah mata. Penelitian hanya diingat bila terjadi penurunan drastis pada harga gambir.

Sampel Tinta Gambir pada Pemilihan Wali Nagari Panampuang 12 Januari 2014

Beberapa orang mencoba untuk tetap konsisten melakukan uji coba dan penemuan dari produk turunan gambir. Professor Amri Bachtiar dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas, misalnya selalu menjadi pembicara penting dalam diskusi tentang produk turunan gambir. Setiap waktu beliau memperkenalkan produk hilir dari gambir. Demikian juga dengan peneliti dari Baristand Padang, yang sudah merilis tinta Pemilu berbahan dasar gambir. Walau sempat diujicobakan pada Pilwako Payakumbuh tahun 2012, namun karena sesuatu dan lain hal tidak dapat diakui secara resmi. Penggunaan tinta tersebut kemudian terus dilakukan pada skala yang lebih kecil, kali ini pada pemilihan Wali Nagari Panampuang Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam tanggal 12 Januari 2014 yang lalu (lihat gambar). Masih banyak upaya dan percobaan yang dilakukan oleh lembaga tersebut, namun tampaknya nasih bersifat sporadis, karena mereka hanya lembaga penelitian.

Kotak Tinta Gambir yang digunakan dalam Pemilihan Wali Nagari Panampuang

Pemerintah daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten juga telah menyusun berbagaiaction plan. Namun selalu kandas dalam implementasi. Hal ini dikarenakan keterbatasan pemahaman dan pengetahuan berbagai kalangan tentang komoditi gambir tersebut. Sangat sedikit orang yang mengetahui apa itu gambir. Sebagai contoh, walaupun sebagian orang sering ke Stasiun Gambir atau Pasar Gambir di Jakarta tetapi sangat susah menjumpai orang yang mengetahui benda apa itu gambir. Pada umumnya orang menganggap gambir adalah buah yang diolah lalu dikeringkan; batangnya besar, buahnya lebat.

Pernah terbit secercah harapan untuk secara perlahan menyadarkan petani tentang mutu dari gambir yang mereka hasilkan. Melalui kelompok tani Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota telah mulai melakukan uji mutu gambir yang dihasikan oleh kelompok. Namun tidak ada yang peduli dengan hasil uji mutu tersebut. Semuanya berpendapat, mereka butuh uang. Mutu yang dihasilkan perkara belakangan.

Memang, tidak mudah merubah semuanya itu. Perlu sebuah revolusi agar gambir menjadi komoditi penting. Sayangnya, tidak ada yang tau, dari mana revolusi itu harus dimulai. Karena memang tidak diketahui dimana ujung dan dimana pangkalnya.

Wassalam

nspamenan@yahoo.com Kubang Gajah, 27 April 2014

 

[Foto saisuak] Sungai Muara Mahat di Kampar (1912)


Aliran Sungai Muara Mahat (sekitar tahun 1912)

Stroomversnelling in de Kampar, vermoedelijk bij Moearamahat bij Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Aliran sungai di Kampar, kemungkinan di Muara Mahat, Pangkalan Koto Baru)

Stroomversnelling in de Kampar, vermoedelijk bij Moearamahat bij Pangkalankotabaroe (terjemahan: “Aliran sungai di Kampar, kemungkinan di Muara Mahat, Pangkalan Koto Baru”)

Sumber foto : KITLV Leiden Belanda (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=moearamahat)

Metadata:

metadata muara mahat

Pemberian efek warna pada foto:

muara mahat1

[Foto saisuak] Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan pada tahun 1903


Di beberapa blog yang memuat foto2 jaman Belanda, foto ini diberi judul “Seruas jalan melintasi hutan alam Pangkalan Koto Baru”. Setelah saya telusuri sumber aslinya, ternyata lokasi tepatnya foto ini diambil berada dekat Nagari kita Koto Alam. Dunsanak bisa mengaksesnya langsung di tautan pustaka KITLV Leiden Belanda (http://media-kitlv.nl/image/05a4462b-9551-45ae-ac9b-987a0b3f48a1). KITLV adalah pustaka digital milik Universitas Leiden Belanda, memuat foto-foto yang dibuat kompeni Belanda selama masa penjajahannya di Indonesia.

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Pada metadatanya foto ini berjudul Weg van Kota Alam naar Pangkalan Kota Baroe, Sumatra’s Westkust (terjemahan: Jalan dari Kota Alam ke Pangkalan Kota Baroe, Pantai Barat Sumatra). Foto dibuat pada tahun 1903, ukurannya 13×18,5 cm. (Klik pada foto jika ingin melihat ukuran penuh).

kitlv leiden

Di foto terlihat jalan setapak dengan sisi bukit di sebelah kirinya, terdapat batu besar di tebing bukit. Coba kita poles foto hitam putih ini dengan efek pewarnaan,

koto alam pangkalan1

Kira-kira adakah dunsanak yang bisa mengenali dimana persisnya lokasi foto ini?

😀

(AHM).

Kekerabatan Harau, Koto Alam dan Pangkalan dalam Kisah Puti Sari Banilai


Cerita berikut ini adalah sinopsis mengenai kisah beberapa tokoh minang masa lampau, yang sejarahnya berkaitan erat dengan kekerabatan masyarakat Pangkalan Koto Baru dan Solok Bio-Bio (Harau), termasuk Nagari Koto Alam. Sumber tulisan ini saya dapatkan dari blog Ali Hasan, Dipl Hot. S.Sos. 

Berikut kisahnya,

Puti Sari Banilai adalah putri Datuak Tan Gadang,  (pucuak adat Nagari Solok Bio-Bio) yang merupakan seorang putri yang cantik dari suku Malayu dan kamanakan dari Datuak Majo Kayo. Sementara Datuak Sibijayo adalah pucuak adat di Pangkalan, suku Pitopang. Antara Datuak Sibijayo dengan Puti Sari Banilai mempunyai hubungan asmara, dimana Datuak Sibijayo merupakan induak Bako oleh Puti Sari Banilai yang juga mempunyai hubungan satu suku dengan Datuak Tan Godang.

Datuak Rajo Bandaro Putiah,  Suku Pitopang, kampung Sungai Rambai sudah lama ingin mempersunting Puti Sari Banilai, akan tetapi Puti Sari Banilai enggan karena sudah saling jatuh cinta dengan Datuk Sibijayo.

Untuk menghindari ini, mamak Puti Sari Banilai mengambil inisiatif dengan bermusyawarah dengan Datuak Paduko Rajo di Bukit Limau Manih, yang merupakan seorang datuk yang mempunyai kemenakan yang sangat berani.

Datuk Paduko Rajo ingin membantu agar Puti Sari Banilai menghilang ke Pangkalan untuk menhindari Datuak Rajo Bandaro Putiah. Setelah sampai di Bukik Gadih Koto Alam,  Puti Sari Banilai disambut oleh Datuak Sibijayo dan perangkatnya, diantaranya Datuak Damu anso, Datuak Bandaro dan Datuak Bosa.

Setelah pernikahan antara Datuak Sibijayo dengan Puti Sari Banilai, Datuak Panduko Rajo kembali pulang ke daerah Harau, akan tetapi di perjalanan dia takut untuk pulang, sehingga  diputuskan untuk menetap disebuah areal, yang sekarang dikenal sebagai Koto Ranah, Nagari Koto Alam.

Sementara itu,  mendengar Puti Sari Banilai menikah dengan Datuak Sibijayo, maka  Datuak Rajo Bandaro Putiah merasa kecewa dan sakit hati, dan dia memutuskan untuk menyendiri di atas Bukit Sungai Jambu.

Akhirnya Datuak Rajo Bandaro Putiah meninggal dunia di tempat itu, sehingga sampai sekarang lokasi tersebut diberi nama sebagai kuburan Rajo Badarah Putiah, (istilah Westernenk seorang Belanda, Tuan Luak Agam),berdasarkan cerita masyarakat, sebenarnya adalah kuburan Datuak Bandaro Putiah.

Asal muasal Puti Sari Banilai adalah keturunan Datuak Tumangguang, Pasukuan Melayu di Pangkalan. Sejak itulah disebut Pangkalan dengan istilah 4 ganjia, 5 gonok ( 4 ganjil: Datuak Bosa, Datuak Sibijayo, Datuak Damuanso dan Datuak Bandaro, 5 gonok: Datuak Tumangguang).

Lokasi Lokasi yang dilalui oleh Puti Sari Banilai :

Sarasah Tanggo
Perhentian Datuak Rajo Labiah (gurun) berunding dengan Datuak Sinaro Panjang untuk menemui Datuak Tan Godang Solok Bio-bio, untuk pergi ke Pangkalan

Sarasah Talang
Datuak Tan Gadang bersama Datuak Rajo Bandaro Putiah berhenti membicarkan kemana harus dicari Puti Sari Banilai yang telah pulang dari kampuang Padang Panjang, Solok Bio-bio.

Kandang Batu
Adalah tempat diamnya Kabau Datuak Tan Godang yang terkenal sebagai Pucuak Adat Nagari Solok Bio-bio.

Aka Barayun
Puti Sari Banilai bermalam tatkala berangkat dari rumahnya di Kampung Melayu Padang Panjang. Di tempat inilah Datuak Paduko Rajo seorang penunjuk jalan mendampingi rombongan Puti Sari Banilai, hendak menuju Landai dan terus ke Koto Ranah, terus ke Bukik Gadih Pangkalan.

Padang Rukam
Pengawal Puti Sari Banilai mengambil batang Rukam, batang Rukam tersebut dijadikan senjata untuk melindungi Puti Sari Banilai, yang dilakukan oleh anak buah Datuak Paduko Rajo.

Ngalau Saribu
Ngalau inilah yang digunakan oleh anak kemenakan Datuak Paduko Rajo untuk bermalam dalam perjalanan mengantarkan Puti Sari Banilai ke Pangkalan Koto Baru.

Bukik Sungai Jambu
Tempat makam Datuak Rajo Bandaro Putiah di Sungai Rambai.

Sedikit ulasan:
***Keturunan anak kemenakan Datuk Paduko Rajo Suku Pitopang kemudian berkembang di Koto Alam. Gelar adatnya masih dipakai hingga hari ini (Wali Nagari Koto Alam A.H. Datuk Paduko Rajo).

***Datuak Paduko Rajo dan kemenakanannya yang terkenal pemberani mengalir dalam watak keturunannya. (Opini saya)

***Keluarga besar saya sendiri masih menjalin hubungan kekeluargaan dengan dunsanak di Solok Bio-Bio. Secara turun temurun tetua keluarga besar saya yang di Koto Ranah selalu berpesan supaya jangan memutuskan hubungan dengan dunsanak di Solok Bio-Bio. Sehingga sampai saat ini, baik kami yang di Koto Ranah ataupun dunsanak yang di Solok Bio-Bio selalu menyempatkan saling berkunjung setiap tahun demi melestarikan hubungan silaturrahmi. Jika ada diantara anggota keluarga kami yang baralek, baik yang berada Koto Ranah maupun yang di Solok Bio-Bio, maka biasanya kami selalu saling mengundang dan berkunjung. Hal ini tentu tidak terlepas dari hubungan masa lampau keluarga besar kami dengan dunsanak Solok Bio-Bio, sebagaimana kisah diatas diceritakan. Orang2 tua kami juga menceritakan kisah yang persis sama kepada anak-anaknya tentang hubungan kekerabatan tersebut.

***Menurut penuturan ibu saya, tempat tinggal mula-mula Datuk Paduko Rajo di Koto Ranah berlokasi di belakang kedai Haji Juhar saat ini.

***Datuak Paduko Rajo mulanya berasal dari Bukik Limau Manih Sarilamak, area Kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Limapuluh Kota saat ini.

***Jika merujuk tambo, Datuak Tan Gadang dan Datuak Sinaro Panjang adalah dua tokoh minang yang ikut serta dalam rombongan Pariangan Padang Panjang yang mencari pemukiman baru ke daerah Luak Limopuluh. Dua datuak ini yang namanya tercantum dalam kisah diatas kemudian bermukim di daerah Harau saat ini. Datuak Tan Gadang dalam kisah diatas mungkin saja tokoh pertama yang mendiami daerah Harau atau bisa jadi kemenakan keturunannya yang memakai gelar adat serupa setelah beberapa generasi. (Hamdi)

%d blogger menyukai ini: