[foto saisuak] Peta Nagari Koto Alam Tahun 1880


Saya sangat tertarik menggali dokumen-dokumen sejarah zaman kolonial, khususnya nagari Koto Alam. Berbekal halaman pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda, saya berulang kali mengetikkan kata kunci yang berhubungan dengan nagari Koto Alam dan sekitarnya pada zaman Belanda. Dengan ditemukannya berbagai bukti sejarah yang otentik, kita menjadi sedikit tahu bagaimana fakta sebenarnya tentang tempat tinggal kita ini, terlepas dari dongeng mulut kemulut yang kita dengar dari orang-orang tua di kampung kita.

Saya bukan mahasiswa sejarah, namun saya banyak membaca literatur sejarah. Nagari Koto Alam ini, hanyalah pelintasan kecil dari jalur perdagangan Pantai Barat Sumatera ratusan tahun yang lalu. Sebagaimana sejarah-sejarah peradaban manusia masa lampau, orang-orang dahulu suka bermukim di daerah pinggiran sungai atau pertemuan dua sungai. Jadi, tidaklah kita heran mengapa tempat tinggal orang Koto Alam zaman dahulu itu berada di daerah Koto Lamo sekarang, yang merupakan pertemuan dua hilir sungai yang kita kenal saat ini sebagai Batang Ai Godang dan Ai Koto Lamo, bertemunya di Lubuk Tomuan.

Koto Alam yang begitu indah di lembah perbukitan yang datar dan subur, dimana terdapat beberapa sungai sebagai sumber air, mungkin telah menarik perhatian nenek moyang kita zaman dahulu untuk mendiami daerah ini. Sesuai dengan cerita yang kita dengar dari orang tua-tua, mula-mula Koto Alam dihuni oleh kaum Datuak Parpatiah Suku caniago. Kemudian rombongan Suku Pitopang Datuak Paduko Rajo ikut bermukim di Nagari Koto Alam, kisahnya berkaitan erat dengan kisah perjodohan Puti Sari Banilai Suku Malayu (Solok Bio-Bio) dengan Datuk Sibijayo Suku Pitopang (Pangkalan Koto Baru). Dalam perjalanannya Datuk Paduko Rajo (Pengawal Puti Sari Banilai) memutuskan untuk bertempat tinggal di perkampungan Koto Ronah sekarang. Baca kisahnya disini [link]

Terlepas dari cerita tersebut, kampung kita juga dikenal sebagai “ikua darek kapalo rantau” dan bahkan sebagai Nagari Tertua di Pangkalan Koto Baru. Dalam arsip Nagari Koto Alam disebutkan, di Koto Lamo banyak terdapat mejan (batu nisan raksasa) yang umurnya lebih tua dari Menhir. Jadi barangkali masyarakat asli Koto Alam sudah eksis semenjak zaman megalitikum (kebudayaan batu besar).

Sebagai daerah pelintasan, Koto Alam menghubungkan Payakumbuh dengan Pangkalan Koto Baru. Rute yang ditempuh manusia ratusan tahun lalu adalah Sarilamak – Harau – Landai – Hulu Air – Koto Alam terus ke Pangkalan Koto Baru. Sedangkan rute Sarilamak – Lubuk Bangku – Kelok Sembilan terus ke Pangkalan baru dibuka pada awal 1900-an.

Berikut ini sebuah foto yang saya temukan di pustaka digital KITLV Leiden Belanda [sumber], sebuah peta yang menggambarkan wilayah Payakumbuh dan sekitarnya pada tahun 1880.

Judul foto:
Blad Paja Koemboeh / opgenomen door den Mijn Ingenieur R.D.M. Verbeek met medewerking van den Topograaf De Groot en de Opzieners bij het Mijnwezen Naumann en De Corte / 1880

Terjemahan:
Journal Paja Koemboeh / dicatat oleh Insinyur Pertambangan RDM Verbeek dengan kerjasama dari topographer The Great dan uskup di Mines Naumann dan De Corte / 1880

Resolusi foto ini sangat besar, jadi saya crop foto ini setentang wilayah Nagari Koto Alam sekarang supaya lebih terlihat detail.

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Zooming lebih besar lagi,

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Informasi yang dapat kita baca dari peta ini saya rangkum sebagai berikut,

  1. Nama-nama Bukit di sekitar Koto Alam:
    – B. Siban
    – B. Tjawang
    – B. Sanggoel
    – B. Panindjawan
    – B. Tamiang
    – B. Tabala
    – B. Biang
    – B. Apieq
    – B. Batoeng
    – B. Koemajan
  2. Sungai-sungai yang mengalir di lembah Koto Alam:
    – S. Lakoeang Gadang, Ai Godang yang kita kenal sekarang. Berhulu di B. Sanggoel, hilirnya bertemu dengan Soengei Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – S. Tandjoeng Balieq, hilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – S. Lakoeq Batang, ilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – Soengei Sisamo, Ai Koto Lamo yang kita kenal sekarang
    – Soengei Ketjiel, hilirnya bertemu Soengai Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – Soengei Ngalau Tjiga
    – A. Sisamo

    *) Persepsi saya, mungkin juga foto saisuak Batang Samo Tahun 1912 berikut ini berlokasi di aliran Sungai Sisamo yang hulunya di Koto Lamo. Baca artikel saya tentang foto ini [klik]

    Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pakoemboeh dan Pangkalankotabaroe").

    Batang Samo / Soengei Sisamo pada tahun 1912. Batu sungainya mirip dengan bebatuan Ai Koto Lamo | KITLV Leiden

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo saat ini

  3. Fakta berikutnya adalah, di tahun itu 1880 Masehi, lokasi nama Koto Alam pada peta terletak persis di lokasi Koto Lamo saat ini. Jadi sejak dulu nagari kita yang bernama Koto Alam itu berlokasi di Koto Lamo sekarang. Namanya pada peta “Kotta Alam”.
  4. Dalam peta digambarkan rute jalan melalui Kota Toea (Koto Tuo, sekarang jadi kebun karet) lanjut ke Kotta Ranah (Koto ranah) terus ke Kotta Alam (Koto Lamo). Jadi dulu belum ada Koto Tangah, apalagi Simpang Tiga atau Polong Duo.
  5. Rute jalan lintas dari Sarilamak ke Pangkalan Koto Baru adalah: Saharie-Lamak – Terantang – Loeboeq Limpato – Padang Tarab – Harau – Padang Roekam – Robo – Landai – B. Apieq – Oeloe Ajer – B. Batoeng – menghiliri S. Lokoeng Gadang – Kotta Toea – Kotta Ranah – Kotta Alam – menghiliri sungai A. Sisamo – Kotta Baroe (Pangkalan).
    Peta Sarilamak - Hulu Air Tahun 1880

    Peta Rute Jalan Sarilamak – Hulu Air Tahun 1880

    Peta Pangkalan Koto Baru 1880

    Peta Rute Jalan Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru Tahun 1880

  6. Warna hijau pada wilayah Koto Alam menyatakan bahwa kandungan mineral di wilayah tersebut berupa batuan beku Gabro (hitam kehijauan) dan Dibase (abu-abu). Selain itu di wilayah ini berpotensi mangan.
  7. Daerah perbukitan di Barat Laut Koto Alam adalah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar dan Koeantan.
  8. Koto Alam adalah “grens tusschen Paja-Koemboeh en Pangkalan” , perbatasan antara Payakumbuh dan Pangkalan.
  9. Belum ada jalan yang menghubungkan Koto Alam dengan Mengilang (manggillang)

Kemudian terdapat lagi sebuah peta Kota Baharoe yang dibuat sekitaran tahun 1894-1897, [sumber]
Saya crop bagian wilayah Koto Alam, Pangkalan dan Manggilang saja.

"Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900" terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

“Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900” terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

Di sekitaran tahun 1894-1897 ini rute jalan yang dilalui dari Koto Alam ke Koto Baru Pangkalan adalah: Koto Toeo – Aoer Doeri – Koto Ranah – Batoe Oelar – Koto Alam (Koto Lamo) – Batoe Barlampin – menghiliri B. Samo terus ke Koto Baru Pangkalan. Hulu B. Samo/ Sisamo (Ai Koto Lamo) dalam peta ini dinamakan dengan Batang Loei. Warna hijau pada peta menunjukkan perkampungan yang telah dihuni penduduk. Sedangkan jalan yang menghubungkan Koto Alam ke Manggilang baru berupa jalan setapak.

Foto beikut ini jalan dari Koto Alam ke Pangkalan pada tahun 1903, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Pada tahun 1913 Belanda sudah mulai membangun jalan baru dari Lubuk Bangku – Koto Alam – Koto Baru (Pangkalan). Foto berikut kelok 17 (Bukik Lawa) di Koto Alam tahun 1913, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Sekarang kita tahu jalan lintas Koto Alam ke Pangkalan zaman dahulu itu rutenya melalui Koto Ranah. Orang-orang tua kita bercerita, Belanda datang mengkoordinir masyarakat Koto Alam (Koto Lamo saat itu) dengan menyebarkan isu akan terjadi bencana galodo sebab Bukik Sibincik akan runtuh. Sehingga berbondong-bondong masyakakat  pindah meninggalkan  Koto Lamo ke lokasi Koto Ronah, Koto Tangah, Simpang Tigo dan Polong Duo saat ini. Padahal tujuan mereka adalah ingin bermukim di pinggir jalan lintas rute Simpang Tigo – Manggilang yang baru dibangun oleh Belanda, karena dengan adanya rute Simpang Tigo – Manggilang menyebabkan jalur Koto Ronah – Pangkalan tidak akan ditempuh orang lagi. Maka beralihlah jalan para pedagang dari Sarilamak ke Pangkalan, yang dulunya melalui Koto Ranah sekarang melewati Simpang Tigo. Barangkali pembuatan jalan rute Koto Alam – Manggilang – Pangkalan adalah untuk membuka akses ke Manggilang yang sebelumnya terisolir.

Semenjak dibangun oleh Belanda, jalur Sarilamak – Lubuk Bangku – Koto Alam – Manggilang – Koto Baru (Pangkalan) sampai saat ini tetap menjadi jalan raya lintas Payakumbuh – Pangkalan yang berada di jalur Jalan Lintas Sumbar – Riau. Dampaknya, mayoritas penduduk Koto Alam yang sejak lama bermukim di jorong bawah (Koto Ronah, Koto Tangah), menjadi berada jauh dari jalan raya. Hal ini menyebabkan perkembangan ekonomi Nagari Koto Alam tertinggal dibandingkan Nagari Manggilang yang pemukiman penduduknya berada di pinggir-pinggir jalan raya yang dulu dibangun oleh Belanda ini.

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah Limapuluh Kota sudah mulai membangun kembali jalan dari Pangkalan menuju Koto Alam melalui Koto Lamo secara bertahap, mudah-mudahan nanti rute ini kembali dapat dilalui menjadi sarana transportasi untuk menunjang perkembangan ekonomi dan pertanian masyarakat Koto Alam. (hamdi)

Iklan

[Foto saisuak] Rumah di Pinggir Sungai Tanjung Balit (1877 – 1879)


tanjungbalit

Rumah di pinggir sungai Nagari Tanjung Balit, Pangkalan Koto Baru, zaman Belanda

Foto diatas bersumber dari koleksi pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda [ klik ]. Judulnya Huizen aan een rivier te Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (Rumah di Sungai Tanjung Balit, Payakumbuh). Dibuat sekitaran tahun 1877 – 1879 oleh orang Belanda yang melakukan perjalanan penelitian ke Sumatera Tengah.

zq

Metadata foto

Berikut ini foto yang saya perkirakan berada di lokasi yang sama, sebuah sungai yang dinamakan “Batang Poelan” di Nagari Tanjung Balit. Juga dibuat pada sekitaran tahun 1877 – 1879 oleh orang Belanda yang bernama Veth, D.D. Mungkin saja foto rumah di pinggir sungai yang saya tampilkan diatas berlokasi di tepi sungai “Batang Poelan” sebagaimana foto dibawah ini.

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: "Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh")

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: “Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh”)

Saat ini sudah tidak terdapat sungai di Nagari Tanjung Balit, karena semenjak tahun 1998 desa ini telah dijadikan genangan waduk oleh proyek PLTA Koto Panjang.

Sumber foto: KITLV Leiden Belanda [ klik ]

Metadata foto:

mtdt tjg blt

Pemberian efek warna pada foto:

batang pulan tjg balit1

*(ahm).

Foto-foto Petani Gambir Zaman Belanda


Foto-foto dibawah ini barangkali adalah petani gambir zaman Belanda yang berada di daerah Limapuluh Kota. Dilihat dari peralatan-peralatan dan cara mereka mengolah gambir sama persis dengan pengolahan gambir tradisional di wilayah Harau, Pangkalan, Kapur IX dan Kampar.

1. Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek (1920 – 1926)
Ko anak kewi sadang duduak mambao ambong, nak poi maambik le nampak a. Ado kopuk jo kapak lo dokek inyo.

petani gambir saisuak

Judul foto:
Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek
(Pengenalan memanen daun di pabrik gambir)

Keterangan:
Belanda: Repronegatief. Man zittend voor geoogste gambirbladeren in pakmanden. Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek
(Seorang laki-laki duduk untuk memanen daun gambir di “pakmanden”. Pengenalan memanen daun di pabrik gambir)
Inggris: Bringing in the factory baskets with harvested gambir leaves, Indonesia
(Membawa keranjang dengan daun gambir yang dipanen, Indonesia

Sumber foto:
Tropenmusem [ klik ]

2. Het drogen van gambir (1920 – 1926)

Ko karyawan kampaan ntah dimano-mano ge, ntah datuk datuk kito tapo iko ge ge ahaha. Masuk gayaa kang. Nan togak manjujong ambong manjungu ajo mode maibo (mode banyak utang jo induk somang). Nan mancetak gambi de Aderai baotot-otot. Ko nan bakopiah ge nodo ma nampak a, ntah nodo ntah pak wali zaman itu wkwkwkwk (matonyo seram kang). Tu nan duduk manjujong ambong olun makan le modee, maibo. Haahaha. Datuk-datuk kito ge kelihatan mamakai baju guntiang cino, mungkin zaman itu baju guntiang cino sadang ngetrend.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_drogen_van_gambir_TMnr_10012666

Judul foto:
Het drogen van gambir
(Pengeringan gambir)

Keterangan foto:
Belanda: Het drogen van gambir
(Pengeringan gambir)
Inggris: Drying of gambir in a gambir factory, Indonesia
(Mengeringkan gambir di pabrik gambir, Indonesia)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

3. Het drogen van gambir (1920 – 1926)

Ko anggota foto nan mua juo, sadang manjomu gambi. Ado lo ton anak ketek poi jo Aba ka ladang.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_drogen_van_gambir_TMnr_10012667Judul foto:
Het drogen van gambir
(Mengeringkan gambir)

Keterangan:
Belanda:  Drie mannen en een kind poseren bij stellage waar gambirblokjes gedroogd worden
(Tiga laki-laki dan seorang bocah berpose di tempat pengeringan gambir yang sudah dicetak)
Inggris:  Drying if gambir in the sun, Indonesia
(Mengeringkan gambir dengan sinar matahari)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

4.  Oven in een gambirfabriek (1920 – 1926)

Ko wak agie namonyo Mak Udin (aso-asoo keo). Mamak Udin nan ganteng ge sadang manyaloan api tungku. Sunguik-sunguik Mak Udin maniru sunguik Jenderal Balando pulo modee. Mungkin Mak Udin fans jo tentara Balando zaman itu.

411px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Oven_in_een_gambirfabriek_TMnr_10012665

Judul foto:
Oven in een gambirfabriek
(Oven di pabrik gambir, hahahaah tungku kecean oven kue dek ugang balando)

Keterangan:
Inggris: The furnace in a gambir factory, Indonesia
(Tungku di pabrik gambir)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

5. De fabricage van gambir in de Padangsche Bovenlanden (1910 – 1919)

Nan iko foto datuk-datuk boyband sadang mangampo.  La pernah wak cariotoan dulu ge, baco disiko [ klik ]

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_fabricage_van_gambir_in_de_Padangsche_Bovenlanden_TMnr_10012664

Foto Koto Alam dilihat dari Citra Satelit


Beberapa waktu lalu Google Maps memperluas jangkauan citra satelitnya. Area-area di bumi yang sebelumnya masih tertutup akses Google Maps, sekarang sudah bisa dilihat dengan penampakan real pada ketinggian 20 meter (100 kaki). Wilayah Nagari Koto Alam termasuk area yang saat ini telah bisa kita akses penampakan realnya. Jika ingin mengakses langsung menggunakan komputer silahkan kunjungi link ini [klik disini]

Berikut foto-foto penampakan Nagari Koto Alam dari citra satelit Google Maps

KTA

Nagari Koto Alam

MIRING

Dilihat dengan kemiringan

ktr1

Koto Ronah

KTT

Koto Tongah

pld

Polong Duo

sp3

Simpang Tigo

ktolamo

Koto Lamo

lbk

Lubuk Alai, Palo Bondo, Lubuk Kanca

batin

Lubuk Tampo, Lubuk Batin, Kampong Dalam

sawa lowe

Sawa Lowe

[Foto saisuak] Petani Gambir sedang “Mangampo” (1910 – 1919)


 

Petani gambir zaman Belanda (1910 - 1919)

Petani gambir di zaman Belanda (1910 – 1919)

Foto diatas bersumber dari koleksi Tropenmuseum Amsterdam Belanda, berjudul “De fabricage van gambir in de Padangsche Bovenlanden” (Terjemahan: “Pembuatan gambir di Padang wilayah atas”). Dibuat sekitaran tahun 1910 – 1919.

Menurut ulasan salah satu blog, foto tersebut adalah para petani gambir yang berada di sebuah lereng perbukitan sekitar Harau atau Pangkalan.

Berikut ini saya kutipkan posting blog yang menceritakan mengenai foto tersebut,

 

GAMBIR, REVOLUSI TAK BERUJUNG (PANGKAL)
(http://parintangrintang.wordpress.com/2014/04/28/gambir-revolusi-tak-berujung-pangkal)

Hari itu, disekitar tahun 1910-an, menjelang tengah hari, matahari terlihat begitu sumringah memancarkan cahanya. Bayangan kecil masih condong ke arah barat. Di sebuah lereng perbukitan, di sekitar Harau atau Pangkalan, sebuah pondok pengempaan gambir tampak cukup ramai. Tidak seperti biasanya, dimana orang-orang sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Kali ini semua orang berkumpul di depan pintu masuk pondok pengempaan. Tidak hanya para pekerja, peralatan dan gambir yang sudah keringpun tampak ditaruh di luar.

Rumah Kempa Gambir satu  abad yang lalu

Rumah Kempa Gambir satu abad yang lalu

Hari itu adalah hari istimewa. Seorang pribumi terpandang yang menjadi orang kepercayaan kolonial Belanda datang mengunjungi pondok pengempaan tersebut. Tujuannya adalah untuk melakukan inspeksi tentang kualitas dan mutu gambir yang dihasilkan. Para pekerja itu adalah para petani (tepatnya pekerja) yang mengolah tanaman gambir atau uncharia gambier robx menjadi gambir lumpang. Gambir lumpang biasanya dikonsumsi sebagai pelengkap makan sirih; kalau tidak, akan dikirim ke Emmahaven (teluk bayur). Melalui pelabuhan Emmahaven tersebut gambir yang menjadi komoditi penting dari Afdeeling Lima Puluh Kota selanjutnya dikapalkan ke seberang lautan; entah ke India yang menjadi jajahan Inggris atau ke Batavia yang selanjutnya disebarkan ke seluruh wilayah di Pulau Jawa.

Tidak seperti biasanya, kedatangan pria perlente tersebut didampingi oleh seorang fotografer berkebangsaan Belanda. Oleh karenanya, kepada para pekerja pondok pengempaan gambir tersebut diminta untuk mempersiapkan segala hal yang dapat menggambarkan tentang peralatan dan proses sederhana pengolahan gambir menjadi gambir lumpang (demikian dikenal oleh masyarakat). Proses pemotretan pun dimulai. Mungkin ada beberapa gambar yang diambil, namun gambar di atas yang merupakan koleksi Tropen Museum Belanda yang berjudul De Fabricage van Gambir dapat menggambarkan secara tepat tentang pengolahan gambir di Afdeeling Lima Puluh Kota.

Dalam gambar, yang bagi sebagian orang mungkin tidak menarik ini, pria separuh baya tersebut terlihat begitu gagah memakai baju safari berkancing lima berukuran besar. Baju safari tersebut memiliki empat kantong yang kesemuanya telihat berisi (penuh). Ditangan kirinya menggantung sebuah jas bewarna gelap layaknya pakaian kaum terpelajar berpendidikan Eropa. Dia terlihat semakin gagah dengan topi lebar yang bagian kirinya sedikit ditekuk ke atas. Walaupun memakai topi lebar dengan kumis melintang, pria tersebut tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan empat orang pekerja yang ada di sana.

Empat orang pekerja tersebut berpakaian sederhana dengan celana dan baju gombrong yang tidak dikancingkan. Kepala mereka tidak ditutupi topi, tetapi dengan balutan kain yang menyerupai sorban atau destar. Di sebelah kanan pria perlente tersebut berdiri seorang pria yang sepertinya baru saja kembali dari ladang gambir karena masih memikul (menjunjung?) ambuang. Ambuang adalah sejenis keranjang rotan atau bambu dengan tinggi kira-kira 1,2 meter berbentuk kerucut yang dipotong ujungnya. Ambuang merupakan tempat untuk mengumpulkan ranting-ranting gambir yang sudah dipotong sekaligus untuk mengangkatnya menuju ke pondok pengempaan. Pemakaian ambuang akan memudahkan pekerja karena daun dan ranting yang diambil biasya memiliki ketinggian 1,2-1,5 meter. Anyaman bambu atau rotan yang tidak terlalu rapat merupakan pembeda antara ambuang dengan katidiang maupun keranjang biasa. Oleh karenanya pekerja akan memegang lobang yang ada pada dinding ambuang dengan mengikatkan kain pada bagian bawah sambil digantungkan pada kening pekerja. Hal ini dilakukan karena medan yang dihadapi adalah perbukitan dengan kelerangan antara 40 s/d 60 derajat. Dengan alat seperti ini akan sangat memudahkan untuk membawa ranting gambir ke pondok pengempaan.

Dihadapan pria yang sedang memikul ambuang berdiri pria dengan memegang sebuah martil berukuran besar. Martil itu merupakan alat bantu dalam proses ekstraksi getah gambir. Palu digunakan untuk memukul bajiBaji adalah bilah kayu yang dijadikan sebagai pendorong sopik ataupun kacik untuk mengepres gambir selesai direbus. Sopik atau juga kacik adalah alat press sederhana yang digunakan untuk mengeluarkan getah gambir yang selesai di rebus. Semakin dipukul baji akan menjepit gambir yang dibalut dengan tali. Pada gambar tersebut terlihat dua buah sopik yang disandarkan di dinding pondok.

Sebelum dipress sebagaimana dikemukakan di atas, gambir tersebut terlebih dahulu direbus pada tungku besar dengan kancah atau kuali (wajan) besar di atasnya. Sebelum direbus daun dan ranting gambir di padatkan pada sebuah alat yang disebut kopuak.Kopuak adalah sebuah alat berbentuk lingkaran yang bagian atas dan bawahnya terbuka, seperti drum yang tidak memiliki tutup dan alas. Biasanya kopuak terbuat dari kulit pohon tarok. Selesai dipadatkan lalu direbus sampai pada suhu tertentu yang ditandai dengan warna air rebusan yang berwarna kecoklatan. Selanjutnya dari kancah dibalut dengantali palilik untuk ditempatkan pada alat yang disebut sopik atau kocik di atas.

Hasil rebusan ditampung dan dialirkan pada sebuah lobang kedap air untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam alat yang disebut paraku. Paraku terbuat dari papan yang menyerupai bak penampungan sedernaha dengan ukuran selebar papan baik tinggi maupun lebarnya. Dalam paraku inilah terjadi proses pengendapan. Endapan getah yang mengandung katechin dan bahan lainnya akan tetinggal dalam paraku seiring dengan air yang meresap atau menguap. Setelah air mulai berkurang, getah yang masih basah tersebut lalu di ditumpuk pada suatu tempat dengan diberi tekanan kecil diatasnya agar kadar airnya berkurang. Bila kadar air sudah berkurang maka gambir siap dicetak.

Alat yang digunakan untuk mencetak lumpang tersebut disebut cupakCupak terbuat dari seruas bambu kecil yang dipotong kedua ujungnya. Pada satu bagian disiapkan alat penekan agar dapat mengeluarkan gambir dari cupak tersebut. Dengan demikian bentuk dan ukuran gambir yang dihasilkan akan sama ukurannya.

Setiap gambir yang selesai dicetak dengan cupak akan diletakkan di atas samia. Samia adalah anyaman bambu berukuran satu kali dua meter tempat meletakkan gambir yang telah dicetak sekaligus tempat menjemurnya. Dihadapan pria perlente dengan senyum tipis tersebut terlihat seorang pria yang sedang mencetak gambir dalam bentuk lumpang dan meletakkannya di atas sebuah samia.

Setelah gambir tersusun di atas samia maka gambir tersebut lalu dikeringkan dengan menggunakan panas matahari selama beberapa hari. Biasanya dibutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk mengeringkan gambir sehingga bisa disimpan di katidiang untuk selanjutnya di bawa pulang dan dijual ke pasar.

Secara umum proses panen daun gambir sampai siap untuk dibawa pulang adalah selama lima sampai enam hari. Pekerja pengolah gambir yang biasanya berjumlah tiga sampai empat orang ini berangkat menuju ladang gambir sehari setelah hari pasar di nagari tempat mereka tinggal. Pada hari itu semua perlengkapan dibawa seperti beras, lauk pauk, minyak, sampai dengan rokok atau daun dan tembakau. Setelah lima hari bekerja, mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri membawa gambir hasil panenan mereka ke pasar. Gambir lalu dijual kepada pedagang pengumpul dengan satuan penjualan pikols. Hasilnya lalu dibagi dua antara pemilik lahan dengan para pekerja tersebut. Pemilik lahan biasanya adalah orang terpandang di suatu nagari. Mereka inilah yang membiayai pengolahan kebun gambir sehingga siap panen serta biaya para pekerja untuk pergi ke pondok pengempaan selama lima hari. Hasil setengahnya lagi dibagi rata antara pekerja yang ikut.

Demkianlah, pengolahan gambir yang terjadi di daerah yang kini menjadi wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota. Proses dan mekanisme ini sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Gambar yang diambil satu abad yang lalu tersebut menjadi bukti bahwa gambir memang sudah lama diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota terutama yang berada di daerah (kini) Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Harau, Kecamatan Bukik Barisan, dan Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Sebuah data statistik yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1865 s/d 1869 memperlihatkan jumlah gambir yang dibawa keluar Sumatera Barat (Sumatra’s Weskust) dalam jumlah yang cukup besar. Pada tahun 1865 misalnya, gambir yang dikirim adalah sebanyak 8978 pikols. Dengan asumsi 1 pikols sama dengan 50 kilogram maka tahun tersebut dikapalkan sebanyak hampir 450 ton gambir dengan berbagai tujuan. Tabel di bawah ini dapat menggambarkan fluktuasi pengiriman gambir melalui pelabuhan Emmahaven (teluk bayur). Data ini sepertinya belum memasukkan lalu lintas gambir melalui wilayah timur yang berpusat di Nagari Pangkalan sekarang ini. Data komditi lainnya dapat dilihat pada tabel di bawah,

Perkembangan komoditi yang dihasilkan di Sumatra's Weskust dikirimkan melalaui pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven)

Kini, tahun 2014, setelah lebih kurang satu abad gambar tersebut diambil, ketika para pekerja dan pria perlente tersebut telah lama dipanggil oleh yang maha kuasa, belum terjadi perubahan yang berarti. Lihatlah gambar pengolahan gambir di bawah ini.

Daun gambir yang telah dimampatkan utk selanjutnya di rebus

Serangkaian gambar di bawah merupakan kondisi kekinian dari proses pengolahan gambir yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota. Bila dibandingkan dengan kondisi satu abad yang lalu tidak terdapat perubahan yang berarti. Secara umum proses pengolahan masih menggunakan teknik yang sama. Mulai dari proses panen daun/ranting gambir hingga penjemuran bahkan penjualannya ke pasar. Singkat kata (industri) pengolahan gambir dalam seratus tahun terakhir tidak tersentuh perubahan atau revolusi.

Daun yang selisai direbus diletakkan pada alat pengempaan yang menggunakan dongkrak

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, gambir memang sangat menarik untuk dibicarakan. Bukan hanya karena ekspose media masa tentang nasib petani gambir yang semakin tajam, akan tetapi juga ketertarikan para peneliti, birokrat dan dunia industri tentang manfaat gambir ini.

Proses pengempaan dengan menggunakan dongkrak

Ketertarikan media masa pada komoditi gambir adalah pada saat harga gambir jatuh tajam akibat berkurangnya permintaan luar negeri (ekspor). Pengurangan permintaan tersebut dapat diakibatkan dari (1) lahirnya kebijakan baru pada negara-negara pengkonsumsi gambir sebagai bagian dari sebuah produk akhir entah itu berupa Pan Masala dan Gutkha di kawasan Asia Selatan, atau (2) sebagai dampak dari meningkatnya supply bahan substitusi kathecu yang berasal dari tanaman lain seperti pinang dan lain sebagainya, termasuk juga (3)ketika terjadi penguatan nilai tukar rupiah terhadap US dollar.

Cairan hasil pengempaan diendapkan beberapa hari dalam paraku

Ketika kondisi itu terjadi, di media massa akan keluar judul berita kira-kira seperti ini “Harga Gambir Anjlok, Petani di Kecamatan X, Y dan Z menjerit, Pemerintah tidak berbuat apa-apa.” Berita seperti bisa begitu mengguncang ditengah masyarakat dalam waktu pendek. Terkadang bisa sampai sayup-sayup ke DPRD. Namun demikain bila kondisi sudah normal kembali, harga merangkak naik tak ada lagi media massa yang mengekspose-nya. Semua menjadi senyap kembali ketika petani dan pekerja gambir menikmati rupiah yang melimpah dari hasil panen mereka.

Getah gambir yang selesai diendapkan ditiriskan untuk mengurangi kadar air

Bila hingar bingar dengan judul berita bombastis di surat kabar seperti pasang surut air laut, maka tidak demikian halnya dengan senyapnya berita tentang apa yang dilakukan oleh lembaga riset dan peneliti dan pemerintah. Semua meyadari bahwa selagi harga gambir mampu memuaskan petani, mereka tidak akan dilirik sama sekali (kalau tidak ingin disebut dilupakan). Berbagai hal coba dilakukan. Tetapi tidak pernah berdampak langsung pada kenaikan dan stabilitas harga. Pemerintah memang tidak mungkin atau sangat sulit masuk ke pasar karena dibatasi oleh ketatnya peraturan dan perundag-undangan yang bisa saja berujung pada tuduhan tindak pidana korupsi, di samping gambir juga bukan bahan yang digunakan sebagai bahan baku dalam menghasilkan suatu produk akhir. Tidak ada end user gambir di sini, bahkan untuk pemakan sirihpun sudah sangat jarang terlihat.

Gambir yang telah diendapkan diceetak dengan menggunakan cupak dan diletakan di atas samia

Oleh karenanya, tidak tampak upaya nyata dari berbagai pihak untuk memperbaiki nasib petani dan pekerja pengolah gambir. Akibatnya peneliti, pemerintah, petani, pemerhati (media massa) sering berjalan sendiri-sendiri. Sangat sulit mendapatkan titik temu diantara bebagai pemangku kepentingan tersebut. Akibatnya jargon Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai penghasil gambir terbesar di Indonesia hanyalah sebuah ungkapan pemanis yang hanya diketahui oleh segelintir orang di Lima Puluh Kota, karena gambir bukanlah hajat hidup orang banyak sekalipun itu di Lima Puluh Kota.

SNI1-3391-2000 tentang Mutu Gambir

Namun demikian, lembaga pemikir, peneliti, pemerintah, maupun perguruan tinggi sebenarnya tetap berupaya untuk melakukan perubahan. Pemerintah, misalnya, pada tahun 2000 telah mengeluarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3391-2000 : Tentang Mutu Gambir, yang dibagi atas 2 kelompok mutu yaitu Mutu I dan Mutu II (lihat gambar). Selama hampir 14 tahun SNI tersebut dikeluarkan tidak terjadi perubahan yang berarti pada gambir yang dihasilkan. Alih-alih mengikuti standar mutu gambir tersebut petani malah mengikuti selera pedagang pengumpul sebagai tangan kanan ekpsortir. Karenanya, isu tentang gambir yang dicampur dengan tanah, tanah liat sampai dengan pupuk kimia sudah menjadi rahasia umum. Semuanya tergantung kepada permintaan pasar dalam hal ini pedagang pengumpul. Sudah dapat dipastikan ditengah-tengah masyarakat (petani dan pekerja) mutu sesuai SNI sering kali menjadi olok-olok dan bahan guyonan saja.

Kembali ke proses produksi, sebagaimana dikemukakan pada bagian awal, perubahan dalam metode dan teknik produksi hanya sedikit terjadi. Bila dulu untuk melakukan ekstraksi menggunakan sopik dan kocik yang dibantu dengan menggunakan baji, maka sekarang dipermudah dengan menggunakan dongkrak hidrolik. Di luar proses ekstraksi tersebut hampir tidak ada perubahan selama berabad-abad. Pun demikian dari sisi struktur produksi. Modal usaha, ongkos produksi dan bagi hasil semuanya tetap menggunakan sistem yang sudah dipakai turun temurun sejak berabad-abad yang lalu tersebut. Pendek kata dari sisi ekonomi, dari tahun ke tahun, fungsi atau struktur produksi gambir tetaplah menggunakan metode lama tersebut. Padahal, sisi ekonomi saat ini sebenarnya mengedepankan unsur efisiensi biaya produksi, kualitas, dan sifat ramah lingkungan.

Lembaga penelitian seperti LIPI, Balai Riset dan Standarisasi Industri (Baristand), peneliti perguruan tinggi, beberapa kali mencoba untuk meningkatkan nilai tambah dari gambir melalui produk akhir yang beragam. Ada banyak temuan, seperti masker, kosmetika, alat kesehatan, tinta stempel, tinta untuk pemilu, bahkan tenunan gambir pernah disampaikan pada kalangan terbatas. Sayang, temuan itu hanya dipandang sebelah mata. Penelitian hanya diingat bila terjadi penurunan drastis pada harga gambir.

Sampel Tinta Gambir pada Pemilihan Wali Nagari Panampuang 12 Januari 2014

Beberapa orang mencoba untuk tetap konsisten melakukan uji coba dan penemuan dari produk turunan gambir. Professor Amri Bachtiar dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas, misalnya selalu menjadi pembicara penting dalam diskusi tentang produk turunan gambir. Setiap waktu beliau memperkenalkan produk hilir dari gambir. Demikian juga dengan peneliti dari Baristand Padang, yang sudah merilis tinta Pemilu berbahan dasar gambir. Walau sempat diujicobakan pada Pilwako Payakumbuh tahun 2012, namun karena sesuatu dan lain hal tidak dapat diakui secara resmi. Penggunaan tinta tersebut kemudian terus dilakukan pada skala yang lebih kecil, kali ini pada pemilihan Wali Nagari Panampuang Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam tanggal 12 Januari 2014 yang lalu (lihat gambar). Masih banyak upaya dan percobaan yang dilakukan oleh lembaga tersebut, namun tampaknya nasih bersifat sporadis, karena mereka hanya lembaga penelitian.

Kotak Tinta Gambir yang digunakan dalam Pemilihan Wali Nagari Panampuang

Pemerintah daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten juga telah menyusun berbagaiaction plan. Namun selalu kandas dalam implementasi. Hal ini dikarenakan keterbatasan pemahaman dan pengetahuan berbagai kalangan tentang komoditi gambir tersebut. Sangat sedikit orang yang mengetahui apa itu gambir. Sebagai contoh, walaupun sebagian orang sering ke Stasiun Gambir atau Pasar Gambir di Jakarta tetapi sangat susah menjumpai orang yang mengetahui benda apa itu gambir. Pada umumnya orang menganggap gambir adalah buah yang diolah lalu dikeringkan; batangnya besar, buahnya lebat.

Pernah terbit secercah harapan untuk secara perlahan menyadarkan petani tentang mutu dari gambir yang mereka hasilkan. Melalui kelompok tani Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota telah mulai melakukan uji mutu gambir yang dihasikan oleh kelompok. Namun tidak ada yang peduli dengan hasil uji mutu tersebut. Semuanya berpendapat, mereka butuh uang. Mutu yang dihasilkan perkara belakangan.

Memang, tidak mudah merubah semuanya itu. Perlu sebuah revolusi agar gambir menjadi komoditi penting. Sayangnya, tidak ada yang tau, dari mana revolusi itu harus dimulai. Karena memang tidak diketahui dimana ujung dan dimana pangkalnya.

Wassalam

nspamenan@yahoo.com Kubang Gajah, 27 April 2014

 

[Foto saisuak] Cabang Sungai Batang Samo di Koto Alam Tahun 1912


Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pajakoemboeh dan Pangkalankotabaroe").

Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: “Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pakoemboeh dan Pangkalankotabaroe”). Sekitar tahun 1912

Sumber foto: KITLV Leiden Belanda (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=batang+samo)

Metdata:

mtdt btg smo

 

Coba bandingkan dengan foto berikut ini, foto sungai Ai Koto Lamo (Batang Lui) di Koto Alam, yang merupakan hulu dari Batang Samo.

Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo

Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo saat ini

Persepsi saya kedua foto diatas berlokasi di tempat yang sama, karna kemiripan angle foto serta kesamaan bebatuaan sungai dan pemandangan di sekitar sungainya. Barangkali memang benar, karna jalan dari Pangkalan ke Sarilamak sebelum tahun 1913 jalurnya melewati lembah Koto Alam di sungai Ai Koto Lamo. Baru setelah Belanda membangun jalan rute Lubuk Bangku ke Pangkalan pada 1913, jalurnya melewati sisi bukit di Nagari Koto Alam sebagaimana saat ini.

[Foto saisuak] Sungai Muara Mahat di Kampar (1912)


Aliran Sungai Muara Mahat (sekitar tahun 1912)

Stroomversnelling in de Kampar, vermoedelijk bij Moearamahat bij Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Aliran sungai di Kampar, kemungkinan di Muara Mahat, Pangkalan Koto Baru)

Stroomversnelling in de Kampar, vermoedelijk bij Moearamahat bij Pangkalankotabaroe (terjemahan: “Aliran sungai di Kampar, kemungkinan di Muara Mahat, Pangkalan Koto Baru”)

Sumber foto : KITLV Leiden Belanda (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=moearamahat)

Metadata:

metadata muara mahat

Pemberian efek warna pada foto:

muara mahat1

%d blogger menyukai ini: