[foto saisuak] Peta Nagari Koto Alam Tahun 1880


Saya sangat tertarik menggali dokumen-dokumen sejarah zaman kolonial, khususnya nagari Koto Alam. Berbekal halaman pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda, saya berulang kali mengetikkan kata kunci yang berhubungan dengan nagari Koto Alam dan sekitarnya pada zaman Belanda. Dengan ditemukannya berbagai bukti sejarah yang otentik, kita menjadi sedikit tahu bagaimana fakta sebenarnya tentang tempat tinggal kita ini, terlepas dari dongeng mulut kemulut yang kita dengar dari orang-orang tua di kampung kita.

Saya bukan mahasiswa sejarah, namun saya banyak membaca literatur sejarah. Nagari Koto Alam ini, hanyalah pelintasan kecil dari jalur perdagangan Pantai Barat Sumatera ratusan tahun yang lalu. Sebagaimana sejarah-sejarah peradaban manusia masa lampau, orang-orang dahulu suka bermukim di daerah pinggiran sungai atau pertemuan dua sungai. Jadi, tidaklah kita heran mengapa tempat tinggal orang Koto Alam zaman dahulu itu berada di daerah Koto Lamo sekarang, yang merupakan pertemuan dua hilir sungai yang kita kenal saat ini sebagai Batang Ai Godang dan Ai Koto Lamo, bertemunya di Lubuk Tomuan.

Koto Alam yang begitu indah di lembah perbukitan yang datar dan subur, dimana terdapat beberapa sungai sebagai sumber air, mungkin telah menarik perhatian nenek moyang kita zaman dahulu untuk mendiami daerah ini. Sesuai dengan cerita yang kita dengar dari orang tua-tua, mula-mula Koto Alam dihuni oleh kaum Datuak Parpatiah Suku caniago. Kemudian rombongan Suku Pitopang Datuak Paduko Rajo ikut bermukim di Nagari Koto Alam, kisahnya berkaitan erat dengan kisah perjodohan Puti Sari Banilai Suku Malayu (Solok Bio-Bio) dengan Datuk Sibijayo Suku Pitopang (Pangkalan Koto Baru). Dalam perjalanannya Datuk Paduko Rajo (Pengawal Puti Sari Banilai) memutuskan untuk bertempat tinggal di perkampungan Koto Ronah sekarang. Baca kisahnya disini [link]

Terlepas dari cerita tersebut, kampung kita juga dikenal sebagai “ikua darek kapalo rantau” dan bahkan sebagai Nagari Tertua di Pangkalan Koto Baru. Dalam arsip Nagari Koto Alam disebutkan, di Koto Lamo banyak terdapat mejan (batu nisan raksasa) yang umurnya lebih tua dari Menhir. Jadi barangkali masyarakat asli Koto Alam sudah eksis semenjak zaman megalitikum (kebudayaan batu besar).

Sebagai daerah pelintasan, Koto Alam menghubungkan Payakumbuh dengan Pangkalan Koto Baru. Rute yang ditempuh manusia ratusan tahun lalu adalah Sarilamak – Harau – Landai – Hulu Air – Koto Alam terus ke Pangkalan Koto Baru. Sedangkan rute Sarilamak – Lubuk Bangku – Kelok Sembilan terus ke Pangkalan baru dibuka pada awal 1900-an.

Berikut ini sebuah foto yang saya temukan di pustaka digital KITLV Leiden Belanda [sumber], sebuah peta yang menggambarkan wilayah Payakumbuh dan sekitarnya pada tahun 1880.

Judul foto:
Blad Paja Koemboeh / opgenomen door den Mijn Ingenieur R.D.M. Verbeek met medewerking van den Topograaf De Groot en de Opzieners bij het Mijnwezen Naumann en De Corte / 1880

Terjemahan:
Journal Paja Koemboeh / dicatat oleh Insinyur Pertambangan RDM Verbeek dengan kerjasama dari topographer The Great dan uskup di Mines Naumann dan De Corte / 1880

Resolusi foto ini sangat besar, jadi saya crop foto ini setentang wilayah Nagari Koto Alam sekarang supaya lebih terlihat detail.

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Zooming lebih besar lagi,

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Peta Koto Alam Tahun 1880 | KITLV Leiden Belanda

Informasi yang dapat kita baca dari peta ini saya rangkum sebagai berikut,

  1. Nama-nama Bukit di sekitar Koto Alam:
    – B. Siban
    – B. Tjawang
    – B. Sanggoel
    – B. Panindjawan
    – B. Tamiang
    – B. Tabala
    – B. Biang
    – B. Apieq
    – B. Batoeng
    – B. Koemajan
  2. Sungai-sungai yang mengalir di lembah Koto Alam:
    – S. Lakoeang Gadang, Ai Godang yang kita kenal sekarang. Berhulu di B. Sanggoel, hilirnya bertemu dengan Soengei Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – S. Tandjoeng Balieq, hilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – S. Lakoeq Batang, ilirnya bertemu aliran S. Lakoeang Gadang
    – Soengei Sisamo, Ai Koto Lamo yang kita kenal sekarang
    – Soengei Ketjiel, hilirnya bertemu Soengai Sisamo (Lubuk Tomuan sekarang)
    – Soengei Ngalau Tjiga
    – A. Sisamo

    *) Persepsi saya, mungkin juga foto saisuak Batang Samo Tahun 1912 berikut ini berlokasi di aliran Sungai Sisamo yang hulunya di Koto Lamo. Baca artikel saya tentang foto ini [klik]

    Rivier, vermoedelijk een een zijtak van de Batang Samo tussen Pajakoemboeh en Pangkalankotabaroe (terjemahan: "Sungai, agaknya cabang dari Batang Samo antara Pakoemboeh dan Pangkalankotabaroe").

    Batang Samo / Soengei Sisamo pada tahun 1912. Batu sungainya mirip dengan bebatuan Ai Koto Lamo | KITLV Leiden

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo

    Ai Koto Lamo, Hulu Batang Samo/ Sisamo saat ini

  3. Fakta berikutnya adalah, di tahun itu 1880 Masehi, lokasi nama Koto Alam pada peta terletak persis di lokasi Koto Lamo saat ini. Jadi sejak dulu nagari kita yang bernama Koto Alam itu berlokasi di Koto Lamo sekarang. Namanya pada peta “Kotta Alam”.
  4. Dalam peta digambarkan rute jalan melalui Kota Toea (Koto Tuo, sekarang jadi kebun karet) lanjut ke Kotta Ranah (Koto ranah) terus ke Kotta Alam (Koto Lamo). Jadi dulu belum ada Koto Tangah, apalagi Simpang Tiga atau Polong Duo.
  5. Rute jalan lintas dari Sarilamak ke Pangkalan Koto Baru adalah: Saharie-Lamak – Terantang – Loeboeq Limpato – Padang Tarab – Harau – Padang Roekam – Robo – Landai – B. Apieq – Oeloe Ajer – B. Batoeng – menghiliri S. Lokoeng Gadang – Kotta Toea – Kotta Ranah – Kotta Alam – menghiliri sungai A. Sisamo – Kotta Baroe (Pangkalan).
    Peta Sarilamak - Hulu Air Tahun 1880

    Peta Rute Jalan Sarilamak – Hulu Air Tahun 1880

    Peta Pangkalan Koto Baru 1880

    Peta Rute Jalan Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru Tahun 1880

  6. Warna hijau pada wilayah Koto Alam menyatakan bahwa kandungan mineral di wilayah tersebut berupa batuan beku Gabro (hitam kehijauan) dan Dibase (abu-abu). Selain itu di wilayah ini berpotensi mangan.
  7. Daerah perbukitan di Barat Laut Koto Alam adalah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar dan Koeantan.
  8. Koto Alam adalah “grens tusschen Paja-Koemboeh en Pangkalan” , perbatasan antara Payakumbuh dan Pangkalan.
  9. Belum ada jalan yang menghubungkan Koto Alam dengan Mengilang (manggillang)

Kemudian terdapat lagi sebuah peta Kota Baharoe yang dibuat sekitaran tahun 1894-1897, [sumber]
Saya crop bagian wilayah Koto Alam, Pangkalan dan Manggilang saja.

"Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900" terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

“Kota Baharoe: opgenomen in 1894-1897 / door het Topographisch Bureau te Batavia uitgegeven in het 1e semester 1900” terjemahan: Kota Baharoe: disimpan di 1894-1897 / oleh Biro Topografi di Batavia yang dikeluarkan pada semester 1 1900

Di sekitaran tahun 1894-1897 ini rute jalan yang dilalui dari Koto Alam ke Koto Baru Pangkalan adalah: Koto Toeo – Aoer Doeri – Koto Ranah – Batoe Oelar – Koto Alam (Koto Lamo) – Batoe Barlampin – menghiliri B. Samo terus ke Koto Baru Pangkalan. Hulu B. Samo/ Sisamo (Ai Koto Lamo) dalam peta ini dinamakan dengan Batang Loei. Warna hijau pada peta menunjukkan perkampungan yang telah dihuni penduduk. Sedangkan jalan yang menghubungkan Koto Alam ke Manggilang baru berupa jalan setapak.

Foto beikut ini jalan dari Koto Alam ke Pangkalan pada tahun 1903, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Jalan dari Koto Alam ke Pangkalan Koto Baru tahun 1903 (Sumber: KITLV Belanda)

Pada tahun 1913 Belanda sudah mulai membangun jalan baru dari Lubuk Bangku – Koto Alam – Koto Baru (Pangkalan). Foto berikut kelok 17 (Bukik Lawa) di Koto Alam tahun 1913, baca artikel saya tentang foto ini [link]

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Jalan yang sedang dibangun di dataran sekitar Koto Alam tahun 1913 (Sumber: KITLV Leiden Belanda).

Sekarang kita tahu jalan lintas Koto Alam ke Pangkalan zaman dahulu itu rutenya melalui Koto Ranah. Orang-orang tua kita bercerita, Belanda datang mengkoordinir masyarakat Koto Alam (Koto Lamo saat itu) dengan menyebarkan isu akan terjadi bencana galodo sebab Bukik Sibincik akan runtuh. Sehingga berbondong-bondong masyakakat  pindah meninggalkan  Koto Lamo ke lokasi Koto Ronah, Koto Tangah, Simpang Tigo dan Polong Duo saat ini. Padahal tujuan mereka adalah ingin bermukim di pinggir jalan lintas rute Simpang Tigo – Manggilang yang baru dibangun oleh Belanda, karena dengan adanya rute Simpang Tigo – Manggilang menyebabkan jalur Koto Ronah – Pangkalan tidak akan ditempuh orang lagi. Maka beralihlah jalan para pedagang dari Sarilamak ke Pangkalan, yang dulunya melalui Koto Ranah sekarang melewati Simpang Tigo. Barangkali pembuatan jalan rute Koto Alam – Manggilang – Pangkalan adalah untuk membuka akses ke Manggilang yang sebelumnya terisolir.

Semenjak dibangun oleh Belanda, jalur Sarilamak – Lubuk Bangku – Koto Alam – Manggilang – Koto Baru (Pangkalan) sampai saat ini tetap menjadi jalan raya lintas Payakumbuh – Pangkalan yang berada di jalur Jalan Lintas Sumbar – Riau. Dampaknya, mayoritas penduduk Koto Alam yang sejak lama bermukim di jorong bawah (Koto Ronah, Koto Tangah), menjadi berada jauh dari jalan raya. Hal ini menyebabkan perkembangan ekonomi Nagari Koto Alam tertinggal dibandingkan Nagari Manggilang yang pemukiman penduduknya berada di pinggir-pinggir jalan raya yang dulu dibangun oleh Belanda ini.

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah Limapuluh Kota sudah mulai membangun kembali jalan dari Pangkalan menuju Koto Alam melalui Koto Lamo secara bertahap, mudah-mudahan nanti rute ini kembali dapat dilalui menjadi sarana transportasi untuk menunjang perkembangan ekonomi dan pertanian masyarakat Koto Alam. (hamdi)

Iklan

[Foto saisuak] Rumah di Pinggir Sungai Tanjung Balit (1877 – 1879)


tanjungbalit

Rumah di pinggir sungai Nagari Tanjung Balit, Pangkalan Koto Baru, zaman Belanda

Foto diatas bersumber dari koleksi pustaka digital KITLV Universitas Leiden Belanda [ klik ]. Judulnya Huizen aan een rivier te Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (Rumah di Sungai Tanjung Balit, Payakumbuh). Dibuat sekitaran tahun 1877 – 1879 oleh orang Belanda yang melakukan perjalanan penelitian ke Sumatera Tengah.

zq

Metadata foto

Berikut ini foto yang saya perkirakan berada di lokasi yang sama, sebuah sungai yang dinamakan “Batang Poelan” di Nagari Tanjung Balit. Juga dibuat pada sekitaran tahun 1877 – 1879 oleh orang Belanda yang bernama Veth, D.D. Mungkin saja foto rumah di pinggir sungai yang saya tampilkan diatas berlokasi di tepi sungai “Batang Poelan” sebagaimana foto dibawah ini.

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: "Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh")

De Batang Poelan bij Tandjoengbalit bij Pajakoemboeh (terjemahan: “Batang Poelan di Tandjoengbalit di Pajakoemboeh”)

Saat ini sudah tidak terdapat sungai di Nagari Tanjung Balit, karena semenjak tahun 1998 desa ini telah dijadikan genangan waduk oleh proyek PLTA Koto Panjang.

Sumber foto: KITLV Leiden Belanda [ klik ]

Metadata foto:

mtdt tjg blt

Pemberian efek warna pada foto:

batang pulan tjg balit1

*(ahm).

Foto-foto Petani Gambir Zaman Belanda


Foto-foto dibawah ini barangkali adalah petani gambir zaman Belanda yang berada di daerah Limapuluh Kota. Dilihat dari peralatan-peralatan dan cara mereka mengolah gambir sama persis dengan pengolahan gambir tradisional di wilayah Harau, Pangkalan, Kapur IX dan Kampar.

1. Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek (1920 – 1926)
Ko anak kewi sadang duduak mambao ambong, nak poi maambik le nampak a. Ado kopuk jo kapak lo dokek inyo.

petani gambir saisuak

Judul foto:
Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek
(Pengenalan memanen daun di pabrik gambir)

Keterangan:
Belanda: Repronegatief. Man zittend voor geoogste gambirbladeren in pakmanden. Het binnenbrengen van de geoogste gambirbladeren in de fabriek
(Seorang laki-laki duduk untuk memanen daun gambir di “pakmanden”. Pengenalan memanen daun di pabrik gambir)
Inggris: Bringing in the factory baskets with harvested gambir leaves, Indonesia
(Membawa keranjang dengan daun gambir yang dipanen, Indonesia

Sumber foto:
Tropenmusem [ klik ]

2. Het drogen van gambir (1920 – 1926)

Ko karyawan kampaan ntah dimano-mano ge, ntah datuk datuk kito tapo iko ge ge ahaha. Masuk gayaa kang. Nan togak manjujong ambong manjungu ajo mode maibo (mode banyak utang jo induk somang). Nan mancetak gambi de Aderai baotot-otot. Ko nan bakopiah ge nodo ma nampak a, ntah nodo ntah pak wali zaman itu wkwkwkwk (matonyo seram kang). Tu nan duduk manjujong ambong olun makan le modee, maibo. Haahaha. Datuk-datuk kito ge kelihatan mamakai baju guntiang cino, mungkin zaman itu baju guntiang cino sadang ngetrend.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_drogen_van_gambir_TMnr_10012666

Judul foto:
Het drogen van gambir
(Pengeringan gambir)

Keterangan foto:
Belanda: Het drogen van gambir
(Pengeringan gambir)
Inggris: Drying of gambir in a gambir factory, Indonesia
(Mengeringkan gambir di pabrik gambir, Indonesia)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

3. Het drogen van gambir (1920 – 1926)

Ko anggota foto nan mua juo, sadang manjomu gambi. Ado lo ton anak ketek poi jo Aba ka ladang.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_drogen_van_gambir_TMnr_10012667Judul foto:
Het drogen van gambir
(Mengeringkan gambir)

Keterangan:
Belanda:  Drie mannen en een kind poseren bij stellage waar gambirblokjes gedroogd worden
(Tiga laki-laki dan seorang bocah berpose di tempat pengeringan gambir yang sudah dicetak)
Inggris:  Drying if gambir in the sun, Indonesia
(Mengeringkan gambir dengan sinar matahari)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

4.  Oven in een gambirfabriek (1920 – 1926)

Ko wak agie namonyo Mak Udin (aso-asoo keo). Mamak Udin nan ganteng ge sadang manyaloan api tungku. Sunguik-sunguik Mak Udin maniru sunguik Jenderal Balando pulo modee. Mungkin Mak Udin fans jo tentara Balando zaman itu.

411px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Oven_in_een_gambirfabriek_TMnr_10012665

Judul foto:
Oven in een gambirfabriek
(Oven di pabrik gambir, hahahaah tungku kecean oven kue dek ugang balando)

Keterangan:
Inggris: The furnace in a gambir factory, Indonesia
(Tungku di pabrik gambir)

Sumber foto:
Tropenmuseum [ klik ]

5. De fabricage van gambir in de Padangsche Bovenlanden (1910 – 1919)

Nan iko foto datuk-datuk boyband sadang mangampo.  La pernah wak cariotoan dulu ge, baco disiko [ klik ]

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_fabricage_van_gambir_in_de_Padangsche_Bovenlanden_TMnr_10012664

%d blogger menyukai ini: