Wabup Limapuluh Kota Asyirwan Yunus Memberikan Bantuan pada Keluarga Korban Kebakaran di Koto Alam


image

image

Keluarga korban kebakaran, mendapatkan kunjungan khusus dari Wakil Bupati Limapuluh Kota, Asyirwan Yunus pada beberapa waktu lalu.Kedatangan Asyirwan Yunus dengan mobil dinas BA 5 C tersebut, disamput dengan rasa haru oleh keluarga korban kebakaran. Kurang dari sepekan pasca kebakaran yang menimpa rumah salah satu warga di Nagari Koto Alam Kecamatan Pangkalan Koto Baru, korban langsung mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota..

“Kita harap, keluarga tabah atas peristiwa kebakaran ini,” ujar Asyirwan Yunus bersama rombongan Pemkab Limapuluh Kota. Asyirwan Yunus turut meninjau seluruh sudut bangunan yang hangus dilalap api saat kebakaran yang terjadi pada Kamis (7/5) lalu. Usai meninjau seluruh sisi, rombongan dari Pemkab Limapuluh Kota sempat berdiskusi dengan keluarga korban kebakaran serta warga sekitar lokasi yang turut menyambut kedatangan Asyirwan Yunus.

“Kita harap, kedepan warga harus berhati-hati dan selalu waspada terhadap ancaman kebakaran yang kerap menimpa rumah warga. Api bisa saja muncul akibat kelalaian kita sendiri. Tetapi, banyak juga kebakaran akibat hal-hal yang tak terduga, seperti adanya konsletan listrik,” pesan Asyirwan Yunus. Dalam tinjauan tersebut, Wakil Bupati Limapuluh Kota itu sempat memberikan bantuan kepada keluarga korban. Pihak keluarga, turut berterima kasih atas perhatian dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. Terutama kesediaan Asyirwan Yunus untuk datang langsung menjambangi korban kebakaran tersebut.

“Kita ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah dan bapak Wakil Bupati,” ujar pasangan suami istri Edi (56) dan Rafnidawati (44) keluarga korban kebakaran tersebut. Mereka mengungkapkan, kebakaran berawal dari konsletan listrik hingga menghanguskan 2 petak rumah mereka yang saling berdekatan.

Sumber: padangcrime.com

SMP Laskar Pelangi Di Koto Alam


Sebuah tulisan dari web Wahana Alam Hijau [tautan]. Team Goes to School Wahana Alam Hijau Sumatera Barat berkunjung ke SMP 5 Koto Alam Pangkalan Koto Baru untuk mengadakan kegiatan Training dan Motivasi kepada siswa-siswi SMP 5 Koto Alam.

Berikut kutipannya.

mission210 hari berkelililing Gunung Sago, Kelembah dibawah bukit Barisan, Misi kami akan berakhir di sebuah sekolah Manengah Pertama (SMP), di Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota.

Untuk Sampai di sekolah itu, Dari Kota Payakumbuh, Lebih kurang 60 Km, kami mesti melalui Kelok 9 , yang Luar biasa, jalan Layang yang melingkar-lingkar didua sisi bukit dan lembah, jalanan berkelok-kelok yang tidak terlalu lebar, 1 Jam perjalanan kami masuk ke satu jalan kecil, menuruni sebuah lembah bernama nagari Koto Alam, dan Kemudian mendaki sebuah bukit, dengan jalan yang hanya di perkeras dengan beton selebar 2 Meter, akhirnya Team Goes to School berhenti di halaman sebuah sekolah yang sangat sederhana,

Halamannya bertanah merah becek, Lantai sekolah tidak lagi licin, penuh bekas telapak kaki yang mengering berwarana tanah merah, dinding-dindingnya berwarna kusam berdebu, Diruang Guru, kami disambut Guru-guru ..sederhana,berpakaian terlalu sederhana,( Guru-guru disini, hanya 5 Orang yang PNS termasuk Kepala Sekolah yang lain honorer) bahkan ada yang hanya bersendal,Guru bidang studi terbatas, seringkali Guru sejarah mesti mengajar Matematika, Guru IPS merangkap mengajar Bahasa Inggris, ruangan guru hanya satu ruangan 6 x 6 meter, cahaya lampunya terlalu redup, karena kapasitas listrik yang terbatas, ruangan kepala sekolah hanya dibatasi sekat, triplek berukuruan 2 x2 meter, tanpa pintu, disana bertumpukan berbagai Arsip. persis seperti ruangan Guru waktu saya sekolah SD dulu. ruangan kelasnya sendiri hanya terdiri dari 6 Kelas.Udara dipagi hari Begitu Dingin dan menjelang siang Panas.

Murid – murid kelas VII-IX hanya berjumlah tidak lebih 120 Orang, itupun sebagian sering tidak hadir karena membantu orang tuanya memetik buah Gambir di Hutan-hutan kampung, Meja Kursi anak kelas IX memprihatinkan, Kursi kayu tak memiliki sandaran, karena sudah terlepas dimakan usia atau sebab kenakalan Murid, anak Kelas VII dan VIII, lebih memprihatinkan lagi, mereka belajar menggunakan bangku Osin (Istilah Masyarakat setempat) Meja Pendek, Siswa duduk dilantai, itupun sebagian kaki meja suda berpatahan, sehinggau Siswa mesti tengkurap untuk bisa menulis.

mission1

“Di Kampung Koto Alam ini Orangnya keras-keras Karakternya Pak” Demikian Kepala sekolah mulai menjelaskan tentang karakter Anak didiknya,

“Di tengah Masyarakat kami, hanya ada 3 Panutan, yang Pertama “Bagak” (Pemberani/Suka berkelahi), yang kedua Kaya dan yang ketiga Bagak dan Berani, sehingga mereka tidak terlalu suka bersekolah, karena Panutan mereka terlalu Sederhana, dan itu sudah terbentuk semenjak dahulu, mungkin karena lingkungan yang berada di lembah-lembah diantara perbukitan, sehingga mereka jarang mengetahui, jadi kalau kami di sekolah ini, harus keras kepada mereka, kalau tidak guru akan disepelekan”

Begitulah sang Kepala sekolah membeberkan persoalan yang mereka hadapi.

Anggota team kami saling melirik dan berbisik, Mampu nggak menghadapi tantangan ini.

Awal kegiatan, acara di buka kepala Sekolah, persis yang beliau katakan, (Kali ini peserta bukan hanya kelas IX tapi juga kelas VII dan VIII, ) terlebih dahulu diabsen, yang hadir tidak lebih dari, 80 Orang, 40 Siswa lainnya, mungkin sedang Memecah Buah gambir, atau mencari Kayu dihutan…Kepala sekolah bicara dengan keras dan mengancam Siswa ..agar mereka mengikuti Program ini dengan tertib, tapi suara gauangan.seperti suara lebah tetap saja beredar..mereka terus saling bicara dan berbisik, beberapa anak mulai gelisah karena ruangan yang sempit (hanya satu kelas) dan tidak cukup kursi untuk duduk, sebagian menarik meja hingga kakinya menghadap kami, lalu di jadikan Kursi mereka, Sungguh Tantangan yang menarik,

mission

Untuk pertama Kalinya kemeja kami basah, oleh keringat Udara menjelang Siang seakin Panas, Dasi yang melilit leher serasa mencekik, wajah kamibercucuran keringat” Salah satu teman berbisik,”Sudah Putarin Banyak Film saja”biar kita bisa mengatur nafas,”Saya berbisik lagi kemereka “Sabar..Ini menarik bagaimana mereka bisa kita robah hanya dalam tempo 3 ,5 Jam” terus kan program seperti biasa.

3,5 jam kemudian (Setelah anak kelas VII dan VIII ) di pulangkan, kami teruskan dengan Kontrak diri, Menyusun Konsep Diri dan mengevaluasi Diri…Anak-anak Koto Alam yang Berkarakter keras itu, Banjir Air Mata, Laki-laki jagoan, Perempuan Keras..Menangis dengan dengan pilu, ketika menyadari begitu banyak kealpaan diri mereka, Begitu banyak waktu yang tersia-siakan karena Keangkuhan, Guru dan Kepala sekolah tertunduk haru, linangan Air mata bermain dimata mereka,

Di Akhir Program, anak-anak yang mesti di bentak itu, agar mau mendengar Guru, datang kepelukan Guru-guru mereka, Memeluk dengan erat, tangisan yang tak juga mampu di bendung, mengucapkan Maaf yang takterhingga, dan tekad untuk merubah diri mereka agar menjadi, Anak Koto Alam yang terbaik.

Penutup.

Agar mau Didengarkan, Tak perlu bersuara Keras
Agar anak mau berubah, jangan Paksa mereka
Anak-anak Koto Alam Pangkalan Tak Perlu kami bentak, Kami hanya Menyentuh hatinya. Insya Allah telah berubah.
Dari Lembah Koto Alam
Team “Goes To School Wahana Alam Hijau Sumatera barat”
Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami, kita sambung lagi pada next mission

Terimakasih, Team Wahana Alam Hijau Sumatera Barat, Teruslah Terbang
“Salam Sukses”

Mau Buah Durian yang Lezat? Carilah di Koto Alam!


durian koto alamPANGKALAN, RIAUSATU.COM -Buah durian yang tersebar luas di sejumlah pasar pada saat musim durian berbuah, tidak terkecuali di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, belum tentu semua lezat dan enak dimakan. Sebab, bukan tidak mungkin ada di antara buah durian yang dipasarkan itu, dimasak melalui cara dikarbit.

Tapi buah durian yang dikeluarkan dari Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar (Sumatera Barat), dijamin kelezatannya karena hampir tidak ada buah durian yang dikeluarkan dari nagari itu yang masak melalui proses dikarbit atau diperam.

”Saya pastikan, buah durian yang dijual oleh para petani di nagari ini merupakan buah yang masak di batang,” kata Murdi, 42, petani durian di nagari itu. Karena masak di batang, sambung Mardi, dipastikan cita rasa buah duriannya jauh lebih lezat dibandingkan dengan buah durian yang masak diperam.

Tak ada sanksi hukum formal atau hukum adat yang melarang petani menjual buah durian hasil karbitan. ”Ini hanya soal kebiasaan, dan kebiasaan itu masih tetap terpelihara dengan baik di sini sampai saat ini,” tambah Yunizar, petani durian lain di nagari yang sama.

Durian Koto Alam

Durian Koto Alam

Bagi petani di sana, mereka lebih memilih bermalam di kebun durian yang jaraknya puluhan kilometer dari kampung, dan terkadang berada di tengah hutan, untuk menunggui buah durian jatuh dari batangnya karena sudah matang dari pada memetik buah yang belum masak, untuk diperam, dan kemudian dilemparkan ke pasaran.

Bila tiba musim durian, ruas jalan negara Sumbar-Riau yang terletak di nagari itu, diramaikan oleh lapak-lapak pedagang durian yang berjejer di kiri-kanan jalan. Dijual dengan harga bervariasi, antara Rp8.000 sampai Rp12.000/buah, tiap musim durian berbuah nagari itu menjadi ramai oleh para pemburu buah durian, yang kebanyakan berasal dari Riau. (dri)

Sumber: riausatu.com

Kejepit Hidup di Kampung, Ramai-ramai Merantau


SUMBAR, RIAUSATU.COM -”Badai” ekonomi belum juga kunjung surut menghantam para petani gambir dan karet, dua komoditas andalan masyarakat tani di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumbar (Sumatera Barat). Pergantian hari dan musim sejauh ini belum juga mengubah harga kedua komoditas tersebut, bahkan masih tetap terpuruk di tingkat terendah.

Saking putus asanya menghadapi keadaan, bahkan ada petani yang mengatakan tidak akan berharap lagi dari tanaman gambir. ”Hanya membuat sakit hati,” kata Mulyadi, 48, petani gambir di Kecamatan Kapur IX. Kenapa tidak, di saat harga barang-barang lain di pasaran terus melonjak, harga gambir sejauh ini nyaris tetap tidak beranjak.

manakiak gatahSami mawon dengan karet, yang harganya sejak beberapa bulan belakangan juga tidak nyaris mengalami perubahan berarti. Dengan harga jual antara Rp5.000 sampai Rp6.000/kg, membuat petani karet nyaris tidak mendapatkan hasil memadai dari tanaman karet yang dimilikinya. Kondisi diperparah oleh fluktuasi iklim yang tidak bersahabat dengan petani karet.

Inilah salah satu akibatnya: Amri, 47, warga Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, yang sejak beberapa tahun yang lalu merasa sudah mantap untuk menetap di kampung, pada akhirnya luluh juga, untuk kemudian memutuskan merantau demi kelangsungan hidup anggota keluarganya. ”Terutama agar bagaimana anak-anak bisa sekolah,” katanya.

Di kampungnya, Koto Alam, untuk menopang kehidupan, Amri memiliki areal persawahan yang cukup luas buat kebutuhan pangan anggota keluarganya. ”Dari tahun ke tahun saya tidak pernah membeli beras,” akunya. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan lain, Amri mengandalkan dari kebun karetnya yang berproduksi sekitar 8 kg tiap dideres, ditambah warung kopi yang ia buat di samping rumahnya.

Tapi, menyusul merosotnya perekonomian masyarakat dengan anjloknya harga gambir dan karet, sejak beberapa bulan yang lalu Amri memutuskan menutup warung kopinya. ”Hari-hari tak ada lagi yang belanja di warung saya,” keluhnya. Kalaupun tetap dipaksakan dibuka melayani konsumen, ”Kebanyakan yang minum di kedai saya hanya dengan jalan berutang,” katanya, sambil menunjukkan buku catatan utang di warungnya yang cukup panjang.

Sandaran lain, yaitu kebun karet dengan hasil sadapan 8 kg, belakangan juga tak memberi arti banyak untuk menopang perekonomian keluarga Amri. Terutama sejak harga karet jatuh, yang bergerak antara angka Rp5.000 sampai Rp6.000/kg, menurut Amri, benar-benar membuat perekonomian keluarganya terpuruk. ”Paling hasil menderes hanya Rp40.000 tiap kali deres,” terangnya.

Dalam perhitungan Amri, kebun karet itu hanya mendatangkan hasil antara Rp200.000 sampai Rp250.000/pekan. Itu dengan catatan: kalau didukung cuaca yang baik. Masalah menjadi lain manakala hujan turun berkepanjangan. ”Bisa-bisa dalam satu pekan saya tidak mendapatkan sesen pun dari tanaman karet yang selama ini menjadi sumber perekonomian keluarga saya,” katanya.

Yang membuat berat ekonomi keluarga Amri adalah karena dua orang anaknya tercatat duduk di bangku sekolah menengah, satu di kampung dan satu lagi bersekolah di Payakumbuh. ”Tiap pekan minimal saya harus menyediakan uang Rp300.000 untuk biaya kedua anak itu pergi sekolah,” ungkapnya. Makanya, imbuh Amri, hampir tiap pekan ia pusing memikirkan upaya mencari uang, baik buat biaya sekolah anak-anak maupun untuk memutar roda ekonomi keluarganya di kampung.

Tak mau terjebak dalam kebuntuan panjang, Amri kemudian memutuskan merantau ke Pekanbaru, Riau. Di kota ini Amri mengungkit keterampilan lamanya sebagai tukang jahit. ”Ada famili yang mengajak saya kerja,” katanya. ”Saya pikir lebih baik dicoba dulu, setidaknya untuk keluar sementara dari kebuntuan menjalani kehidupan di kampung,” ia menambahkan.

Zulfikar, 52, warga nagari yang sama, sudah sejak lama memutuskan merantau ke Pekanbaru, yaitu terhitung sejak harga gambir tidak juga kunjung membaik. Menjalani hari-hari dengan kegiatan hanya sebagai kuli bangunan di provinsi tetangga itu, Zulfikar mengaku kondisi itu jauh lebih baik daripada bertahan di kampung untuk menunggu membaiknya harga gambir, yang entah kapan akan kembali berada pada titik normal.

Padahal di kampung Zulfikar punya dua bidang gambir yang lumayan luas. Menurut Zulfikar, selama ini kedua ladang gambir itulah yang menjadi sumber ekonomi keluarganya. Hasil dari ladang itu pula yang membuat Zulfikar mampu membangun tempat tinggal yang layak bagi anggota keluarganya, termasuk membelikan sepeda motor.

Tapi, dijelaskan Zulfikar, sejak sekitar empat tahun belakangan, di mana harga jual gambir tidak pernah melewati angka Rp20.000/kg, ia praktis tak bisa lagi berharap dari ladang gambir yang dimilikinya. Angka Rp20.000 mungkin termasuk penjualan yang layak, karena tidak jarang harga gambir hanya bergerak antara Rp16.000 sampai Rp17.000/kg di tingkat pedagang pengumpul.

Padahal, menurut Zulfikar, harga gambir yang ideal adalah 2,5 gantang beras setiap kg. ”Pada tingkat harga sebanyak itu baru petani gambir bisa hidup layak, katanya. Kalau saja harga beras dipatok pada angka Rp15.000/kg, beber Zulfikar, maka idealnya harga gambir Rp35.000/kg. Itu artinya, harga yang berlaku sekarang separoh dari harga ideal,” ungkap Zulfikar.

Amri dan Zulfikar hanya dua dari sederet panjang petani gambir dan karet yang seakan sudah putus asa dengan harga komoditas yang selama ini justru mereka jadikan sebagai andalan untuk menggerakkan roda perekonomian mereka. ”Kalau kondisi harga kedua komoditas itu tidak juga kunjung membaik, saya yakin akan semakin banyak warga nagari kami memutuskan merantau untuk mencari sumber penghasilan lain,” kata Amri. (dri)

Sumber: riausatu.com

Buah Durian, Alternatif Sementara dari Kesumpekan Ekonomi


durian koto alamPANGKALAN – Kondisi perekonomian sejumlah kawasan sentra perkebunan gambir dan karet di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar (Sumatera Barat), sedikit tertolong dengan datangnya musim durian. Banyak di antara warga di sana yang menjadikan buah durian sebagai alternatif sementara untuk keluar dari kesumpekan ekonomi.

Wadi, 42, petani gambir di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Limapuluh Kota, mengungkapkan bahwa musim buah durian tahun ini benar-benar menjadi ”dewa penolong” bagi perekonomian keluarganya. ”Kalau tak dibantu buah durian, entah bagaimanalah keadaan ekonomi keluarga saya,” katanya.

Sejak sekitar empat tahun belakangan harga gambir hanyaRp17.000/kg, sebuah tingkat harga yang sangat tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan. Menyusul kemudian anjloknya harga karet alam, yang hanya Rp6.000/kg, jauh di bawah harga sebelumnya yang sempat menembus angka Rp18.000/kg.

Memiliki beberapa batang durian di kebunnya, warisan dari orangtuanya, Wadi mengaku hasil yang diberikan buah durian lebih dari cukup untuk menggerakkan roda perekonomian keluarganya. ”Kadang bisa dapat Rp300.000 atau lebih,” katanya. Kendati untuk mendapatkan hasil sebanyak itu harus ditebus dengan jalan bermalam di kebun durian, Wadi lebih memilih kondisi itu daripada dihadapkan kesumpekan ekonomi akibat harga karet dan gambir yang tak kunjung membaik.

Buah durian yang dikumpulkan Wadi di kebun, biasanya dibeli oleh toke-toke kampung, yang langsung mendatangi Wadi di kebunnya. Tempo-tempo Wadi yang memasarkan langsung di pinggir jalan negara Sumbar-Riau yang melintasi nagari tersebut. ”Antara Rp8.000 sampai Rp12.000 per buah,” ungkap Wadi, saat ditanya harganya.

Yang paling diuntungkan adalah pemilik batang durian dengan populasi batang durian yang cukup banyak. ”Ada yang berpenghasilan Rp1 juta lebih sehari,” kata Siar, 46, petani durian yang lain. ”Ini saat bagi masyarakat untuk bisa sedikit menabung,” imbuh Siar. (dri)

Sumber: riausatu.com

Bupati Alis Marajo Saat Sambutan Peringatan Kulminasi Matahari di Koto Alam


peringatan kulminasi matahari

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo Saat Sambutan Peringatan Kulminasi Matahari di Tugu Khatulistiwa Sakido Mura Nagari Koto Alam, Pangkalan Koto Baru (23/9/2013)

Sakido Mura Jadi Objek Wisata Minat Khusus


LIMAPULUH KOTA, SO — Khairil Amri SE, tokoh masyarakat Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, mendukung langkah Pemkab Limapuluh Kota mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus.

“Harapan kami, langkah itu akan berbuah berupa terciptanya potensi ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.

sakido mura objek misata

Khairil mengatakan hal itu ketika diselenggarakan kegiatan peringatan titik kulminasi matahari di tugu khatulistiwa –yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Sakido Mura–, Senin (23/9) siang. Acara itu dihadiri Bupati Limapuluh Kota dr. H. Alis Marajo Dt. Sori Marajo, sejumlah kepala dinas/badan/bagian di lingkup Pemkab Limapuluh Kota, yang diramaikan atraksi kesenian oleh murid-murid sekolah di kenagarian itu.

Peringatan titik kulminasi matahari adalah saat di mana matahari persis berada pas di atas tugu khatulistiwa, yang menghilangkan semua bayang-bayang yang ada di sekitarnya. Setiap tahun, fenomena alam seperti itu terjadi sebanyak dua kali, yaitu pada 21-23 Maret dan 21-23 September.

Selain di Koto Alam, fenomena alam serupa juga terjadi di Bonjol, Kabupaten Pasaman; dan satu lagi di Pontianak, Kalimantan Barat.
Khairil mengatakan, ia mewakili masyarakat Koto Alam memberi apresiasi positif atas langkah dan upaya Pemkab Limapuluh Kota menjadikan Sakido Mura sebagai objek wisata.

“Sudah lebih 40 tahun umur saya, baru kali ini saya melihat pemkab memiliki perhatian khusus terhadap Sakido Mura ini,” katanya.

Bagi Khairil, menyusul dengan dikembangkannya Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, pada gilirannya nanti Koto Alam diharapkan menjadi salah target kunjungan wisatawan, baik nasional maupun mancanegara. Umpan balik yang diharapkan, tambah Khairil, kegiatan kepariwisataan itu akan mendatangkan dampak ekonomi bagi masyarakat berupa terbukanya peluang usaha baru.

“Selama ini perekonomian masyaraat kami sangat tergantung dengan komoditas-komoditas tani tertentu,” kata Khairil. Begitu harga komoditas andalan anjlok di pasaran, sebutnya, masyarakat mengalami keterpukulan ekonomi yang sangat telak. “Kalau kelak Sakido Mura berkembang, diharapkan akan menjadi sumber ekonomi alternatif yang menggairahkan kehidupan masyarakat kita di sini,” katanya.

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo mengungkapkan keseriusan jajarannya untuk mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, yang kelak diharapkan menjadi salah satu andalan potensi kepariwisataan di daerah ini.

“Sejauh ini kita telah melakukan sejumlah langkah menuju ke arah sana,” kata Alis, sambil menambahkan, upaya itu dilakukan karena objek wisata seperti di Koto Alam itu hanya ada tiga titik di Tanah Air.

Bupati juga mengingatkan, di tengah keterbatasan potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Limapuluh Kota, justru di tengah makin beratnya beban dan tuntutan pembangunan, salah satu potensi ke depan yang bisa diandalkan adalah sektor kepariwisataan.

“Kita akan menggarap serius sektor ini dengan tidak mengabaikan akar budaya yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat,” katanya.

Ketua panitia pelaksana, Ali Hasan S.Sos., menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk menjaga eksistensi nilai-nilai peristiwa alam sebagai daya tarik dalam pengembangan wisata daerah, meningkatkan kompetensi siswa dalam ilmu bumi atau geografi, memberdayakan masyarakat dalam mewujudkan Sakido Mura sebagai objek wisata minat khusus, dan mengembangkan objek wisata pada WPP (Wilayah Pengembangan Pariwisata) V.

Dilaporkan : mamad

%d blogger menyukai ini: