SMP Laskar Pelangi Di Koto Alam


Sebuah tulisan dari web Wahana Alam Hijau [tautan]. Team Goes to School Wahana Alam Hijau Sumatera Barat berkunjung ke SMP 5 Koto Alam Pangkalan Koto Baru untuk mengadakan kegiatan Training dan Motivasi kepada siswa-siswi SMP 5 Koto Alam.

Berikut kutipannya.

mission210 hari berkelililing Gunung Sago, Kelembah dibawah bukit Barisan, Misi kami akan berakhir di sebuah sekolah Manengah Pertama (SMP), di Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota.

Untuk Sampai di sekolah itu, Dari Kota Payakumbuh, Lebih kurang 60 Km, kami mesti melalui Kelok 9 , yang Luar biasa, jalan Layang yang melingkar-lingkar didua sisi bukit dan lembah, jalanan berkelok-kelok yang tidak terlalu lebar, 1 Jam perjalanan kami masuk ke satu jalan kecil, menuruni sebuah lembah bernama nagari Koto Alam, dan Kemudian mendaki sebuah bukit, dengan jalan yang hanya di perkeras dengan beton selebar 2 Meter, akhirnya Team Goes to School berhenti di halaman sebuah sekolah yang sangat sederhana,

Halamannya bertanah merah becek, Lantai sekolah tidak lagi licin, penuh bekas telapak kaki yang mengering berwarana tanah merah, dinding-dindingnya berwarna kusam berdebu, Diruang Guru, kami disambut Guru-guru ..sederhana,berpakaian terlalu sederhana,( Guru-guru disini, hanya 5 Orang yang PNS termasuk Kepala Sekolah yang lain honorer) bahkan ada yang hanya bersendal,Guru bidang studi terbatas, seringkali Guru sejarah mesti mengajar Matematika, Guru IPS merangkap mengajar Bahasa Inggris, ruangan guru hanya satu ruangan 6 x 6 meter, cahaya lampunya terlalu redup, karena kapasitas listrik yang terbatas, ruangan kepala sekolah hanya dibatasi sekat, triplek berukuruan 2 x2 meter, tanpa pintu, disana bertumpukan berbagai Arsip. persis seperti ruangan Guru waktu saya sekolah SD dulu. ruangan kelasnya sendiri hanya terdiri dari 6 Kelas.Udara dipagi hari Begitu Dingin dan menjelang siang Panas.

Murid – murid kelas VII-IX hanya berjumlah tidak lebih 120 Orang, itupun sebagian sering tidak hadir karena membantu orang tuanya memetik buah Gambir di Hutan-hutan kampung, Meja Kursi anak kelas IX memprihatinkan, Kursi kayu tak memiliki sandaran, karena sudah terlepas dimakan usia atau sebab kenakalan Murid, anak Kelas VII dan VIII, lebih memprihatinkan lagi, mereka belajar menggunakan bangku Osin (Istilah Masyarakat setempat) Meja Pendek, Siswa duduk dilantai, itupun sebagian kaki meja suda berpatahan, sehinggau Siswa mesti tengkurap untuk bisa menulis.

mission1

“Di Kampung Koto Alam ini Orangnya keras-keras Karakternya Pak” Demikian Kepala sekolah mulai menjelaskan tentang karakter Anak didiknya,

“Di tengah Masyarakat kami, hanya ada 3 Panutan, yang Pertama “Bagak” (Pemberani/Suka berkelahi), yang kedua Kaya dan yang ketiga Bagak dan Berani, sehingga mereka tidak terlalu suka bersekolah, karena Panutan mereka terlalu Sederhana, dan itu sudah terbentuk semenjak dahulu, mungkin karena lingkungan yang berada di lembah-lembah diantara perbukitan, sehingga mereka jarang mengetahui, jadi kalau kami di sekolah ini, harus keras kepada mereka, kalau tidak guru akan disepelekan”

Begitulah sang Kepala sekolah membeberkan persoalan yang mereka hadapi.

Anggota team kami saling melirik dan berbisik, Mampu nggak menghadapi tantangan ini.

Awal kegiatan, acara di buka kepala Sekolah, persis yang beliau katakan, (Kali ini peserta bukan hanya kelas IX tapi juga kelas VII dan VIII, ) terlebih dahulu diabsen, yang hadir tidak lebih dari, 80 Orang, 40 Siswa lainnya, mungkin sedang Memecah Buah gambir, atau mencari Kayu dihutan…Kepala sekolah bicara dengan keras dan mengancam Siswa ..agar mereka mengikuti Program ini dengan tertib, tapi suara gauangan.seperti suara lebah tetap saja beredar..mereka terus saling bicara dan berbisik, beberapa anak mulai gelisah karena ruangan yang sempit (hanya satu kelas) dan tidak cukup kursi untuk duduk, sebagian menarik meja hingga kakinya menghadap kami, lalu di jadikan Kursi mereka, Sungguh Tantangan yang menarik,

mission

Untuk pertama Kalinya kemeja kami basah, oleh keringat Udara menjelang Siang seakin Panas, Dasi yang melilit leher serasa mencekik, wajah kamibercucuran keringat” Salah satu teman berbisik,”Sudah Putarin Banyak Film saja”biar kita bisa mengatur nafas,”Saya berbisik lagi kemereka “Sabar..Ini menarik bagaimana mereka bisa kita robah hanya dalam tempo 3 ,5 Jam” terus kan program seperti biasa.

3,5 jam kemudian (Setelah anak kelas VII dan VIII ) di pulangkan, kami teruskan dengan Kontrak diri, Menyusun Konsep Diri dan mengevaluasi Diri…Anak-anak Koto Alam yang Berkarakter keras itu, Banjir Air Mata, Laki-laki jagoan, Perempuan Keras..Menangis dengan dengan pilu, ketika menyadari begitu banyak kealpaan diri mereka, Begitu banyak waktu yang tersia-siakan karena Keangkuhan, Guru dan Kepala sekolah tertunduk haru, linangan Air mata bermain dimata mereka,

Di Akhir Program, anak-anak yang mesti di bentak itu, agar mau mendengar Guru, datang kepelukan Guru-guru mereka, Memeluk dengan erat, tangisan yang tak juga mampu di bendung, mengucapkan Maaf yang takterhingga, dan tekad untuk merubah diri mereka agar menjadi, Anak Koto Alam yang terbaik.

Penutup.

Agar mau Didengarkan, Tak perlu bersuara Keras
Agar anak mau berubah, jangan Paksa mereka
Anak-anak Koto Alam Pangkalan Tak Perlu kami bentak, Kami hanya Menyentuh hatinya. Insya Allah telah berubah.
Dari Lembah Koto Alam
Team “Goes To School Wahana Alam Hijau Sumatera barat”
Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami, kita sambung lagi pada next mission

Terimakasih, Team Wahana Alam Hijau Sumatera Barat, Teruslah Terbang
“Salam Sukses”

Bupati Alis Marajo Saat Sambutan Peringatan Kulminasi Matahari di Koto Alam


peringatan kulminasi matahari

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo Saat Sambutan Peringatan Kulminasi Matahari di Tugu Khatulistiwa Sakido Mura Nagari Koto Alam, Pangkalan Koto Baru (23/9/2013)

Sakido Mura Jadi Objek Wisata Minat Khusus


LIMAPULUH KOTA, SO — Khairil Amri SE, tokoh masyarakat Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, mendukung langkah Pemkab Limapuluh Kota mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus.

“Harapan kami, langkah itu akan berbuah berupa terciptanya potensi ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.

sakido mura objek misata

Khairil mengatakan hal itu ketika diselenggarakan kegiatan peringatan titik kulminasi matahari di tugu khatulistiwa –yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Sakido Mura–, Senin (23/9) siang. Acara itu dihadiri Bupati Limapuluh Kota dr. H. Alis Marajo Dt. Sori Marajo, sejumlah kepala dinas/badan/bagian di lingkup Pemkab Limapuluh Kota, yang diramaikan atraksi kesenian oleh murid-murid sekolah di kenagarian itu.

Peringatan titik kulminasi matahari adalah saat di mana matahari persis berada pas di atas tugu khatulistiwa, yang menghilangkan semua bayang-bayang yang ada di sekitarnya. Setiap tahun, fenomena alam seperti itu terjadi sebanyak dua kali, yaitu pada 21-23 Maret dan 21-23 September.

Selain di Koto Alam, fenomena alam serupa juga terjadi di Bonjol, Kabupaten Pasaman; dan satu lagi di Pontianak, Kalimantan Barat.
Khairil mengatakan, ia mewakili masyarakat Koto Alam memberi apresiasi positif atas langkah dan upaya Pemkab Limapuluh Kota menjadikan Sakido Mura sebagai objek wisata.

“Sudah lebih 40 tahun umur saya, baru kali ini saya melihat pemkab memiliki perhatian khusus terhadap Sakido Mura ini,” katanya.

Bagi Khairil, menyusul dengan dikembangkannya Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, pada gilirannya nanti Koto Alam diharapkan menjadi salah target kunjungan wisatawan, baik nasional maupun mancanegara. Umpan balik yang diharapkan, tambah Khairil, kegiatan kepariwisataan itu akan mendatangkan dampak ekonomi bagi masyarakat berupa terbukanya peluang usaha baru.

“Selama ini perekonomian masyaraat kami sangat tergantung dengan komoditas-komoditas tani tertentu,” kata Khairil. Begitu harga komoditas andalan anjlok di pasaran, sebutnya, masyarakat mengalami keterpukulan ekonomi yang sangat telak. “Kalau kelak Sakido Mura berkembang, diharapkan akan menjadi sumber ekonomi alternatif yang menggairahkan kehidupan masyarakat kita di sini,” katanya.

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo mengungkapkan keseriusan jajarannya untuk mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, yang kelak diharapkan menjadi salah satu andalan potensi kepariwisataan di daerah ini.

“Sejauh ini kita telah melakukan sejumlah langkah menuju ke arah sana,” kata Alis, sambil menambahkan, upaya itu dilakukan karena objek wisata seperti di Koto Alam itu hanya ada tiga titik di Tanah Air.

Bupati juga mengingatkan, di tengah keterbatasan potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Limapuluh Kota, justru di tengah makin beratnya beban dan tuntutan pembangunan, salah satu potensi ke depan yang bisa diandalkan adalah sektor kepariwisataan.

“Kita akan menggarap serius sektor ini dengan tidak mengabaikan akar budaya yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat,” katanya.

Ketua panitia pelaksana, Ali Hasan S.Sos., menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk menjaga eksistensi nilai-nilai peristiwa alam sebagai daya tarik dalam pengembangan wisata daerah, meningkatkan kompetensi siswa dalam ilmu bumi atau geografi, memberdayakan masyarakat dalam mewujudkan Sakido Mura sebagai objek wisata minat khusus, dan mengembangkan objek wisata pada WPP (Wilayah Pengembangan Pariwisata) V.

Dilaporkan : mamad

SMP Koto Alam Lulus 100%, Peringkat Pertama di Kecamatan


Pada hari Sabtu, 2 Juni 2012 kemarin, hasil ujian nasional SMP/MTs/Ponpes tahun ajaran 2011/2012 telah diumumkan. Alhamdulillah, sekitar 44 siswa kelas tiga di SMP Negeri 5 Pangkalan dinyatakan lulus 100%.

Hasil ini sangat menggembirakan bagi masyarakat Koto Alam, karena setelah dua periode SMP ini meluluskan siswanya, baru tahun ini kelulusan mencapai 100%. Tidak hanya itu, bahkan hasil UN tersebut mendapat peringkat pertama di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, dan nomor enam se-kabupaten Limapuluh Kota. Kita patut merasa kagum, karena jika dibandingkan dua tahun sebelumnya SMP itu belum dapat meluluskan siswanya 100%, NEM siswa-siswanya pun sangat standar. Dan sekarang SMP yang baru berdiri lima tahun itu telah mulai menunjukkan prestasinya.

Sementara hasil murni nilai kelulusan SMP/MTs/Ponpes ini dilansir oleh Padang Ekspres dari data Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota menunjukkan bahwa tidak satupun SMP/MTs/ponpes yang siswanya lulus murni 100% berdasarkan nilai UN saja, kelulusan ditetapkan berdasarkan nilai akhir yang diperoleh dari penggabungan nilai UN, rata-rata rapor, dan hasil ujian sekolah. Memang begitulah sistem penentuan kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini. SMP koto Alam termasuk diantara 38 sekolah di Kabupaten Limapuluh Kota yang siswanya lulus 100% berdasarkan penentuan sistem tersebut. Sukses buat para siswa SMP Koto Alam yang lulus tahun ini.

Kabarnya SMP Koto Alam akan mengadakan acara “bantai kambiang” dan makan bersama untuk merayakan prestasi mereka, ini sesuai dengan janji Wali Nagari yang memotivasi mereka sebelum mengikuti UN agar semua siswa dapat lulus.

Pertahankan dan tingkatkan lagi prestasinya, mudah-mudahan kalian dapat melanjutkan ke SMA/SMK/MAN favorit setelah ini. Amin.

Siswa SMP Koto Alam Terlantar


Menanggapi berita Harian Singgalang tertanggal 1 Mei 2012 yang lalu, yakni memberitakan tentang kondisi belajar mengajar di SMP 5 Pangkalan, SMP kebanggaan masyarakat Koto Alam. Betapa kita ikut taburansang membaca berita tersebut. Dikabarkan bahwa Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota, Desri, beliau secara mendadak berkunjung ke SMP yang susah payah kita perjuangkan itu pada tanggal 30 April 2012. Beliau sangat terkejut menyaksikan empat ruang kelas dimana para siswanya ditinggal belajar sendirian, sementara gurunya pergi terbang entah kemana. Parahnya lagi, setelah dilihat ke kantor majelis guru, yang didapati beliau justru oknum pendidik yang mengamek-ngamek saja. La ilalah.

“Pola belajar kurikulum berbasis kompetisi bukanlah seperti itu. Kok bisa-bisanya guru mangamek dan duduk santai di dalam kantor. Lalu anak-anak dibiarkan terlantar,” aku Desri saat memberikan laporan ke Wakil Bupati Asyrwan Yunus, saat minum kopi di sebuah lapau warga, kawasan terminal Pangkalan Koto Baru. “Bahkan, di SMP 5 tadi, saya tidak menemukan toilet,” sambung Desri. Nde ondek, bapo ajak’a ge, kok tasosak cik murid de mungkin kabalakang somak ajo le baojan.

Kepada para oknum guru yang main-main, bahkan meninggalkan murid belajar di dalam lokal, Kadisdik langsung memberikan peringatan keras. Kepala sekolah ikut dimintai keterangannya dan di-interview Kadisdik saat itu juga. “Kalau sekali lagi masih seperti ini, maaf saya akan mengevaluasi. Tidak mungkin lagi saya toleransi,” tegas dia.

Kita sebagai masyarakat Koto Alam merasa miris dengan kondisi ini. Remaja-remaja kita yang menimba ilmu di SMP itu tidak dilayani sebagaimana mestinya. Bagaimana pendapat dunsanak mengenai hal ini, semestinya Pak Oncu-Pak Oncu wak, Mamak-mamak wak, Udo-udo jo Ongah-ongah wak nan anaknyo basakolah disitu berhak memprotes pelayanan pendidikan yang tidak standar di SMP itu. Jangan kita hanya diam dan menerima saja. Nagari ini sudah jauh tertinggal, kita tentu tidak mau anak-anak generasi penerus kita menjadi sukar bersaing dengan dunia luar karena rendahnya kualitas pendidikan mereka. Pemerintah nagari pun hanya bungkam saja tampaknya.

Komentar salah seorang perantau kita menanggapi hal ini menuliskan sebagai berikut di facebook,

“Bueklah posting ka Dinas pendidikan de, bahwa kito protes ka kapalo sakolah tu, kito tidak rela generasi kampong kito ditelantarkan supo itu sajo, kito ingin generasi kampong kito pintar-pintar, kalau supo itu towi, buktikan nantinyo, pasti kabanyakan lulusan dari sakolah tu dapek NEM pas-pasan sajo, tembuskan juo posting tu ka anggota DPRD, kan ado anggota DPRD ughang kampong awak, apo sajo kojo anggota DPRD deh ???, hal nan supo ikolah nan mesti mereka kontrol/perhatikan.”

Kenyataannya memang benar, setelah dua angkatan siswa yang lulus di SMP itu, belum pernah kelulusan mencapai 100%, NEM mereka pun sangat mengecewakan, sehingga menyebabkan mereka sulit menyambung ke SMA-SMA favorit di sekitar Payakumbuh dan Limapuluh Kota, kebanyakan hanya diterima ke SMA/SMK swasta. Yang lulus tahun ini entah bagaimana pula hasilnya. Salah seorang tetangga dekat rumah saya yang pernah bersekolah di SMP itu memutuskan untuk pindah ke SMP di Payakumbuh pas dia naik kelas tiga kemarin, katanya dia takut tidak akan lulus UN jika tetap juga belajar di SMP tersebut. Wah wah wah… siswanya saja cemas belajar disana.  Apakah para pendidik di sekolah itu tidak mampu mengajar siswanya? Entahlah.

Ha, Ombak-ombak atau kawan-kawan nan lah mangetahui berita iko, bapo kigho-kigho?

“Jonjang 87”


“Janjonjang”, begitu masyarakat Koto Alam menamakannya. Tangga yang  terbuat dari tembok ini terdiri dari ratusan anak tangga, menanjak tinggi sejauh puluhan meter. Janjonjang ini berpangkal di Kelok Sighih, dan berujung di pinggir jalan raya diseberang Masjid Raya Jorong Simpang Tigo. Menurut kabarnya Janjonjang dibuat pada tahun 1978 atau 1979, jumlah anak tangganya sebanyak 187 buah, sehingga ada juga masyarakat yang menyebutnya “Jonjang 87”.

Dulu, sebelum sarana transportasi semudah sekarang, dimana pengguna kendaraan bermotor masih dapat dihitung jari, maka Janjonjang menjadi jalur alternatif bagi pejalan kaki yang hendak pulang pergi dari jorong bawah ke Simpang Tigo, karena bisa jauh lebih cepat sampainya daripada menempuh jalanan desa  yang saat itu masih berupa tanah dan kerikil. Cukup lelah juga apabila mendaki ratusan anak tangga ini.

Teringat oleh saya, semasa SD ketika Pasa Ambek dibuka di Koto Alam, hampir setiap Jumat saya dan kawan2 pergi ke Pasa Ambek, berjalan dari Koto Ronah karena tidak cukup uang untuk ongkos naik mobil angkutan (Oto Izal, Oto Itel, hahaaha…). Dek payah mintak piti ka Omak untuak mamboli Banda jo Buku Petruk, wkwkwkwk . Setelah tiba di Kelok Sighih, kami mendaki Janjonjang. Kami sering berpacu lari di Janjonjang untuk sampai lebih dulu. Kami juga suka berjalan diatas tembok pinggirnya sambil menjaga keseimbangan badan.

Yang membuat kami khawatir kala itu ada anjing peliharaan pemilik rumah di pinggir Janjonjang, anjing itu sering menyalak bahkan mengejar pejalan kaki yang lewat, apalagi bila kami berlomba lari. Maka saya dan kawan2 kadang tidak menempuh Janjonjang karena takut disalak Wawau, terpaksa lewat jalan lain.

Semenjak jalan desa diperbaiki (diaspal), dengan adanya ojek honda, kemudian ojek becak. Penduduk mulai melupakan Janjonjang karena transportasi jauh lebih mudah, bahkan dengan menggunakan kendaraan bermotor milik masing2.

Kini Janjonjang tidak lagi ditempuh masyarakat, hanya penduduk yang berumah disana saja yang melaluinya untuk naik turun ke Simpang Tigo. Janjonjang semakin tua, berlumut, dan bersemak.

Akhirnya Jalan Desa Koto Alam telah selesai Diaspal Beton


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya jalan dari Kelok Sirih sampai jembatan Koto Ronah telah dilanjutkan renovasinya, jalan tersebut kini telah diaspal beton selebar 3 meter. Sehingga jalan dari Pasa Ambek sampai ke Koto Ronah telah mulus sebagai sarana trasnportasi masyarakat nagari Koto Alam.

Sebenarnya proyek ini tertanggal dimulai pada 4 Juli 2011, tapi baru dikerjakan setelah Lebaran kemaren, dan selesai pada hari Selasa 4 Oktober 2011. Alhamdulillah, semua penduduk nagari Koto Alam sangat bersyukur dengan diperbaikinya jalan desa, mudah-mudahan akan semakin mempermudah lalu lintas sosial & ekonomi masyarakat.

Berikut foto yang diunggah oleh YOVIE di Forum Facebook Koto Alam:

Pengaspalan Jalan Desa Koto Alam
Pengaspalan Jalan Desa Koto Alam
Sudah mulus
Ko jalan di ate Lubuk Kanca

Bagaimana komentar sanak?

%d blogger menyukai ini: