Lagu Religi 2017


Lagu/Vokal: Abdul Hamdi Mustafa

 

 

Video Perayaan Lebaran Idul Fitri 2014 Koto Ronah


 

🙂

 

Sakido Mura Jadi Objek Wisata Minat Khusus


LIMAPULUH KOTA, SO — Khairil Amri SE, tokoh masyarakat Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, mendukung langkah Pemkab Limapuluh Kota mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus.

“Harapan kami, langkah itu akan berbuah berupa terciptanya potensi ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.

sakido mura objek misata

Khairil mengatakan hal itu ketika diselenggarakan kegiatan peringatan titik kulminasi matahari di tugu khatulistiwa –yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Sakido Mura–, Senin (23/9) siang. Acara itu dihadiri Bupati Limapuluh Kota dr. H. Alis Marajo Dt. Sori Marajo, sejumlah kepala dinas/badan/bagian di lingkup Pemkab Limapuluh Kota, yang diramaikan atraksi kesenian oleh murid-murid sekolah di kenagarian itu.

Peringatan titik kulminasi matahari adalah saat di mana matahari persis berada pas di atas tugu khatulistiwa, yang menghilangkan semua bayang-bayang yang ada di sekitarnya. Setiap tahun, fenomena alam seperti itu terjadi sebanyak dua kali, yaitu pada 21-23 Maret dan 21-23 September.

Selain di Koto Alam, fenomena alam serupa juga terjadi di Bonjol, Kabupaten Pasaman; dan satu lagi di Pontianak, Kalimantan Barat.
Khairil mengatakan, ia mewakili masyarakat Koto Alam memberi apresiasi positif atas langkah dan upaya Pemkab Limapuluh Kota menjadikan Sakido Mura sebagai objek wisata.

“Sudah lebih 40 tahun umur saya, baru kali ini saya melihat pemkab memiliki perhatian khusus terhadap Sakido Mura ini,” katanya.

Bagi Khairil, menyusul dengan dikembangkannya Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, pada gilirannya nanti Koto Alam diharapkan menjadi salah target kunjungan wisatawan, baik nasional maupun mancanegara. Umpan balik yang diharapkan, tambah Khairil, kegiatan kepariwisataan itu akan mendatangkan dampak ekonomi bagi masyarakat berupa terbukanya peluang usaha baru.

“Selama ini perekonomian masyaraat kami sangat tergantung dengan komoditas-komoditas tani tertentu,” kata Khairil. Begitu harga komoditas andalan anjlok di pasaran, sebutnya, masyarakat mengalami keterpukulan ekonomi yang sangat telak. “Kalau kelak Sakido Mura berkembang, diharapkan akan menjadi sumber ekonomi alternatif yang menggairahkan kehidupan masyarakat kita di sini,” katanya.

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo mengungkapkan keseriusan jajarannya untuk mengembangkan Sakido Mura menjadi objek wisata minat khusus, yang kelak diharapkan menjadi salah satu andalan potensi kepariwisataan di daerah ini.

“Sejauh ini kita telah melakukan sejumlah langkah menuju ke arah sana,” kata Alis, sambil menambahkan, upaya itu dilakukan karena objek wisata seperti di Koto Alam itu hanya ada tiga titik di Tanah Air.

Bupati juga mengingatkan, di tengah keterbatasan potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Limapuluh Kota, justru di tengah makin beratnya beban dan tuntutan pembangunan, salah satu potensi ke depan yang bisa diandalkan adalah sektor kepariwisataan.

“Kita akan menggarap serius sektor ini dengan tidak mengabaikan akar budaya yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat,” katanya.

Ketua panitia pelaksana, Ali Hasan S.Sos., menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk menjaga eksistensi nilai-nilai peristiwa alam sebagai daya tarik dalam pengembangan wisata daerah, meningkatkan kompetensi siswa dalam ilmu bumi atau geografi, memberdayakan masyarakat dalam mewujudkan Sakido Mura sebagai objek wisata minat khusus, dan mengembangkan objek wisata pada WPP (Wilayah Pengembangan Pariwisata) V.

Dilaporkan : mamad

Peresmian IMAKAS 2013


Peresmian Ikatan Mahasiswa Koto Alam Sakido 2013 pada tanggal 15 Agustus 2013 pukul 15.00 di Gedung Serbaguna Koto ALlam

Struktur Pengurus IMAKAS 2013:

  1. Ketua: Muhammadi (Universitas Islam Sumatera Utara)
  2. Wakil Ketua 1: Wendy Ahmad Wahyudi (Universitas Negeri Padang)
  3. Wakil Ketua 2: Deby Prahara (Universitas Negeri Padang)
  4. Sekretaris : Izzatu Hayati (Universitas Andalas)
  5. Bendahara : Desi Yusmita (STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh)
ikatan mahasiswa imakas koto alam pangkalan koto baru

Wali Nagari Koto Alam A.H. Dt. Paduko Rajo meresmikan IMAKAS 2013

imakas

Mahasiswa yang hadir saat peresmian IMAKAS 2013

Pertemuan Wali Nagari dengan Mahasiswa Nagari Koto Alam


Jumat, 9 Agustus 2013, sehari sesudah Hari Raya Idul Fitri 1434 H, Wali Nagari Koto Alam A.H. Dt. Paduko Rajo mengadakan pertemuan dengan kalangan mahasiswa, acara ini dimulai sekitar jam tiga sore bertempat di Gedung Serbaguna, dan dihadiri oleh lebih dari 50 orang mahasiswa Nagari Koto Alam. Turut diundang sebagai pembicara yaitu H. Syamsul Bahri, S.H.I. , seorang tokoh masyarakat Koto Alam yang berkiprah diberbagai bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan diskusi tatap muka langsung antara Wali Nagari dengan segenap mahasiswa anak Nagari Koto Alam.

Dalam pertemuan tersebut, H. Syamsul Bahri, S.H.I. memotivasi para mahasiswa untuk bersungguh-sungguh menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi. Beliau menceritakan pengalaman selama ia menjadi mahasiswa hingga sekarang beliau menjadi tokoh masyarakat yang terpandang, salah satu kunci suksesnya adalah dengan pergaulan yang baik. Sehingga saat ini beliau dipercaya sebagai Ketua perhimpunan masyarakat Payakumbuh – Limapuluh Kota di Bukittinggi. Selain itu H. Syamsul Bahri, S.H.I. mendorong mahasiswa Koto Alam untuk peduli dan berbakti dengan ilmunya demi kemajuan Nagari. Beliau menghimbau agar segenap kalangan mahasiswa Koto Alam bersatu dan membentuk sebuah perhimpunan. Guna mengemukakan berbagai ide dan ikut bertindak menanggapi berbagai persoalan di tengah masyarakat Nagari Koto Alam.

Sementara itu, Wali Nagari A.H. Dt. Paduko Rajo menyampaikan pesan-pesan agar mahasiswa Koto Alam tetap semangat melanjutkan pendidikan di tengah keterpurukan ekonomi yang saat ini melanda Nagari kita. Beliau memaparkan bahwa di Koto Alam lebih banyak menghasilkan sarjana dibandingkan dengan nagari tetangga kita Manggilang, padahal jumlah penduduk kita lebih sedikit. Hal ini menunjukkan kemajuan dan kesadaran masyarakat Koto Alam akan pentingnya pendidikan. Akan tetapi dari segi ekonomi Koto Alam merupakan nagari yang mempunyai masyarakat miskin paling banyak dibandingkan dengan lima nagari lain di Kecamatan Pangkalan Koto Baru.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pertanyaan dari kalangan mahasiswa langsung kepada Wali Nagari A.H. Dt. Paduko Rajo. Diantaranya yaitu seputar keluhan mahasiswa tentang pelayanan administrasi Kantor Wali Nagari yang kurang baik, mahasiswa menilai sering dilayani dengan muka masam oleh karyawan Kantor Wali Nagari. Lagipula untuk pengurusan Surat Keterangan Kurang Mampu (SKKM) dikenakan biaya sebesar 10.000 bagi mahasiswa. Ternyata Wali Nagari baru mengetahui hal tersebut dari pembicaraan di pertemuan ini. Beliau berjanji akan menindaklanjuti dan memberikan pembinaan pada karyawan Kantor Wali Nagari dengan adanya keluhan ini. Beliau juga menegaskan bahwasanya pengurusan SKKM dan semua surat/proposal yang bersangkutan dengan pendidikan bagi mahasiswa/pelajar Koto Alam digratiskan alias tidak dipungut biaya.

Pertanyaan lain dari mahasiswa yaitu tentang pengadaan sarana olahraga gelanggang sepak bola bagi terselenggaranya hobi dan kreaktifitas pemuda nagari. Wali Nagari menyarankan agar semua pemuda nagari melaksanakan gotong royong untuk memperbaiki gelanggang sepak bola yang sudah ada. Mengenai dana bantuan untuk perbaikan lapangan tersebut, Wali Nagari menyatakan bahwa hendaknya pemuda melakukan aktifitas rutin bermain sepak bola di lapangan yang masih sederhana itu, sehingga nanti bakal akan ada bantuan baik dari pemda atau dari caleg-caleg untuk perbaikan lapangan.

Selain itu ada pertanyaan tentang pembangunan masjid yang masih terbengkalai. Wali nagari menasehati hendaknya jangan pembangunan masjid terbengkalai yang dipermasalahkan, akan tetapi jamaah masjid itu yang harus ditingkatkan jumlahnya. Beberapa masjid dan musholla/surau di Koto Alam sudah berdiri bagus dan indah, namun kondisi jemaahnya memprihatinkan. Ditambah lagi dengan pengajian-pengajian agama yang sama sekali jarang diadakan. Apalagi dengan melihat kondisi akhlak kalangan muda Koto Alam yang dijangkiti berbagai kasus pornografi, narkoba dan perjudian. Ini adalah sebab kurangnya pendidikan agama di Koto Alam.

Pembentukan IMAKAS

Pembentukan IMAKAS (Ikatan Mahasiswa Koto Alam Sakido)

Di akhir acara diadakan pembentukan organisasi perhimpunan mahasiswa Nagari Koto Alam, yang diberi nama IMAKAS (Ikatan Mahasiswa Koto Alam Sakido), dan dipandu langsung oleh H. Syamsul Bahri, S.H.I dan Wali Nagari A.H. Dt. Paduko Rajo. Dilakukan pemilihan pengurus organisasi secara musyawarah dan voting. Kemudian H. Syamsul Bahri, S.H.I. memberikan dana sumbangan sebesar Rp 500.000,- untuk dimanfaatkan sebagai kas organisasi. (ahm)

Menumpang Tanam Pisang di Ladang Masyarakat


Berkesempatan bersilaturahmi kerumah Erdison A.md di jorong Koto Tongah Nagari Kota ALam, Kec. Pangkalan Kab. 50 Kota. Silaturrahmi yang dirancang dalam prgram safari ramadhan dari pelaku pertanian organik dan memperluas jaringan organik di setiap nagari di Kab. 50 Kota. Erdison A.md adalah anak nagari Koto Alam yang berkesempatan menyelesaikan DIII di Politani Unand di Tanjung Pati Payakumbuh.

Aktif selama kuliah di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Payakumbuh membawa dirinya menjadi Ketua Umum Periode 2011-2013. Setelah menamatkan kuliah dan menyelesaikan amanah organisasi ia mengabdikan diri untuk masyarakat. Pengabdian ini berdasarkan kemampuan akademis pertanian dan juga kemampuan mengorganisir yang terasah kala aktif di HMI Cab. Payakumbuh.

Untuk sampai ke Nagari Koto Alam mesti melewati kelok sembilan nan eksotis, saat ini sedang dibangun jembatan layang untuk memudahkan mobilasassi hasil bumi ranah minang ke pekanbaru dan sekitarnya. Pemandangan indah ini tidak sempat untuk diabadikan, karena mesti berkejar dengan buka puasa yang direncanakan dirumah Erdison.

Berbincang tengan realitas masyarakat dan juga hal hal yang menarik terjadi ditengah masyarakat menghantarkan ide sederhana dari Erdison untuk membantu pembangunan mesjid. Masjid dengan nama Miftahul Ulum dalam tahap penyelesaian dan sedang menyelesaikan hutang.

Hampir selama ini pengurus berkomitmen untuk membangun mesjid yang layak dan representatif untuk melaksanakan kegiatan keagamaan dan sosial. Pada kesempatan ramadhan kali ini ide menanam pisang di kebun masyarakat bergulir indah di kala pengajian sesudah sholat isya menjelang tarawih.

Ide yang telah dimulai dari sosialisasi orang perorang kemudian disampaikan ke masyarakat oleh Ustad (sebutan penghargaan masyarakat bagi penyampai ceramah ramadhan) bergulir dan diaminkan oleh jamaah. Pisang adalah tanaman masyarakat yang berada di kebun masing-masing. Masjid menumpang menanam pisang di kebun masyarakat 1 batang per Kepala Keluarga. Setiap pisang berbuah menjadi dana bagi pembangunan masjid dan juga Taman Pendidikan Alqur’an.

Jika harga satu tandan pisang Rp. 30.000,- dan KK yang bersedia ada 200 orang, maka setiap 4 bulan sekali masjid mendapatkan dana Rp. 6.000.000,-. Pisang adalah tanaman yang mudah tumbuh dan berkembang. Masyarakat juga ikut terbantu dengan keberadaan pisang untuk masjid. Dimana masyarakat juga belajar tentang budidaya pisang dan perawatan pisang untuk penambah pendapatan masyarakat.

Berbagai jenis pisang akan dibudidayakan, terutama yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal ini mengacu pada riset pasar dan kebutuhan masyarakat. Pisang direncanakan panen maksimal 2 kali dalam sebulan tahun 2014. Sesudah ramadhan akan focus penanaman di ladang masyarakat oleh Erdison dan kawan-kawan pemuda Jorong Koto Tangah Nagari Koto Alam.

Ide sederhana yang mampu menjadikan masyarakat memanfaatkan ruang kebun dengan tanaman produktif dan ikut berperan menyelesaikan pembangunan masjid. Sekali tanam banyak manfaat yang lahir seperti pisang sekali tanam bila berbuah puluhan sisir pisang yang bisa dinikmati dan penuh dengan gizi berguna bagi kita.

 

 

sumber:

http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2013/07/14/menumpang-tanam-pisang-di-ladang-masyarakat-573404.html

 

 

2 Hektar untuk Tugu Sakido Mura


kaos sakido mura

 

Limapuluh Kota

Berkat tekun, serius dan ulet. Itulah hasil kinerja Kabid Pariwisata Ali Hasan, pasca diresmikannya Tugu Katulistiwa Sakidomura di Koto Alam Pangkalan, kini kabar gembira kembali hadir.

Rupanya keseriusan Ali Hasan dan timnya mendapat respon positif dari Walinagari Koto Alam. Bersama keluarga dan seluruh masyarakat Koto Alam, diserahkan tanah 2 hektar di seberang tugu Sakidomura untuk dijadikan tempat usaha wisata.

“Warga Koto Alam sangat optimis dengan usaha pariwisata dengan adanya tugu ini. 20 Februari lalu, saat Bupati Alis Marajo hadir di peresmian kembali dan peringatan kulminasi Sakidomura, luar biasa ramainya pengunjung. Sampai hari ini,” ujar Ali Hasan, kemarin.

Sakidomura telah menjadi objek wisata minat khusus yang merekat kenangan. Ali Hasan bersegera akan membuat photospot atau lokasi berfoto di tugu yang kini bersih, indah dan merah putih ini.

Tugu ini didirikan sejak zaman penjajahan Jepang. Kala itu, mura diartikan sebagai desa. Sodiko katulistiwa. Kini, tugu Sakidomura disinggahi banyak pengendara Riau-Sumbar. Wisata objek sejarah minat khusus yang potensial.

Generasi muda Pangkalan, diwakili tokoh muda Alfianto berujar, salut atas hibah tanah yang masih bukit di Sakidomura. Ini kemajuan ekonomi masa depan. Penggagas “Oji” organisasi usaha Pangkalan ini sangat mengapresiasi Koto Alam sebagai bagian kampung halamannya.(dsp)

sumber: http://dodisyahputra.wordpress.com/2013/04/11/2-hektar-untuk-wisata-sakidomura/

 

%d blogger menyukai ini: