Pangkalan Setelah Kelok Sembilan


Mengutip kembali tulisan Bapak H. Fachrul Rasyid tentang wacana pembangunan wilayah kecamatan Pangkalan Koto Baru setelah rampungnya proyek fly over Kelok Sembilan. Dalam tulisannya, pemerintahan Limapuluh Kota telah memprioritaskan Pangkalan Koto Baru beberapa tahun kedepan sebagai kota perdagangan dan wisata.

Menilik sejarah dua abad silam ketika Pangkalan Koto Baru menjadi pelabuhan utama bagian timur Minangkabau. Sebagai daerah pelabuhan, profesi masyarakat Pangkalan berperan dalam bidang distribusi hasil alam dari pedalamaan Minangkabau hingga ke bibir Selat Malaka. Hingga hari ini profesi tersebut menjadi mata pencaharian masyarakat Pangkalan pada umumnya. Jika zaman dahulu transportasi melalui sungai Batang Mahat menggunakan perahu kajang untuk mengangkut hasil alam, maka zaman sekarang -ketika transportasi berubah melalui jalur darat- masyarakat Pangkalan masih dengan perannya dalam distribusi barang /hasil alam yang telah bertranstormasi menggunakan truk.

Pangkalan Setelah Kelok Sembilan
Teras Utama Padang Ekspres Selasa 21 Mei 2013
Oleh Fachrul Rasyid HF
[sumber]

Sedikit hari lagi ply over alias jembatan layang Kelok Sembilan (K-9) akan rampung. Rencananya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan. Lantas apa yang bisa diraih Pangkalan Kotobaru?

Pertanyaan ini perlu dijawab pejabat, pemuka, dan para ninik mamak di Pangkalan, mengingat dulu sejak akhir abad 18 hingga awal abad 20 Pangkalan adalah pelabuhan terbesar di timur Minangkabau ke Selat Malaka. Setiap mau memasuki bulan Ramadhan, sesuai kesapakatan ninik mamak dan ulama, kapal-kapal milik pengusaha dilabuhkan di Pangkalan. Saat itu anak kemanakan boleh naik dan berlayar di sepanjang batang Mahat. Dari situ kemudian lahir tradisi perayaan “Patang Balimau”

Belanda berusaha menguasai Pangkalan karena mengalahkan Pelabuhan Muara Padang. Untuk itu Belanda mencoba masuk melalui Kuala Kampar menesuri Batang Kampar, dan masuk ke Batang Bahan menuju Pangkalan. Tapi karena sungainya deras dan berhutan lebat, upaya itu sia-sia. Pada 1932 Belanda memutuskan membuka jalan dari Payakumbuh, Sarilamak, ke Pangkalan. Salah satu ruasnya adalah K-9. Lalu, mengerahkan pekerja pasa, jalan diteruskan ke Bangkinang, Danau Bingkuang, Taratak Buluh hingga ke Logas.

Sejak terbuka jalan darat ke Riau, perlahan pelabuhan Pangkalan jadi sepi. Para pengusaha kapal Pangkalan akhirnya beralih jadi pengusaha angkutan darat sehingga Pangkalan terkenal sebagai nagari pengusaha angkutan di Sumbar-Riau. Angkutan penumpang milik pengusaha Pangkalan yang amat terkenal adalah bus Gagak Hitam, Sinar Riau dan Bunga Setangkai.

Sejak 15 tahun belakangan setelah angkutan bus makin terjepit, pengusaha Pangkalan berkosentrasi penuh pada angkutan truk/barang. Dan, ketentuan memautkan kapal tiap memasuki Ramadhan beralih ke truk. Itu sebabnya, di hari-hari Patang Balimau semua truk milik orang Pangkalan yang beroperasi di berbagai daerah, pada pulang kampung. Dan, jalan di sepanjang Pangkalan pun disesaki truk.

Kini, setelah pembangunan K-9 generasi kedua (jembatan layang) rampung, apakah potensi ekonomi dan posisi strategis Pangkalan akan mengalami kemunduran seperti halnya setelah K-9 dibangun Belada dulu?

Saya percaya, secara perorangan, orang Pangkalan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan. Ketika dulu jalur perdagangan lewat sungai digantikan jalan darat, pengusaha Pangkalan pun mengganti kapal dengan truk. Artinya, mereka tetap pada posisi ekspedisi dan distribusi barang.

Nanti, setelah K-9 generasi kedua rampung, posisi itu pasti akan lebih berkembang. Boleh jadi perusahaan bus milik orang Pangkalan yang pada tutup, akan dihidupkan kembali, tentu dengan model dan pelayanan yang lebih modern.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan Nagari Pangkalan itu sendiri. Apakah Pangkalan akan tetap jadi nagari pelintasan angkutan orang dan barang?

Selama ini tampaknya memang demikian. Hasil penelitian Dinas PU 2002, membuktikan Pangkalan dilintasi rata 6.800 hingga 11.350 kendaran/ hari. Kendaran itu  mengangkut sekitar 16 juta orang dan 28,5 juta ton barang/ tahun (50% hasil pertanian dan peternakan). Tentu kini dan sepuluh tahun ke depan keramaian kendaran, orang dan barang melintasi Pangkalan tentu akan berlipat ganda. Apalagi jika rencana pembangunan jalan tol Padang-Pekanabaru-Dumai,  jari-jari jalan tol Lintas Sumatera, rampung sekitar tahun 2025.

Fakta ini tentu memperlihatkan posisi Pangkalan sebagai pintu gerbang Sumbar dari Riau akan semakin penting. Tapi, sekali lagi, bagaimana Pangkalan menyikapi posisi tersebut. Musyawarah  pembangunan Pangkalan di rumah kediaman Bupati Alis Marajo tahun 2002 silam mencoba menjawab hal itu. Aacara itu dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Pangkalan. Antara lain Anwar Syukur, H. Syakrani,  H. Nizar dan Dr. Muchlis Hasan.

Tokoh-tokoh Pangkalan memahami bahwa Pangkalan memang akan tumbuh jadi sebuah kota. Karena itu disepakati perlunya menyusun tata ruang, kerangka kota sehingga seluruh ruang nagari Pangkalan terintegrasi, terhubung, dan berarti bagi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Dari situ bisa dirinci mana daerah sumber air bersih, daerah pertanian/ perkebunan, daerah pertumbuhan dan pusat ekonomi, daerah pendidikan dan sebagainya sampai pada kebutuhan saluran drainase.

Bupati Alis Marajo kemudian membangun jaringan jalan memperkuat Kota Pangkalan masa depan. Dimulai dengan membangun dan meningkatkan jalan dari Pangkalan ke Kecamatan Kapur IX  hingga di Nagari Gelugur menuju Kabupaten Rokan Hulu. Kemudian jalan dari Pangkalan ke Baluang atau ke Lipat Kain  Kabupaten Kampar.

Setelah Pangkalan tumbuh jadi pusat perdagangan, kota harapan di pinggir Danau PLTA Kotopanjang seluas 140 ribu hektare itu bisa jadi kota wisata. Di Pangkalan bisa dibangun dermaga danau untuk tujuan pelancongan, olahraga dayung, lomba perahu dan olahraga memancing.

Maka, jika tata ruang Pangkalan direncanakan dengan baik dan semua potensinya digarap dengan benar, selain jadi kota perdagangan Pangkalan akan jadi kota wisata dan kota peristirahatan bagi Riau. Dan, ini amat menarik bagi investor membangun hotel, restoran dan objek wisata.

Jadi, kini tinggal bagaimana Pemkab Limapuluh Kota dan Pemprov Sumbar cerdas mengangkat potensi tersebut sehingga Pangkalan memberi peluang peningkatan ekonomi daerah ini. (*)

Teras Utama Padang Ekspres Selasa 21 Mei 2013

Oleh Fachrul Rasyid HF

Sedikit hari lagi ply over alias jembatan layang Kelok Sembilan (K-9) akan rampung. Rencananya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan. Lantas apa yang bisa diraih Pangkalan Kotobaru?

Pertanyaan ini perlu dijawab pejabat, pemuka, dan para ninik mamak di Pangkalan, mengingat dulu sejak akhir abad 18 hingga awal abad 20 Pangkalan adalah pelabuhan terbesar di timur Minangkabau ke Selat Malaka. Setiap mau memasuki bulan Ramadhan, sesuai kesapakatan ninik mamak dan ulama, kapal-kapal milik pengusaha dilabuhkan di Pangkalan. Saat itu anak kemanakan boleh naik dan berlayar di sepanjang batang Mahat. Dari situ kemudian lahir tradisi perayaan “Patang Balimau”

Belanda berusaha menguasai Pangkalan karena mengalahkan Pelabuhan Muara Padang. Untuk itu Belanda mencoba masuk melalui Kuala Kampar menesuri Batang Kampar, dan masuk ke Batang Bahan menuju Pangkalan. Tapi karena sungainya deras dan berhutan lebat, upaya itu sia-sia. Pada 1932 Belanda memutuskan…

Lihat pos aslinya 578 kata lagi

Ranah Minang, Kebun Surga yang Diturunkan Tuhan ke Bumi


Berikut ini sebuah tulisan yang saya dapat di forum rantau.net [sumber] menceritakan tentang keindahan alam Sumatera Barat. K. Suheimi, penulis cerita ini mengungkapkan ketakjubannya melintasi daerah-daerah di kawasan ekuator di sepanjang Jalan Sumbar – Riau. Dengan berbagai keindahan alam yang mempesona serta ragam aktifitas penduduknya yang menarik perhatian, penulis menyebutkan bahwa tidak salah para turis mancanegara menamai Ranah Minang sebagai “Kebun Surga yang diturunkan Tuhan ke Bumi”.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saudara K. SUheimi,

“E Q U A T O R”
Oleh : K Suheimi

Equator atau garis khatulistiwa. Titik nol, selangkah kaki kita melangkah ke kiri kita berada dibelahan Bumi Selatan dan selangkah kaki kita melangkah ke kanan kita berada di belahan Bumi utara…

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar - Riau

Tugu Khatulistiwa di Jalan Sumbar – Riau

Equator garis khatulistiwa, ke tempat inilah yang hampir setiap minggu saya injak dan saya lalui. Setiap kali melalui dan melewati garis ini kami singgah turun sejenak, ada Mushalla cantik dan bersih disana, disebut dengan Mushalla Musafir, tempat musafir yang berjalan jauh berhenti istirahat sejenak membuang hajat, dan melakukan shalat, meng-qadakan dan menjamak shalat.

Mushalla kecil, cukup bersih dan kamar mandinya berair jernih dan dingin. Air pegunungan, air khatulistiwa. Memang pada titik 0 ini hutannya sangat lebat, rimbanya rimbun. Teduh dan sedikit agak gelap dan lembab. Biasanya kami malam hari lewat di tempat ini. Sebagai pertanda bahwa titik itu Equator di buat tugu khatuliswa. Setiap lewat selalu saya pandang Tugu Bola Dunia dengan garis melintang di tengah tugu itu.

Biasanya kami sampai di tugu ini, tengah malam, disaat sudah sunyi, tapi Kali ini kami sampai petang berlaruik senja, Di rembang petang itu Mushalla ramai, kamar mandi penuh. Penduduk baru pulang dari rimba dan ladang. Mereka mandi bersama-sama. Dari kamar sebeleh terdengar cekikan perempuan dan gadis-gadis bersenda gurau sambil mandi bercengkrama, riuh rendah.

Saya yang di kamar mandi lelaki juga enak melihat laki-laki tegap dan tegar bermandikan air gunung nan sejuk. Badan mereka bagus-bagus, tidak berlemak, dan lekuk tubuh yang alami. Mereka kekar dan kuat, sambil bersimburan mereka bergurau.

Ah rindunya saya pada kehidupan seperti ini. Seperti dulu saya diSungai Puar, di kaki gunung Merapi, bersama anak-anak mandi di Pincuran, berenang di tebat dan kolam di lurah sebuah bukit. Oh masa itu terbayang lagi, Berkecimpung dan bersorak berkejaran di dalam kolam. Masa lalu yang bahagia. Atau berkejar-kejaran dan terjun bebas di Sungai Tanang yang sungainya tenang dan airnya bening sejuk dan dingin.

Khayalan saya mengenang masa-masa indah di Sungai Tanang. Dulu orang berbendi-bendi ke Sungai Tanang memetik bunga si Lembayung.

Sungai tenang yang tidak beriak dan tak tak berarus, setenang namanya, sebagai sumber air untuk Bukit Tinggi, disanalah kami melompat, terjun bebas, berkecimpung dan bergurau senda, bersembur-semburan air. Oh masa lalu yang indah, sebelum ada kolam renang Bantola kami kalau berenang pergi ke Sungai Tanang.

Equator melintas di Koto Alam, desa kecil yang rukun. Untuk sampai ke tempat ini kita disajikan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalannya. Koto alam terletak di garis khatulistiwa ditengah hutan rimbun nan lebat. Namanya Hutan tropis dan sangat subur, apapun jenis tanaman bisa kita temukan.

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Rumah Makan Panorama Selat Malaka

Dengan melalui jalan berliku berbelok-belok bagaikan ular yang melilit pinggang bukit dan gunung. Demikian banyaknya kelok dan liku. Namun diantara semua kelok itu ada 17 Kelok yang tajam dan berbahaya. Sehingga liku-liku jalan di sepanjang bukit barisan yang melintas garis Equator ini disebut dengan kelok 17.

Setiap kali melewati kelok-kelok ini saya tak mau memejamkan mata kerna dihadapakan pada pemandangan yang aduhai. Apalagi kalau kita sampai pada kelok selat Malaka. Suatu kelok dengan pemandangan yang sangat spektakuler kita saksikan susunan dan barisan bukit Barisan . Konon kabarnya kelok itu disebut kelok Selat Malaka kerna bila cuaca bersih, maka kita bisa melihat Selat Malaka. Tapi memang saya tak lupa berhenti sejenak di pemandangan yang bagus ini.

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Panorama Selat Malaka di pagi hari

Begitupun ketika ketika kita melewati kelok 9 yang terkenal, disamping curam dan berbahaya, dulu kelok ini sangat sempit dengan bukit-bukit yang berbatu cadas yang sangat keras. Apalagi bila kita memasuki arah Lubuk bangku maka bukit dengan bebatuan yang sangat curam sekali setinggi 200 meter yang menjadi tantangan untuk pemanjat tebing. Bukit-bukit dengan batu cadas yang berwarna warni serta jika air hujan didinding banyak air terjun. Bukit-bukit yang terkesan seram ini terhampar sejak dari kelok 9, Lubuk Bangku dan sampai ke Harau, luar biasa semua akan berdecah kagum dan terpesona.

Foto Baru Kelok sembilan

Kelok Sembilan

Saya sudah banyak berkelana ke tempat-tempat terkenal di seantero Dunia, namun saya bangga, ternyata kampong halaman saya tak kan kalah , jauh lebih bagus dari tempat-temoat yang lain. Tak salah beberapa Turis Manca Negara mengatakan Sumatera Barat atau Ranah minang itu adalah sebagian kebun Sorga yang di turunkan Tuhan ke Bumi. Oh luar biasa.

Kami bersyukur Allah telah anugrahkan sesuatu yang terbaik dan terindah.

Begitu kita lepas dari perbatasan Riau di atas bukit danau buatan koto panjang. Maka perjalan di sepanjang puncak bukit Bukit barisan, maka di depan mata kita terhampar pemandangan yang aduhai, ada Panorama di perbatasan Riau Sumbar, Dan selepas itu ke seluruh Sumatera Barat yang kita lihat setiap jengkalnya hanya ke indahan. puji Syukur pada Mu Tuhan kami yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

“Banyak tempat telah kukunjungi
Yang termashur dikata orang
Namunkampungku nan indah permai
Takkan kalah dan tak kulupa
Kampungku yang kucintai
Engkau kuhargai”

Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Suci Nya dalam Al qur’an:

……Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (QS. 42:22)

Koto Alam 2 Agustus 2008

[sumber]

[VIDEO] Acara Mancing Mania Trans7 di Lubuak Nago Pangkalan Koto Baru


Lubuak Nago yang berada di aliran Sungai Batang Maek Nagari Pangkalan merupakan lokasi ikan larangan warga setempat. Lubuak Nago meraih Juara II Lomba Lubuak Larangan Tingkat Nasional tahun 2014. Dalam rangka syukuran keluarnya Pokmaswas Nago Sakti masyarakat menggelar acara mancing mania. Tak tangggung-tanggung, untuk memeriahkan acara tersebut panitia acara bekerjasama dengan stasiun televisi nasional Trans7 melalui program unggulannya Mancing Mania.

Mancing Mania Lubuak Nago Pangkalan Koto Baru

Mancing Mania Lubuak Nago Pangkalan Koto Baru

Pada pesta panen ikan larangan Lubuak Nago (29 Desember 2014) dihadiri oleh Wakil Bupati Limapuluh Kota Bapak Drs. H. Asyirwan Yunus, M.Si, Camat Pangkalan Koto Baru, Andri Yasmen, S.Sos dan Walinagari Pangkalan, Diswanto.

Selain mengambil lokasi syuting di Lubuak Nago, tim Mancing Mania Trans7 juga meliput aksi memancing ikan di danau buatan waduk PLTA Koto Panjang. Yang ketinggalan nonton acara tv-nya 24 Januari 2015 kemarin, silahkan tonton videonya berikut ini, selamat menyaksikan.. 😀

[tonton di youtube]

Sakido Mura ( 赤道村 ), An Equatorial Monument as A Japanese Heritage in Indonesia


Many tourists only know that monument of equator in Sumatra Island is only located in Bonjol, but actually there are some other places in Sumatra that also have their own equator monument.

Location of some Equator Monuments in Sumatra Island

Location of some Equator Monuments in Sumatra Island

I will tell you about another one equator monument in Sumatra Island. This monument located at Koto Alam, a village in Pangkalan Koto Baru district Limapuluh Kota, West Sumatra. The monument look like a ball, many tourists called it as equator ball. Whereas local people called it “Sakido Mura”, a name which audible as Japanese language. Location of monument, Koto Alam, is one of place in equator line.

Equator Monument Sakido Mura

Equator Monument Sakido Mura

History of Sakido Mura ( 赤道村 )

Based on local information, this monument early was built by Dutch along Dutch East Indies period before independence of Indonesia. But no data have found when is the year of this monument was built firstly. Dutch named it as “Pila”. They built it like a upright monument. I have searched for informations about it in KITLV Library and Tropenmuseum, but i can’t find any documents about this monument. Dutch used “Pila” as an instrument for instruction of wet and dry season, because the monument stand right above zero latitude point of the earth. Every years, in this place happens phenomenon of sun culmination, no shadow when daylight caused by the position of the sun were right above equator.  This phenomenon always happens twice a year, 21 up to 23 on March and 21 up to 23 on September

When World War II period, Dutch leaft Indonesia, then Nippon took their position. Nippon reformed “Pila”, they reconstructed it formed like a ball. They painted Japan flag “Hinomaru” on the ball. Also they changed name of “Pila” became “Sakido Mura” ( 赤道村 ) the meaning is “The Equator Village”.

I try to find some informations about “Sakido Mura” from documents of Dutch or Nippon. But I can’t get it yet. Right now, Sakido Mura become one of local tourist destination in West Sumatra, the government initiated it on September 2013.

Based on travel notes, many tourists visit Sakido Mura every years. They are local and foreign tourists. Usually, the foreign tourists come from Japan (20 up to 30 people a year). They want to witness one of Japanese heritage in Indonesia. Even more, Sakido Mura is a specially building which located at zero latitude point on the earth. This is an amazing experience caused you stand in the middle of earth, between south and north. If you activate GPS in here place, it will shows 00’00″00″‘. Sometimes in daily light your body have no shadows. In the earth, only some states which placed on equator line. Indonesia is the one of them.

Location of Sakido Mura is very strategic, placed at the roadside between Pekanbaru and Bukittingi. About 70 km from Bukittingi (1 hour 10 minutes by car).

Pictures below are Sakido Mura from any years.

A tourist in Sakido Mura when event of Cycling Across Equator in 1991

A tourist in Sakido Mura when event of Cycling Across Equator in 1991

Sakido Mura in 2003

Sakido Mura in 2003

Sakido Mura about 2005

Sakido Mura about 2005

A russian in Sakido Mura about 2010

A Russian in Sakido Mura about 2010

An event in Sakido Mura, September 2013

An event in Sakido Mura, March 2013

Tourists and their bikes in Sakido Mura 2014

Foreign bikers in Sakido Mura 2014

Tourists and their bikes in Sakido Mura 2014

Foerign bikers in Sakido Mura 2014

Tourists and their bikes in Sakido Mura 2014

Foreign bikers in Sakido Mura 2014

If you interested to visit Sakido Mura, the monument located in the roadside of Jalan Sumbar – Riau rute. Here is the map.

Position on the map

Position on the map

Cerita Seorang Turis saat Melintasi Koto Alam


Namanya Jill Sherlock, negara asalnya tidak dicantumkan, ia hobi berkeliling dunia. Jill juga pernah melancong ke Pulau Sumatera. Pengalamannya mengelilingi dunia ia ceritakan dalam blog pribadinya (http://sherlocktales.blogspot.com). Dalam salah satu tulisannya berjudul New Zealand and Indonesia : Fallen fruit Jill menceritakan pengalaman sewaktu ia mengunjungi Sumatera pada tahun 2013. Pada sebuah paragraf Jill menceritakan perjalanannya ketika melintasi garis nol derajat dengan sepedanya. Jill juga mengambil foto tugu khatulistiwa Sakido Mura Koto Alam. Berikut ini cerita Jill,

I’d crossed the Equator that day in Sumatra as I snaked my way up the 900m pass. I’d studied pedantically my GPS, I had to find the exact point of the equator, even retracing the last few metres until my geographical co-ordinates fetish was entirely satisfied as I watched my SATMAP Active change from N000.00009 to S000.00006.  Marvellous I thought then I looked up from my handlebars and saw a globe marking the spot on the side of the road, entirely unexpected in this untouristed hillside village. This concrete structure had adhered to all the architectural  rules of Sumatra: stained, crumbling and graffitied. They’d even ensured that the concrete surrounding wall  had been ceremoniously knocked down by a wayward truck. 

Jill Sherlock sumatra equator

Tugu khatulistiwa Koto Alam yang difoto Jill Sherlock

 

Foto Traveler Jepang di Koto Alam


Foto ini saya dapat dari tulisan di salah satu situs traveling asal Jepang, http://4travel.jp/travelogue/10586310 . Postingnya berjudul スマトラ島の赤道を越える (aku menyeberangi garis khatulistiwa pulau sumatra). Penulisnya mengambil foto tersebut pada bulan Juli 2011. Dari sekian banyak foto yang ditampilkan terdapat dua foto yang berlokasi di Nagari kita.

Foto pertama tentu saja tugu primadona Sakido Mura,

equator sumatera

Foto ini diberi keterangan dalam Bahasa Jepang:
赤道の記念工作物ですね、前の階段状態の所で女学生が沢山座っていました、写真は無理、宗教上の理由ですかね。
集落の中で探しながら行かないと見過ごしてしまいそうな場所です。
Kira2 terjemahannya: “Ini adalah tugu khatulistiwa, sebelumnya banyak anak sekolah duduk disana, kemudian saat difoto mereka pergi, bla bla bla… hahahaaha”

Kemudian juga terdapat foto salah seorang penduduk Koto Alam yang narsis saat difoto sama orang Jepang ini, kira2 siapa dia….???
src_22688582Dan ternyata Pak Ocik kita….. ahahahahaaa…!
Keterangan di foto : 民族衣装です (pakaian penduduk?)

wkwkwkwkwkk…

 

[Foto] Cigak Banyak


Beberapa objek wisata lokal dapat kita saksikan di pinggir jalan lintas Sumbar – Riau sepanjang Nagari Koto Alam, diantaranya Panorama Selat Malaka dan Tugu Khatulistiwa Sakido Mura. Selain dua situs tersebut, ada pemandangan yang tak kalah menarik perhatian bagi para pengendara yang melewati Nagari Koto Alam. Keunikan ini dapat kita temui di sebuah bukit batu berjarak sekitar 5 km sebelum perkampungan Nagari Koto Alam dari arah Kelok Sembilan. Masyarakat setempat menyebutnya “Bukik Lawa”.

Di Bukik Lawa sering berkeliaran komunitas kera yang mengemis makanan kepada para pengendara. Tingkah mereka lucu-lucu dan menggemaskan, sehingga membuat para pengendara sering berhenti untuk memberikan cemilan pada kera-kera tersebut. Kadang mereka dikasih buah, kacang, roti, permen, snack dan sebagainya. Tanpa segan, terkadang kera-kera itu juga berani mendekati mobil pengendara untuk mengambil cemilannya.

Cigak Banyak Koto Alam

Cigak Banyak di Koto Alam

Masyarakat Koto Alam sekarang lebih sering menyebut Bukik Lawa sebagai “Cigak Banyak” dikarenakan banyaknya kera yang sering bermain disana. Seringnya pengendara berhenti membuat beberapa penduduk setempat berinisiatif membuka kedai di lokasi tersebut. Kehadiran kera-kera di Bukik Lawa membuka lapangan ekonomi bagi mereka. 🙂

%d blogger menyukai ini: